Archive for January, 2014

Kaum Proletar di Pondok Modern Darussalam Gontor

Written by Sofwan Hadikusuma. Posted in artikel

Saya pribadi, ketika mendengar istilah proletar, langsung membayangkan buruh pekerja kasar berpenampilan dekil dengan baju lusuh warna biru sedang bekerja menggali tanah dan memindahkan batu di sebuah pabrik pengolahan logam, diawasi oleh mandor yang selalu siaga (siap-antar-jagal) dan sedia membentak mereka yang terlihat ingin beristirahat karena kelelahan.

Setidaknya itulah gambaran liar di pikiran saya yang mungkin sedikit terpengaruh oleh keadaan kaum pekerja yang digambarkan oleh film-film Hollywood sana. Saya kira keadaan aslinya juga tidak jauh berbeda.

Pengertian proletar (proletariat) seperti yang dimuat KBBI adalah lapisan sosial yg paling rendah, atau golongan buruh, khususnya golongan buruh industri yang tidak mempunyai alat produksi dan hidup dari menjual tenaga. Lebih lanjut tentang proletar dalam laman wikipedia:

Proletariat (dari Latin proles) adalah istilah yang digunakan untuk mengidentifikasikan kelas sosial rendah; anggota kelas tersebut disebut proletarian. Awalnya istilah ini digunakan untuk mendeskripsikan orang tanpa kekayaan; istilah ini biasanya digunakan untuk menghina. Di era Roma Kuno penamaan ini memang sudah ada dan bukan hanya orang tanpa kekayaan saja, melainkan juga kelas terbawah masyarakat tersebut. Hal ini terjadi sampai Karl Marx mengubahnya menjadi istilah sosiologi yang merujuk pada kelas pekerja.

Tak ada gambaran yang meng-enak-kan untuk istilah proletar. Bahkan malah sebaliknya, yang ada adalah gambaran keadaan susah, melarat, tertindas, sakit-sakitan, dll.

Untunglah dewasa ini kehidupan sosial yang dibedakan atas dasar status hidup seseorang sudah tidak berlaku lagi. Tak ada lagi pandangan terhadap sebuah kelompok masyarakat bahwa mereka termasuk golongan proletar yang lalu sah untuk direndahkan, atau dari golongan bangsawan maka harus diperlakukan istimewa. Setidaknya, sudah tidak ada lagi masyarakat yang dipandang berdasarkan kelas-kelas sosialnya.

Meskipun begitu, jangan kaget kalau saya katakan bahwa kaum proletar masih ada dan istilah proletar masih akrab digunakan di kalangan santri Pondok Modern Darussalam Gontor. Benarkah itu? Benar.

Kalau ingin memastikan silahkan bertanya kepada mereka yang pernah mondok di Gontor, atau jika anda adalah alumni Gontor maka mengakulah kalau dulu anda juga adalah seorang proletar, hehehe… (pis brow :D)

Eits, tapi tunggu dulu, jangan samakan gambaran mengenaskan tentang proletar masa lalu dengan kaum proletar yang ada di Gontor. Percayalah, ini hanyalah kesamaan istilah dengan keadaan yang jauh berbeda. Kaum proletar di Gontor adalah kelompok masyarakat santri pondok yang terhormat, bukan sebaliknya.

Istilah proletar di kalangan santri Gontor mengacu pada santri kelas lima atau enam yang tidak menjadi pengurus pada organisasi pelajar. Ada dua organisasi pelajar yang kepengurusannya diserahkan khusus kepada santri kelas lima dan enam, OPPM (Organisasi Pelajar Pondok Modern) dan Gerakan pramuka. Nah, para santri yang kebetulan tidak dipilih menjadi pengurus kedua organisasi tersebut biasanya dikenal dengan sebutan proletar.

Jadi penyebutan istilah proletar bukan karena mereka santri tertindas yang bisa di-bully dan direndahkan. Bahkan lebih spesial lagi, penyematan istilah proletar mengukuhkan status istimewa mereka sebagai penggerak aktivitas non-organisasi pondok yang terpenting, yaitu meramaikan masjid jami’ tercinta. Bravo proletar!