Posts Tagged ‘indonesia’

Indonesia : Tanah Air #BETA

Written by Fahmi Agustian. Posted in artikel

Tulisan ini sebenarnya sudah lama ada dalam fikiran saya. Beberapa bulan lalu saya menuliskan sebuah postingan singkat di akun facebook saya “Indonesia tanah air beta”. Sebuah kutipan lirik lagu nusantara yang sering dinyanyikan oleh banyak orang.

“Indonesia tanah air beta, pusaka abadi nan jaya. Indonesia sejak dulu kala ‘slalu dipuja-puja bangsa. Disana tempat lahir beta, dibuai dibesarkan bunda. Tempat berlindung dihari tua. Sampai akhir menutup mata.”

Saya sempat berfikir, kenapa menggunakan kata “beta”. Setahu saya, beta adalah kosakata Indonesia timur yang artinya saya atau aku. Sehingga kemudianmendapat sebuah kesimpulan, penggunaan kata beta adalah untuk menjadikan lirik lagu tersebut menjadi indah. Namun, jika kemudian kata beta ini digunakan dalam dunia IT, akan lain artinya. Karena saya adalah orang jawa, maka saya menggunakan teknik uthak-athik-gathuk. Saya juga pernah belajar IT, jadi saya menggunakan istilah #BETA yang biasa digunakan dalam dunia IT, kemudian saya uthak-athik kalimat Indonesia Tanah Air, kemudian saya gathuk-kan dengan #BETA. Jadilah Indonesia : Tanah Air #BETA

Istilah #BETA sering digunakan dalam sebuah proyek IT berupa software atau website. Versi #BETA adalah sebuah versi atau tahapan dimana proyek itu masih membutuhkan penyempurnaan di beberapa bagian. Mungkin masih ada bug-nya, atau masih ada celah keamanannya, dan banyak lagi kelemahan-kelemahan yang sangat mungkin ditemukan pada versi #BETA.

Indonesia saat ini, dalam pandangan saya adalah Indonesia versi #BETA. Kenapa bukan versi Alpha?. Alpha adalah versi mentah, dimana sebuah proyek masih dalam bentuk rancangan yang belum diuji oleh publik, sedangkan #BETA adalah sebuah proyek yang sudah melewati uji publik. Indonesia saat ini adalah versi #BETA. Tatanan kode dan algoritmanya sudah jelas, sudah bekerja, hanya saja karena versi #BETA ini masih belum ada yang mampu menyempurnakan, sehingga Indonesia belum menjadi versi Release Candidate atau Final Version. Algoritma yang ada di Indonesia saat ini seakan bekerja hanya untuk kepentingan penguasa dan elit pemerintahan saja, Algoritma Politik, ia bekerja untuk kepentingan Politik penguasa saja. Algoritma Hukum, ia hanya berfihak pada kepentingan penguasa saja. Hampir tidak ada satupun Algoritma di negara ini yang benar-benar 100% berfihak kepada kepentingan Rakyat. Padahal menurut undang-undang, rakyat adalah pemegang penuh kedaulatan bangsa. Istilah kasarnya, rakyat adalah majikan dan pemerintah adalah kacungnya.

Kalau kita mau menengok kebelakang sejarah Nusantara, fondasi tata negara Indonesia sudah ada sejak jaman kerajaan. Salah satu contohnya adalah pada zaman Majapahit. Konon, Majapahit adalah sebuah kerajaan yang menganut sistem Negara Persemakmuran. Negara Persemakmuran adalah Negara yang menguasai banyak wilayah, namun tidak menguasai kekayaan wilayah-wilayah yang dikuasai. Kekayaan alam wilayah-wilayah tersebut dibebaskan untuk dimanfaatkan oleh wilayah itu sendiri, tidak heran jika Mahapatih Gajahmada pernah bersumpah untuk menyatukan Nusantara, bukan untuk menguasai secara materi finansial, namun lebih kepada faktor Persatuan demi Persemakmuran itu sendiri. Begitu zaman keemasan kerajaan Majapahit lewat, Islam masuk ke Nusantara, ada yang mengatakan bahwa Wali Songo adalah tokoh-tokoh yang bejasa dalam penyebaran Islam di Nusantara saat itu. Sedikit potongan sejarah Nusantara itu saja sudah sangat mewakili betapa fondasi Indonesia sangat kuat. Keberagaman Indonesia sudah tidak terbantahkan lagi, bangsa mana yang memiliki keanekaragaman Suku, Bahasa, Budaya dan kekayaan alam seperti Indonesia?. Tidak berlebihan jika banyak orang yang kemudian mengatakan bahwa Indonesia adalah bongkahan kekayaan tanah surga.

Indonesia versi #BETA sudah mengalami decoding yang berulang-ulang. Sebut saja Sumpah Pemuda, Proklamasi 1945, Gerakan 30 September 1965, Reformasi (katanya) 21 Mei 1998. Decoding-decoding yang sudah pernah dilewati oleh Indonesia itu sampai detik ini belum menghasilkan Indonesia versi Release Candidate. Decoding macam apalagi yang dibutuhkan oleh Indonesia?. Ibarat sebuah kumpulan kode algoritma, Indonesia memiliki banyak sekali algoritma-algoritma yang unik, sayangnya algoritma-algoritma itu memiliki potensi bertabrakan satu sama lain. Semangat pemberantasan Korupsi yang saat ini digawangi KPK masih saja menuai banyak kritikan, mulai dari tebang pilih sampai bahkan ada indikasi bahwa KPK menjadi alat politik yang digunakan untuk membenturkan antara satu partai dengan partai yang lain. KPK yang lahir ditengah tidak intregitasnya penegak hukum, justru memiliki posisi yang sangat rentan saat ini. Algoritma yang digunakan oleh media massa adalah algoritma yang memiliki output : bahwa informasi yang diberitakan adalah informasi yang menjual dan menguntungkan. Kode unik yang digunakan oleh Dewan Legislatif adalah kode unik yang bertujuan untuk memperkaya diri dan mengumpulkan dana bagi partainya. Rakyat pun akhirnya memiliki kode unik sendiri, yaitu : algoritma yang menghasilkan ketangguhan luar biasa untuk mampu bertahan dalam kondisi apapun, ada atau tidaknya Negara bukan sebuah alasan untuk tidak mencari nafkah demi keberlangsungan hidup. Rakyat Indonesia, adalah rakyat yang tidak bergantung sama sekali kepada Negara.

Semoga, Indonesia : Tanah Air #FINALVERSION segera dirilis, Tanah Air yang dicintai oleh Allah swt. Tanah Air yang benar-benar memberikan kemakmuran dan kesejahteraan bagi rakyatnya.

Bangsa Spesial

Written by Fahmi Agustian. Posted in artikel

Sejarah menceritakan kepada kita bahwa selama 3,5 abad Belanda menjajah tanah Nusantara ini. Merampok hasil bumi Nusantara. Mereka bangun negara mereka dangan hasil bumi Nusantara. Namun setelah kemerdekaan Indonesia diproklamirkan oleh Soekarno-Hatta pada 195, Belanda pun tidak benar-benar melepaskan cengkramannya, dan sekarang, kita pun secara sadar merasakan bahwa bangsa barat masih menjajah Indonesia, meskipun bukan dalam konteks penjajahan dengan mengerahkan kekuatan militer.

Jauh sebelum itu, Nusantara pernah merasakan kejayaan era Sriwijaya dan Majapahit yang begitu berkuasa, konon wilayah kekuasaan Majapahit menjangkau hingga Madagaskar. Salah satu peninggalan Patih Gajah Mada yang sangat fenomenal adalah Sumpah Palapa. Dengan lantang ia bersumpah, bahwa sebelum Nusantara berhasil disatukan, ia tidak akan menikmati kenikmatan duniawi. Analisis saya terhadap sumpah palapa Patih Gajah Mada adalah ; betapa kaya raya Nusantara ini, bukan hanya kekayaan alam tapi juga kebudayaan, sehingga Patih Gajah Mada berusaha unutk menyatukan Nusantara, bukan unutk merampok hasil kekayaan, justru Patih Gajah Mada ingin Nusantara ini kuat, bukan untuk menjajah bangsa lain, namun untuk mengayomi bangsa lain.

Kesalahan fatal manusia Indonesia, salah satunya adalah karena tidak setia dengan kata-kata. Sepele, namun fatal. Satu contoh, Ratu. Kebanyakan dari kita mengartikan Ratu adalah sosok wanita sebagai pendamping Raja. Kemudian diaplikasikan dalam kehidupan, bahwa kekuasaan Ratu berada dibawah kekuasaan Raja. Padahal, Ratu sejatinya adalah pemimpin itu sendiri, maka di Jawa dalam sebuah Kerajaan dikenal istilah Keraton. Dalam bahasa Jawa Raja adalah Ratu itu sendiri, entah siapa yang pertama kali mengajarkan kepada kita bahwa Ratu adalah sosok wanita, sedangkan Raja adalah sosok pria. Imbasnya, pemahaman tentang kepemimpinan di Indonesia ini ditafsirkan sebagai wadah untuk menguasai kekayaan yang ada di Indonesia. Ketidak setiaan orang Indonesia terhadap kata diperparah dengan penggunaan kata-kata yang tidak pantas pada tempatnya. Lihatlah nama-nama top level digunakan untuk nama grup musik. Raja, Ratu, Dewa, Dewi, Mahadewi, Wali, bahkan sekarang sudah ada band yang menggunakan nama Jibril. Lama-lama akan ada warung lesehan dengan menu tempe penyet Izrail. Bisa dibayangkan tingkat kepedasan sambalnya.

Modus korupsi di Indonesia pun semakin religius. Kalaulah beberapa waktu yang lalu, ada yang menggunakan istilah apel malang dan apel washington, pada korupsi di departemen yang lain menggunakan padanan kata yang lebih dahsyat. “Tolong yang 10% disisihkan untuk pak Kyai, 10% lagi disisihkan untuk Pondok Pesantren. Atau kalau perlu, nanti kita tahlilan di Hotel X.” Inilah hebatnya koruptor di Indonesia, Tuhan saja berani mereka tipu. Statuta FIFA ditakuti, tapi Statuta Tuhan dengan gampangnya dilanggar. Konon, akibat ulah koruptor di Indonesia, iblis mengajukan permohonan pensiun dini kepada Tuhan.

Tapi, sebuah fakta tidak terbantahkan; kelemahan rakyat Indonesia adalah kekuatan mereka. Dengan sekian banyak pengalaman penindasan yang sudah dialami rakyat Indonesia, justru hal tersebut melahirkan sebuah genetika manusia yang memiliki mental yang sangat tangguh. Ditempeleng, dicuri, dirampas, dirampok, ditipu, dibohongi tapi rakyat Indonesia memiliki ketahanan yang luar biasa. Bangsa barat tidak akan mampu mengalami apa yang dialami rakyat Indonesia saat ini, bahkan negara-negara timur tengah menjadikan rakyat Indonesia referensi teratas dalam proses pembangunan bangsa mereka paska Arab Spring yang mereka alami. Kekuatan manusia Indonesia adalah ketangguhan mental yang luar biasa, namun justru kekuatan ini yang menjadi kelemahan rakyat Indonesia. Para penguasa semakin nikmat merampok, bertindak semena-mena, bahkan mempersilahkan bangsa asing mengeksploitasi sumber daya alam Indonesia meskipun dengan hitungan bagi hasil yang merugikan. Tapi ada sebuah pesan yang tersirat; “Jangan sekali-sekali menindas manusia Indonesia, karena yang menindas yang akan kalah”. Ilmu Katuranggan manusia Indonesia adalah Tanah. Semakin diinjak, semakin kuat. Setiap tahun rakyat Indonesia rela membayar pajak  tanpa menagih dari apa yang mereka sudah bayarkan kepada negara. Manusia Indonesia adalah manusia hibrida. Entah manusia yang terbuat dari campuran gen apa saja yang berada dalam tubuh manusia Indonesia. Semakin menderita, justru semakin mampu menikmati penderitaan. Ekonomi global diguncang krisis, tapi manusia Indonesia tidak perduli, bahkan tidak merasakan sedikitpun imbasnya. Mereka tetap fokus menjalani kehidupan mereka masing-masing, tetap berusaha agar dapur mereka tetap ngebul.

Lihatlah mereka dipojok sebuah pasar, dipinggir jalan, diwarung-warung. Mereka tetap menikmati hidup, tertawa riang, ketangguhan yang luar biasa. Kalaupun mereka merasakan sebuah kesedihan, dalam kurun waktu yang singkat, kesedihan mereka rubah dengan formula mereka sendiri menjadi sebuah kebahagiaan. Beras mahal, mereka ciptakan makanan pokok pengganti yang tidak kalah bergizi dari beras. Bahan bakar alternatif bermunculan ditengah ketakutan global akan menipisnya cadangan minyak bumi, kendaraan bermotor yang menurut peraturan negara pembuatnya sudah tidak layak pakai justru semakin dimanfaatkan demi berputarnya roda ekonomi. Limbah potongan kayu mampu disulap menjadi mainan anak. Bahan sederhana mereka olah menjadi souvenir pernikahan yang menarik. Dunia kuliner berkembang begitu pesatnya. Dan masih banyak lagi kreatifitas manusia Indonesia yang diaplikasikan untuk bertahan hidup. Manusia Indonesia ketika ia jatuh, ia memiliki semangat untuk kembali bangkit, jatuh lagi, bangkit lagi. Mereka tidak mengenal kata “trauma”. Ketika mengalami sebuah musibah, mereka tidak mengeluh, tidak jarang mereka tetap bersyukur ketika jatuh tersandung saat berjalan, “alhamdulillah, cuma lecet sedikit”, bahkan tidak jarang yang sambil mengumpat ketika jatuh terpleset, “jancuk,, untung nggak patah sikilku”. Ketika mengalami musibah sekalipun, manusia hibrida ini masih mampu bersyukur, meskipun dengan dialektika yang sedikit radikal. Bagaimana mungkin manusia tangguh seperti rakyat Indonesia ini merasakan penderitaan?. Manusia Indonesia adalah manusia yang sangat disegani dan ditakuti oleh bangsa barat. Yang bisa ditipu oleh barat adalah Pemerintah Indonesia, bukan rakyatnya.

Sejarah tinggal sejarah. Hanya dimaknai sebagai tulisan kenangan saja. Indonesia saat ini bagaikan Majapahit tanpa Patih Gajah Mada. Indonesia saat ini memiliki sosok Hayam Wuruk, tapi tidak memiliki sosok Patih Gajah Mada. Harapan kita adalah, 2 tahun lagi, Patih Gajah Mada yang sangat dibanggakan oleh Majapahit ini benar-benar akan muncul di bumi Nusantara ini. Insya Allah.

Indonesia vs Malaysia, Not Just a Football Match

Written by Fahmi Agustian. Posted in artikel, Berita

Bagi negara-negara ASEAN, Piala AFF adalah kompetisi yang sangat bergengsi. Bagi yang baru tahu, dulunya Piala AFF ini dikenal dengan Piala Tiger, pertama kali dihelat pada tahun 1996. Indonesia empat kalia lolos ke babak final, empat kali pula gagal menjadi Juara. Piala AFF tahun ini sedikit berbeda bagi masyarakat Indonesia, ditengah kisruh KPSI-PSSI yang entah dimana akan berakhir, Tim Nasional Indonesia yang dikirim di ajang Piala AFF tahun ini sangatlah minim pengalaman. Jangan pertanyakan kualitas mereka, namun keberanian mereka untuk tampil sebagai ujung tombak membela negara itulah yang harus kita apresiasi.