Archive for March, 2014

An Article about “Glory Hunter”

Written by Fahmi Agustian. Posted in artikel

Berbicara mengSuporterenai sepakbola tidak akan lepas dari hal-hal yang ada disekitarnya, salah satunya adalah fans atau suporter. Suporter sering diebut sebagai pemain ke 12 dalam sebuah pertandingan sepakbola, dan label pemain ke 12 juga menurut saya hanya boleh disandang oleh mereka yang datang langsung menonton pertandingan di stadion. Bagi yang menonton lewat layar televisi, saya lebih sering menyebutnya sebagai suporter layar kaca.

Kontribusi suporter sendiri juga bermacam-macam. Ada yang mampu membeli merchandise klub sepakbola, entah itu KW atau ori. Ada yang datang ke stadion menonton pertandingan, baik kandang maupun tandang. Atau bahkan hanya mengirimkan untaian doa karena hanya menjadi suporter layar kaca yang kere.

Salah satu idiom suporter yang paling sering saya dengar beberapa tahun belakangan adalah “Glory Hunter”. Entah siapa yang pertama kali memunculkan sebutan ini dan entah mengapa sebutan ini sering disematkan kepada fans Manchester United. Secara harfiah, Glory Hunter memiliki makna pencari kejayaan. Jika idiom ini disematkan kepada pemain sepakbola, saya rasa sangat pantas. Mayoritas pemain sepakbola adalah pencari kejayaan, baik itu kejayaan individu atau kejayaan tim yang ia bela. Kejayaan yang diburu oleh pemain sepakbola salah satunya adalah trofi, dan kejayaan itu tidak bisa ia raih sendirian. Glory Hunter akan sangat pantas disematkan kepada sebuah klub sepakbola yang mengejar kejayaan.

Idiomatik “Glory Hunter” sendiri beberapa tahun terakhir menjadi salah kaprah pemakaiannya oleh banyak penggemar sepakbola. Seperti yang sudah saya tanyakan sebelumnya,  kenapa “Glory Hunter” lebih sering disematkan kepada fans Manchester United?. Pertanyaan ini sebenarnya sangat mudah dijawab. Bagi mereka yang sudah mengenal sepakbola eropa sejak medio 90-an pasti tidak termasuk dalam kategori “Glory Hunter”. Sekalipun ia adalah fans Manchester United. Idiomatik “Glory Hunter” sering digunakan untuk banter antar fans ketika mendapati fans sebuah klub sepakbola tidak lantang bersuara karena tim yang ia dukung mengalami kekalahan.  Ketika tim yang didukungnya mengalami kekalahan, mayoritas fans sepakbola spesies “Glory Hunter” mendadak hilang dari peredaran bumi. Yang bisa ia lakukan adalah pasrah. Seketika ia mendapat ilmu kasunyatan dan kanuragan untuk menghilangkan diri dari kehidupan sosial, baik nyata maupun maya. Jika anda mendapati seorang fans sepakbola yang pada akhir pekan berteriak lantang mendukung klub sepakbola yang ia dukung, dan pada awal pekan anda melihat wajahnya yang bermuram durja, hal yang harus anda lakukan adalah hanya cukup melihat halaman utama website livescore untuk mendapatkan jawaban pasti kenapa wajahnya tampak lebih jelek dari biasanya. Fans spesies “Glory Hunter” ini merasakan sakit yang luar biasa ketika melihat tim yang ia dukung mengalami kekalahan, bahkan konon lebih sakit daripada ditinggal kawin wanita pujaan hatinya. Dan kebetulan, yang sering saya temui di dunia nyata maupun maya, adalah fans Manchester United. (No Offense ya, saya tidak menyebut nama orang. Hehehehehe…). Dan musim ini makin menguatkan bahwa mereka memang layak disebut sebagai spesies “Glory Hunter”. Biasanya mereka kemudian berkilah dengan mengatakan “kan dukungan saya tidak harus saya tulis di facebook, status BBM atau memakai jersey”.  Atau mereka akan mengatakan “bodo amat, cuman sepakbola ini, yang penting kalau menang gue senang”. (kalau kalah????). Kalimat yang muncul lagi biasanya adalah “pelatih baru dan manajemen baru butuh waktu” (dan fans butuh kemenangan). Ada pula yang mencoba menahan rasa malunya dengan mempublish statement hasil plagiasi “If you can’t support us when we win, don’t support us when we lose or draw”.

Sebenarnya fans spesies “Glory Hunter” ini tidak hanya terdapat di barisan pendukung Manchester United saja. Di klub sepakbola lainnya seperti Arsenal, Chelsea, Barcelona, Real Madrid, Bayern Munchen bahkan Liverpool pun akhir-akhir ini ada. Terlebih dalam beberapa tahun terakhir, statistik resmi yang dikeluarkan oleh Barcelona menunjukkan bahwa jumlah pendukung mereka mengalami peningkatan yang signifikan. Atau bagi para penikmat Liga Itali di akhir 90-an, kalian pasti melihat banyak sekali pendukung As Roma atau Lazio yang sekarang mereka sudah berubah mendukung tim lain karena terlihat lebih konsisten dalam penampilan mereka. Beruntung mereka dulu mendukung tim tersebut di era dimana media sosial belum berkembang pesat seperti sekarang. Tidak menutup kemungkinan, sebuah klub yang berjaya dalam 3 tahun kedepan akan dibanjiri ribuan fans spesies “Glory Hunter”. Fans yang hanya mengenal timnya ketika menang, fans yang hanya bangga mendukung tim ketika meraih kemenangan. Fans yang hanya berani berdiri di barisan penggembira ketika tim nya juara.

Hooligan

Secara objektif, fans spesies “Glory Hunter” ini sah-sah saja keberadaannya. Karena tidak ada aturan baku yang mengatur tentang hal ini. Hanya saja kalian pasti akan tergoda untuk menganggu kehidupan sosial spesies “Glory Hunter” ini -sekalipun hanya didunia maya- ketika tim yang didukungnya mengalami kekalahan, apalagi kekalahan tersebut dialami berkali-kali.  Yang perlu diingat adalah spesies “Glory Hunter” tidak sama dengan suporter level “Die Hard” atau “Hard Line”. Ultras atau Hooligan jauh lebih terhormat daripada spesies “Glory Hunter”.

Pada akhirnya, sepakbola hanyalah salah satu cabang olahraga. Dan kita hanya bisa menikmatinya dari layar televisi, jangankan untuk menonton langsung di Eropa sana, untuk membayar langganan TV berbayar saja kita masih enggan. Beruntunglah mereka yang memiliki akses internet kecepatan tinggi, sehingga bisa tetap menikmati siaran langsung pertandingan sepakbola melalui layanan streaming. Jika anda merasa sebagai salah satu spesies “Glory Hunter”, belajarlah bagaimana cara mendukung tim kesayangan anda kepada fans Ac Milan atau Liverpool, atau kalau anda merasa hina jika ingin menimba ilmu kepada mereka, perbanyaklah bergaul dengan fans-fans senior di komunitas pendukung klub kesayanganmu. Saya yakin mereka sangat faham tentang filosofi “Form is temporary, Class is permanent”.

Cara Setting Google Mail di Outlook 2013

Written by Nasrul Fahmi Zaki Fuadi. Posted in Teknologi & Komputer

outlookPengguna internet dapat dipastikan 100% memiliki account email, entah dia yang bersifat gratisan (gmail, yahoomail, microsoft mail, maupun email yang lain) atau yang bersifat berbayar yang dalam kata lain menggunakan domain sendiri (misal; @blitza679.com). Google menyediakan layanan google apps untuk menjadikan domain pribadi kita untuk disingkronkan dengan google mail, termasuk dalam kasus ini penulis menggunakannya sebagai contoh.

Ujian Nasional dan Olimpiade Eropa

Written by Fahmi Agustian. Posted in artikel

Ilustrasi Dikisahkan, terdapat  sebuah sekolah ternama benua biru dibawah kendali seorang kepala sekolah bernama Elizabeth II. Setiap tahun sekolah tersebut melaksanakan sebuah kompetisi mingguan yang berlangsung selama 10 bulan. Kompetisi itu digunakan untuk menyeleksi siswa mereka yang berhak menjadi kontingen perwakilan sekolah untuk berlaga di Olimpiade Eropa. Olimpiade ini bukan sekedar ajang uji kemampuan para siswa, namun juga gelontoran uang yang dijanjikan pada setiap perlombaan begitu menggiurkan bagi para siswa di sekolah tersebut.

Tahun ajaran ini kompetisi di sekolah tersebut sangat sengit. Setiap pekan para peserta kompetisi saling berlomba mengumpulkan poin demi poin dari setiap ulangan mata pelajaran yang diberikan oleh kepala sekolah agar mereka berada di jajaran empat teratas, karena hanya akan ada empat siswa dengan poin terbanyak yang berhak menjadi bagian dari kontingen sekolah untuk berlaga di Olimpiade tersebut.

Hingga bulan ketujuh berjalannya kompetisi tersebut, poin yang dikumpulkan oleh masing-masing siswa sangatlah berdekatan. Si Biru Tua yang dibiayai seorang taipan minyak dengan uang tak berseri saat ini memimpin perolehan poin diikuti oleh Si Merah dari kota pelabuhan yang memiliki poin sama dengan Si Meriam yang sempat beberapa kali menjadi juara mingguan dan memiliki racikan peluru dari seorang professor (yang dalam dua bulan terakhir racikan peluru meriam seperti salah resep, sehingga berubah menjadi sebuah petasan). Ketiganya diikuti oleh Si Biru Muda yang memiliki pabrik percetakan uang sendiri di ruang ganti, dimana ia masih menyimpan 2 materi ulangan yang tidak ia ikuti karena ia berhalangan mengikuti ulangan tersebut.

Uniknya di sekolah ini adalah Ujian Nasional yang diwajibkan untuk diikuti oleh seluruh siswanya tidak dilaksanakan secara serentak pada medio waktu tertentu. Ada yang harus melaksanakan Ujian tersebut pada bulan pertama, ada yang melaksanakan pada bulan ke enam. Dengan tingkat kesulitan yang berbeda. Sial bagi Si Meriam, bulan ini merupakan bulan dimana dia harus melakukan Ujian Nasional secara beruntun dengan persiapan yang sangat kurang. Konon, racikan peluru sang Professor masih terkendala bahan baku yang terlambat di impor dari negeri seberang. Si Merah dari kota pelabuhan sedang dalam tren positif dan mengancam kemapanan Si Biru Tua yang terus mengganggu konsentrasi siswa lainnya dengan mind games buatannya.  Sedangkan Si Biru Muda, dia masih enjoy menikmati piala perdana tahun ini dan ia juga masih menyimpan 2 kesempatan ulangan untuk meraih poin tambahan. Dari keempat siswa ini, hanya Si Merah yang memiliki keuntungan dimana dia tidak disibukkan untuk ikut berlomba di Olimpiade Eropa musim ini.

Kompetisi sekolah masih tersisa 10 pekan dengan tingkat kesulitan yang berbeda antara mata pelajaran satu dengan mata pelajaran yang lainnya. Masing-masing siswa semakin serius mempersiapkan bekal masing-masing dalam menghadapi ujian. Tidak seperti kompetisi musim lalu, sepertinya Juara Umum akan ditentukan pada hari terakhir ujian.

Tidak ada orang tua manapun yang tidak ingin anaknya tidak sukses dalam sebuah perlombaan, para orang tua meracik bekal makanan setiap hari sebagai asupan gizi yang bervitamin bagi anak-anak mereka.

Oia. Apa kabar Juara Kelas tahun lalu?. Kabarnya ia sibuk mencari ayahnya yang mendadak memutuskan untuk liburan panjang menikmati hari tua.