Posts Tagged ‘#90TahunGontor’

Kegembiraan berolahraga di Gontor

Written by admin. Posted in artikel

Olah Raga

Ada istilah “Mens sana in corpore sano” dalam bahasa Latin, kalau diterjemahkan dalam bahasa Inggris kira-kira artinya “A sound mind in a sound body.”, dalama Bahasa Arab disebut “Al aqlus salim fil jismis salim”, Akal yang sehat terdapat dalam badan yang sehat.

Tidak semua orang suka berolahraga, apalagi di Gontor, dimana semua kegiatan ditentukan lonceng, 1 menit terlambat, pasti konsekwensinya semua kegiatan selanjutnya akan terlambat atau memilih meninggalkan salah satu kegiatan untuk memotong keterlambatan.

Misalnya, habis sholat ashar jam 15.45 adalah waktu olah raga, berlangsung selama 60 menit, dan jam 16.45 lonceng berbunyi tandanya semua sudah harus siap-siap ke masjid, persiapan untuk ke masjid mulai dari mandi dan lain-lain hanya 30 menit, kalau terlambat berarti kamu “menantang” bagian Ta’mir Masjid. Nah, bagi anak-anak yang tidak berani mengambil resiko, mereka memilih tidak ikut olah raga, akhirnya selama 60 menit itu mereka manfaatkan untuk mandi dan tertawa-tertawa, atau pergi ke kantin. Bagi yang suka olah raga, 60 menit dipakai untuk melakukan olah raga yang mereka sukai.

Pastinya, ketika lonceng jam 17.00 berbunyi, dengan pakaian berkeringat mereka lari ke asrama masing-masing, karena tidak boleh mandi di asrama orang lain, kalau antrian panjang, otomatis dengan cekatan dia menggantung pakaian oleh raga di jemuran dan memakai pakaian ke masjid, dalam pikirannya, “Bodo amat lah belum mandi, yang penting nggak terlamabat ke masjid”, Masya Allah semangatnya ke masjid, bukan karena rindu masjid sih, tapi karena takut sama bagian Keamanan dan bagian Ta’mir Masjid yang sudah berdiri menyeramkan di depan masjid.

“Jadi, ke masjid sore-sore nggak mandi? Keringetan gitu? Habis oleh raga?”, Eits, tunggu dulu, mereka-mereka yang suka tantangan seperti itu punya trik khusus bisa mandi tanpa harus kena hukuman, meskipun mandinya di tempat wudhu! Tapi itu ada kisahnya. Lain kali akan kami tuliskan kisah tersebut.

Nah, karena di Gontor banyak kegiatan, banyak aktivitas, anak-anak muda yang berumur 14-20 tahun itu tidak mungkin dibiarkan begitu saja, harus ada pelampiasan, makanya pelampiasan mereka adalah olah raga, dengan olah raga pikirannya akan fresh dan pikiran-pikiran negatif akan hilang. Makanya, untuk menjaga stabilitas bagi yang tidak mau olah raga, diwajibkanlah lari pagi dua kali seminggu, semua santri dari kelas 1-5 wajib ikut lari pagi keliling desa Gontor, menikmati indahnya sawah dan kebun jagung yang membentang hijau sejauh mata memandang.

Tapi, kalau memang sudah malas, banyak saja alasan, bahkan demi tidak ikut lari pagi, ada yang mengaku sakit paru-paru dengan membawa hasil ronsen dada orang lain yang menderita sakit paru-paru, entah dimana dapatnya, yang pasti bagaian Olah Raga memberinya lisensi untuk tidak ikut lari pagi. Akhirnya saat orang lari pagi, dia tarik selimut lagi.

Tidak ikut lari pagi, termasuk pelanggaran sedang, yang dikenakan hukuman gundul. Ketika semua orang lari pagi, bagian Keamanan razia ke Asrama dan tempat-tempat yang dicurigai sebagai tempat sembunyi, apalagi bagian Keamanannya dulu ketika masih santri biasa termasuk santri yang bandel, pastinya tahu dimana tempat persembunyian.

Anehnya, ada yang memilih bersembunyi di dalam tandon kamar mandi daripada harus ikut lari pagi. Ada juga yang memilih sembunyi di Kuburan, di Sungai sampai pura-pura jadi piket! Mendingan nyapu dan ngepel 10 kamar asrama, daripada lari pagi!

Tragedi Jaryu Sobah

Written by admin. Posted in artikel

Once upon a time, di Kampung Damai, bahasa arabnya Darussalam, beberapa santri kamar 3 asrama Saudi 1 lantai 1 sedang sholat subuh berjamaah di kamar.

“Assalamualaikum warahmatullah…..”, imam mengucapkan salam sambil menoleh ke kanan, diikuti oleh kawan-kawannya selaku jamaah di belakang. Tidak sempat berzikir, dari jauh kira-kira 5 meter, terdengar suara lemari yang dipukul dengan rotan, “bisur’ah…bisur’ah…” (cepat.. cepat..), Ya, itu suara mudabbir gebrak-gebrak anak-anak di asrama supaya segera bersiap-siap untuk keluar asrama mengikuti muhadtsah dan setelah itu jaryu sobah.

Mudabbir itu kakak kelas, pastinya kelas 5. Muhadtsah itu adalah ritual mingguan, isinya “pemaksaan” dan latihan berbicara bahasa arab atau bahasa inggris, tergantung minggu. Setiap orang mencari pasangannya masing-masing untuk conversation. Kalau jaryu sobah itu, istilah untuk lari pagi. Seminggu diadakan dua kali, lari pagi wajib most-compulsary, gundul hukumannya bagi yang melanggar. Larinya keliling kampung. Kenapa lari pagi wajib? Karena, tidak semua anak-anak santri itu suka olah raga, ada yang suka main basket, ada yang suka main bola, ada juga yang suka main voli, ada juga yang suka nyuci, main music, etc… Untuk yang suka basket atau bola, atau olah fisik sejenis, kebutuhan untuk oleh raga mereka sudah terpenuhi, nah yang jadi masalah buat yang hobinya nyuci, inilah kesempatan mereka mengeluarkan keringat, selain keluar keringat ketika dihukum sama bagian keamanan. Bagi santri di Darussalam itu, badan sehat adalah salah satu panca jiwa.

Setelah habis solat, si Arif langsung ke jemuran, mengambil kaos seragam asrama untuk lari pagi. Kaos “keramat” dicuci sebulan sekali, dipakai seminggu dua kali. Sprint dia lari ke lantai 4, sampai disana, dia bingung, ternyata tinggal hanger, kaosnya sudah raib. Saat itu pula, 1001 alasan muncul dalam kepalanya, “pura-pura sakit, nggak mungkin…sembunyi, pasti bagian olah raga dan keamanan razia ke selokan-selokan….”, akhirnya dia memutuskan untuk sembunyi di tong sampah lantai 5. Untuk sementara aman. Dia harus bertahan sekitar satu jam, paling tidak jaga-jaga supaya Tidak ketauan sama yang razia, karena resikonya gundul, dan gundul itu salah satu kredit yang bisa membuat nya istiqomah di kelas yang sama alias tidak naik kelas tahun depan.

Di saat si Arif bingung di lantai 4, si Anas sudah siap dengan pakaian olah raga, pas mau pakai sepatu olah raga, giliran dia sepatunyapun tinggal sebelah. Karena si Anas adalah asisten perpustakaan utama, dia punya kunci perpustakaan, dan rasanya memang perpustakaan adalah maximum security for ikhtiba, alias tempat sembunyi paling aman, at least dalam taktik persembunyian si Anas, maklum asisten perpustakaan itu 99,99 persen adalah anak-anak lurus, dengan tingkat pelanggaran disiplin 0,99%.

Tanpa pikir panjang, di sela-sela anak-anak berlarian menuju barisan lari pagi per-asrama, si Anas menuju ke arah perpustakaan, gedung Saudi 6 lantai 2. Si Arif pastinya sedang menikmati kebebasannya di tong sampah.

Suara peluit dan yel-yel anak-anak bersaing antar asrama bergemuruh, persis seperti pawai, apalagi mereka memakai kaos seragam berbeda-beda, semua membanggakan kostum dan meneriakkan nama asrama masing-masing.

Dengan santainya si Anas masuk ke perpus, dan memilih reading room sebagai tempat sembunyi. Tidak mungkin dia melewatkan moment indah untuk tidur itu dengan membaca buku, itu mustahil. Dia mengambil beberapa lembar koran, dan tidur di bawah meja.

Dalam hitungan menit, si Anas sudah hilang tenggelam dalam mimpi indahnya, sebelum itu dia membayangkan jam 8 teman-temannya sesama asisten perpustakaan yang sudah lari pagi pasti masuk ke perpus dan membangunnya, karena mereka pasti ngepel perpus, dan setelah itu mereka sama-sama ke dapur umum menikmati nasi pecel dengan satu potong tempe yang sudah berumur 1 juta tahun, tapi sangat nikmat.

Hey…ente, qum..qum… (bangun.. bangun..)”, seorang laki-laki bertampang serem membangunkan si Anas dengan nada keras.

Si Anas terbangun, matanya langsung terbelalak, tulang-tulangnya terasa copot satu persatu, bisa dipastikan keringatnya membasahi baju dalam hitungan detik.

Lima la tatba’ jaryu sobah, limaza tanam huna?”, suara berwibawa dan nakut-nakutin itu bertanya kenapa Anas tidak lari pagi dan kenapa sembunyi di perpus.

Indeed, no any replay dari Anas, dengan sopan dia mencopot papan namanya dan diberikan kepada laki-laki itu. Laki-laki itu adalah kakak kelas 6, dia bagian Keamanan Pusat OPPM. “Khuz fiddiwan”, keamanan itu menyuruhnya untuk mengambil papan nama di kantor keamanan. Kakak kelas 6 itupun pergi. Si Anas ditinggal sendiri di reading room, sambil membayangkan nasib apesnya. Padahal ini adalah pelanggarannya yang pertama selama 3 tahun jadi santri. Memang Allah sayang sama orang baik, sekali melanggar langsung ketahuan, hahaha…

Keamanan adalah pusat disiplin di Darussalam itu, mereka mengatur santri dari kelas 1 sampai kelas 5, mereka memiliki wewenang luar biasa, pastinya mereka sangat ditakuti oleh santri. Hal-hal yang menyeramkan bagi santri kelas 1-5 adalah Keamanan, gedung dan Santiniketan kamar 2, kamar dua itu adalah kantor keamanan pusat.

Papan nama adalah identitas santri, setiap santri wajib memakai papan nama khusus, disitu tertera nama lengkapnya, dari warna papan namanya bisa teridentifikasi kelasnya, misalnya hitam kelas 1, kuning kelas 2 dan seterusnya.

Anas turun dari perpus, santri-santri lain sedang gotong royong, bersih-bersih pesantren. Dengan muramnya, sambil bingung si Anas berjalan menuju gedung santiniketan kamar 2. Yang ada dalam benaknya adalah, dia akan digundul, dan tahun depan istiqomah di kelas yang sama, atau kalau nasibnya baik dia akan pindah ke Gontor 7, di Kendari Sulawesi tenggara, dimana sinyal Telk***el saja tidak sampai kesana, apalagi membayangkan bisa makan enak dan murah seperti di Ponorogo.

“Assalamualaikum..”, si anas memberi salam kepada salah seorang keamanan yang duduk di depan kantor membaca koran.

“Waalaikumsalam…maza turid ya akhi”, keamanan itu bertanya ada perlu apa, sopan sih, cuma nggak senyum.

“Abhas an al akh Maimun….”, nyari kak Maimun, kata Anas.

“Udkhul”. Si Anas disuruh masuk. Diapun masuk, dibukanya pintu sedikit-sedikit, akhirnya kemanan yang namanya Maimun asal Malang itu sudah duduk di sofa, menunggu Anas.

Tanpa banyak tanya, si Anas disodorin black book, dan dia mengisi biodatanya di dalam black book itu. Itu buku isinya catatan hitam tentang santri, sebagai pertimbangan nantinya ketika sidang kenaikan kelas.

Singkat cerita, buku ajaib black book itu memvonis si Anas dengan sentence yang sangat berat, dibandingkan dengan kesalahannya yang cuma nggak ikut lari pagi. Si Anas digundul dan dipajang di depan kantor keamanan.

Si Anas dieksekusi tepat jam 8.15 pagi jumat, gedung santiniketan adalah tempat yang sangat sentral setelah masjid, khususnya untuk rute ke dapur umum. Jam 8 adalah jam macet semacet-macetnya dapur umum, dan pastinya hamper 70 persen dari 4500 santri yang ke dapur umum melewati depan gedung santiniketan.

Bayangkan, betapa terkenalnya si Anas, muka innocentnya dengan kepala plontos dipajang di depan santiniketan, dan di lehernya digantung tulisan dalam bahasa arab, “Jangan ikuti saya, saya tidak ikut lari pagi”. Ribuan santri yang pulang dan pergi ke dapur berhenti, melihat dan membaca apa yang tertulis di papan yang digantung di leher Anas.

Setelah satu jam dijemur, si Anas dipersilahkan kembali ke asramanya. Ketika seseorang kena gundul, bukan saja pikirannya yang tertekan, bagaimana nasibnya tahun depan, tetapi dia juga wajib menutup kepala plontosnya itu sampai rambutnya tumbuh beberapa centi, cara menutupnya adalah dengan memakai peci. Selain itu, dia juga tidak bisa berolah raga kecuali lari pagi, karena olah raga dilarang pakai peci. Jadi, selama peci masih di kepala, dia tidak bisa main bola, main basket dan oleh raga lainnya.

Menikmati suasana Ujian di Gontor

Written by admin. Posted in artikel

“Ujian untuk belajar, bukan belajar untuk ujian”, ungkapan yang selalu didengung-dengungkan setiap menjelang ujian, bahkan banyak baliho dan poster terpampang dimana-mana bertuliskan ungkapan tersebut. Baliho dan Poster tersebut adalah kreasi siswa akhir KMI yang diperbantukan oleh Staff KMI dan Panitia Ujian KMI. Sehingga, setiap tahun kreatifitas santri-santri akhir KMI yang memiliki keahlian menggambar dan melukis salah satunya diaplikasikan dalam pembuatan Baliho dan Poster untuk menambah kehangatan suasana Ujian di Gontor.

Ujian di Gontor bukan saja sebuah event untuk mencari nilai dan kelulusan, tapi juga sebuah pendidikan akhlak dan kejujuran, dimana proses jauh lebih penting daripada hasil, kalaupun tujuan ujian untuk mendapat nilai yang bagus maka proses mencapai itu juga harus bagus. Artinya, kalau lulus dengan cara nyontek atau bawa kepekan, itu bukan sebuah usaha yang hasilnya terhormat.

Kesempatan berbuat curang dalam ujian di Gontor seems to be an impossible mission,  bagaiamana bisa nyontek?, kiri-kanan siswa kelas di atas atau dibawah kita, satu ruang kelas isinya 20 examinee dengan 3 atau 4 pengawas yang “diharamkan” duduk oleh Panitia Ujian KMI. Diluar ruang ujian, panitia ujian wira-wiri setiap 5 menit, apabila dalam kondisi demikian bisa berbuat curang, maka anda sangat luar biasa, cocok menjadi politikus. Kalau ketahuan berbuat curang dalam ujian, dijamin tahun depan pelakunya pasti duduk di kelas yang sama, karena dia akan kena sanksi berupa skorsing 1 tahun ajaran.

Ujian di Gontor bukan saja sebuah event untuk mencari nilai dan kelulusan, tapi juga kesempatan mendekatkan diri pada Allah, karena hanya Allah yang bisa menjaga kesehatan kami, dan dengan kesehatan kami bisa belajar dan mengikuti ujian secara maksimal. Tidak aneh kalau pada masa ujian anak-anak santri merengek-rengek pada Allah dengan berbagai ibadah, mulai dari zikir, sholat sunnah dan puasa, pemandangan yang sangat lazim ketika jam 2 dinihari situasi di Masjid Jami’ kondisinya seperti siang hari, banyak anak-anak qiyamul lail di sudut-suduh masjid dan juga di asrama, bahkan di atas jemuran lantai 6 yang gelap gulita.

Salah satu hal aneh yang sering dilakukan oleh beberapa santri adalah tidak mandi pagi sebelum berangkat ujian, habis subuh langsung siap-siap pakaian sekolah dan siap-siap sarapan, kemudian masuk ujian, tidak semenitpun waktu dibuang-buang untuk hal yang tidak berguna, selalu bersama buku. Kalau ditanya kenapa tidak mandi? Karena mandi itu akan melunturkan ilmu, ilmu akan mengalir bersama air-air yang menetes dan masuk ke selokan. Hahaha…

Sebenarnya bukan ketatnya pengawasan yang membuat anak-anak tidak mau berbuat curang di ujian, tapi karena mereka diajarkan “bangga dengan hasil usaha sendiri meskipun kecil”, itulah yang membuat mereka tidak mau berbuat curang, lulus dengan nilai tinggi, semua orang kagum pada dia, tapi hati kecilnya memberontak “kamu lulus karena curang, apa yang kamu banggakan?”, lebih baik nilai kecil tapi puasa karena itu hasil usaha sendiri.

Makanya di Gontor setelah ujian, para santri hanya menerima selembar kertas berisi nilai, yang disebut Kasyfu Darojah, waktu menerima rapor yang dilihat pertama kali bukan nilai materi ujian tapi nilai paling bawah yaitu suluk alias akhlak, kalau suluk itu nilainya bagus, hidup tenang, meskipun nilai jelek, karena nilai yang tinggi dengan suluk rendah sama dengan kemungkinan naik kelas menurun atau naik kelas dengan pilihan berada di Pondok Cabang. Jangan dikira Wali Santri tidak menerima duplikat Kasyfu Darojah ini. Paniti Ujian KMI Gontor sudah mempersiapkan segala sesuatunya, sehingga duplikasi Kasyfu Darojah tersebut dipastikan akan sampai ke rumah santri dan santriwati Gontor agar para orang tua mereka dapat melihat hasil ujian yang mereka dapatkan. Setelah itu, kertas satu lembar itu jadi bungkus kacang. Bisa jadi.

Ayyu faslin jalasta?

Written by admin. Posted in artikel

“Fasl Tsani K”, Kelas Dua K, “Fasl Tsalits Taksify F”, Kelas 3 Intensif F, “Fasl Tsalits I”, Kelas 3 I, begitu terlihat tulisan kelas di atas pintu bagian luar. Ya, di Gontor kami memiliki kelas dimulai dari kelas B sampai seterusnya, dulu pernah sampai abjad V bahkan. Alhamdulillah, seiring berkembangnya Gontor, pembagian jumlah santri lebih merata di pondok cabang, sehingga abjad kelas yang ada di Gontor sudah tidak sebanyak itu. Pasti agak mengherankan bagi orang yang tidak pernah belajar di Gontor, ketika ditanya; “Kamu kelas berapa?”, kemudian dijawab, “Saya kelas 5 Q”.

Pertanyaan pertama, kenapa dimulai dari B? kenapa tidak A? Memang pada kenyataannya klasifikasi kelas itu berdasarkan kategori nilai, misalnya siswa yang mendapat nilai rata-rata 8,5 ke atas mendapat kelas B, 8,0-8,5 mendapat kelas C, dan seterusnya. Kenapa tidak ada kelas A? Filosofi kenapa tidak ada A yang sebenarnya hanya Kyai pencetusnya yang benar-benar mengetahui, kami hanya mencoba meraba-raba kenapa tidak ada kelas A.

Kalau memang placement class itu sesuai nilai tertinggi, yang paling tinggi nilainya dalam angkatan itu maka namanya akan tertulis di nomor 1 absen kelas B, dan seterusnya, maka untuk mengimplementasikan “Fauqa zil ilmi aliim”, di atas langit masih ada langit, maka dibuatlah kelas tertinggi B, sehingga apabila seorang anak kelas B merasa dia the best, dia harus ingat, masih ada A, yang lebih dari B, jadi dengan menjadi penghuni B tidak perlu merasa tertinggi, kerena masih ada A.

Begitulah juga dalam kehidupan, meskipun kita berada di atas, ingat masih ada lagi di atas kita, meskipun di dunia kita paling tinggi, tapi masih ada Allah di atas kita. Di atas langit masih ada langit.

Pertanyaan kedua, apakah kelas itu menentukan? Menentukan apa dulu? Memang di Gontor terkenal istilah “Fasl fauq ta’alum daiman”, kelas tinggi belajar mulu. Ya, biasanya memang terkenal anak-anak kelas tinggi itu, B,C, atau D misalnya jarang aktif di organisasi, kegiatan-kegiatan ekstra kulikuler lainnya, mereka sibuk belajar saja, supaya tahun depan dapat duduk di kelas B kembali setelah naik kelas.

Kembali ke “apakah kelas itu menentukan?”, ya, dalam kondisi tertentu kelas itu menentukan, misalnya ketika seorang siswa harus menerima amanah jabatan tertentu dimana kelas turut berperan. Tapi, kelas sama sekali tidak menentukan kualitas siswa, semua mereka ibarat mutiara-mutiara, semua berkilau, tapi kilauannya tidak terlalu terlihat, karena dalam tumpukan mutiara, kelak ketika mereka dilempar dalam lumpur, dalam tumpukan batu, maka mereka akan menunjukkan kilauan aslinya.