Archive for December, 2013

Solusi bukanlah sekedar kata-kata

Written by Fahmi Agustian. Posted in artikel

Pagi ini saya membaca sebuah berita di sebuah portal berita yang menyebutkan bahwa Lokalisasi prostitusi Dolly akan segera ditutup oleh pemkot Surabaya pada tahun 2014 yang akan datang. Saya yakin berita ini akan sangat banyak yang mensyukuri dan berharap bahwa rencana tersebut benar-benar akan dilaksanakan. Bahkan pemkot Surabaya berjanaji sebelum bulan Ramadhan tahun depan, Dolly akan ditutup selama-lamanya. Pemkot Surabaya siap menggelontorkan 5 milyar rupiah sebagai modal awal untuk membeli beberapa wisma untuk dirubah fungsinya menjadi fasilitas umum dan pelatihan ketrampilan bagi para eks PSK.

Bukan tentang Dolly yang menjadi pesan utama sebenarnya, namun bagaimana keseriusan Pemkot Surabaya dalam menangani permasalahan masyarakat ini patut kita apresiasi. Jika kita mengatakan kepada pelacur bahwa zina itu haram, mereka sudah faham dan sangat mengerti bahwa zina itu haram. Permasalahannya adalah bagaimana memberi mereka solusi agar mereka mampu keluar dari dunia prostitusi itu sendiri. Seseorang pernah bercerita kepada saya, bahwa para pelacur di Dolly itu sangat ingin meninggalkan dunia prostitusi itu, mereka sadar bahwa yang mereka lakukan itu salah, namun mereka belum menemukan solusi agar mereka mampu bertahan hidup.

Jika kita hanya bisa mengatakan kepada mereka tentang haramnya berzina tanpa memberi mereka solusi, itu sama saja seperti motivator tentang sukses yang memotivasi kata-kata bijak kepada peserta training tanpa memberi solusi kongkrit bagaimana menjadi orang yang sukses. Kita harus ingat bahwa para pelacur itu juga manusia yang memiliki akal, mereka butuh orang yang tepat untuk membimbing mereka kembali ke jalan yang benar. Yang kita lakukan selama ini kebanyakan hanya menghina mereka, mendiskriminasi mereka, mengasingkan mereka, mencampakkan mereka. Apakah  sudah tertutup kemungkinan bagi mereka untuk memperbaiki diri?.

Tentu kita sangat hafal tentang sebuah cerita yang masyhur, ketika seorang pelacur dijamin masuk surga karena memberi minum keapada seekor anjing yang kehausan. Ikhlas. Saya mengambil pelajaran dari cerita itu adalah tentang sebuah keikhlasan dalam memberi sesuatu yang sebenarnya juga ia butuhkan. Tentang Ikhlas ini sudah dibahas oleh kawan kita di postingan sebelumnya. Postingan saudara Jauhar sangat mengena dan sangat dalam.

Kembali ke Dolly. Di kota-kota lain saya rasa juga terdapat lokalisasi serupa dengan Dolly. Yang harus kita lakukan kepada mereka bukan dengan cara paksa mendatangi mereka bergerombol, kemudian menghancurkan infrasturktur dengan berteriak Allahu Akbar. Kalimat Agung itu terlalu rendah harganya jika diaplikasikan seperti itu. Apakah dengan kekerasan seperti itu benar-benar menjadi solusi penyelesaian masalah?.  Atau justru akan membuat masalah baru?. Saya rasa apa yang akan dilakukan oleh Pemkot Surabaya bisa ditiru oleh pemkot lain yang memiliki permasalahan serupa. Jika kalian menemui seorang pelacur atau pencuri, coba tanyakan apakah mereka benar-benar ingin melakukan profesi itu?. Saya rasa mereka akan menjawab tidak, karena setiap manusia memiliki hati nurani.

Saya kembali teringat kepada wasiat KH. Imam Zarkasyi tentang orang besar. Orang besar menurut beliau bukanlah ia yang menjadi Presiden, Menteri, Gubernur atau pemangku jabatan tinggi, namun orang besar menurut beliau adalah orang yang mau berdakwah di surau-surau kecil. Sudahkah kita menemukan surau kita masing-masing?.

————————————————————————————

Berita tentang rencana penutupan Dolly.

Hikmah – Makna Ikhlas

Written by Jauhar Ridloni Marzuq. Posted in Hikmah

iklas

Rasulullah SAW bersabda bahwa pada hari kiamat nanti akan ada tiga golongan yang pertama kali dihisab oleh Allah SWT, yaitu seorang martir, seorang pencari ilmu, dan seorang ahli sedekah. Ketiga golongan itu akan ditampakkan kepada mereka nikmat yang dulu Allah berikan di dunia, kemudian dihisab satu persatu.

“Apa yang telah kamu lakukan di dunia dulu?” Allah mengawali hisab dari golongan pejuang.

“Saya berjuang untuk menegakkan kalimat-Mu,” jawab pejuang itu.

“Dusta!” Allah menyanggah. “Kamu berjuang supaya dianggap sebagai pemberani, dan keinginan itu sudah kamu dapatkan di dunia.” Allah pun memerintahkan kepada malaikat untuk menyeret dan memasukkannya ke neraka.

Kepada golongan kedua, Allah menanyakan hal yang sama. “Apa yang kamu lakukan selama di dunia?”

“Aku mencari ilmu kemudian mengajarkannya demi Engkau. Aku juga membaca al-Quran demi Engkau,” jawab golongan pencari ilmu ini.

“Kamu dusta!” Allah menyanggah. “Kamu mencari ilmu supaya dikatakan sebagai ulama. Kamu juga membaca al-Quran agar dianggap sebagai qari. Tujuan itu sudah kamu dapatkan di dunia.” Allah pun memerintahkan kepada para malaikat untuk menyeret dan melemparkannya ke neraka.

Kepada yang ketiga, Allah menanyakan hal yang sama pula. “Apa yang kamu kerjakan dengan harta yang sudah Aku berikan kepadamu?”

“Aku tidak meninggalkan satu lahan kebaikan pun kecuali aku infakkan hartaku di dalamnya demi Engkau,” jawab golongan ahli sedekah ini.

“Dusta!” Allah menyanggah. “Kamu mengerjakan hal itu supaya dianggap sebagai dermawan, dan tujuan itu sudah kamu dapatkan (saat di dunia).” Allah pun memerintahkan kepada malaikat untuk menyeret dan memasukkannya ke neraka. (HR Muslim).

Ikhlas adalah ruh ibadah. Jika raga kita tak berfungsi tanpa ruh, maka amal ibadah kita pun tak berguna tanpa keikhlasan. Hadis di atas adalah contoh tiga golongan manusia yang ibadahnya justru menjerumuskan mereka ke neraka karena tidak dibarengi dengan niat yang ikhlas.

Menurut Ibnu al-Qayyim, ikhlas adalah mengkhusukan tujuan ibadah hanya kepada Allah SWT, dengan memurnikannya dari keinginan untuk mendapat pujian manusia atau hal-hal duniawi lainnya. Selain menjadi syarat utama diterimanya ibadah, ikhlas merupakan inti pokok ajaran Islam. Allah SWT berfirman,

“Dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Dan yang demikian itulah agama yang lurus.”
(QS al-Bayyinah [98]: 5).

Untuk menemukan keikhlasan dalam beribadah, setidaknya ada tiga hal yang perlu kita perhatikan. Pertama, luruskan niat semata-mata demi Allah, karena imbalan amalan tergantung pada niat yang kita tetapkan. Kedua, bersihkan jiwa dari penyakit hati yang tercela, karena penyakit itulah yang menghalangi amalan kita untuk sampai kepada Allah. Ketiga, jangan suka mengungkit-ungkit perbuatan baik, karena hal itu adalah bagian dari riya yang bisa menghapus pahala amalan kita. Wallahu a’lam.