Archive for February, 2016

Kegembiraan berolahraga di Gontor

Written by admin. Posted in artikel

Olah Raga

Ada istilah “Mens sana in corpore sano” dalam bahasa Latin, kalau diterjemahkan dalam bahasa Inggris kira-kira artinya “A sound mind in a sound body.”, dalama Bahasa Arab disebut “Al aqlus salim fil jismis salim”, Akal yang sehat terdapat dalam badan yang sehat.

Tidak semua orang suka berolahraga, apalagi di Gontor, dimana semua kegiatan ditentukan lonceng, 1 menit terlambat, pasti konsekwensinya semua kegiatan selanjutnya akan terlambat atau memilih meninggalkan salah satu kegiatan untuk memotong keterlambatan.

Misalnya, habis sholat ashar jam 15.45 adalah waktu olah raga, berlangsung selama 60 menit, dan jam 16.45 lonceng berbunyi tandanya semua sudah harus siap-siap ke masjid, persiapan untuk ke masjid mulai dari mandi dan lain-lain hanya 30 menit, kalau terlambat berarti kamu “menantang” bagian Ta’mir Masjid. Nah, bagi anak-anak yang tidak berani mengambil resiko, mereka memilih tidak ikut olah raga, akhirnya selama 60 menit itu mereka manfaatkan untuk mandi dan tertawa-tertawa, atau pergi ke kantin. Bagi yang suka olah raga, 60 menit dipakai untuk melakukan olah raga yang mereka sukai.

Pastinya, ketika lonceng jam 17.00 berbunyi, dengan pakaian berkeringat mereka lari ke asrama masing-masing, karena tidak boleh mandi di asrama orang lain, kalau antrian panjang, otomatis dengan cekatan dia menggantung pakaian oleh raga di jemuran dan memakai pakaian ke masjid, dalam pikirannya, “Bodo amat lah belum mandi, yang penting nggak terlamabat ke masjid”, Masya Allah semangatnya ke masjid, bukan karena rindu masjid sih, tapi karena takut sama bagian Keamanan dan bagian Ta’mir Masjid yang sudah berdiri menyeramkan di depan masjid.

“Jadi, ke masjid sore-sore nggak mandi? Keringetan gitu? Habis oleh raga?”, Eits, tunggu dulu, mereka-mereka yang suka tantangan seperti itu punya trik khusus bisa mandi tanpa harus kena hukuman, meskipun mandinya di tempat wudhu! Tapi itu ada kisahnya. Lain kali akan kami tuliskan kisah tersebut.

Nah, karena di Gontor banyak kegiatan, banyak aktivitas, anak-anak muda yang berumur 14-20 tahun itu tidak mungkin dibiarkan begitu saja, harus ada pelampiasan, makanya pelampiasan mereka adalah olah raga, dengan olah raga pikirannya akan fresh dan pikiran-pikiran negatif akan hilang. Makanya, untuk menjaga stabilitas bagi yang tidak mau olah raga, diwajibkanlah lari pagi dua kali seminggu, semua santri dari kelas 1-5 wajib ikut lari pagi keliling desa Gontor, menikmati indahnya sawah dan kebun jagung yang membentang hijau sejauh mata memandang.

Tapi, kalau memang sudah malas, banyak saja alasan, bahkan demi tidak ikut lari pagi, ada yang mengaku sakit paru-paru dengan membawa hasil ronsen dada orang lain yang menderita sakit paru-paru, entah dimana dapatnya, yang pasti bagaian Olah Raga memberinya lisensi untuk tidak ikut lari pagi. Akhirnya saat orang lari pagi, dia tarik selimut lagi.

Tidak ikut lari pagi, termasuk pelanggaran sedang, yang dikenakan hukuman gundul. Ketika semua orang lari pagi, bagian Keamanan razia ke Asrama dan tempat-tempat yang dicurigai sebagai tempat sembunyi, apalagi bagian Keamanannya dulu ketika masih santri biasa termasuk santri yang bandel, pastinya tahu dimana tempat persembunyian.

Anehnya, ada yang memilih bersembunyi di dalam tandon kamar mandi daripada harus ikut lari pagi. Ada juga yang memilih sembunyi di Kuburan, di Sungai sampai pura-pura jadi piket! Mendingan nyapu dan ngepel 10 kamar asrama, daripada lari pagi!

Potong ala Jundi, its not Just a Style!!!

Written by admin. Posted in artikel

Selama bertahun-tahun di Gontor, momen paling berbunga-bunga adalah saat harus pangkas rambut dengan gaya ini, karena dengan punya rambut seperti ini pada pertengahan bulan Ramadhan, artinya kita sudah “merdeka” dari “penjajahan” kakak kelas 6, dengan rambut gaya ini rasanya kita sudah menjadi Raja di Gontor, dengan rambut begini pula bisa dengan bangga menelpon orangtua yang jauh yang tidak bisa menemani lebaran bersama, dan dengan rambut begini pada tanggal 10 Syawwal bisa dengan bangga menyambut adik-adik kelas datang kembali ke Pondok setelah mereka liburan 40 hari, inilah gaya rambut “pemenang”.

Bukan berarti yang tidak bisa mendapat gaya rambut begini adalah “looser”, malah yang lebih “jagoan” lagi kalau harus menunda cukur sampai tahun depan, tapi mau berjuang demi gaya rambut itu. Dan memang menjadi kelas 5 di Gontor sama “tersiksanya” dengan gabungan masa kelas 1-4, dan kelas 5 adalah momen paling “the most memorable occasion”.

Gaya rambut begini, tandanya pemiliknya adalah santri yang baru yudisium menjadi kelas 6, kelas 6 adalah posisi paling senior dan paling bergengsi dan the last step menuju alumni, dan bisa mensejajarkan nama dengan orang-orang besar yang pernah mendapat pendidikan di Gontor, ya meskipun nama sejajar cuma di list data alumni, kalau baca list data alumni…”eh di ujung ada nama ane”.

Setelah diumumkan nama sebagai lulusan di bawah “pohon mangga”, langsung lari ke tukang cukur yang sudah antri 5 orang, dan membayar 1000 rupiah. Tapi banyak yang saking bahagianya membayar tukang cukur sampai 100 ribu rupiah, tapi tukang cukur yang sudah setiap tahun melakukan kegiatan itu pasti menolak, mereka hanya menerima 1000 rupiah, itulah sebutan “rambut gaya 1000 rupiah”.

Gaya rambut seperti ini secara resmi disebut “Jundi”, artinya tentara. Seumur hidup di Gontor, setiap santri “halal” mendapat gaya jundi hanya sekali saja, yaitu pada tanggal 15 Ramadhan. sebagai bukti bahwa yang bersangkutan resmi jadi siswa akhir di Gontor. Adapun yang mendapatkan kesempatan “jundi” prematur, itu adalah kesalahan, pasti karena pelanggaran disiplin.

Tapi yang paling penting adalah jadi Penguasa Dapur Umum, bisa makan kapan saja dan sesuka hati…hahahha

Gontor is not just a school, it’s home, it’s dream, it’s story, it’s history.

Jantung Gontor itu Bernama Jaros

Written by admin. Posted in artikel

Jaros

“Al Jarosu Qalbul Ma’had”, Lonceng adalah Jantung Pondok, mungkin itu salah satu ungkapan yang sering disebutkan di Gontor. Kenapa? Karena memang semua gerak-gerik dan kegiatan diatur oleh lonceng ini, yang lebih terkenal dengan sebutan Jaros. Suaranya “Teng…klonteng…klonteeeng…”, sampai ada istilah “Pembacaan Tenko” yaitu pembacaan peraturan dan disiplin Gontor setiap awal tahun, Tengko sendiri merupakan singkatan dari Teng Komando, artinya apabila sudah dibacakan Tengko dan Jaros sudah dipukul, maka tidak ada toleransi lagi untuk tidak mengikuti disiplin. Konon, katanya Jaros ini adalah bom zaman Belanda atau zaman Jepang.

Di balik ungkapan Al jarosu Qalbul Ma’had banyak tersimpan rahasia, salah satunya membuat Jaros itu “sakral”, dalam artian banyak Jaros lain yang tersebar di beberapa sudut Pondok, tapi itu hanya jaros “cabang”, sedangkan ini jaros pusat yang terletak di depan Aula Pertemuan dan Masjid Jami. Kalau dulu di kampung suka mukul beduk sembarangan malam Ramadhan untuk bangunin orang sahur, maka Jaros ini hanya authorized bagi sebagian orang saja, antara Ustaz-ustaz Pengasuhan Santri, Bagian Keamanan, ketua-ketua Asrama dan Pengurus Asrama Anak Baru.

Aku sendiri pernah menjadi Ketua Asrama dan Bagian Keamanan, tapi belum pernah memukul jaros itu, pernah sih sekali, itupun salah pukul, aku memukulnya 3 menit sebelum waktunya, apa yang terjadi? Kebetulan waktu itu sedang ujian, Aula Pertemuan dipakai untuk ruang ujian, dan kebetulan salah satu pengawas di Aula adalah ustaz Pengasuhan santri, dia murka dan bisa dipastikan pelakunya akan digundul!

“Man yadhrib jaroooooosss!” teriak ustaz itu, aku yang baru mau naik sepeda, berpakaian rapi selaku bagian Keamanan, “Sef, nte yang pukul jaros? Jam berapa ini? Guoblooook!”, begitu kira-kira teriakan ustaz itu. Kalau aku bukan penghuni Santiniketan Kamar 2, sudah pasti digundul. Itu yang pertama dan terakhir aku memukul jaros. Sebenarnya itu murni salahku, karena di depan Aula ada jam besar sebagai patokan pemukul jaros, tapi aku melihat jam tanganku, ya wajar, jam tanganku selalu 3 menit lebih cepat dari jam normal. Bukan biar cepat bisa buka puasa, tapi kalau aku buat janji pada jam sekian, aku bisa hadir 3 menit lebih cepat.

Apa sih artinya 3 menit lebih cepat? Lagian anak-anak dalam ruang ujian juga sudah kelar dan sudah bosan. Masalahnya bukan itu, tapi ketika jaros pusat berbunyi, semua kegiatan yang seharusnya belum dilakukan, akan dilakukan, dan yang seharusnya sedang dilakukan, harus segera ditinggalkan. Ketidak jelasan dan ketidak teraturan waktu akan merusak tatanan disiplin yang sudah diatur.

Waktu aku kelas 5, masih “terjajah” oleh kelas 6, ada kejadian lucu yang memorable banget bagi kami semua, yaitu kecelakaan jaros yang terjadi pada salah satu “setan berjaket hitam”, saat itu dengan bangganya dia berdiri di depan jaros dan akan memukulnya, “Teng…Klonteng…Klonteng…klutuk awww..”, ternyata besi tengah itu dipegang terlalu tinggi, akhirnya jempolnya yang kena pukul, tak ayal lagi, langsung merah mukanya dan jempolnya bengkak, dan pastinya kukunya copot atau terkelupas. Masih banyak cerita lain di balik jaros itu…

Ustaz Syarif Abadi — Sang Tauladan

Written by admin. Posted in artikel

Ust. Syarif Abadi

Suatu ketika Kyai Hasan Abdullah Sahal pernah berkata, “Kalau Pondoknya lebih terkenal dari Kyainya, maka Kyainya telah berhasil membesarkan Pondoknya”, Hal itu sangat cocok untuk Kyai-kyai Gontor, semua orang tahu Gontor, tetapi sedikit sekali yang tahu Kyai Ahmad Sahal, Kyai Imam Zarkasyi, Kyai Zainuddin Fannanie rahimahumullah.

Sama seperti sosok teladan ustaz Syarif Abadi, salah seorang guru senior di Gontor yang menjadi rujukan ilmu Fiqih 4 mazhab, beliau bukan lulusan universitas ternama di dunia, tetapi para sarjana luar negeri yang saat ini mengajar di Gontor hormat pada beliau, bukan karena senioritas saja, tetapi dedikasi beliau, akhlak beliau, tawadhu beliau, dan pastinya kesederhanaan beliau.

Benar, jangankan di dunia pendidikan nasional, di kalangan santri sendiri ada yang tidak mengenal ustaz Syarif Abadi, hanya namanya saja yang mereka dengar, tapi tidak tahu orangnya, tetapi sekali mengenal beliau dijamin jatuh cinta.

Pernah suatu ketika, salah satu siswa kelas 6 yang akan menjalani ujian “Amaliyah Tadris” mendapat Pembimbing bernama ustaz Syarif Abadi, otomatis dia harus menemui beliau untuk mengajukan konsep amaliyahnya, beliau tinggal di luar komplek Pondok, di kampung sebelah, diseberang sungai Malo. Siswa itupun pergi dengan sepeda Keamanan, karena dia bagian Keamanan.

Kampung sebelah itu indah sekali, setelah melewati sungai Malo, terlihatlah sawah terhampar hijau sejauh mata memandang, dari kejauhan terlihat seorang laki-laki tua dengan pakaian sederhana sedang menggiring kambing-kambingnya.

Karena tidak tahu rumah ustaz Syarif dimana, siswa itu berhenti dan bertanya, “Pak, dimana ya rumah ustaz Syarif Abadi?”, dengan senyum laki-laki tua itu menjawab, “Kamu jalan terus saja, nanti akan ada sebuah gubuk kecil di pinggir sawah, itulah rumahnya, disitu Cuma ada satu rumah, itulah rumahnya”. Diapun melajutkan perjalanannya.

Sampai di depan rumah itu, terlihat sunyi, siswa itu memberanikan diri turun dan memberi salam, tapi tak ada jawaban, setelah 3 kali dia memberi salam sambil melihat-lihat kiri kanan rumah itu, dari kejauhan terdengar jawaban, “Waalaikumsalam…kamu mencari pak Syarif? ini saya Syarif”.

Segera saja dia berbalik ke arah suara, ternyata pemilik suara itu adalah laki-laki tua pengembala kambing. Siswa itu malu sekali, karena tidak mengenal gurunya yang akan menjadi pembimbingnya dalam ijian final Amaliyah Tadris.

Ustaz Syarif Abadi, sosok yang luar biasa, tidak pernah sekalipun terlihat beliau marah. Pada malam ujian, seperti terlihat pada foto itu, beliau dengan motor tuanya keliling pondok melihat anak-anak yang sedang belajar, dan pastinya menanyakan apapun masalah mereka.

Yang membuat beliau istimewa di hati semua alumni Gontor adalah sifat kebapakan beliau, ketulusan, keikhlasan, dan keilmuwannya. Kapanpun dan dimanapun kami berada, nama beliau selalu di hati dan dalam doa.