Archive for March, 2016

KETIKA GONTOR (katanya) WAHABI

Written by Firman Arifandi. Posted in artikel

Gontor

(Revisi)

Refleksi ini ditulis dari hasil obrolan saya dengan salah satu kawan dekat di Sudan*. Dalam obrolan itu beliau menyayangkan beberapa alumni Gontor di Sudan yg pemikiranya mudah ikut arus pemikiran kelompok Salafi Wahabi yang keras, setelah pulang ke Indonesia, kemudian menjadi tokoh da’i Wahabi y ang sedikit-sedikit teriak haram, bid’ah, kafir. Dia bertanya; “Gontor emangnya bermanhaj seperti apa? Kenapa kok banyak saya lihat yang pemikirannya keras (baca: radikal)?”

Saya katakan; “Gontor sama seperti prinsip Azhar, Wasathi. Tidak akan berpihak pada ormas manapun, tidak condong pada partai apapun, apalagi ikut manhajnya. Tapi Gontor tidak melarang para alumninya bahkan santrinya untuk bergabung dengan ormas, partai, dan madzhab apapun. Namun demikian, semua label ideologi ormas, partai dan manhaj itu tidak boleh dibawa ke Gontor. Harapannya, dengan kewasathiyahan Gontor, alumninya tidak ekstrim kanan sehingga berfikiran radikal, tidak juga ekstrim kiri sehingga jadi liberal”.

Kawan saya kemudian bertanya; “Lah, jika Gontor tidak punya latar belakang ormas atau harokah, apa menjamin arah ideologi para alumninya?”.

“Justru itu kang, prinsip ketidakberpihakan itu justru menjamin originalitas keislaman alumninya”, saya menimpali.

“Tapi faktanya, banyak tuh  di Sudan yang wahabi dari alumni gontor?”, lanjutnya.

Saya mencoba menjelaskan semampu saya; “Iya, coba sampeyan lihat jumlah alumni Pondok almamater sampeyan di Sudan sama alumni Gontor di Sudan, banyakan mana? Kalau perbandingannya adalah jumlah, itu karena Gontor setiap tahunnya menelurkan seribuan alumni, insya Allah alumni Gontor yg lurus lebih banyak daripada alumni Gontor yang Wahabi. Alumni Gontor tidak hanya ada yang Wahabi, kang. Liberal juga ada, bahkan Syi’ah juga ada. Dan saya yakin, alumni pesantren lainpun demikian, hanya bedanya di kuantitas karena pesantren lain nggak sebanyak Gontor alumni per tahunnya. Sebagai contoh saja, ada tuh alumni Pesantren Tambak Beras yg jadi tokoh besar Wahabi di Cipayung, Jakarta Timur. Eksis di youtube bahkan.”

Seakan belum puas dengan penjelasan saya, ia melanjutkan pertanyaannya; “Sejauh mana Gontor men-counter Wahabi? Sekuat apa pondasi pemahaman aqidah di Gontor diajarkan? Apa sistem pesantren salaf dengan ngaji sorogan dipakai di Gontor?”

Saya menjawab; “Kang, apa iya pesantren itu nggak ngajarkan Aqidah? Di Gontor santri diperkuat faham aqidahnya di 3 tahun pertama dengan kecondongan terhadap Aqidah Asy’ariyah. Jadi, insya Allah pondasi itu diperkuat dari awal mereka nyantri. Sistem pesantren salaf dengan ngaji kitab cara sorogan sengaja tidak dipakai di Gontor, hal ini agar santri dan guru lebih interaktiv dalam belajar dan mengajar, serta menghidupkan antusiasme pengajaran. Maka, ngaji kitab tetap ada tapi dengan sistem yg berbeda. Jadi Gontor sama sekali tidak menghilangkan substansi kepesantrenannya.”

Sepertinya kawan saya ini masih penasaran dengan Gontor, ia kemudian bertanya; “Saya dengar santri Gontor ngaji kitabnya Soleh Fauzan untuk bidang Tauhid? Bukankah itu artinya santri dimatikan akal logisnya, dibunuh nalar kritiknya untuk takwil dan diarahkan ke pemikiran takfiri dan tabdi’i?”

“Benar, di Gontor memang ngaji kitabnya Soleh Fauzan. Tapi alhamdulillahnya, 3 tahun pertama di gontor sudah diawali ngajinya kitab tauhid 20 sifat, itu supaya jadi pondasi kuat dan akal logisnya hidup utk takwil. Adapun kitab Soleh Fauzan tidak semuanya dimasukkan kedalam sillabus, bahkan bab bid’ah tidak dibaca. Saya melihat, kenapa kitab itu dijadikan bacaan di Gontor? Justru supaya nalar kritis santri makin hidup, dan agar santri mampu meng-compare jenis pemahaman aqidah dari sumbernya. Serta agar santri terarah untuk menilai segala hal secara objektiv, bahkan tidak jadi bagian dari takfiri dan tabdi’i. Seandainya isi kitab Soleh Fauzan itu jadi pedoman hidup di Gontor, saya yakin ngga akan ada wiridan setelah shalat jama’ah di Gontor, saya yakin qunut akan dilarang di Gontor, bahkan saya yakin pentas seni tahunan akan ditiadakan karena ada joget-joget dan musik-musiknya. Tapi ternyata semua itu masih ada tuh di Gontor sampai hari ini.”, saya merespon.

Ia kemudian bertanya lagi; “Lalu apa yang menjadikan alumninya (Gontor) berubah jadi Wahabi, Syi’ah, Liberal?”

“Pesantren pada umumnya ada untuk membentuk miliu kehidupan beragama, memberikan pondasi, peraturan-peraturannya yang mengikat, disiplin-disiplinnya yang kuat menjadikan santri terbentuk untuk ikut ke arah yang dibuat oleh pesantren tersebut. Nah, tatkala sudah jadi alumni, miliu pendukung seperti peraturan yang mengikat, dan silabus yang tertata mulai renggang, alumni tersebut mulai bebas menentukan arahnya sendiri. Kalau dia berada di lingkungan yang tepat, dia pasti akan Aswaja, tapi jika tidak, akan sebaliknya. ya seperti alumni kami yg di Sudan lah, kata sampeyan banyak yang Wahabi, tapi alumni Gontor yg di Pakistan, Aswaja semua itu, nggak ada tuh yang model-model Takfiri Tabdi’i kalau di Pakistan. Jadi, lagi-lagi lingkungan yang mendukung dia berubah, dan ini tolak ukur untuk semua Alumni Pesantren manapun saya kira”, saya menjawab.

Ia seakan belum puas, kemudian bertanya; “Terus, realisasi Gontor sebagai lembaga Tafaqquh Fi-d-diin dan menjaga Aswaja (ahlu sunnah wal jamaah) gimana menurut sampeyan?”

“Gontor sudah sangat totalitas juga di kurikulumnya Kang dalam menjaga aqidah santri. Di Gontor ada bahtsul masail dengan sistem ujian Fathul Kutub diaplikasikan melalui metode diskusi berkelompok, itu sangat akurat sekali menangkal pemikiran santri agar nggak nyeleneh. Ujian Fathul Kutub itu salah satu tujuannya untuk membuka apa yang ada di otak si santri pada sebuah Qodiyyah dengan metode analisa kitab dan diskusi, jadi akan terbuka lebar sejauh mana wawasan dia terhadap agama. Kalau kelihatan melenceng akan diluruskan dalam diskusi oleh musyrifnya. Cukup esensial saya rasa. Goal-nya Gontor pada penjagaan ke-Aswajaan. Meski Gontor nggak menamakannya kajian Aswaja, tapi substansinya sudah Aswaja banget. Jadi sebelum njenengan teriak-teriak untuk ber Aswaja, Gontor sudah mempraktekan Aswaja duluan”, saya merespon. Dan semoga apa yang saya jelaskan kepadanya sedikit merubah pemikirannya terhadap Gontor dari sebelumnya.

Islamabad, 29 maret 2016

Sumber

*Pada redaksi sebelumnya, penulis mencatut nama Tanfidziyah PCINU Sudan, setelah melakukan klarifikasi, penulis meralat klaim tersebut dan meminta maaf kepada pihak pengurus Tanfidziyah PCINU Sudan atas kekeliruan menyertakan nama lembaga dalam sebuah obrolan yang sifatnya individu.

Tidak penting

Written by Angga Prilakusuma. Posted in artikel

Zaman internet di telepon genggam dapat berarti banyak hal. Positifnya, informasi mudah diperoleh, komunikasi tidak tersekat jarak dan waktu. Instan. Banyak hal yang dapat diketahui melalui internet atau aplikasi chat seperti WA. Sampai ada istilah masyarakat informasi. Konon setelah masa agraris dan industri, zaman baru yang datang adalah era informasi. Pengetahuan, ide dan kreativitas menjadi kapital baru, lebih penting dari era sebelumnya.

Negatifnya, informasi yang dapat dijangkau terlalu banyak. Sebagian besar tidak bermanfaat, tidak penting, dan tidak berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari. Mau Ahok jadi gubernur lagi atau tidak, karyawan counter di seberang terminal di Sidoarjo itu lebih memusingkan pemasukan sampingan atau macet di Gedangan yang lambat diatasi pemerintah. Seberapa pun banyak posting tentang Ahok di dinding FB, baginya hal itu tidak urgen. Kecuali misalnya, ia adalah warga Jakarta, atau akademisi dan ulama yang berkepentingan membahas polemik pemimpin non-muslim dalam tradisi Islam.

Social Media

Tapi tak dapat dipungkiri, dengan menelusuri timeline, waktunya sedikit banyak telah tersita untuk memperhatikan hal yang tak langsung berkaitan dan berdampak bagi kehidupannya. Ini cuma contoh.

Atau pesan yang terkirim lewat grup di WA. Belasan atau puluhan orang mengobrol di grup, banyak pula topik yang tidak berkaitan dengan kehidupan pribadi seseorang. Grup bisa “dibungkam” hingga maksimal setahun. Tapi pesan terbaru yang tak terbaca pasti berada di urutan paling atas, menuntun pengguna untuk membukanya. Belum lagi BC produk, dst. Barangkali itu yang dinamakan polusi informasi (information pollution).

Ponsel asalnya adalah ruang pribadi, tapi kini menjadi ruang publik yang dibawa ke kamar. Sales zaman dahulu datang mengetuk pintu rumah. Terserah empunya rumah, mau menerima atau tidak. Itu haknya. Tapi BC langsung hadir ke kamar, bisa jadi saat pemilik ponsel tidur, atau ke toilet. Tanpa permisi dan tak bisa ditolak, suka atau tidak. Sebagian orang cuek, tapi tak sedikit pula yang merasa terganggu.

Tapi yang terlihat, batas antara yang publik dan privat menjadi kabur. Status yang anda tulis atau obrolan singkat bersama kawan anda di timeline sebenarnya bersifat privat, dalam artian tidak ditujukan kepada khalayak, meski nyatanya teman anda yang lain dapat mengaksesnya. Belum lagi twitter yang kicauannya terbuka dan dapat dibaca publik, padahal isinya cerita keseharian pengguna itu. Obrolan anda melalui jalur pribadi (PM) juga dapat di-screenshot dan dibagikan ke grup lain tanpa sepengetahuan anda. Apalagi gambar-gambar yang dipampang di facebook atau instagram. Terlalu banyak orang yang dapat mengunduhnya (download). Syukur bila pengguna itu tahu, orang yang dapat melihatnya tidak berniat buruk. Akan lain lagi halnya bila niat pengunduhnya tidak diketahui.

Kemudahan informasi dapat menyebabkan banjir informasi (information overload), dan pengguna dituntut untuk bersusahpayah mencari beberapa informasi yang berguna bagi kehidupan pribadinya di tengah tumpukan informasi, seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami.

Banyaknya informasi juga dapat mengaburkan skala prioritas. Memilih isu mana yang harus diikuti, atau ditelusuri lebih jauh. Tapi untuk itu, banyak waktu yang tersita saat sekilas melihat opsi-opsi yang tersedia. Banyaknya opsi dapat menunda pengambilan keputusan.

Tanda baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak penting baginya. Tidak semua harus dibaca. Tidak semua harus dikomentari. Tidak semua harus difoto dan dipasang di internet.

Wallahu a’lam.

 

LSM; Premanisme Gaya Lama Yang Berreinkarnasi

Written by Muhammad Irfan. Posted in artikel

 

Lembaga Swadaya Masyarakat sering disebut LSM, Organisasi Masyarakat yang tumbuh subur di Indonesia pada era ini. Era disaat kebebasan berekspresi dan kebebasan berkumpul didewakan menjadi bagian dari Konstitusi. Ya, Kebebasan berserikat dan berkumpul memang dilindungi oleh Undang-Undang Dasar 1945 tepatnya pada pasal 28. Perlindungan konstitusional ini dimanfaatkan oleh beberapa pihak untuk meraih sekelompok orang agar dapat mengutarakan berbagai pendapat baik dalam bentuk lisan maupun tulisan.

LSM banyak ditujukan untuk menyuarakan berbagai keluhan masyarakat yang mungkin saja tidak tersentuh oleh pelbagai program pemerintah – niat utama – tapi pada kenyataannya tak jarang LSM saat ini bertransformasi menjadi Lembaga yang “meminjam” atas nama Masyarakat hanya untuk memeras Lembaga Pemerintah untuk mendapatkan “jatah” dari Anggaran Negara dengan cara – cara premanisme.

Curhatan gangguan LSM ini sudah disuarakan oleh Bima Arya yang merasa bahwa hamper 100 % Pemerintah Daerah diganggu oleh keberadaan Lembaga “Peminjam” nama Masyarakat ini. Belum lama ini, Ridwan Kamil, Wali Kota Bandung, juga menanggapi demo yang mengatasnamakan rakyat miskin yang merasa tak tersentuh terhadap perkembangan program Pemerintah Kota Bandung. Keadaan ini sebenarnya sangat bisa dibaca bahwa LSM tersebut mempunyai keinginan untuk mendapatkan kucuran dana segar dengan cara premanisme. Mengapa demikian? Ya, Pemerintah Kota Bandung dipastikan sudah punya Program Pengentasan KEmiskinan dan sudah banyak terrealisasi dan masih didemo. Ok, kritis terhadap Program Pemerintah adalah keniscayaan, tapi tanpa membaca apa yang sudah dilakukan sama saja dengan menafikan program yang sebenarnya sudah berjalan dengan baik tanpa bantuan LSM, Mengapa LSM Demo? Saya yakin jawabannya anda semua tahu, LSM tak kebagian dana tersebut.

Tak perlu jauh-jauh kita ke Bogor atau Bandung, saya sebagai bagian dari Lembaga Pemerintahan di bidang Yudisial, saat ini sedang dalam Program Pembangunan Gedung Kantor, tak jarang – untuk tak mengatakan setiap hari – kantor kami yang masih menyewa ini didatangi oleh oknum LSM tertentu dengan membawa wartawan. Tujuan mereka? Entah saya kurang paham, tapi setahu saya, intinya “memeras” dana APBN yang digunakan untuk Pembangunan Gedung Kantor dengan mencari-cari kesalahan untuk dapat diberitakan di Koran, bila tidak ingin diberitakan kami harus membayar sepeser rupiah kepada Oknum LSM tersebut. Ya, keadaan ini sudah menjadi rahasia umum di Lembaga Pemerintahan manapun seperti yang saya contohkan di atas.

Ok, korban diatas adalah Lembaga Pemerintah, maka lebih miris lagi ketika kita harus menghadapi bahwa yang menjadi korban premanisme LSM adalah Masyarakat. Tak jarang kita mendengar “uang keamanan” di kalangan pedagang pinggir jalan dan pasar yang disetorkan kepada preman atas nama LSM. Hal ini tentu secara langsung merugikan pedagang yang tak jarang adalah warga miskin terpinggirkan dan secara tak langsung merugikan Pemerintah Daerah dan seluruh masyarakat setempat karena pendapatan daerah dari pedagang pasar tak masuk ke kas daerah.

Premanisme macam begini saat ini menjamur di masyarakat yang tak jarang dengan modal tampang seram, badan kekar, atau punya backing Anggota/Petinggi Kepolisian, Anggota/Petinggi TNI, atau bahkan bagian dari Pemerintah itu sendiri yang menginginkan keuntungan pribadi.

Tak hanya urusan financial sebenarnya, banyak tatanan masyarakat yang diobok-obok oleh LSM Preman seperti ini demi keuntungan kelompok tertentu atau bahkan pribadi tertentu. Bagaimana LSM seperti diatas sering memprovokasi masyarakat untuk menggagalkan program pemerintah yang inti sebenarnya adalah karena LSM tersebut tak “kecipratan” dana program pemerintah. Bukankah banyak cara untuk mencari penghasilan untuk sebuah perkumpulan tanpa harus menggangu program pemerintah atau bahkan menarik upeti dari pedagang kecil sebagai uang keamanan? Bertaubatlah wahai LSM Preman banyak yang sudah tak nyaman dengan keberadaanmu.

http://news.liputan6.com/read/2198061/bima-arya-kepala-daerah-sering-diganggu-lsm-dan-ormas-preman

https://www.facebook.com/RKbdg/photos/a.165770243574805.1073741828.163237587161404/639390996212725/?type=3&theater

Paksa!

Written by Nurdin Sarim. Posted in artikel

“Perintahkanla anak kalian untuk sholat saat mereka berusia tujuh tahun dan pukullah mereka, (jika meninggalkan sholat) saat mereka berusia sepuluh tahun”.

Kata “Pukulah” dalam hadits diatas menyiratkan “paksaan”. Paksaan untuk melakukan tindakan keras terhadap anak yang enggan sholat.

Memang, terkadang kebaikan itu harus dipaksakan hingga menjadi kebiasaan. Bukankah Allah juga “memaksa” kita untuk beribadah kepadanya?, jika tidak Neraka balasannya.

Saya masih ingat bagaimana pendidikan paksaan ini dilakukan Gontor, hampir disegala bidang dan lini kehidupan pesantren, berawal dari pemaksaan.

Waktu dinyatakan lulus ujian masuk saja, siswa langsung dipaksa untuk mengikuti disiplin dari A  sampai Z nya. Jangan harap ada peraturan tertulis, semua peraturan hanya diucapkan, disosialisasikan, peraturan-peraturan ini kemudian kami kenal dengan sebutan “Tengko” teng komando. Melanggar tengko sama saja dengan cari mati.

Siswa baru dipaksa untuk meninggalkan bahasa kampungnya, meninggalkan kesukuan dan kedaerahannya, semua dilebur, dicampur dengan siswa lain dalam kamar-kamar asrama. Menghina daerah dan suku lain, mati. Angkat koper.

Tiga bulan jadi santri baru, mereka dipaksa untuk meninggalkan bahasa Indonesia sama sekali. Berganti Bahasa Arab atau Inggris. tidak bisa, diam saja. Percakapan di semua lini kehidupan siswa tak lepas dari dua bahasa; di asrama, kantin, dapur, lapangan dan laennya.

Santri ingusan itu juga dipaksa menyapu, mengepel, ngaji 4 kali sehari, azan, jadi imam sholat, pidato arab inggris, berpakaian rapi, rambut klimis bak polisi dan mengurus kebutuhannya sendiri. Tak jarang, karena filosofi paksaan begitu kuat, mereka tak makan, tak mandi, kurang tidur dan kurus kering.

Pendidikan paksaan ini begitu kuat di kelas satu, dan semakin keras di kelas selanjutnya. Kelas tiga dan empat tipaksa menjadi panitia lomba drama, pidato, pentas musik dan seni, tak beres umpatan dan kayu bisa melayang dari pengurus rayon.

Kelas lima lebih gila lagi. Pendidikan paksaan ini luar biasa gilanya. Mereka harus sekolah tapi juga harus mengurus siswa laen yang ratusan di asrama. Ngurus kebersihan asrama, lampu, bahasa, keamanan, laporan, dan lain sebagainya.

Mereka harus bangun sebelum anggotanya, dikejar-kejar keamanan, tandatangan kehadiran, asrama tak beres, kayu melayang. Malamnya harus belajar bersama, ngantuk cap lima jari balasannya. Usai belajar bersama harus rapat pengurus asrama hinngga tengah malam. Tak jarang jam 12 malam dipanggil keamanan, asrama tak beres, anggota tak disiplin.

Saya merasakan kelas lima di Gontor laksana neraka di dunia. Anggota yang salah pengurus yang dihabisi, anggota tak berbahasa, makan berdiri, lingkungan tak bersih dan hal tak beres lainnya, tanggungjawab ada di pengurusnya. Pengurus OPPM bagai singa dan anjing yang siap menerkam, mengusik ketentraman kapan dan dimana saja.

Naik ke kelas enam, mungkin agak lebih baik dari kelas lima, tapi semua urusan pesantren ada di pindaknya. Dapur, administrasi keuangan, kantin, laundry, koperasi pelajar, masjid, dokumentasi dan sebagainya adalah tanggungjawabnya, salah laporan, sumpah serapa didapat.

Maka saat laporan pertanggungjawaban semua bendahara bagian tak henti-hentinya menghafal uang masuk dan keluar yang jumlahnya miliaran. Salah satu angka saja, dampaknya fatal.

Pendidikan paksaan di Gontor luar biasa kerasnya. Tapi walaupun begitu, pemaksaan ini kemudian menjadi karakter tersendiri bagi siswanya. Siswa menjadi terbiasa kerja cepat, jalan cepat, belajar cepat, berfikir cepat dan semua kecepatan lainnya.

Pak Syukri selalu berkata “Kalian dipaksa disini, bukan untuk kami atau pondokmu ini, kalian dipaksa untuk kebaikan diri kalian sendiri.”

Saya rasakan paksaan itu menjadi pemicu kreatifitas, karena dipaksa, dihabisi dan ditekan untuk belajar disiplin, akhirnya jadi biasa. Sahabat yang lain dipaksa mengurus dapur dan penginapan, jadilah ia pengusaha rumah makan dan hotel.

Pendidikan dengan memaksa tidak selamanya negatif, ada ruh kreatifitas, kecepatan dan disiplin yang kuat di dalamnya. Dan ini yang saya rasa belum ditemukan di sini.

Allahua’lam.