Archive for September, 2013

Berjasalah Tapi Jangan Minta Jasa

Written by Fahmi Agustian. Posted in artikel

Oleh Ust. Rahmatullah Oky

Tak kenal henti memberi, itulah sebenarnya esensi dari seorang pahlawan itu. Dia rela berjuang dan ikhlas mengabdi untuk sekedar menunjukkan bahwa kebaikan di dunia ini masih ada. Tidak peduli apakah ada orang yang melihat jasanya atau tidak, tidak peduli apakah dia digelari pahlawan atau tidak, tidak peduli apakah dia akan mendapat penghargaan atau tidak, dia tidak mempedulikan itu. Baginya kebahagiaan orang lain adalah tujuannya. Dia Cuma berharap apa yang dia lakukan itu dilihat oleh Allah, sehingga diapun hanya berharap kepada Allah, menyerahkan semua masalahnya kepada Allah, dan betul-betul hanya mengharap ridho Allah. Baginya dunia dan seisinya ini hanya memberikan seuntai senyuman palsu yang melenakan. Tidak layak untuk diambil apalagi diperebutkan.

Negeri ini dibangun oleh jasa mereka. Mereka yang rela berkorban dan ikhlas berjuang itulah sendi-sendi yang membangun kemerdekaan negeri ini. Bangsa dan Negara ini haruslah berterima kasih kepada mereka yang sudah serius mengumpulakn jasa-jasa mereka yang tak mungkin dibalas oleh Negara ini dengan apapun, apalagi Cuma sekedar gelar pahlawan. Sebab diakui atai tidak seseorang itu sebagai pahlawan, adalah hasil interprestasi sejarah yang bisa jadi salah. Bagi orang-orang Yahudi, Hittler adalah musuh nomor satu dalam sejarah. Namanya haram diucapkan. Hal ini setelah klaim peristiwa holoclaust yang telah membantai ribuan yahudi di dalamnya. Tapi menurut bangsa Jerman Radikal, hittler itu pahlawan. Dia adalah pembawa perubahan Jerman yang nyata. Maka namanya wajib disebut setiap waktu, jasa-jasanya wajib dikenang, pemikirannya wajib diabadikan, dan pidato-pidatonya wajib diperdengarkan. Hampir sama dengan para Pahlawan kita bukan? Si Pitung itu disebut maling, perampok, berandal, dan tukang rampas barang orang lain sama pemerintahan kolonial. Tapi dimata rakyat dia pahlawan, dia betul-betul seorang hero yang mampu membela rakyat yang tertindas. Jasanya tak akan lekang oleh zaman. Rumahnya bahkan diabadikan jadi Museum di Jakarta Utara. Dia di elu-elukan rakyat sebagai pahlawan. Nah, jadi sebenarnya si Pitung ini pahlawan atau maling?

Absurdnya penilaian tentang kepahlawanan seseorang itulah yang membuat sebuah gelar kepahlawanan menurut saya menjadi tidak penting sama sekali. Bahkan Bung Tomo, yang ternyata baru saja mendapat gelar pahlawan pada tahun 2010 yang lalu sudah betul-betul dianggap pahlawan oleh masyarakat Surabaya. Apa dengan demikian maka berarti pahala Bung Tomo hanya akan ada setelah pemberian gelar pahlawan itu? Saya rasa tentu tidak demikian. Mau diakui atau tidak, jasa beliau terhadap perjuangan bangsa ini sudah kelewat besar. Maka tentu pemerintah-lah yang seharusnya malu karena baru mengakui beliau sebagai pahlawan jauh hari setelah wafatnya beliau di padang Arofah. Maka saya-pun yakin, dulu ketika masa perjuangannya, Bung Tomo juga sama sekali tidak akan mengharapkan panggilan pahlawan ini. Tapi betul-betul ikhlas dan penuh kerelaan untuk mempertahankan kemerdekaan Republik yang masih berusia belia ini. Siapapun akan terbakar semangatnya demi mendengar pidato beliau. Siapapun akan rela berkorban demi mendengar teriakan-teriakan heroic beliau. Siapapun akan tertantang menuju syahid jika mendengar beliau bertakbir. Maka sungguh layak saya kira jika kita angkat beliau sebagai pahlawan, meskipun beliau sama sekali tidak mengharapkannya, sebagaimana kebanyakan pahlawan lain-pun tidak pernah mengaharapkannya.

Menurut Alamrahum KH Zainudin MZ, Pahlawan itu terambil dari kalimat PAHALAWAN, atau orang yang selalu mencari PAHALA. Karena yang dicari adalah pahala, maka memang seorang Pahlawan tidak akan pernah mengharapkan gelar keduniaan. Semua jasa yang dia telah berikan tulus dia persembahkan bagi masyarakat. Karena yang dicari adalah pahala, maka seseorang yang berjuang penuh dengan ambisi keduniaan justru tidak layak digelari pahlawan. Hitler, Musollini, Stalin, dan orang-orang lain yang memperjuangkan kepentingan pribadi partai atau golongannya atau dirinya sendiri tidaklah layak diberikan gelar pahlawan. Seorang pahlawan berorientasi kepada kehidupan sosial, dia berinteraksi dengan tujuan menolong, dia menolong dengan tujuan mengharapkan pahala dari Allah, tidak lebih. Itu orang yang dia tolong mau berterima kasih atau tidak, jasa-nya dilupakan orang atau tidak, pertolongannya diakui atau tidak, dia sama sekali tidak peduli. Karena yang ada dalam angganya hanyalah pahala dari Allah, dan Allah maha melihat dan tidak tidur. Maka mustahil bagi Allah untuk tidak menyaksikan perilakunya.

Maka itu berjasalah. Buatlah manfaat sebanyak mungkin bagi lingkungan kita. Apapun yang bisa kita perbuat, berbuatlah. Saya pernah membaca sebuah kisah yang mengharukan. Di India, ada seorang pembelah batu yang kehilangan istrinya yang meninggal dunia karena sakit. Dia tidak punya biaya untuk mengantarnya ke rumah sakit karena jauhnya perjalanan, apalagi sampai menanggung biaya rumah sakitnya. Akibat kesedihannya yang mendalam, dia bersumpah akan membelah gunung yang ada di depan rumahnya agar ada jalan yang singkat menuju rumah sakit. Sebab kenapa jarak dari kampungnya ke rumah sakit jauh adalah karena dia harus memutari gunung itu. Semua orang meledek pembelah batu itu, dan mengatakan bahwa apa yang dia perbuat akan sia-sia belaka. Semua orang ber-irama merendahkan kepadanya. Tapi setelah 20 Tahun kemudian, semua orang yang memadang sebelah mata terbelalak. Jalan pintas yang di impikan pembelah batu itu telah terwujud dan dia melakukannya sendirian ! Luar biasa..! Sayangnya bapak tua yang telah berjasa itu sudah meninggal dunia tahun 2007 lalu, dan jasanya sama sekali tidak diakui pemerintah. Tapi masyarakatlah yang telah menganggapnya pahlawan. Masyarakat kampong-nya tahu bahwa bapak tua itu tekah menghabiskan 20 tahun usianya untuk menolong orang yang hendak pergi ke kota atau ke rumah sakit dengan mudah. Masyarakat-nya pun mengerti bahwa pengorbannya tidak sia-sia. Maka mereka dengan suka rela memberikan gelar Pahlawan kepada bapak tua itu.

Namun jangan pernah sekali-kali kita minta jasa. Terlalu naïf dan hina jika apa yang sudah kita kerjakan itu kita tuntut harus berakhir dengan untaian jasa. Berbagai gelar, berbagai penghargaan, bermacam bintang dan piala, jika itu semua jadi perhatian dan tujuan kita, maka selesai sudah sampai disitu. Coba kita lihat, apa yang akan kita dapatkan setelah semua prose situ semua? Bintang dan piala kita hanya akan jadi pajangan di ruang tamu. Penghargaan dari pemerintah hanya akan jadi hiasan dinding di rumah. Setelah itu, seiring berjalannya waktu akan lekang di makan zaman. Tapi jika kita ikhlas melakukannya untuk Allah. Maka sungguh Allah tidak akan pernah melupakan hamba-Nya. Walaupun tanpa gelar pahlawan, walau tanpa rentetan bintang dan tumpukan piala, walaupun tanpa pengahargaan apapun seperti bapak tua di India itu. Tapi nama yang baik akan senantiasa jadi cerita di sebalik tidur malam anak-anak kita kelak. KH Hasyim As’ari, KH Ahmad Dahlan, Jenderal Sudirman, Bung Karno, Bung Hatta, Tjut Nya Dien, dan masih banyak lagi manusia-manusia mulia di negeri yang telah berjasa, tapi tanpa pernah sekalipun minta jasa. Sebab bagi mereka, kebahagiaan orang banyak itu jauh lebih penting daripada seonggok penghargaan yang akan segera menghilang ditelan zaman….Wallahu A’lam.

PARA KYAI, WASPADALAH, WASPADALAH!

Written by Fahmi Agustian. Posted in artikel

Kambing, seratus tahun lagi tetap kambing
(KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, Pimpinan Pondok)

Inspirasi terbesar yang diwariskan pesantren ke dalam diri setiap penghuninya adalah dinamikanya yang tidak pernah mati. Datanglah jam berapapun, ada geliat aktifitas merancang perubahan di dalamnya. Dua puluh empat jam sehari sungguh tidak cukup untuk mewadahi cita-cita perubahan yang dikibarkan pesantren. Penghuni pesantren telah terpola untuk mempunyai etos kerja, etos keilmuan dan integritas moral melampaui ruang dan waktu. Tidak perlu ada upaya mobilisasi, begitu terdengar lonceng berdentang enam kali, seluruh santri kelas enam berkumpul. Tidak perlu ada pengawas, selama target kerja kepanitiaan belum tercapai, semua penanggungjawab berjibaku rawe-rawe rantas tak peduli jam berapa. Semua dinamika berlangsung gegap gempita seiyeg saeko kapti tanpa iming-iming honor atau penghargaan lain. Satu-satunya penghargaan adalah kesuksesan tugas.

Untuk sekedar tidur sejenak, pesantren tidak punya waktu. Mari kita telusuri sudut-sudutnya di larut malam saat sebagian besar makhluk telah lelap. Jam 22.00 ketika manusia biasa mulai gosok gigi, mencuci kaki dan berangkat ke peraduan, lihatlah manusia luar biasa; remaja belia mungil-mungil itu berangkat membawa tongkat, tali dan peralatan Pramuka. Kita menutup hari, mereka membuka kesibukan merangkai tongkat-tongkat, mempersiapkan arena latihan Pramuka esok hari. Di sudut lain, sekelompok remaja belasan tahun sibuk memainkan kuas di atas kertas-kertas semen untuk dekorasi panggung pementasan seni. Sekelompok lainnya menyusun potongan-potongan bambu untuk taman di sudut pesantren. Jam 24.00 ketika kelompok-kelompok tadi mulai kembali ke asrama, beberapa petugas keamanan berpatroli keliling pesantren menghampiri para santri penjaga malam di lebih dari 25 titik penjagaan.

Jam 02.00 ketika seharusnya tempat di mana pun di negeri ini mencapai titik senyapnya, berpuluh, beratus anak kecil bangun terhuyung melawan rasa kantuk untuk mempersiapkan ulangan besok pagi. Dan jam 03.00 semakin banyak santri yang bangun. Lalu menjelang Subuh, tidak ada lagi mata yang boleh tidur. Jam itu, tidur masih diperbolehkan hanya dalam deretan antrian berwudhu. Sambil bersandar di tembok atau jongkok di bawah jemuran adalah sekelumit waktu bagi para santri mencuri jam untuk terpejam. Seperempat jam sebelum adzan Subuh, semua mata harus segar dan segera memulai hari itu dengan seluruh rutinitas.

Lembaga pendidikan mana yang mampu menandingi dinamika ini? Sekolah mana yang muridnya mampu menyelenggarakan Drama Arena dan Panggung Gembira dengan biaya, variasi pementasan, dekorasi, kreatifitas dan terutama kemandirian selevel yang terjadi di pesantren? OSIS sekolah mana yang pengurusnya mampu menggerakkan ribuan santri dengan perputaran keuangan ratusan juta rupiah? Energi apa yang membuat uang ratusan juta itu tidak dikorupsi ke kantong-kantong pribadi? Apa yang membuat mereka bisa? Dinamika kehidupan yang tidak pernah berhenti berputar telah mencetak mereka menjadi serupa dengan ribuan, jutaan semut yang sanggup mengangkat beban puluhan, ratusan kali lipat dari berat tubuhnya. Jutaan semut santri itu bergerak, beraktifitas, berperan dalam dinamika kolektif yang padu.

Dinamika itu pula yang perlahan namun pasti menyulap pesantren di tengah hutan desa itu menjadi istana tersembunyi yang tidak berhenti memperbesar diri. Kalau anda tidak sempat berkunjung dalam kurun satu tahun, pasti dikejutkan oleh kemunculan gedung-gedung baru. Sungguh seperti terbit dari bumi. Kalau kunjungan terakhir Anda adalah dua tahun yang lalu, Anda dikejutkan oleh dua atau tiga sepeda motor baru yang parkir di hampir setiap rumah guru kader. Kalau terakhir Anda datang tiga tahun yang lalu, sepeda motor itu tinggal satu saja, sebagai gantinya, sebuah mobil parkir di garasi. Kesejahteraan materi begitu murah di pesantren. Kesejahteraan materi itu adalah buah dari kegigihan dan berkah dari kolektifitas yang dikembangkan.

Tetapi inilah justru titik rawannya: kesejahteraan materi.

Dinamika kehidupan pesantren berputar begitu deras di atas pondasi ketulusan, sama sekali jauh dari kepentingan duniawi. Ketulusan itu membuat haru kerajaan malaikat dan mereka tergerak untuk turun melipatgandakan energi para santri. Terwujudlah keajaiban itu: satu santri bernilai seribu orang. Sehingga empat ribu santri berkarya setara dengan prestasi empat juta pekerja. Percepatan ini adalah energi ketulusan. Dinamika ini adalah derap kaki tentara Tuhan yang tidak terlihat, ’junuud lan tarauhaa!’ Tetapi kesejahteraan materi adalah perangkap.

Kesejahteraan materi adalah jebakan. Kemapanan adalah ancaman.

Pesantren kecil dibesarkan oleh dinamika perjuangan dan demonstrasi ketulusan. Sekarang pesantren besar tengah menghadapi bahaya besar: degradasi ketulusan. Dulu para kader tidak berebut harta karena saat pesantren masih kecil, harta yang ada tidak cukup menggiurkan. Sekarang semua potensi untuk sejahtera dimiliki pesantren. Inilah kerawanan itu: semua kader rawan tergelincir ke dalam kubangan motivasi dan spirit duniawi. Bila ini terjadi, pesantren yang sudah besar bukan mustahil menjadi bangkai banteng gemuk yang diperebutkan Heina, Harimau dan burung-burung… Bila ini terjadi, tentara Tuhan yang tak terlihat itu akan minggat, tinggallah empat ribu penghuni pesantren setara dengan empat puluh pekerja berkualitas ala kadarnya.

Fakta sejarah menegaskan keruntuhan pesantren bukan akibat konfrontasi dengan dunia luar melainkan kegagalan menjaga kemenangan atas diri sendiri. Para Kyai, waspadalah, waspadalah!

re write dari akun facebook Ust. Rahmatullah Oky