Archive for September, 2013

Wasiat KH. Ahmad Sahal, “Jangan Kecil Hati”.

Written by Fahmi Agustian. Posted in artikel

Berikut ini adalah kutipan wasiat alm. KH. Ahmad Sahal. Saya sendiri tidak mendapatkan sumber yang menyatkan pada tahun berapa wasiat ini disampaikan.

—————————————————————————————————————————————————————-

Saya berbicara kali ini betul-betul dengan ikhlas. Hanya akan saya ambil sedikit-sedikit dan singkatnya atau pucuknya saja. Semua yang akan saya sampaikan ini bahkan sedikitnya direkam dan rekaman ini nanti mudah menjadi buku dan dapat dibaca oleh seluruh umat, sampai-sampai pada anak cucu saya sendiri dan anak-anakku sekalan yang ada.

Sebagai mukaddimah, jangan sampai salam terima, kalau pondok modern, Pak Sahal, ataupun Pak Zarkasyi, itu anti kepada siapaun yang menjadi pegawai, anti kepada priyayi, anti kepada buruh, tidak! Sama sekali tidak. Ini supaya dicatat lebih dahulu, saya tidak menghalangi, saya tidak anti, saya tidak memusuhi orang yang menjadi pegawai. Maka di sini saya tekankan di dalam niatmu. Jangan salah niat, kalau sampai salah niat akan rugi hidupumu, selama hidupmu hanya akan rugi karena salah niat.

Kalau saya, rumah tangga saya, anak-istri-cucu saya kebetulan kecukupan, jangan dikatakan saya ini bangga tapi hanya syukur, hanya kebetulan, bukan sombong bukan bangga. Umpamanya masuk di pondok modern ini ingin jadi pegawai, itu berarti niatmu sudah kalang kabut. Jagan sampai niatmu itu rusak, maka di sini saya beri jalan, bagaimana cara orang hidup.

Kalau sekarang anak-anak ini kebetulan melarat orang tuanya, jangan kecil hati, sekiranya anak-anak ini kaya orang tuanya, maka jangan besar hati. Ini diantaranya yang saya anggap penting dalam pembicaraan saya ini. Saya sudah tidak punya apa-apa tetapi berani hidup, BERANI HIDUP TAK TAKUT MATI, TAKUT MATI JANGAN HIDUP, TAKUT HIDUP MATI SAJA, ini semboyan saya.

Segala titah apapun, cacing-cacing, kutu-kutu, walang, kalajengking, kodok, kadal, semut, semua sudah dijamin rizkinya oleh Allah, ini yang saya pegang, wamaa min daabbatin fi-l-ardhi illa ‘alallahi rizquhaa. Harrik yadaka undzil alaika rizqo, ini harus diingat, gerakkan tanganmu dan Allah akan menurunkan rizki kepadamu. Sungguh saya sudah tidak punya apa-apa. Konsekwensinya saya digoda sampai melarat habis-habisan, tapi perkiraan saya tidak sampe lepas “Kumlawe Gumreged.” Kumlawe artinya tangan digerakkan dan gumreged artiunya makan (mempunyai niat dan kehendak).

Jangan kecil hati karena tidak menjadi pegawai, menghadapi hidup jangan kecil hati, betul-betul jangan kecil hati. Pada suatu masa, beban akan menimpa keluarga sebagaimana yang pernah dialami keluarga saya, bagaimana orang tua saya menyekolahkan anak-anaknya, apa yang saya pakai untuk menyekolahkan anak saya.

Keponakan saya sekolah ini, anak Pak Lurak sekolah HIS yang uang sekolahnya sampe 3 Gulden atau 3 Rupiah, artinya padi satu kwital. Tapi saya Bismillah , tanah saya yang sebelah sana sebanyak seperempat hektar telah saya wakafkan, yang sebelah situ setengah hektar pun sudah saya wakafkan.
Hanya tanaman itu (pohon kelapa) selama anak Pak Sahal masih sekolah hasilnya masih tetap dipungut untuk menyekolahkan anak Pak Sahal. Yang berarti anak-anak itu akan meneruskan cita-cita Pak Sahal.

Itu di antara nasib yang saya alami tetapi tetap berani, berani hidup tak takut mati, takut mati jangan hidup, takut hidup mati saja. Tak perlu korupsi bisa hidup. Jangan kecil hati, jangan edan-edanan, saya tidak anti kalau nanti anak-anakku menjadi mahasiswa, menjadi sarjana, kemudian menjadi pegawai, jadi buruh, gajinya sebulan dua puluh lima ribu sampai lima puluh ribu. Tatapi jangan kesana tekananannya, jangan terlalu menggaris bawahi ke sana, sampai-sampai lupa kepada tugasnya.

Kalau orang sudah menjadi pegawai, mati otaknya, ini tidak semua, tapi pada umumnya. Sudah sekolah setengan mati, masuk Tsanawiyah terus ke Gontor, lalu menjadi mahasiswa, akhirnya menjadi pegawai, lupa segalnya. Kitabnya tidak dibaca lagi, tabligh tidak mau, nasib rakyat tidak diperdulikan, hanya mengumpul dengan anak-istrinya, khianat …….. khianat.

Hanya akan menghitung–hitung tinggal berapa ini? Kurang berapa hari lagi sebulan? Kapan naik pangkatnya? Kapan naik gaji? Kapan ini? Kapan itu? Hidupnya jor-joran dangan kawan-kawannya. Na’udzubillah.

Sudah mundak sekian lamanya belajar agama seperti tafsir, hadits, dan lainnya. Tidak untuk mengurus tabligh, tidak untuk ngurus, tidak untuk apa-apa. Hilang setelah jadi pegawai. Sudah lupa kepada msyarakat, lupa kepada nasib negara, lupa nasib agama. Masih untung kalau masih mau sembahyang atau Jum’atan, itulah pegawai. Boleh dilihat, jadi pegawai sepuluh atau duapuluh tahun belum bisa membeli rumah, itu biasa, paling-paling kalung sebentar, cincin sebentar, honda sebentar.

Jangan sampai anak-anak sekalian menyandarkan warisan orang tua, warisan tidak memberkahi, anggaplah tidak akan menerima warisan. Hidup self help, berani menolong diri sendiri, maka kalau hanya menyandarkan pada oragn tua itu kere, pengemis. Kalau memang jantan, tidak usah menerima warisan, seperti Trimurti, Pal Sahal, Pak Zar, Pak Fanani. Ayah saya hanya memepunyai sawah tidak lebih dari satu hektar, tapi anak-anaknya seperti saya, Pak Lurah, Pak Fanani, Pak Zar dan lainnya sabar.

Pegang doran, pegang cangkul, betul-betul petani. Pak Lurah Sepuh, ayahnya Pak Iwuk (Muhsin) juga mencangkul. Saya pun demikian, tetapi tidak kecil hati. Zaman dulu, kalau orang sudah sekolah Belanda itu merasa orang ningrat, merasa sudah terpandang, orang maju, orang yang cerdas, kerena sekolah disekolahkan Belanda. Tapi ayah saya tidak demikian, ayah saya seorang kiai di desa, tetapi terpandang, jujur, adil, dan dicintai.

Menjadi murid atau santri pondok modern jangan kecil hati, kamu itu belum apa-apa, besarkan hatimu. Yen wanio ing gampang, wedhio ing pakewuh, sabarang ora kelakon, ini wasiat Ramayana yang artinya: “Kalau hanya ingin enak saja, takut kesulitan, takut kesukaran hidup, apa saja tidak akan tercapai. Hidup adalah perjuangan, lieben is treigen. Itulah manusia hidup di dunia, jangan takut hidup, ini yang harus dipegang mulai sekarang.

Yang lebih penting lagi adalah jujur, percaya kepada Allah, jangan kecil hati. Inilah yang saya amanatkan, amanat yang saya pidatokan, yang pertama kali mengenai iqtishodiyyah, mengenai ekonomi, pangupa jiwa, golek sandang pangan, sanguine urep.

Jangan sampai anak-anakku iri kepada kawan-kawannya yang menjadi pegawai, iri kepada yang mendapat gaji, sekali lagi jangan kecil hati, jangan salah niat, ini yang saya tanamkan pertama kali kepada anak-anakku.

Jangan takut hidup, yang penting iman kuat, jaga kehormatan Insya Allah cukup rizki. Ini saja anak-anakku, mudah-mudahan ada manfaatnya, ada berkahnya, untuk hidup dunia akhirat, husnul khotimah.

LABUH BONDO, LABUH BAHU, LABUH PIKIR, LEK PERLU SAK NYAWANE PISAN

Written by Fahmi Agustian. Posted in artikel

Oleh : Ust. Rahmatullah Oky

Salah satu hal yang membuat Rasulullah merenung adalah Istiqomah. Sebuah sikap untuk terus menerus berbuat baik untuk Allah. Sebuah perbuatan yang dilakukan terus menerus demi untuk menarik keridhoan Allah. Yup, karena kita tidak pernah bisa selamat di Akherat jika mengandalkan amal-amal perbuatan kita saja. Bahkan Rasulullah sekalipun, amal kebaikkanya tidak bisa menolongnya di alam akhirat, semuanya tergantung Rahmat dan kasih sayang Allah kepada umatnya. Maka tujuan kita beribadah hanyalah memohon ridho Allah, hanya itu saja yang kita pinta dari sedikit amal perbuatan yang kita sudah lakukan di dunia ini. Rasulullah pernah berfikir hingga Rambutnya memutih, sehingga para sahabat bertanya, apa yang membuat Rambutmu memutih wahai Rasulallah? Maka kemudian Rasulullah menjawab : aku memikirkan Istiqomah umatku.

Istiqomah memang sulit. Sangat sulit bahkan dilakukan di zaman yang penuh tipu daya seperti sekarang ini. Puluhan Godaan yang bermuka manis atau-pun pahit akan senantiasa menghadang langkah-langkah kita untuk Istiqomah. Kyai, yang dulunya ikhlas lillah dalam menyampaikan dakwah, bisa jadi langkahnya akan goyah ketika mulai dikenal, mulai tahu dengan uang, mulai pilih-pilih area dakwah, mulai memilah-milah objek dakwah. Akhirnya dakwahnya komersil. Berubahlah niatnya yang awal mulanya lillah menjadi untuk kesejahteraan. Ini jumlahnya banyak, tidak sedikit, penyakit ingin segera besar, ingin segera dikenal, ingin segera banyak muridnya, ingin segera termasyhur. Inilah godan istiqomah itu. Maka itu ciri orang yang istiqomah adalah tidak terlalu senang ketika dipuji, dan tidak terlalu sedih jika dicaci maki. Karena tujuannya memang bukan untuk pujian atau menghindari cacian itu. Tapi betul-betul ikhlas lillah.

Maka saya teringat kata mutiara dalam bahasa jawa diatas. Labuh bondo, labuh bahu, labuh piker, lek perlu sak nyawane pisan (Korban Harta, Korban Tenaga, Korban Fikiran, Kalau perlu nyawa sekalian kita korbankan). Ini kata-kata yang betul-betul menyentuh hati saya. Totalitas perjuangan yang menyeluruh dan penuh pengorbanan. Dimulai dengan Labuh Bondo (berkurban Harta). Ini adalah sumber utama penghancur setiap niat istiqomah. Orang bisa sangat tergila-gila sekali dengan harta yang dia miliki. Maka sikap ini perlu sekali laksanakan di setiap diri pendakwah. Harta tidak boleh mendikte kita. Harta tidak boleh mengatur hidup kita. Harta tidak boleh menguasai alur kehidupan kita. Tapi kitalah yang seharusnya mendikte, mengatur, dan mengusai harta itu. Jangan pernah jadi budak harta.Salah satu caranya adalah dengan mengorbankan harta itu. Berkorban untuk kepentingan yang lebih besar. Bukan asal berkorban. Memberikan sesuatu untuk berharap berbalas yang lebih bukanlah pengorbanan. Jika ada pamrih maka bukan pengorbanan. Meskipun Allah tidak akan pernah ingkar janji, bahwa siapa yang berkurban untuk-Nya, maka Allah akan balas 10 kali lipat banyaknya Tapi bukan itu yang jadi harapan kita.

Selanjutnya adalah LABUH BAHU (Kurban Tenaga). Jika korban harta sudah, maka selanjutnya adalah korban tenaga. Ini tantangan, sebab tidak sedikit orang merasa sudah menyumbangkan hartanya lalu kemudian melupakan pemgorbanan dengan tenaga ini. Dia merasa sudah berjasa sekali dengan pengorbanan hartanya, maka dia-pun merasa tidak perlu lagi menyumbangkan tenaganya. Ini adalah cara kedua untuk bisa melatih sikap istiqomah ini. Pengorbanan tenaga menuntut kepada kesiapan fisik dan kelenturan mental. Harus siap jika diperlukan dan dibutuhkan. Apalah jadinya jika harta saja yang berhasil dikumpulkan, tanpa ada yang mau berkurban tenaga. Bukankah hanya akan jadi seonggok barang tanpa guna? Teringat kembali bagaimana sahabat Abu Bakar mengorbankan seluruh harta yang dia miliki, tapi juga terdepan dalam menyelamatkan Rasulullah dari ancaman musuh di setiap pertempuran. Tubuhnya penuh luka sayatan pedang, giginya pernah rontok, jatuh bangun dari kuda, peluh dan darah jadi satu di tubuhnya. Tapi itu beliau lakukan setelah pengorbanan harta yang tidak sedikti pula. Maka korbankanlah tenaga kita, dengan sepenuh kekuatan, sebanyak pemgorbanan harta kita, bahkan lebih. Sekali lagi, untuk bisa istiqomah.

LABUH FIKIR (Berkorban Fikiran), ini yang tak kalah penting. Pemikiran adalah separuh dari rencana, dan gagal dalam berencana sama halnya dengan merencanakan kegagalan. Sumbangsih berupa pemikiran ini adalah inti dari sebuah perencanaan. Maka pemikiran ini akan menemukan momentumnya, menemukan keseriusannya, menemukan totalitasnya, jika sebelumnya sudah berukurban harta atau tenaga. Ini sebuah kepastian. Karena pemikiran akan menemukan Ruh-nya, jika sudah ada pengalaman sebelumnya. Pemikiran inipun bukan hal yang remeh, maka tidak boleh main-main. Ada pertaruhan harga diri disana, ada pertaruhan nama baik disana. Maka diperlukan analisa, penelitian serius, perenungan, sebelum akhirnya tiba pada sebuah kesimpulan pemikiran. Maka bisa jadi pemikiran ini bernilai mahal. Jika pemikiran yang mahal harganya ini di korbankan begitu saja untuk umat, dengan berbagai resiko yang harus ditempuh, dengan siap dicaci dengan semua konsekwensinya, atau siap dipuji dengan segala kesuksesannya, maka itu pengorbanan pemikiran yang sejati.

Dan puncak dari semua pengorbanan itu adalah LEK PERLU SAK NYAWANE PISAN (Jika diperlukan Nyawa sekalian). Ini adalah pengorbanan tertinggi. Nyawa adalah satu-satunya harta kita yang tak tergantikan. Orang bisa hidup tanpa tangan, orang bisa tertawa tanpa kaki, tapi orang akan terdiam tanpa daya jika tak ada Ruh atau Nyawa. Ini sekalipun harus dikorbankan. Jika memang Agama memanggil kita untuk berjihad, maka tidak ada kata lain kecuali “kami ikut dan kami taat”. Tapi korban nyawa ini diletakkan di sesi paling akhir, setelah korban Harta, Korban Tenaga, dan korban pemikiran. Jika masih diperlukan ketiganya, maka jangan buru-buru mengorbankan nyawa. Sebab pemikiran, harta, dan tenaga kita masih sangat diperlukan dalam perjuangan. Pada kata-kata terakhir ini terdapat kata “LEK PERLU…(Jika diperlukan)” maknanya nyawa adalah jawaban terakhir jika tidak ada lagi kemungkinan pengorbanan lain. Jika sudah tidak bisa lagi berkorban harta, sudah habis pula tenaga kita, sudah tak sempat lagi berfikir, maka pengorbanan Jiwa adalah jawabannya.

Disinilah puncak Istiqomah itu. Berani berkata “Benar” dalam badai lautan orang yang mengatakan “salah” jika memang itu benar, dan juga sebaliknya. Sebuah pengorbanan yang sangat amat susah untuk dilakukan jika melihat realitas kondisi dan keadaan saat ini. Dimana berbagai kepentingan muncul dalam baju dakwah yang kita kenakan. Dari mulai keuntungan sesaat, popularitas, ketenaran, nama baik, pujian, cacian, makian yang menyakitkan, semua adalah halangan bagi kita untuk istiqomah.

Maka mari kita coba untuk berkorban dengan Harta kita, lalu tenaga kita, lalu fikiran kita, dan jika perlu Ruh kita sekalian kita kurbankan. Agar tunai semua tugas dengan gemilang. Karena kita semua telah Istiqomah, berjuang sepenuh jika dengan pengorbanan total. Wallahu A’lam

JADILAH ULAMA YANG INTELEK,BUKAN INTELEK YANG TAHU AGAMA

Written by Fahmi Agustian. Posted in artikel

Oleh Ust. Rahmatullah Oky

Selalu menyenangan bila tiba saatnya saya pulang kampung ke Ponorogo. Menghirup segarnya suka cita keluarga dan hangatnya keramahan masyarakat agraris yang guyub, rukun, dan bersahaja. Tak lupa untuk selalu menghadirkan kerenyahan canda khas Jawa Timur-an yang terkadang agak kasar,nyelekit, tapi tetap saja berakhir dengan tawa.Tak kalah hangat dengan menikmati sebungkus nasi pecel dengan sayuran segar, sambel kacang yang mlekoh (melimpah) serta lauk sederhana dan “special order” yaitu iwak kali (ikan sungai). Kecil-kecil bentuknya, tapi gurihnya benar-benar tak terlupakan.

Namun yang tidak boleh terlewat adalah tentu saja mengunjungi almamater tercinta di selatan Kota Ponorogo, setelah sejenak beristirahat di warung Dawet Jabung yang legendaris itu. Dari masa ke masa, dawet tersebut tak pernah hilang kesegaran alaminya, karena menggunakan santan segar, cendol, dan pemanis dari legen (air manis dari pohon kelapa sebelum dijadikan gula).

Saya meneruskan langkah ke gerbang pesantren modern yang sudah berusia hampir satu abad itu. Gapura besar menyambut kedatangan saya dengan tulisan yang indah: “Selamat Datang Di Pondok Modern Gontor”. Sejenak langkah saya terhenti. Bukan oleh sambutan selamat datang itu, tapi tulisan sesudahnya yang tertempel di dinding asrama santri. Tulisan itu sederhana saja :

“JADILAH ULAMA YANG INTELEK,BUKAN INTELEK YANG TAHU AGAMA” .

Ini adalah petikan nasehat dan pesan almarhum Kyai pendiri pondok pesatren ini. Tulisan pendek yang secara reflek membawa ingatan saya di medio pertengahan tahun 90-an. Ketika pertama kali menginjakkan kaki dan diterima belajar di pesantren ini. Sosok energik, tegas, dan visioner khas beliau, berkelebat membayang di angan saya.Teringat kembali bagaimana Kyai kami itu menuturkan bagaimana pesantren ini dulu berdiri. Dimana gagasan untuk membangun pesantren baru dan gambaran tentang bentuk pendidikan dan lulusannya diilhami oleh peristiwa dalam Konggres Umat Islam Indonesia di Surabaya pada pertengahan tahun 1926. Kongres itu dihadiri oleh tokoh-tokoh ummat Islam Indonesia, misalnya H.O.S.Tjokroaminoto, Kyai Mas Mansur, H. Agus Salim, AM. Sangaji, Usman Amin, dan lainlain.

Dalam kongres tersebut diputuskan bahwa umat Islam Indonesia akan mengutus wakilnya ke Muktamar Islam se-Dunia yang akan diselenggarakan di Makkah. Tetapi timbul masalah tentang siapa yang akan menjadi utusan. Padahal utusan yang akan dikirim ke Muktamar tersebut harus mahir sekurang-kurangnnya dalam bahasa Arab dan Inggris. Dari peserta kongres tersebut tak seorang pun yang menguasai dua bahasa itu dengan baik. Akhirnya dipilih dua orang utusan, yaitu H.O.S.Tjokroaminoto yang mahir berbahasa Inggris dan K.H. Mas Mansur yang menguasai bahasa Arab. Peristiwa ini mengilhami Pak Sahal yang hadir sebagai peserta konggres tersebut akan perlunya mencetak tokoh-tokoh yang memiliki kriteria di atas .

Kesan-kesan almarhum Kyai Ahmad Sahal (Salah satu Kyai Pendiri Pondok Modern Gontor) dari kongres itu menjadi topic pembicaraan dan merupakan masukan pemikiran yang sangat berharga bagi bentuk dan ciri lembaga yang akan dibina di kemudian hari. Beliau menggumam
dalam hati,

“Masa diantara ribuan umat Islam yang hadir di sini, tidak seorang pun yang mampu berbahasa Arab dan Inggris sekaligus dengan baik?”.

Situasi masyarakat dan lembaga pendidikan di tanah air saat itu juga mengilhami timbulnya ide-ide para pendiri. Banyak sekolah yang dibina oleh zendingzending non muslim yang berasal dari barat mengalami kemajuan yang sangat pesat; guru-guru yang pandai dan cakap dalam penguasaan materi dan metodologi pengajaran serta penguasaan ilmu jiwa dan ilmu kemasyarakatan. Sementara itu, lembaga pendidikan Islam belum mampu menyamai kemajuan mereka. Diantara sebab ketidakmampuan itu adalah kurangnya pendidikan Islam yang dapat mencetak guru-guru muslim yang cakap,berilmu luas, dan ikhlas dalam bekerja serta memiliki tanggung jawab untuk memajukan masyarakat. Dari sisi lain, lembaga-lembaga pendidikan yang ada pada saat itu sangat timpang. Satu lembaga pendidikan memberikan pelajaran umum saja dan mengabaikan pelajaran-pelajaran agama, lembagalembaga pendidikan lain hanya mengajarkan ilmu agama dan mengesampingkan pelajaran umum.Padahal keduanya adalah ilmu Islam dan sangat diperlukan oleh umatnya. Maka pondok pesantren yang akan dikembangkan itu harus memperhatikan hal ini.

Di samping itu tidak dapat disangkal bahwa umat Islam Indonesia, dan diseluruh dunia, terbagi ke dalam berbagai suku, bangsa, negara, dan bahasa. Mereka juga terbagi ke dalam aliran-aliran paham agama; mereka juga terbagi-bagi ke dalam kelompok-kelompok organisasi dan gerakan baik dalam bidang politik, sosial,dakwah, ekonomi, maupun yang lain. Kenyataan ini menunjukkan adanya factor pengkategori yang beragam. Tetapi, harus tetap disadari bahwa kategori-kategori tersebut tidak bersifat mutlak. Karena itu, semua dasar klasifikasi tersebut tidak boleh dijadikan dasar pengkotak-kotakkan umat yang menjurus kepada timbulnya pertentangan dan perpecahan diantara mereka. Maka lembaga pendidikan harus berusaha menanamkan kesadaran mengenai hal ini, serta mengajarkan bahwa faktor pengkategori yang sebenarnya adalah Islam itu sendiri;ummat Islam seluruhnya adalah bersaudara dalam satu ukhuwwah diniyyah.

Bagi saya pribadi, sungguh nasehat beliau diatas sangat inspiratif. Melihat berbagai  permasalahan sosial yang terjadi di Negara kita nan indah ini. Cita-cita beliau untuk mencetak kader ulama yang intelek dan bukan sekedar intelektual yang tahu agama sungguh mengena.

Kata “Ulama” dari segi bahasa adalah bentuk jamak (plural) dari “Alim” yang berarti orang yang berilmu dari berbagai disiplin pendidikan. Dokter adalah ulama, Insinyur adalah ulama, Profesor Fisika adalah Ulama, dan yang lain. Tapi dalam kosa kata Bahasa Indonesia, kalimat ini mengalami penyempitan makna, sehingga kesannya, ulama hanyalah orang-orang yang menguasai ilmu agama saja.

Memang, sejak datangnya zaman penjajahan di negeri ini, dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum sengaja diciptakan oleh mereka. Selanjutnya diberikanlah kesan bahwa ilmu agama hanyalah ilmu “kelas dua” yang hanya berhubungan dengan akhirat, dan sama sekali tidak berkaitan dengan dunia. Lalu mulailah propaganda penjajah untuk menjauhkan agama dari kehidupan umat ini dimulai. Mereka mendirikan sekolah sekolah milik mereka, dan hanya lulusan dari sekolah itulah yang diterima sebagai pegawai pemerintah saat itu. Kemudian dia munculkan pula dikotomi lain dari penamaannya. Sekolah umum disebut “Sekolah” sedangkan sekolah agama disebut “Madrasah” padahal kedua makna itu adalah sama dan sebangun secara bahasa. Orang yang bersekolah di sekolah umum membaca buku sedangkan yang di madrasah mempelajari kitab. Maka jadilah lulusan madrasah disebut ulama sedangkan lulusan sekolah disebut sarjana atau ilmuwan.

Para pembaca sekalian, sesungguhnya tidak ada perbedaan itu. Fikih adalah ilmu umum, karena dengan itu kita seharusnya bermuammalah. Matematika adalah juga ilmu agama, karena dengan itu kita tahu perhitungan tahun untuk penentuan waktu ibadah kita. Bukankah ulama-ulama kita zaman dulu adalah bukan sekedar para Faqih dan hebat, tapi juga ahli astronomi dan ekonomi yang dahsyat?

Bukankah Imam Syafi’I adalah juga seorang ahli matematika? Bukankah Abu Yusuf adalah qadi syari’ah Khalifah Abasiyah sekaligus penasehat ekonominya? Bukankah Ibnu Sina adalah seorang Faqih tauladan yang juga ahli kedokteran?

Justru dikotomi itulah yang sudah menjebak kita selama ini. Sehingga sarjana sastra seakan-akan “tidak sah” untuk tahu ekonomi, sebagaimana sarjana tarbiyah atau ushuludin tidak akan bisa melamar kerja di dunia perbankan. Yang lebih parah lagi, dikotomi itu memunculkan idiom bahwa agama itu adalah Arab dan umum itu identik dengan bahasa Inggris. Jadinya, untuk membuat sesuatu itu “Islami” sangat mudah, tinggal mengganti istilahnya saja menjadi Arab.

Contoh saja istilah “gaul”anak muda sekarang:

“Ah, kita tidak sedang pacaran kok, kita kan ta’arufan, halal kan?”

Sedikit agak masygul hati ini, ketika banyak sekali orang berbondong-bondong memenuhi majelis dzikir, berbondong bonding ibadah umroh berkali-kali dalam setahun. Tapi di bidang muammalah hanya segelintir orang yang bergerak. Laboratorium pengetahuan justru banyak diisi oleh umat lain. Majelis-majelis ekonomi justru banyak dipenuhi oleh golongan lain. Di satu sisi banyak ilmuwan kita yang menjerit meminta dana penelitian bagi perkembangan pengetahuan.

Tapi di sisi lain, ada orang yang rela terbang dari ujung Indonesia, menghabiskan biaya berpuluh-puluh juta, hanya untuk dapat air celupan batu petir yang entah bagaimana bisa dipercaya menyembuhkan. Seakan-akan Allah hanya hadir di majelis dzikir, malaikat hanya berdoa di seputar masjid, dan bidadari hanya menunggu muslim yang haji berkali-kali. Padahal Allah ada di mana-mana. Allah ada di laboratorium pengetahuan. Malaikat juga banyak berdoa di ruang-ruang kuliah sebagai majelis ilmu, dan bidadari juga banyak menunggu para syuhada yang gugur dalam tumpukkan catatan penemuannya yang berguna bagi umat manusia dan alam semesta.

Ah semoga saya, Anda, dan kita semua bisa menjadi ulama yang intelek itu. Kalau toh belum bisa, semoga anak-anak kita kelak bisa menjadi bukan sekedar intelek yang tahu agama.

Takut Hidup Mati Saja

Written by Fahmi Agustian. Posted in artikel

Oleh Ust. Rahmatullah Oky

Mata ini terpekur sayu. Memandang tanah kuburan di depan saya. Inilah makam Kyai saya. Makam pendiri Pondok Modern Gontor. Pesantren yang telah melahirkan banyak sekali tokoh-tokoh penting di negeri ini. Beliau sudah wafat puluhan tahun yang lalu. Tapi nasehat-nasehat beliau senantiasa terngiang di telinga ini seakan-akan beliau masih ada. Beliau masih mendampingi kami disini. Seakan-akan beliau turut hadir menyaksikan riuh rendah para santri yang menghafal pelajaran. Menyaksikan ketegangan para santri yang sedang praktikum mengajar. Menyaksikan gelombang semangat para santri yang sedang berlatih pidato. Menyaksikan para santrinya berkreasi dalam seni dan berprestasi dalam olah raga. Meskipun beliau sudah tiada.

KH. AHmad Sahal

KH. Ahmad Sahal

Tak terasa mata ini menetes. Membayangkan beliau meletakkan pondasi dasar pendidikan pesantren ini. Teringat kembali salah satu nasehat beliau yang terkenal sekali : BERANI HIDUP TAK TAKUT MATI, TAKUT MATI JANGAN HIDUP, TAKUT HIDUP MATI SAJA. Sebuah filsafat kehidupan yang begitu tepat dan mengena. Sebuah simbol dari kerasnya perjuangan di masa lalu yang senantiasa berhadapan dengan kematian. Sebuah “fatwa” yang memantik semangat para santri untuk senantiasa berjuang dan berusaha maksimal dalam kehidupan, sebab dia selalu berada dibawah “ancaman” kematian yang sewaktu-waktu bisa saja datang menghampiri.

BERANI HIDUP TAK TAKUT MATI. Sebab kematian adalah haq. Dia pasti akan datang menghampiri kepada siapapun yang bernama makhluk hidup. Maka hidup ini memang tidak lain dan tidak bukan hanyalah hamparan perjuangan untuk menggapai kematian yang Mulia. Dia sekedar mampir ngombe (numpang minum) kata orang jawa, dan bukan mampir wedangan (minum kopi). Kalau misalkan minum kopi itu ada santainya, ada ngobrolnya, ada acara nunggu hangatnya kopi dulu. Tapi ini numpang minum. Setelah dahaganya hilang, maka ya sudah selesai. Sebentar sekali, sangat sebentar. Maka kesanggupan kita untuk mengarungi kehidupan ini, haruslah berbading lurus dengan kesiapan kita menghadapi kematian. Kenapa kita harus lari dari kematian? Bukankah kemanapun kita pergi, kematian akan datang menghampiri jika waktunya tiba? Kesiapan kita-lah yang membuat kita berani menghadapinya. Kesiapan menghadapi kematian yang akan datang seaktu-waktu seharusnya bukanlah membuat kita duduk termenung dan atau memikirkan kapan datangnya kematian itu.

Justru karena kita tidak pernah tahu kapan datangnya kematian itu maka seharusnya kita lebih serius lagi bekerja dan beribadah. Lebih serius lagi menuntut ilmu. Lebih serius lagi berusaha. Lebih banyak lagi menolong orang dan tidak pernah mengeluh. Sebab keluhan hanya datang dari orang yang kehilangan kepercayaan bahwasanya akan ada hari pembalasan dimana sedikit apapun amal perbuatan manusia akan ditampakkan. Orang yang punya keyakinan dan keimanan akan hal itu, sama sekali tidak pernah mengeluh kepada Allah. Karena dia yakin, bahwa apa yang dia perbuat selama ini tidak pernah luput dari perhatian Allah. Bahwa apapun yang diperbuat orang, kelicikan orang, kebohongan yang orang lakukan dihadapannya, tidak akan dapat terlepaskan begitu saja dari pandangan Allah. Dan masing-masing akan menerima balasannya. Maka oleh karena itu, kematian adalah pintu bagi seseorang itu untuk menembus hari pembalasan itu.Saya ingat sekali kata-kata Almarhum Guru

Saya, KH Imam Badri dalam sebuah ceramah beliau :

“Jika ditanya orang berapa usia saya. Maka saya akan menjawabnya …saya baru saja berusia 65 tahun. Kenapa saya harus katakan demikian dan bukannya “Saya sudah berusia 65 tahun…” ?? Karena saya baru saja menikmati 65 tahun perjalanan panjang saya. Saya baru saja lahir di dunia ini, lalu kemudian akan mati menuju alam barzakh, lalu dikumpulakn di padang makhsyar, lalu masuk di hari pengadilan untuk dimasukkan ke syurga atau na’udzubillah ke neraka. Jadi masih panjang perjalanan saya ini…makanya saya jawab begitu…”

TAKUT MATI JANGAN HIDUP. Jika ketakutan akan kematian menjadi sebuah hal yang mengganggu anda, ya sebaiknya jangan hidup. Sebab hidup pasti mati. Karena sekali lagi bahwa kematian adalah pintu bagi kita untuk berpindah alam. Setiap makhluk hidup itu terdiri dari dua hal : Ruh dan Jasad. Hal ini sudah dibuktikan bahkan secara ilmiah, bukan sekedar doktrin keagamaan. Di Amerika, sebuah organisasi ilmuwan menbuktikan hal itu. Bahwa sebelum manusia itu mati, maka berat badannya lebih berat beberapa Mili Gram dibandingkan ketika dia sudah meninggal. Ada yang hilang dari tubuhnya ketika dia mati. Itulah Ruh. Dan itulah sebenarnya inti dari kehidupan. Ya, jasad tanpa ruh akan kehilangan harganya. Jasad tanpa ruh bahkan lebih hina dari patung manusia. Jika ada patung manusia yang mirip dengan aslinya, maka orang akan berfoto dengannya, membersihkannya, mengelapnya, merawatnya. Tapi jika sebuah jasad tanpa ruh terbujur kaku di pembaringan, maka jangankan mau berfoto, bahkan mendekat-pun, jika lebih dari dua hari orang sudah tidak akan mau. Bahkan Istri dan anak yang katanya cinta sehidup dan semati-pun, hanya akan mengantarnya sampai ke keburan, tidak ada yang mau ikut-ikutan masuk menemani si jasad tanpa ruh.

Maka sesungguhnya yang menggerakkan tubuh ini, yang memikirkan tubuh ini, yang mempercantik tubuh ini adalah Ruh. Maka perhatikanlah “makanan” ruhani ini. Sebab ruh-lah yang mengatur senang atau susahnya hati ini. Karena Ruh-lah kunci segala ketenteraman yang ada. Sebab Ruh-lah yang mengunci segala keberanian dan menjadikannya kekuatan. Jika Ruh ini kuat, maka kekuatan batin dan kedahsyatan fikiran akan membuat semuanya menjadi nyata. Konsep “The Secret” yang digagas oleh Rhonda Byrne telah membuktikannya. Bahwa hanya dengan modal keyakinan yang utuh dan kekal saja, maka semua mimpi yang kita bayangkan akan menjadi nyata. Nah, jika memang Ruh adalah kunci dari semua kebahagiaan yang ingin kita rengkuh, maka berilah “makanan” yang bergizi kepada Ruh ini. Kedekatan kepada Tuhan, seringnya bercengerama dengan Tuhan, menyebut-nyebut selalu asma-Nya disetiap kesempatan adalah makanan bergizi itu. Bersyukur, berharap, berdoa, memohon, mengadu kepada-Nya atas segala persoalan dan tantangan adalah “jajan” dari Ruh. Meninggalkan semua yang dilarang, menjauhi apa yang Tuhan benci adalah salah satu cara menghindar dari “bebal”-nya Ruh yang kita miliki ini. Maka sungguh, kekuatan Ruhani-lah yang membuat kita tidak terbebani beban kehidupan. Untuk berani mengatakan bahwa saya siap untuk mati, karena kematian tidaklah mematikan Ruh, tapi sekedar memindahkan Ruh dari jasad.

TAKUT HIDUP, MATI SAJA. Ini adalah kategori terhina dari dua golongan sebelumnya. Bayangkan saja, jangankan membayangkan kematian, bahkan hidup dan mengisinya dengan kebaikan saja dia ketakutan. Padahal Allah sudah membekalinya dengan bekal yang teramat cukup untuk mengarungi kehidupan ini. Jasad yang sehat, akal yang sempurna, anggota tubuh yang komplit, rekan hidup yang baik, dan nama yang baik pula, belum tercemar namanya. Sungguh hanya kemiskinan ruhani saja yang membuatnya terbebani dengan semua beban kehidupan ini. Bahkan saking miskinnya, dia tidak lagi memikirkan pertanggung jawaban semua bekal yang Allah sudah berikan kepadanya untuk mengarungi kehidupan, dan memilih untuk mengakhirinya. Ini adalah Golongan orang-orang tercela, yang bahkan kita dilarang menyolatkan jenazah orang yang matinya karena bunuh diri. Karena dia adalah orang yang menyerah oleh keadaan, orang yang angkat tangan sebelum perang, orang yang mendendangkan irama kematian sebelum kehidupan dia jalani. Sungguh hina, sungguh tercela.

….

Saya tak habis-habis menangis di makam ini. Betapa para pendiri pesantren ini, dengan dilandasi jiwa yang ikhlas dan peluh yang bercucuran telah berjibaku dengan sejarah. Kemudian telah mengemasnya menjadi sedemikian cantik untuk dikenang sebagai sebuah ladang perjuangan. Sebuah medan juang yang telah mereka kelola dengan satu tujuan luhur : membina umat untuk senantiasa berani hidup dan siaga mempertahankan agama Allah. Ya, Agama ini akan selalu dan senantiasa, perlu dibela, dibantu dan diperjuangkan. Wallahu a’lam