Archive for January, 2016

Menikmati suasana Ujian di Gontor

Written by admin. Posted in artikel

“Ujian untuk belajar, bukan belajar untuk ujian”, ungkapan yang selalu didengung-dengungkan setiap menjelang ujian, bahkan banyak baliho dan poster terpampang dimana-mana bertuliskan ungkapan tersebut. Baliho dan Poster tersebut adalah kreasi siswa akhir KMI yang diperbantukan oleh Staff KMI dan Panitia Ujian KMI. Sehingga, setiap tahun kreatifitas santri-santri akhir KMI yang memiliki keahlian menggambar dan melukis salah satunya diaplikasikan dalam pembuatan Baliho dan Poster untuk menambah kehangatan suasana Ujian di Gontor.

Ujian di Gontor bukan saja sebuah event untuk mencari nilai dan kelulusan, tapi juga sebuah pendidikan akhlak dan kejujuran, dimana proses jauh lebih penting daripada hasil, kalaupun tujuan ujian untuk mendapat nilai yang bagus maka proses mencapai itu juga harus bagus. Artinya, kalau lulus dengan cara nyontek atau bawa kepekan, itu bukan sebuah usaha yang hasilnya terhormat.

Kesempatan berbuat curang dalam ujian di Gontor seems to be an impossible mission,  bagaiamana bisa nyontek?, kiri-kanan siswa kelas di atas atau dibawah kita, satu ruang kelas isinya 20 examinee dengan 3 atau 4 pengawas yang “diharamkan” duduk oleh Panitia Ujian KMI. Diluar ruang ujian, panitia ujian wira-wiri setiap 5 menit, apabila dalam kondisi demikian bisa berbuat curang, maka anda sangat luar biasa, cocok menjadi politikus. Kalau ketahuan berbuat curang dalam ujian, dijamin tahun depan pelakunya pasti duduk di kelas yang sama, karena dia akan kena sanksi berupa skorsing 1 tahun ajaran.

Ujian di Gontor bukan saja sebuah event untuk mencari nilai dan kelulusan, tapi juga kesempatan mendekatkan diri pada Allah, karena hanya Allah yang bisa menjaga kesehatan kami, dan dengan kesehatan kami bisa belajar dan mengikuti ujian secara maksimal. Tidak aneh kalau pada masa ujian anak-anak santri merengek-rengek pada Allah dengan berbagai ibadah, mulai dari zikir, sholat sunnah dan puasa, pemandangan yang sangat lazim ketika jam 2 dinihari situasi di Masjid Jami’ kondisinya seperti siang hari, banyak anak-anak qiyamul lail di sudut-suduh masjid dan juga di asrama, bahkan di atas jemuran lantai 6 yang gelap gulita.

Salah satu hal aneh yang sering dilakukan oleh beberapa santri adalah tidak mandi pagi sebelum berangkat ujian, habis subuh langsung siap-siap pakaian sekolah dan siap-siap sarapan, kemudian masuk ujian, tidak semenitpun waktu dibuang-buang untuk hal yang tidak berguna, selalu bersama buku. Kalau ditanya kenapa tidak mandi? Karena mandi itu akan melunturkan ilmu, ilmu akan mengalir bersama air-air yang menetes dan masuk ke selokan. Hahaha…

Sebenarnya bukan ketatnya pengawasan yang membuat anak-anak tidak mau berbuat curang di ujian, tapi karena mereka diajarkan “bangga dengan hasil usaha sendiri meskipun kecil”, itulah yang membuat mereka tidak mau berbuat curang, lulus dengan nilai tinggi, semua orang kagum pada dia, tapi hati kecilnya memberontak “kamu lulus karena curang, apa yang kamu banggakan?”, lebih baik nilai kecil tapi puasa karena itu hasil usaha sendiri.

Makanya di Gontor setelah ujian, para santri hanya menerima selembar kertas berisi nilai, yang disebut Kasyfu Darojah, waktu menerima rapor yang dilihat pertama kali bukan nilai materi ujian tapi nilai paling bawah yaitu suluk alias akhlak, kalau suluk itu nilainya bagus, hidup tenang, meskipun nilai jelek, karena nilai yang tinggi dengan suluk rendah sama dengan kemungkinan naik kelas menurun atau naik kelas dengan pilihan berada di Pondok Cabang. Jangan dikira Wali Santri tidak menerima duplikat Kasyfu Darojah ini. Paniti Ujian KMI Gontor sudah mempersiapkan segala sesuatunya, sehingga duplikasi Kasyfu Darojah tersebut dipastikan akan sampai ke rumah santri dan santriwati Gontor agar para orang tua mereka dapat melihat hasil ujian yang mereka dapatkan. Setelah itu, kertas satu lembar itu jadi bungkus kacang. Bisa jadi.

Ayyu faslin jalasta?

Written by admin. Posted in artikel

“Fasl Tsani K”, Kelas Dua K, “Fasl Tsalits Taksify F”, Kelas 3 Intensif F, “Fasl Tsalits I”, Kelas 3 I, begitu terlihat tulisan kelas di atas pintu bagian luar. Ya, di Gontor kami memiliki kelas dimulai dari kelas B sampai seterusnya, dulu pernah sampai abjad V bahkan. Alhamdulillah, seiring berkembangnya Gontor, pembagian jumlah santri lebih merata di pondok cabang, sehingga abjad kelas yang ada di Gontor sudah tidak sebanyak itu. Pasti agak mengherankan bagi orang yang tidak pernah belajar di Gontor, ketika ditanya; “Kamu kelas berapa?”, kemudian dijawab, “Saya kelas 5 Q”.

Pertanyaan pertama, kenapa dimulai dari B? kenapa tidak A? Memang pada kenyataannya klasifikasi kelas itu berdasarkan kategori nilai, misalnya siswa yang mendapat nilai rata-rata 8,5 ke atas mendapat kelas B, 8,0-8,5 mendapat kelas C, dan seterusnya. Kenapa tidak ada kelas A? Filosofi kenapa tidak ada A yang sebenarnya hanya Kyai pencetusnya yang benar-benar mengetahui, kami hanya mencoba meraba-raba kenapa tidak ada kelas A.

Kalau memang placement class itu sesuai nilai tertinggi, yang paling tinggi nilainya dalam angkatan itu maka namanya akan tertulis di nomor 1 absen kelas B, dan seterusnya, maka untuk mengimplementasikan “Fauqa zil ilmi aliim”, di atas langit masih ada langit, maka dibuatlah kelas tertinggi B, sehingga apabila seorang anak kelas B merasa dia the best, dia harus ingat, masih ada A, yang lebih dari B, jadi dengan menjadi penghuni B tidak perlu merasa tertinggi, kerena masih ada A.

Begitulah juga dalam kehidupan, meskipun kita berada di atas, ingat masih ada lagi di atas kita, meskipun di dunia kita paling tinggi, tapi masih ada Allah di atas kita. Di atas langit masih ada langit.

Pertanyaan kedua, apakah kelas itu menentukan? Menentukan apa dulu? Memang di Gontor terkenal istilah “Fasl fauq ta’alum daiman”, kelas tinggi belajar mulu. Ya, biasanya memang terkenal anak-anak kelas tinggi itu, B,C, atau D misalnya jarang aktif di organisasi, kegiatan-kegiatan ekstra kulikuler lainnya, mereka sibuk belajar saja, supaya tahun depan dapat duduk di kelas B kembali setelah naik kelas.

Kembali ke “apakah kelas itu menentukan?”, ya, dalam kondisi tertentu kelas itu menentukan, misalnya ketika seorang siswa harus menerima amanah jabatan tertentu dimana kelas turut berperan. Tapi, kelas sama sekali tidak menentukan kualitas siswa, semua mereka ibarat mutiara-mutiara, semua berkilau, tapi kilauannya tidak terlalu terlihat, karena dalam tumpukan mutiara, kelak ketika mereka dilempar dalam lumpur, dalam tumpukan batu, maka mereka akan menunjukkan kilauan aslinya.

Matbakh ‘Aam

Written by admin. Posted in artikel

Matbakh ‘Aam alias dapur umum, ya dapur umum, salah satu tempat yang paling crowded apabila sudah waktu sarapan, makan siang dan makan malam. Santri-santri penghuni gedung baru (judud) berlari seakan mengejar sesuatu yang tidak ingin mereka lepaskan, santri-santri lama (qudama) bergerak lebih cepat seakan mereka berlomba meraih sesuatu yang sangat berharga, apa benar makanan di dapur umum enak sekali sehingga mereka berlari menuju dapur? Atau yang jaga loket makanan adalah perempuan-perempuan yang cantik-cantik?

Ternyata tidak, ternyata bukan itu sebabnya, ternyata mereka berlari karena dikejar waktu, dapur umum terdiri dari dua lantai, dengan 3 tempat antrian di tiap-tiap lantai, harus menampung 4500-an santri yang kelaparan! Mereka memiliki waktu yang sangat terbatas untuk menyantap makanan itu, makanya supaya tidak terperangkap dalam kemacetan, mereka harus cepat-cepat, “no time for ecek-ecek!”. Tidak jarang setelah antrian panjang, ketika gilirannya harus mengambil nasi di loket, lonceng berbunyi, tanda waktu makan habis, perut lapar, makanan di depan mata, tapi tidak berani dimakan, yang membagikan makanan tetap saja membagi, tapi yang ngantri tidak berani, karena di luar dapur penegak disiplin sudah berdiri dengan sepeda mereka. Jika pagi hari, Staff KMI yang berjaga-jaga di sekitar Matbakh ‘Aam, jika siang hari Staff Bagian Pengajaran OPPM yang siap memberikan hadiah khusus bagi mereka yang terlambat masuk ke kelas Pelajaran Sore, dan pada setiap makan malam, Staff Pengasuhan Santri dan Staff Keamanan Pusat OPPM biasanya yang akan berjaga-jaga di sekitar Matbakh ‘Aam. Khusus untuk hari Kamis siang, Staff Koordinator Gerakan Pramuka dengan peluitnya akan memberi tanda bahwa waktu makan siang sudah habis.

Terus bagaimana, tidak makan? Tidak sarapan? Nah, disinilah terletak legenda “Salathoh Rohah”, Salathoh itu maksudnya sambal, rohah artinya jam istirahat. Jam 6.50 sudah masuk kelas, jam 8.30 lonceng berbunyi tanda istirahat, sata inilah yang digunakan untuk kembali menyerang dapur umum, mbok’e yang jaga dapur juga sudah menyiapkan menu spesial, yaitu “sambal jam istirahat” alias salathoh rohah, yang hanya ada pada jam istirahat. Sebenarnya Salathoh rohah itu cuma kecap dicampur cabe, tapi rasanya kemana-mana, kepala ngantuk langsung hilang, hidung meler langsung sembuh, benar-benar sambal “hell taste”! tapi meskipun demikian, itu sambal adalah legenda yang hanya ada pada jam istirahat.

Itu pilihan bagi mereka yang hobi makan pedas atau memang lagi bokek, karena kalau lagi banyak uang bisa pergi ke kantin, semuanya tersedia, mulai dari kue-kue kecil sampai nasi goreng “ala Qiwaqo”.

Sebenarnya, dapur umum itu nggak hancur-hancur banget, memang sih makananya tidak seenak di rumah, yah ada tempe berdarah, tahu titanic, kerupuk rasa karet, tapi yang paling spesial itu pagi jumat dan jumat siang, nasi pecel dan ikan lele goreng. Sekali-kali, kalau ada hari besar Islam, adalah disediakan ayam goreng satu potong. Dan ada hari dimana makan malam menunya sangat spesial, benar-benar lengkap; Sepiring Nasi dengan lauk Ayam Goreng plus Sambal, ditambah buah-buahan untuk pencuci mulut dan tentunya minuman segar; Dawet Jabung. Menu spesial ini hanya akan ada ketika Malam serah terima amanah Pengurus OPPM  dan ketika Hari perpulangan untuk liburan tiba.

Tapi, sebenarnya bukan itu saja peran penting dapur umum bagi anak-anak santri, tapi banyak “kesepakatan-kesepakatan terang dan gelap” terjadi di sini, ya di dapur. Artinya, memang penggunaan soft power yang paling enak adalah ketika di meja makan. Beberapa gembong marhalah tidak jarang melakukan meeting di Matbakh ‘Aam ini untuk menyusun strategi gebrakan marhalah mereka. Ide-ide gila ala ro’yun ghonam juga seringkali lahir ketika mereka menikmati makanan di Matbakh ‘Aam.

Ngumpul bareng di Matraman

Written by admin. Posted in Berita, Blitza News, Blitzer, Informasi

Jakarta, 9 Januari 2016.

Salam Blitza. Menjelang akhir tahun 2015, terbesit obrolan ringan di grup whatsapp tentang rencana ngumpul bareng Blitza Remigion dalam skala Nasional. Perayaan 90 tahun Gontor tahun 2016 ini menjadi momentum yang cukup tepat untuk dilaksanakannya ngumpul bareng Blitza Remigion di Gontor. Menindak lanjuti obrolan ringan di dunia maya tersebut, kemudian direncanakanlah sebuah pertemuan yang melibatkan perwakilan Blitza Remigion dari beberapa daerah. Komunikasi dengan beberapa kawan-kawan ditempuh, alhamdulillah sekitar 40 orang hadir di Jakarta pada Sabtu, 9 Januari 2016 yang lalu.

Setelah semua berkumpul, kami selaku inisiator pertemuan ini kemudian mempresentasikan rencana pertemuan Blitza Remigion dalam skala Nasional di Gontor tahun 2016 ini. Pada pertemuan ini pula, forum menyepakati secara aklamasi menunjuk M. Iqbal Faishol (Jepara) dan Arif Sholeh (Banten) untuk menjadi Ketua dan Wakil Ketua paniti agenda Blitza Remigion ini. Selanjutnya, mereka berdua akan segera menyusun Tim Formatur yang lengkap, sesuai dengan kebutuhan untuk mensukseskan agenda besar kita ini.

Alhamdulillah, pertemuan berlangsung sangat hangat, semua yang hadir merasakan kerinduan yang sama satu sama lain untuk bertemu kembali setelah sekian lama tidak berjumpa. Semangat inilah yang semakin meyakinkan kami untuk menyelenggarakan ngumpul bareng Blitza Remigion di tahun 2016 ini.

picisto-20160110231735-938063

Endangono Pondokmu! (Jenguklah Pondokmu!), inilah salah satu pesan Kiai Hasan dalam sebuah pertemuan alumni di Gontor beberapa waktu silam. Pesan yang sangat singkat, namun begitu besar maknanya bagi kita yang sudah meninggalkan Pondok. Seperti apapun kita hari ini, ada Gontor yang sudah membentuk karakter kita hingga kita menjadi apa yang kita rasakan hari ini. Sudah saatnya kita menjenguk Ibu kita.

Mungkin ada yang hampir setiap bulan memiliki kesempatan untuk bersilaturahmi ke Gontor, ada yang satu tahun sekali, ada yang dua tahun sekali. Entah sudah berapa kali antum kembali ke Gontor untuk mengobati rasa kangen kepada Ibu, tapi kami yakin bahwa antum memiliki kerinduan yang sangat besar kepada Gontor. Setiap kita memiliki kesan tersendiri terhadap Gontor. Dan semua, memiliki kerinduan yang sama. Kerinduan sholat berjama’ah di Masjid Jami’, kerinduan mendengar Syi’ir Abu Nawas, kerinduan akan bunyi Jaros depan BPPM, kerinduan berkumpul di BPPM, kerinduan Jariyu Shobah, kerinduan akan kegembiraan di hari kamis dan segala macam kerinduan-kerinduan yang lain.

Pesan Kiai Hasan diatas kami coba inisiasi melalui beberapa person, seperti halnya dalam cerita di buku Muthola’ah, untuk agenda besar Blitza Remigion memerlukan sosok “Man yualliqu-l-jaros”. Dan pertemuan di Jakarta pada Sabtu (9/1) lalu merupakan satu momentum langkah awal untuk “Yualliqu-l-jaros”. Tentu dengan terpilihanya  Iqbal dan Arif tidak mungkin kita melepaskan begitu saja kedua kawan kita ini untuk berjuang mensukseskan agenda besar kita tahun ini. Tentu, mereka berdua membutuhkan support dari kita semua.

Alhamdulillah, pertemuan yang diinisiasi dalam waktu singkat ini bahkan bisa dikatakan kita mendapat banyak sekali “bonus”. Beberapa kawan yang hadir dapat bersilaturahmi dengan Kiai Syukri yang kebetulan sedang berada di Jakarta. Di hari Ahad pagi, beberapa dari kami yang masih di Jakarta juga bisa berkesempatan bersilaturahmi dengan Kiai Hasan. Dan di sore harinya, kami juga bisa bersilaturahmi dengan beberapa Musyrif kita, Spinker.

Sangat banyak hal yang kami dapatkan di 2 hari kemarin, bahkan sangat melampaui ekspektasi yang kami harapkan. Insya Allah, setelah terbentuknya Tim Formatur agenda besar Blitza Remigion tahun ini, akan segera pula disusun rentetan agenda untuk menuju pertemuan Blitza Remigion di tahun 2016 ini.