Archive for October, 2013

Akhirnya, BlackBerry Messenger multiplatform

Written by Fahmi Agustian. Posted in artikel

BBM for Android

BlackBerry Messenger

Awalnya, Research In Motion (RIM) merilis sebuah handset smartphone dengan merk dagang Blakcberry dengan fitur unggulan bernama BlackBerry Messenger (BBM). Setelah sekian tahun RIM membangun BlackBerry menjadi sebuah merk yang diperhitungkan, akhirnya BlackBerry harus mengakui kekalahan atas Android yang mengusung open source. Sebelumnya, Symbian yang menjadi andalan utama Nokia, pada akhirnya juga punah. Android memang sebuah strategi jitu yang dikeluarkan oleh Google dalam persaingan smartphone beberapa tahun terakhir. Android bsia dikatakan adalah Linux versi ponsel. Seperti halnya Linux, pada awalnya Android hanya diminati oleh orang-orang tertentu saja. Apalagi saat Symbian masih dalam era kejayaannya, hanya segelintir orang yang mau melirik Android. Hingga kemudian RIM mulai naik pamornya dengan BlackBerry-nya, Apple yang tetap idealis dengan iOs-nya, pelan tapi pasti Android mulai menunjukkan peningkatan aktivasinya. Tercatat pada bulan mei 2013, Android telah diaktivasi sebanyak 900 juta kali.

Dengan mengusung open source, Android membuka peluang yang luas bagi para programmer untuk tidak hanya membuat aplikasi, tapi juga untuk mengulik Android secara bebas dan legal. Tentu saja ini yang menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengguna smartphone yang tidak hanya mementingkan soal gaya dalam penggunaan ponsel. Nokia pada akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Symbian dan kini beralih ke Windows Mobile. Samsung yang sebelumnya pernah memiliki Bada sebagai sistem operasi ponselnya, akhirnya memutuskan untuk mengusung Android. Bebrbagai merk dagang terkenal secara kompak mengusung Android sebagai sistem operasi yang dibenamkan pada smartphone mereka. Hal ini yang kemudian menyebabkan aktivasi Android meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir.

Ketika BlackBerry merasa cukup percaya diri dengan fitur BBM, para developer aplikasi secara sporadis merilis aplikasi-aplikasi messenger yang multiplatform. Sebut saja WhatsApp, KakaoTalk, Line dan pemain lama Yahoo Messenger. Ketika aplikasi-aplikasi tersebut bisa digunakan di berbagai sistem operasi, RIM masih kekeuh untuk mempertahankan BBM sebagai aplikasi khusus pengguna BlackBerry smartphone. Hingga akhirnya RIM menyadari penurunan penjualan, yang kemudian mengakibatkan turunnya saham perusahaan dan berimbas pada PHK besar-besaran terhadap pegawainya, RIM akhirnya memutuskan untuk merilis BBM yang multiplatform. Setelah sekian bulan RIM memutuskan tersebut, akhirnya BBM resmi bisa digunakan di Android dan iPhone.

Bisa jadi ini strategi RIM untuk mencoba bertahan hidup. Meskipun BBM akhirnya bisa digunakan di perangkat selain ponsel BlackBerry, RIM tentu memiliki tujuan tersendiri. Toh pada akhirnya RIM tetap merilis beberapa seri terbaui BlackBerry. RIM tentu tidak ingin hanya menjadi penonton dalam persaingan smartphone. Perkembangan teknologi yang semakin cepat tentu akan melecut RIM untuk tetap mengeluarkan inovasi-inovasi terbaru agar tetap mampu bersaing dengan vendor lainnya.

Pilihan ada pada konsumen tentunya. Bagi mereka yang mengagumi teknologi layar sentuh, Android menjadi pilihan yang bijak jika mempertimbangkan aspek harga. Bagi yang mementingkan kualitas, iPhone bisa menjadi pilihan utama. Keputusan ada ditangan konsumen. Pada akhirnya BBM bisa digunakan di Android dan iOs. Dan sekarang, kita bisa melihat betapa banyak orang menyebarkan kode PIN BBM di berbagai social media. Sepertinya diam-diam mereka ini benci tapi cinta kepada BBM. hehehehehehe.

Bagi yang ingin mencicipi BBM namun tidak memiliki smartphone Android, bisa diinstall di PC atau Laptop, tutorialnya ada di sini.

Blitza menyongsong 2014

Written by Fahmi Agustian. Posted in artikel

Sudah lama nih nggak ada yang posting dengan headline sedikit “anget”. Mungkin para kontributor Blitza sudah memiliki kesibukan yang sangat menyita waktu masing-masing. Sengaja ane bikin judul yang menyangkut 2014. Bukan bermaksud menarik Blitza ke ranah politik 2014, namun 2014 adalah pertaruhan seluruh rakyat Indonesia. Tapi apa mau dikata, pemerintah Indonesia sudah menjadi pelacur bangsa asing. Demokrasi yang sudah jelas-jelas bobrok masih saja terus diagung-agungkan. Cepat atau lambat, Blitza tidak hanya menjadi penonton. Tidak lama lagi Blitza akan ambil bagian. Ane sudah mendengar beberapa kabar yang mengatakan ada beberapa Blitzer yang sudah akan siap tampil di Pemilu 2019. iya 2019, bukan 2014. Tentu dengan jalan politik bukan?.

2014 tahun politik yang menentukan

2014 sangat berbeda dengan 2009 apalagi 2004. jika 2004 ketika kita masih kelas 6 KMI  dulu, Indonesia masih dalam masa euforia reformasi 1998, dimana para pejuang reformasi saling berebut kekuasaan hingga akhirnya kita tahu sendiri siapa yang berhasil berkuasa hingga sekarang. Saat itu, Indonesia seakan sedang berbahagia karena berhasil lepas dari cengkraman orde baru. Akhir-akhir ini justru banyak yang baru sadar, ternyata era reformasi nggak jauh beda dari era orde baru. Memang era reformasi ini lebih menjanjikan kebebasan dalam menuangkan unek-unek.  DI zaman orde baru, jangan harap ada orang yang berani mengkritik orde baru bisa bergerak bebas, hari ini berteriak kritis terhadap orde baru, besok sudah berada didalam tahanan. Kebebasan berekspresi inilah yang ane anggap satu-satunya hasil perjuangan Reformasi ’98. Selebihnya hanyalah urusan giliran merampok. Kita bisa melihat bagaimana para aktivis ’98 sekarang justru duduk manis kalau tidak di eksekutif, ya legislatif. Aktivis yang ndak dapat jatah?, pelan tapi pasti sedang membangun panggungnya sendiri menuju 2014. Apakah 2014 kita hanya akan meneruskan kontinyuitas dari pemilu-pemilu sebelumnya?. Apakah kita hanya akan digiring oleh media yang kemudian mengeksploitasi salah satu orang habis-habisan, hingga akhirnya masyarakat yang memeiliki kemudahan akses terhadap media, kemudian secara perlahan digiring untuk mengatakan “ya” pada salah satu tokoh.

Ane tidak bermaksud untuk menggalang opini untuk mendukung salah satu calon presiden di 2014. Ane tidak peduli dengan dukungan antum kepada Jokowi, Prabowo, Dahlan Iskan, Jusuf Kalla, Mahfud MD, Anies Baswedan atau siapapun saja di 2014 nanti. Silahkan, dukung saja siapapun untuk calon presiden antum. Satu yang perlu diingat, yang antum pilih nanti adalah yang akan menjadi imam Indonesia 2014-2019. Jika dalam sholat, imam adalah seorang yang dianggap layak untuk memimpin sholat berjama’ah. Ia memiliki sekian syarat mutlak yang harus dipenuhi.

Konstitusi negara Indonesia mengatur bahwa seorang calon presiden harus diajukan oleh satu atau beberapa partai yang memiliki suara minimal 20% dari total suara rakyat pada pemilihan legislatif (mohon dikoreksi kalau salah). Konstitusi Indonesia tidak membolehkan seorang warga negara mencalonkan diri menjadi calon presiden melalui jalur Independen tanpa melalui partai politik. Aturan ini sangat berbeda dengan aturan yang diterapkan dalam pemilihan gubernur atau level dibawahnya. Jika dalam pemilihan kepala daerah, calon independen diperbolehkan mencalonkan diri menjadi salah satu calon. Disinilah celah kenapa korupsi di Indonesia entah sampai kapan akan berakhir. Partai politik akan memiliki harga jual terhadap seseorang yang akan melamar menjadi calon presiden melalui partai tersebut. Katakanlah si A ingin mencalonkan diri menjadi calon presiden kepada partai XYZ. Si A harus berani memberikan tawaran politik yang menggiurkan kepada Partai XYZ agar partai tersebut mau menerima si A sebagai calon presiden yang akan diusungnya. Dalam skala yang lebih luas, Partai XYZ bahkan berani menjual harga yang tinggi kepada negara asing untuk ikut mensukseskan calon yang diusung tersebut menjadi Presiden. Adalah bullshit jika seorang calon presiden tidak menawarkan sesuatu kepada partai pengusung untuk menerimanya sebagai calon presiden yang akan diusung. Adalah bullshit jika yang ditawarkan tersebut bukan berupa materi.

Indonesia adalah sebuah negara yang oleh Allah benar-benar diberikan kekayaan alam yang luar biasa. Mulai dari tambang Emas, Batubara sampai Minyak bumi lengkap ada di Indonesia ini. Keanekaragaman suku bangsa, luasnya lautan, hutan dan kekayaan lainnya yang dimiliki oleh Indonesia tidak dimiliki oleh negara lainnya. Silahkan cari negara yang memiliki kekayaan seperti Indonesia, jika ada. Itulah mengapa Indonesia adalah negara yang cukup “seksi” bagi mereka yang memang gemar merampok bangsa lain. ane tidak perlu menjabarkan siapa “perampok” atau “penjajah” dari bangsa lain tersebut. Lalu apa hubungannya dengan 2014?. Ada yang bilang bahwa krisis yang dialami Amerika adalah sebuah skenario saja. Dan ane sangat setuju itu, kalau mereka ndak pura-pura miskin, gimana mau ngerampok negara lain?.

Bagi antum yang tidak begitu tertarik dengan tulisan politik dan teori konspirasi politik, lebih baik segera tutup saja halaman ini, dan kembali buka facebook atau website yang lain. Tapi bagi antum yang benar-benar ingin melihat Indonesia menjadi lebih baik dari sekarang, ane harap antum membaca tulisan ini sampai selesai.

Jika melihat tingkat kerusakan yang ada di Indonesia, sangat mustahil ada orang yang mampu memperbaiki. Kalau ane boleh mengambil istilahnya Ronggowarsito, hanya seorang Satrio Pinandhito sinisihan wahyu yang mampu memperbaiki Indonesia. Atau kalau antum agak alergi pada istilah kejawen, maka ane akan memakai istilah Imam Mahdi. Hanya manusia yang selevel dengan Imam Mahdi yang mampu memperbaiki Indonesia. Mungkin agak berlebihan, tapi inilah faktanya. Kebobrokan di level mana yang tidak kita dapati di Indonesia?. Bagi antum yang “silau” kepada tokoh-tokoh baru sekelas Jokowi atau Dahlan Iskan, maka teori ini akan mentah. Karena bagi antum Jokowi adalah pemimpin yang merakyat, pemimpin yang berani blusukan dst…dst…itu hal yang wajar, setiap orang pasti punya idola. Tapi menurut ane, apa yang dilakukan oleh Jokowi itu ya memang yang seharusnya dilakukan oleh seorang pemimpin. Kita hanya sedang lapar saja, kemudian melihat sepiring nasi yang ada lauknya, kemudian kita makan dan kita bilang enak. Lain halnya jika perut kita dalam keadaan kenyang, maka sepiring nasi dengan lauk ayam lengkap dengan sambal dan lalapan pasti tidak akan kita makan sampai habis. Kecuali memang berwatak rakus.

Nah, Negara Indonesia ini sudah bobrok, kekayaan alamnya pun dikuasai asing. Sekedar info saja, bahwa nanti ada freeport jilid 2 yang akan menjadi tujuan utama para petarung 2014. Petarung itu bukan dari dalam negeri, namun berasal dari luar negeri. Ada 2 petarung kuat, sebut saja Naga dan Monster. 2 petarung ini akan berebut bukit freeport kedua yang nilainya melebihi freeport jilid 1 yang ada di papua. Freeport jilid 2 ini ada dimana?, tunggu kabar selanjutnya ya. Hehehehehe. Area lain yang akan “dijual” menjelang 2014 adalah jembatan selat sunda. Jangan dikira tender proyek pembangunan jembatan tersebut akan dimenangkan oleh pengusaha dalam negeri. Maka, akan ada sebuah “big deal” di 2014 nanti. Atau kalau mau melihat kebelakang, sangat tidak masuk akal Indonesia yang dulu pernah swasembada beras, sekarang malah impor beras. Bahkan gula, kedelai, daging sampai kelapa sekarang Indonesia malah impor. Secara akal sehat, ini tidak bisa diterima. Tapi ya mau bagaimana lagi, semuanya sudah dijual kok ke negara asing. Maka, saya berani memberi sub judul, 2014 tahun politik yang menentukan. Menentukan bagaimana Indonesia kedepan.

Jokowi dan Hajar Aswad

Lalu, apakah Jokowi bukanlah Imam Mahdi yang kita harapkan?. Bisa iya, bisa tidak. Ane cuma bisa sampaikan, jangan mudah kagum. Dalam istilah jawa ada sebuah semboyan ojo gumunan, ojo kagetan lan ojo dumeh. Yang artinya kurang lebih, jangan mudah kagum, jangan mudah kaget, dan jangan sok. Jokowi memang fenomenal, tapi siapakah yang membuat Jokowi fenomenal? Silahkan dicari dan dipelajari kemudian difahami sendiri-sendiri. Saya akakn sangat bersyukur jika memang Jokowi adalah orang yang tepat untuk menjadi presiden Indonesia. Saya akan ikut bahagia kalau nanti jika Jokowi beneran jadi Presiden Indonesia, kita nggak disuguhi oleh berita-berita korupsi di televisi. Toh seandainya nanti Jokowi beneran maju ke bursa pertarungan RI1 dan terpilih, kemudian ternyata hasilnya tidak lebih baik dari yang sekarang, nanti  dia akan diolok habis-habisan juga oleh rakyat. Siapapun Presiden Indonesia nantinya, harus menyadari bahwa orang Indonesia itu mudah lupa dan mudah berubah fikiran. Sekarang mengatakan A, dua jam kemudian mengatakan B, hanya orang Indonesia yang mampu melakukan hal tersebut.

Cak Nun memiliki teori tentang pernikahan, bahwa pernikahan itu ada 4 jenis; 1. Pernikahan antara manusia dengan Tuhannya, 2. Pernikahan manusia dengan alam sekitarnya (lingkungan), 3. Pernikahan antara seorang pemimpin dengan rakyatnya, 4. Pernikahan antara laki-laki dengan perempuan.

Sebelumnya, Jokowi adalah walikota Solo yang kemudian mencalonkan diri menjadi Gubernur DKI Jakarta, hingga akhirnya terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta. Konstitusi kita lagi-lagi memiliki celah. Pak Walikota Jokowi yang saat itu memiliki istri yaitu kota Solo, mencoba melamar perempuan yang lebih seksi bernama Jakarta, ternyata diterima lamarannya dan menikahlah Jokowi dengan Jakarta. Ternyata istri pertama Jokowi (solo) malah senang dan bahagia, bahkan rela diceraikan oleh Jokowi. Terlepas dari bahwa Jokowi dibujuk oleh beberapa fihak untuk maju ke DKI 1. Tapi secara etika,  seharusnya  Jokowi menceraikan dulu istri pertama (Solo), kemudian melamar Jakarta. Tapi hal ini dibolehkan oleh konstitusi di Indonesia, menyelingkuhi istri pertama untuk kemudian menceraikannya setelah berhasil menikahi perempuan lain yang lebih “menantang”. Nasib Jokowi lebih beruntung daripada Alex Noordin yang sempat juga melamar Jakarta dan menduakan Sumatera Selatan. Nah kelak, jangan mengutuk siapapun saja yang mengikuti langkah Jokowi ini jika ada kejadian serupa, karena sebagian besar dari kita toh merasa baik-baik saja dengan apa yang dilakukan oleh Jokowi tersebut.

Dalam prosesi ibadah Haji, ada sebuah ritual yang dinamakan thawaf. Thawaf adalah ritual mengelilingi ka’bah sebanyak 7 putaran. Ketika kita thawaf, maka kita akan melihat ka’bah dari keempat sisinya. Bukan hanya melihat ka’bah dari hajar aswadnya saja atau hijir ismail-nya saja. Nah, kenapa ilmu thawaf ini tidak kita aplikasikan juga ketika kita melihat Jokowi, Dahlan Iskan, Jusuf Kalla dan yang lainnya?. Lihat siapa yang ada disekeliling mereka. Cari tahu siapa yang ada dibelakang mereka. Pelajari darimana mereka sebelumnya. Inilah kelemahan orang Indonesia, mudah kagum dengan hajar aswad saja. Sehingga ketika melihat ka’bah yang dituju adalah hajar aswadnya saja. Kemudian yang diperjuangkan adalah mencium hajar aswadnya saja. Bahkan ada yang rela membayar calo sampai ratusan riyal agar bisa mendekat ke hajar aswad. Itulah perumpamaan politik di Indonesia. Persis. Kalau perlu menjilati pantat calon presiden agar kelak ketika yang dijilati pantatnya itu menjadi presiden, ia kecipratan posisi strategis di pemerintahan. Bukankah dalam ritual Haji, hajar aswad bukanlah yang utama?.  Bagi ane Hajar aswad adalah batu hitam yang tidak wajib untuk sekedar disentuh apalagi dicium. Apakah jokowi adalah hajar aswad-nya Indonesia saat ini? Ane bisa pastikan, iya. Karena secara masif, masyarakat Indonesia sudah digiring kepada satu tokoh;  Jokowi. Padahal, Indonesia bukan hanya Jokowi seperti halnya ka’bah bukan hanya hajar aswad.

Dimana Blitza memposisikan dirinya?

Seperti yang sudah ane sampaikan diawal, ane tidak bermaksud membawa Blitza ke ranah politik. Silahkan bagi antum yang mau tetap eksis di dunia akademis, perdagangan, pengusaha, aktifis, dakwah atau apapun pilihan yang antum ambil. Tapi ane harap antum jangan menutup mata terhadap 2014. Jika kita hanya berdiam diri saja, lantas apakah kita juga akan rela melihat Indonesia yang seperti ini saja di tahun-tahun yang akan datang?.

Ane harap, antum benar-benar objektif dalam menentukan pilihan di 2014 nanti. Silahkan pilih Jokowi, Prabowo, Jusuf Kalla, Mahfud MD, atau Rhoma Irama sekalipun, silahkan. Asalkan pilihan itu sudah melalui proses yang matang. Seperti halnya kita memutuskan memakan nasi, kita harus mampu melihat bahwa nasi tersebut sudah melalui proses yang sangat panjang sebelum menjadi nasi. Dan ane berharap, antum menyelipkan sebuah doa disetiap sholat antum, terserah kalimatnya seperti apa antum menyusunnya tapi pada intinya doa itu adalah : “Ya Allah…., mbok njenengan ikut ambil bagian di PEMILU 2014″.  Karena jika Allah ikut ambil bagian di Pemilu nanti, maka hidayah Allah akan merasuk ke dalam hati nurani masyarakat Indonesia dalam menentukan pilihannya. Sehingga siapapun yang terpilih di 2014 kelak, maka itu juga adalah berkat ridhla Allah swt.

Membongkar strategi ala Indra Sjafrie pada Timnas Indonesia U-19

Written by Fahmi Agustian. Posted in artikel

Evan Dimas Darmono

Evan Dimas Darmono, kapten timnas U-19

Euforia kesuksesan Timnas U-19 asuhan Indra Sjafrie masih saja menjadi perbincangan masyarakat luas. Berbagai media online pun masih saja membahas artikel yang berkaitan dengan Evan Dimas dkk. Gelaran kualifikasi Piala Asia U-19 pekan lalu adalah bukti terbaru kesuksesan Evan Dimas cs setelah sebelumnya mereka mampu meraih trofi AFF U-19 bulan lalu. Tentu saja kita menantikan bukti-bukti kehebatan Evan Dimas dkk selanjutnya. Ada yang menarik dalam 3 laga kualifikasi Piala Asia U-19 pekan lalu yang luput dari pemberitaan. Timnas U-19 melawan 3 tim yang menerapkan strategi berbeda satu sama lain. Laos yang berani menampilkan permainan terbuka, bahkan sejak menit pertama melakukan pressing ketat di area pertahanan Indonesia, Filipina yang memasang pertahanan “parkir bus”, dan Korea Selatan dimana sebagai juara bertahan kejuaraan ini adalah Raja Asia yang menggunakan strategi menyerang namun dengan garis pertahanan yang dalam. Kunci kemenangan Indonesia di 3 laga tersebut ada pada 3 gelandang Indonesia : Evan Dimas, Hargianto dan Zulfiandi. 3 pemain ini adalah tipe pemain box to box midfielder. Mereka tidak memiliki posisi yang pasti di setiap pertandingan. Kita bisa melihat terkadang Evan Dimas berada di depan bek Indonesia untuk melakukan intercept terhadap serangan lawan, kadang kita juga melihat Hargianto yang overlap untuk menciptakan peluang ke gawang lawan. Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada pemain lain, namun sektor tengah Indonesia U-19 yang dipimpin oleh Evan Dimas adalah poros utama serangan Indonesia U-19. Bahkan ada sebuah artikel yang mengatakan bahwa 3 pemain tengah ini adalah circle of dead yang dimiliki oleh skuad besutan Indra Sjafrie.

INDONESIA vs LAOS

Pada pertandingan pembuka kualifikasi Piala Asia U-19 Indonesia menjamu Laos. Indonesia menggunakan strategi 4-3-3 dengan memanfaatkan kecepatan 2 penyerang sayap ; Maldini dan Ilham Udin, sedangkan Muchlis Hadi diplot sebagai penyerang tengah. Laos yang menerapkan strategi 4-2-3-1 mengawali pertandingan dengan high pressing terhadap pemain Indonesia. Slah stau buktinya adalah Phithack yang berposisi sebagai penyerang, acapkali terlihat melakukan tekel terhadap pemain-pemain Indonesia untuk memotong serangan Evan Dimas cs. Pressing ketat yang dipergakan Laos ini membuat 3 gelandang dan 3 penyerang mereka mampu melakukan tekanan secara sporadis kepada pemain bertahan Indonesia ketika menguasai bola. Akibatnya, 3 gelandang Indonesia tidak mampu berkreasi secara maksimal, bahkan cenderung melakukan umpan-umpan pendek di area pertahanan sendiri. Hal ini menyebabkan Evan Dimas beberapa kali melepaskan umpan longball kepada Ilham Udin yang berposisi sebagai winger kiri. Gol Pertama Indonesia adalah gol yang tercipta setelah Indonesia melakukan tekanan dari sisi kiri yang kemudian memaksa kiper Laos melakukan pelanggaran terhadap pemain Indonesia disamping kotak pinalti. Evan Dimas dengan cerdik mengarahkan bola ke depan gawang dimana Muchlis Hadi memiliki ruang yang cukup untuk melakukan sundulan ke gawang Laos. Di pertandingan ini kita juga melihat Hansamu Yama Pranata beberapa kali mendapatkan peluang bersih. Bek tengah berpostur tinggi ini kerap membantu serangan ketika Indonesia mendapatkan sepak pojok atau set piece akibat pelanggaran pemain lawan. Strategi high pressing yang diperagakan Laos terbukti ampuh menahan serangan Evan Dimas dkk, bahkan setelah gol pertama, pertahanan Indonesia harus berjibaku terhadap serangan Laos, beruntung bola sepakan pemain Laos mengenai mistar gawang, dan bola pantulan tersebut yang kemudian disepak oleh pemain Laos dari sisi kanan berhasil diblok oleh Fatchu Rochman. Melihat lini tengah yang terlihat kurang kreatif, Indra Sjafrie memasukkan Paulo Sitanggang pada menit 43 menggantikan Hargianto. Babak pertama berakhir dengan skor 1-0 untuk Indonesia. Memasuki babak kedua, pada menit ke 50 Muchlis Hadi kembali mencetak gol, kali ini melalui open play, Evan Dimas dengan cerdik mengumpan bola kearah pertahanan Laos dimana Muchlis Hadi mampu mengejar bola hasil umpan Evan Dimas tersebut, upaya kiper Laos untuk menutup ruang tembak Muchlis Hadi terbukti sia-sia, dengan cerdik Muchlis melambungkan bola keatas kiper Laos yang sudah terlampau jauh meninggalkan gawang. Beberapa menit berselang, Maldini memiliki peluang yang berhasil dimentahkan oleh kiper Laos Boungpaseuth Niphavong. Di menit 73, kiper Laos tersebut kembali mementahkan serangan Idnonesia dari kaki Ilham Udin yang melakukan serangan dari sisi kiri.

Strategi high pressing yang diperagakan Laos harus dibayar mahal dengan 2 kartu merah yang diberikan wasit kepada Laos. Meskpiun demikian, 2 gol Indonesia selanjutnya tidak didapatkan dengan mudah, bahkan baru didapatkan ketika Laos menerima kartu merah kedua. Paulo Sitanggang terbukti menjadi pembeda dalam pertandingan ini. Pemain yang juga mampu menjadi box to box midfielder ini membayar kepercayaan Indra Sjafrie dengan sebuah gol yang tercipta dari sebuah skema serangan yang apik. Evan Dimas yang mendapatkan bola di area tengah melakukan longball kepada Maldini yang memiliki ruang di sisi kanan, akselerasi pemain nomor 15 ini kemudian dengan tenang mengumpan bola kepada Sitanggang yang meskipun dijaga ketat oleh pemain Laos, ia mampu mencari ruang tembak untuk kemudian mencetak gol ke 3 bagi Indonesia. 5 menit berselang, Evan Dimas mencetak gol. Berawal dari kesalahan pemain belakang Laos dalam mengontrol bola, Evan Dimas dengan tenang mengarahkan bola ke tiang jauh, tendangan datarnya merobek gawang Laos untuk keempat kalinya. Gol ini menjadi penutup sekaligus mencatatkan Evan DImas sebagai man of the match pada pertandingan ini dengan 1 gol dan dua assistnya.

Meskipun Laos harus kalah dengan skor telak, namun Laos beberapa kali mampu mebahayakan gawang Ravi Murdianto, terutama di babak pertama. Bola hasil intercept dan clearance beberapa kali berhasil dikonversi menjadi possesion ball, untungnya pemain bertahan Indonesia mampu bertahan dengan baik dengan skema pertahanan yang rendah. Di babak kedua, Laos mampu melakukan 17 intercept dan 17 tackle terhadap serangan pemain Indonesia. Kemenagan telak Indonesia ini dibantu oleh stamina pemain Laos yang kedodoran sejak akhir babak pertama. Masuknya Paulo Sitanggang terbukti ampuh menghancurkan high pressing Laos dan membuat serangan Indonesia tidak terbendung. Terbukti beberapa kali Ilham Udin dan Maldini berhasil menusuk area pertahanan Laos dan melakukan tembakan, sayangnya kiper Laos mampu mementahkan serangan-seranagn tersebut.

INDONESIA vs FILIPINA

Sebelum pertandingan, pendukung Indonesia banyak yang sesumbar bahwa Indonesia akan mencetak banyak gol ke gawang The Azkals. Ternyata, skema bertahan total yang diterapkan Filipina akhirnya hanya membuahkan 2 gol bagi Indonesia. Indra Sjafrie memperlihatkan keberaniannya bahwa baginya tidak ada the winning team. Pada laga kedua ini, Maldini yang di pertandingan sebelumnya bermain apik, tidak dimainkan oleh Indra Sjafrie. Terlepas dari strategi menjaga stamina Maldini untuk dipersiapkan melawan Korea Selatan. Namun, keputusan Indra Sjafrie memasang Dinan Javier untuk mengisi posisi Maldini terbukti jitu. Keputusan beresiko tinggi juga harus diambil oleh Indra Sjafrie dengan menggeser Putu Gede Arta ke posisi bek tengah dan memasang Mahdi Fahri di posisi fullback kanan. Duet Hansamu-Syahrul harus dikorbankan. Keputusan ini sangat beresiko karena mau tidak mau Indonesia harus mendobrak pertahana Filipina. Dinan yang diplot sebagai winger kanan. Kombinasi Dinan-Fahri ini terbukti lebih baik darpada memaksakan kombinasi Maldini-Fahri. Karena Maldini dan Fahri memiliki tipikal permainan yang sama. Sedangkan Dinan memiliki kemampuan melakukan ancaman melalui tembakan jarak jauh yang tidak dimiliki oleh Maldini. Melawan tim yang menumpuk 11 pemain di area pertahan mereka membutuhkan kesabaran. Namun kita disuguhkan oleh kemampuan tendangan jarak jauh dari pemain-pemain U-19 ini. Indra Sjafrie mengakui bahwa pemain-pemainnya kurang tenang dalam mengeksekusi peluang, sehingga banyak peluang yang terbuang. Dinan Javier mendapat peluang bersih dari sepakan pojok Evan Dimas di menit ke 20, sayang bola sundulannya tepat megarah pada kiper Filipina. 5 menit berselang bola hasil set piece diluar kotak pinalti yang dieksekusi oleh Evan Dimas masih membentur mistar gawang. 2 menit berselang Indonesia kembali mendapatkan set piece. Hargianto sukses mengeksekusi peluang ini setelah sebelumnya Evan Dimas melakukan gerak tipu. Sepakan Hargianto ini meluncur deras ke gawang Filipina dan gagal ditepis oleh kiper Filipina meskipun sempat mengenai tangan kiper. 1-0 untuk Indonesia hingga babak pertama berakhir. Startegi bertahan totoal Filipina memaksa Indonesia beberapa kali melakukan tendangan dari luar kotak pinalti. 3 gelandang Indonesia Evan Dimas, Hargianto dan Zulfiandi, motor serangan Indonesia di lini tengah ini mampu melakukan attempt. 3 tendangan bebas Indonesia di babak pertama dieksekusi bergantian oleh 3 pemain ini, hasilnya : eksekusi Evan Dimas menerpa mistar gawang, eksekusi Hargianto berbuah gol, dan sepakan Zulfiandi on target.

Kekuatan lini tengah Indonesia di pertandingan ini dimanfaatkan dengan sangat jenius oleh Indra Sjafrie di babak kedua. Jika di babak pertama Indonesia menyerang dari sayap, maka di babak kedua serangan Indonesia berawal dari poros tengah Evan-Hargianto-Zulfiandi. Di babak pertama, double pivot Indonesia; Zulfiandi dan Hargianto berhasil meredam serangan Filipina, sementara Evan Dimas berada di belakang Muchlis Hadi. Hargianto kerap membantu Evan Dimas dalam merusak pertahanan Filipina, sedangkan Zulfiandi tetap berada didepan bek tengah. Strategi ini memaksa Hargianto maupun Zulfiandi mengirim bola ke sisi lapangan, terutama ke wilayah Dinan. Berbeda di babak kedua, Dinan berani melakukan tusukan ke area tengah pertahanan Filipina karena Indonesia melakukan serangan yang diawali dari poros tengah. Bahkan beberapa kali Dinan berada di belakang Muchlis. Namun upaya ini ternyata belum membuahkan hasil, karena 5 pemain Filipina mampu bertahan sejajar di area pertahann mereka ketika Indonesia melakukan serangan. Akibatnya baik Dinan maupun Ilham selalu dikawal oleh 2 pemain FIlipina ketika melakukan serangan. Pertahanan sayap Filipina juga terbukti sukses meredam Indonesia. beberapa kali pergerakan Dinan maupun Ilham mampu dimentahkan oleh pertahanan Filipina. Terbukti dari 15 attempts hanya 5 yang berasal dari dalam kotak pinalti, itupun hanya 1 yang on target. Paulo Sitanggang kembali dimainkan untuk menggantikan Zulfiandi di menit 64. Pemain ini kembali menjadi pembeda karena selain mampu melakukan pressing dang merebut bola, ia juga mampu melakukan transformasi dari bertahan ke menyereang serta memiliki umpan terobosan yang sangat baik. Memasuki menit ke 80, Indra Sjafrie menginstruksikan anak asuhnya untuk kembali mendobrak pertahanan dari sayap kanan dan melonggarkan permainan dengan tujuan memancing keluar para pemain Filipina dari area pertahanan mereka. Dengan sedikit menurunkan tempo pertandingan kerapatan antarlini Filipina kemudian menjadi longgar. Hal ini memudahkan Evan Dimas dan Paulo Sitanggang untuk melakukan trough pass. Masuknya Yabes Roni Malaifani menggantikan Dinan Javier sangat mendukung pergerakan Evan DImas dan Paulo Sitanggang. Yabes dan Paulo mampu menusuk dari area kanan ini seperti yang dilakukan oleh Korea Selatan saat mengalahkan Filipina. Terbukti, gol Yabes Roni tercipta dari area ini yang juga hasil dari kombinasinya dengan Paulo Sitanggang. Serangan ini sebenarnya sudah dilakukan di babak pertama, hanya saja Dinan Javier tidak mampu melewati pemain bertahan FIlipina sehingga serangannya selalu mentah di kaki pemain bertahan Filipina.

Timnas U-19

Timnas U-19 saat berlaga di Piala AFF U-19

KOREA SELATAN vs INDONESIA

Dalam sebuah konfrensi pers, Coach Indra Sjafrie mengatakan: “Jangan terlalu dibesar-besarkan soal Korsel. Indonesia lebih besar dari Korsel. Sampaikan kepada Korsel, kami akan mengalahkan mereka pada 12 Oktober nanti”. Nada “sombong” seorang Indra Sjafrie ini sempat dinyinyiri oleh banyak orang yang akhirnya mereka hanya mampu tersenyum kecut setelah Indonesia mampu mengalahkan Korea Selatan dengan skor 3-2. Evan Dimas pun berulang kali berujar; “Tidak ada yang bisa dikalahkan kecuali Tuhan”. 3 gol Evan Dimas malam itu seakan menjadi bukti bahwa memang hanya Tuhan yang tidak bisa dikalahkan.

“Jangan terlalu dibesar-besarkan soal Korsel. Indonesia lebih besar dari Korsel. Sampaikan kepada Korsel, kami akan mengalahkan mereka pada 12 Oktober nanti”

Secara taktikal, skuad Garuda sebenarnya sangat mirip dengan punggawa Taeguk Warriors. Sama-sama mengandalkan penguasaan bola dan umpan-umpan pendek. Sama-sama menerapkan garis pertahanan yang dalam. Sehingga serangan lebih sering langsung dilancarkan ke jantung pertahanan lawan, dengan cara melepaskan trough ball ke area final third. Coach Indra Sjafrie kembali merubah line-up pemain pada pertandingan kali ini. Maldini kembali menjadi starter, dan Putu Gede kembali pada posisi semula yaitu fullback kanan. Pada pertandingan ini kita disuguhkan sebuah pertandingan yang sangat menarik. Banyak orang mengatakan “Ini seperti bukan Indonesia yang bermain”. Jika lawan sebelumnya hanyalah lawan lokal ASEAN yang sudah menajdi langganan di bebrbagai ajang, lawan kali ini adalah Korea Selatan, sang Juara bertahan dan pengoleksi trofi AFC Cup terbanyak, yaitu 12. Evan Dimas cs terbukti tidak sedikitpun merasakan beban atas nama besar Korea Selatan malam itu. Inisiatif menyerang langsung dilancarkan sejak menit pertama. Meskipun kemudian Korea Selatan mampu mengimbanginya. Hujan deras yang turun malam itu sangat membantu Coach Indra Sjafrie dalam berfikir untuk merubah strategi. Korea Selatan yang kerap melancarkan serangan dari sayap mampu dimentahkan oleh dua fullback Indonesia malam itu; Putu Gede dan Fatchu Rochman. Lapangan di sisi kanan pertahanan Indonesia beberapa kali dimanfaatkan oleh pemain-pemain Korea Selatan yang menyerang melalui area ini. Beberapa kali Korea Selatan menumpuk 5 pemain di area ini dan hanya menyisakan 1 pemain di kotak pinalti Indonesia. Air hujan yang tidak begitu menggenangi area ini seakan menjadi berkah bagi Korea Selatan karena mereka mudah melakukan passing antar pemain. Korea Selatan yang juga kerap mengirim crossing dari ujung garis pertahanan Indonesia memaksa  Hansamu membantu Fatchu ROchman untuk meredam serangan tersebut dari sisi kiri, sementara itu Zulfiandi turun ke area yang ditinggalkan Hansamu. Ketiga gelandang Indonesia yang dimainkan malam itu Evan Dimas-Hargianto_Zulfiandi bermain sangat rapat didepan lini pertahanan Indonesia, sehingga membuat gelandang-gelandang Koreaa Selatan tidak mampu berbuat banyak diarea tersebut. Sehingga bisa kita lihat betapa frustasinya Korea Selatan karena gagal menembus kotak pinalti Indonesia. Sebagai catatan 2 gol Korea Selatan malam itu tidak tercipta dari open play; satu gol dari tendangan pinalti dan satu gol lainnya berawal dari sebuah set piece.

Hujan yang cukup deras sempat menimbulkan kekhawatiran akan menurunnya stamina Evan Dimas dan Zulfiandi yang  bermain lebih dalam dari biasanya. Hal ini tentu menguras stamina mereka karena area mereka bertambah dalam menyerang dan bertahan. Evan Dimas memecah kebuntuan di menit ke 30. Ilham Udin yang menerima umpan lambung terbebas dari jebakan offside pemain Korea Selatan. Ia menggiring bola hingga hampir ke garis akhir, kemudian melepaskan umpan sambil terjatuh, Evan Dimas tanpa diduga oleh pemain Korea Selatan berlari dari arah yang berbeda dan menyambut umpan Ilham tersebut. Sayangnya hanya 2 menit berselang Hansamu melakukan pelanggaran di kotak pinalti dan wasit menunjuk titik putih. 5 menit berselang, pergerakan Evan Dimas gagal dimanfaatkan oleh Muchlis Hadi. Bola hasil umpan Evan Dimas tersebut gagal diceploskan ke gawang Korea Selatan oleh Muchlis Hadi. Di menit ke 43 wasit terpaksa menghentikan pertandingan karena air yang menggenang di lapangan sudah terlalu banyak. Para pemain memasuki ruang ganti sementara panitia pertandingan berusaha mengurangi genagan air. Pertnadingan dilanjutkan dan Indonesia sempat mendapat peluang bersih dari sepakan keras Hargianto dari luar kotak pinalti, namun bola hanya membentur mistar gawang dan kemelut didepan gawang tidak berhasil dimanafaatkan oleh Maldini. Babak pertama berakhir imbang 1-1.

Di babak kedua, Maldini yang pada babak pertama terlihat lebih kedalam untuk membantu Putu Gede dalam bertahan, diplot untuk sedikit kedepan di posisi tumpuan serangan dari sisi kanan. Hal ini kemudian dimanfaatkan Korea Selatan untuk menyerang dari sisi kiri dan tengah. Karena Maldini berada pada posisi yang jauh dari pertahanan.  Pemain Korea Selatan dikenal memiliki kolektifitas dan lini tengah yang kuat. Hal ini kemudian membuat Indra Sjafrie menginstruksikan Hargianto dan Zulfiandi untuk bermain lebih dalam sebagai double pivot untuk melindungi 4 bek, sedangkan Evan Dimas sebagai pengatur serangan. Akibatnya 3 pemain tengah Indonesia tidak dapat melakukan passing-passing di area pertahanan lawan. Mereka lebih sering mengirim umpan lambung ke area pertahanan lwan untuk melakukan serangan. Pertahanan Korea Selatan yang juga dalam membuat Muchlis Hadi bermain lebih ke belakang dari biasanya, bahkan ia melakukan tackle di area pertahanan Indonesia. Dengan lebih ke belakangnya Muchlis, paraktis Maldini dan Ilham Udin menjadi titik fokus serangan Indonesia. Gol pertama Indonesia adalah salah satu buktinya. Aliran bola dari tengah lebih sering ditujukan kepada Maldini atau Ilham Udin ketimbang kepada Muchlis Hadi yang sangat dijaga ketat oleh pemain bertahan Korea Selatan. Di abbak kedua justru Maldini lebih sering melakukan tusukan dari sayap kanan, strategi ini memang sering dilakukan oleh Indra Sjafrie, yaitu mengganti pola serangan pada babak kedua. Pola serangan yang berganti ke sisi kanan ini kemudian membuat Ilham Udin berdampingan dengan Muchlis Hadi di depan gawang. Sehingga Maldini memiliki 2 opsi dalam mengirim bola ke dalam kotak pinalti. Dengan strategi ini pula pemain tengah Indonesia mampu memberikan ancaman dengan menusuk jantung pertahanan Korea Selatan. Pada saat gol pertama Evan Dimas, sudah ada 3 pemain lainnya di dalam kotak pinalti yang juga siap menyambut umpan dari Ilham Udin tersebut.

3 gol Evan Dimas memiliki sebuah ciri khas yang sama. Yaitu Evan Dimas melakukan lari vertikal menyambut umpan dari pemain lainnya untuk kemudian mencetak gol. Gol pertama seakan ia tau bahwa Ilham Udin akan mengirim ke tengah kotak pinalti, sehingga ia lari menuju area tersebut dan terlambat disadari oleh pemain bertahan Korea Selatan yang gagal melakukan intercept terhadap Evan Dimas. Gol kedua adalah hasil kombinasi Evan Dimas dengan Maldini. Dengan cerdik Evan Dimas setelah memberikan bola kepada Maldini, ia berlari vertikal menuju kotak pinalti dan menyambut bola umpan dari Maldini yang sebelumnya melewati 2 pemain bertahan Korea Selatan. Gol ketiga Evan Dimas berawal dari sebuah intercept yang dilakukan oleh Muchlis Hadi yang kemudian mengirim bola kepada Ilham Udin yang melakukan overlap ke sisi kanan. Hampir mirip dengan apa yang dilakukan oleh Maldini pada gol sebelumnya, yaitu melewati 2 pemain bertahan Korea Selatan kemudian mengirim bola ke dekat kotak pinalti. Namun, yang membuat gol ketiga Evan Dimas ini lebih cantik dari gol sebelumnya adalah kombinasi Muchlis Hadi dengan Ilham Udin. Setelah Muchlis Hadi mengirim bole kepada Ilham Udin, ia berlari menuju kotak pinalti, begitu menerima bola sodoran dari Ilham Udin, ia melakuan umpan dengan backhell tanpa melihat kemana arah yang dituju,  seakan Muchlis tahu bahwa Evan Dimas sudah berada di posisi yang memiliki ruang lebih luas untuk melakukan tembakan kegawang. Ketiga gol Indonesia ini adalah hasil dari kombinasi antara Evan-Muchlis-Ilham-Maldini. Evan Dimas sebagai eksekutor, sedangkan 3 pemain lainnya bergantian sebagai pengumpan dimana dua diantaranya berada didepan atau dibelakang Evan Dimas pada saat terciptanya gol. Pada gol pertama Ilham Udin sebagai pengirim bola, Muchlis dan Maldini bersiap dibelakang  Evan Dimas. Pada gol kedua, Maldini sebagai pengumpan, Muchlis Hadi dan Ilham Udin sudah berada didepan Evan Dimas. Agak berbeda pada proses gol ketiga, Ilham Udin mengirim bola kepada Muchlis Hadi, hanya Maldini yang tidak terlihat berada didalam kotak pinalti.

Sebuah gol Korea Selatan di menit-menit akhir pertandingan berawal dari sebuah set piece. Gol ini seperti tidak begitu disesalkan oleh Coach Indra Sjafrie karena memang inilah salah satu kelebihan Korea Selatan. Setelah gol tersebut, dengan bahasa tubuh yang sangat jelas Indra Sjafrie menginstruksikan kepada para pemain untuk tenang dan sabar. Pertandingan berakhir dengan skor 2-3 untuk kemenangan Indonesia.

3 pertandingan dalam seminggu, 3 lawan berbeda dengan 3 strategi yang berbeda. Satu kata untuk Indra Sjafrie: JENIUS. Indra Sjafrie faham betul kebutuhan tim. Ia membangun sebuah tim yang tidak bertumpu pada seorang pemain saja. Ketika skema serangan yang ia instruksikan buntu, ia masih memiliki pemain pengganti yang mampu memecah kebuntuan. Lihat bagaimana tim ini mampu mencetak banyak gol dari secondline. Lihat bagaimana Evan Dimas mampu menjadi penyerang lubang. Lihat bagaimana Maldini Pali mampu membongkar pertahanan dari sisi kanan. Lihat bagaimana kerasnya tendangan Hargianto dari luar kotak pinalti. Lihat bagaimana reflek Ravi Murdianto dibawah mistar gawang. Lihat bagaimana mereka bermain. Impresif, agresif, kolektif, tenang dan fokus mereka tetap terjaga.

Saya merasa bukan pemain Indonesia yang sedang bermain malam itu. Mereka sangat berbeda dari timnas-timnas sebelumnya. Terlepas dari sebuah fakta bahwa mereka masih berusia dibawah 20 tahun, nyatanya mereka telah memberikan sebuah contoh bagaimana bermain sepakbola kepada senior-senior mereka.  Ketika melawan tim sekelas Korea Selatan sekalipun, Evan Dimas dan Ilham Udin masih mampu tersenyum ditengah-tengah pertandingan. Ini pertanda bahwa mereka begitu menikmati pertandingan yang mereka jalani. Tidak perduli siapa yang mereka hadapi. Fokus mereka tidak terganggu, stamina mereka mampu dipertahankan hingga 90 menit, bahkan dalam kondisi hujan deras sekalipun. Ini generasi emas sepakbola Indonesia. Selanjutnya adalah tugas PSSI untuk menjaga soliditas tim ini. Harus mau belajar pada kesalahan di masa lampau. Benar adanya kita pernah punya timnas yang bagus di masa Bima Sakti, Aji Santoso, Kurniawan Dwi Julianto hingga era Bambang Pamungkas, Ismed Sofyan, Firman Utina. Tapi, timnas Indra Sjafrie ini jika mampu dipertahankan hingga level senior, saya yakin mereka mampu terbang lebih tinggi lagi daripada senior-senior terdahulu mereka.

Bolehlah kita menikmati kemenangan ini, namun pelatih Korea Selatan pasca pertandingan sabtu lalu berujar; “Hari ini Indonesia bermain luar biasa dan tim kami underperform sehingga Indonesia layak menang. Tapi lihat setahun dari sekarang, hasilnya akan beda.”. Ini adalah ancaman yang nyata. Di gelaran Piala Asia U-19 tahun depan juga ada Jepang, China, Arab Saudi, Irak dan tim kuat Asia lainnya yang sudah menunggu.

Indra Sjafrie

Indra Sjafrie sedang memimpin latihan timnas U-19

Buah kejeniusan seorang Indra Sjafrie

Jujur saja, saya tidak mengenal satupun pemain U-19 sebelum gelaran AFF U-19 bulan lalu. Kebanyakan mereka adalah pemain amatir yang ditemukan oleh Indra Sjafrie dan scouting team dalam upaya mencari bibit-bibit unggul pemain sepakbola. Jangan dikira proses yang dilakukan oleh Indra Sjafrie dan tim tersebut dilakukan dalam waktu yang singkat. Indra Sjafrie kerap menggunakan uang pribadinya untuk mengunjungi daerah-daerah untuk mencari pemain-pemain berbakat. Jangan pula tanyakan kontrak resmi PSSI. Indra Sjafrie bahkan sempat dipecat oleh PSSI dan digantikan oleh Blanco, pelatih yang entah darimana asalnya itu. Indra Sjafrie berani mengatakan “Jangan bicara duit pada Negara”. Ucapan ini seakan menyindir para pejabat PSSI dan pemerintah yang selama ini hanya mampu menyemangati para pemain sepakbola yang membela panji Garuda dengan iming-iming bonus berupa sejumlah uang. Indra Sjafrie juga bukan tipe orang yang mau ikut urusan orang lain. Hal ini dibuktikan dengan status klub Evan Dimas yaitu PERSEBAYA 1927 yang tidak diakui oleh PSSI. Baginya, tidak peduli Evan Dimas bermain di klub mana, yang penting Evan Dimas adalah pemain Tim Nasional U-19 saat ini.

“Jangan bicara duit pada Negara”

Standar tinggi juga digunakan oleh Indra Sjafrie dalam merekrut pemain. Pemain yang direkrutnya harus memiliki 4 aspek ; teknik (skill) taktik dan kecerdasan, stamina dan fisik, yang terakhir adalah mental. Maka dalam staff kepelatihan Indra Sjafrie di Timnas U-19 ini terdapat seorang pelatih mental lulusan S-2 Psikologi UGM, Guntur Cahyo Utomo. Kemudian ada Nur Saelan sebagai pelatih Fisik. Pelatih yang menggunakan metode Hypnotise for coaching, yaitu mengubah mindset para pemain dari yang sebelumnya merasa latihan sangat melelahkan menjadi kebutuhan. Nur Saelan juga melatih respon para pemain dengan cara memberikan pertanyaan hitung-hitungan sederhana sebelum melakukan adu sprint. Satu lagi sosok penting dalam staff Indra Sjafrie, dialah Rudi Eka Priambada. Ia berposisi sebagai High Performance Unite. Sekilas ia hanya membawa kamera atau handycam saat pertandingan calon lawan. Namun jangan salah, ia adalah jebolan beasiswa AFC Project Future Coach 2009 di Dortmund, Jerman. Tugasnya adalah menganalisa cara bermain calon tim lawan untuk kemudian diadu dengan statistik tim U-19 dalam sebuah meeting menjelang pertandingan.

Religiusitas dalam tim

Ada sebuah pemandangan yang tidak biasanya dari perayaan beberapa gol Timnas U-19. Mulai dari gelaran Piala AFF U-19 hingga kualifikasi Piala Asia U-19 2014. Evan Dimas dkk merayakan gol dengan cara sujud syukur ke arah tribun penonton yang hadir, tentu saja saya sangat yakin sujud tersebut tidak ditujukan kepada para penonton. Tentu sujud syukur tersebut ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hal yang hampir sama juga diperlihatkan oleh Yabes Roni Malaifani. Pemain non muslim ini juga memanjatkan rasa syukur dengan berdoa sesuai kepercayaannya. Di jagat twitter sempat ramai sebuah hashtag #SujudForSjafrie. Tentu bukan bermaksud menuhankan seorang Indra Sjafrie. Ini hanya sebagai ungkapan rasa bangga dan terima kasih atas kejeniusan Indra Sjafrie dalam membimbing Timnas U-19. Sebenarnya perayaan gol seperti ini sudah biasa dilakukann oleh beberapa pemain di liga eropa, ada yang sujud, ada yang memberi isyarat salib pada badan, ada yang menunjukkan dua telunjuk ke langit. Ini adalah sebuah pertanda bahwa apa yang dilakukan manusia tidak lepas dari campur tangan Tuhan. Tidak usah diperdebatkan apa kepercayaan yang dianut, tapi mereka memiliki keyakinan bahwa Tuhan adalah penguasa alam semesta. Indra Sjafrie sangat baik menanamkan hal ini kepada para anak asuhannya. Ia merasa perlu untuk terus mengingatkan bahwa kita hanya manusia biasa yang hanya bisa berusaha.

Akhirnya, mengutip ucapan Steve Jobs yang sangat terkenal, pesan yang saya rasa sangat pantas ditujukan kepada Evan Dimas dkk beserta staff pelatih Indra Sjafrie: “Stay hungry, Stay foolish”. Tetaplah merasa lapar, dan tetaplah merasa bodoh. Dengan begitu, kalian tidak akan merasakan puas. Teruslah terbang Garuda muda.

Sumber tulisan : panditfootbal indonesia                                   bola.net
bolatotal.com