Archive for May, 2013

Sang Kiai

Written by Fahmi Agustian. Posted in artikel

Kiai, Kyai, Kiyai atau banyak juga masyarakat yang memanggil dengan sebutan Mbah Yai, atau kadang hanya Yai. Zaman dahulu di Indonesia (Nusantara) dikenal istilah “Ki” yang disematkan kepada orang yang sudah tua atau dituakan dan dihormati di kalangan masyarakat sekitarnya. Sebut saja Ki Hajar Dewantoro, bapak Pendidikan Nasional. Ada juga Ki Ageng Mangir, cucu dari Prabu Brawijaya V, penguasa daerah Mangir (sekarang Bantul, Yogyakarta). Setelah mengalami perubahan zaman, panggilan Ki mulai ditinggalkan, meskipun sekarang masih ada beberapa tokoh yang dipanggil dengan Ki. Khusus untuk para ulama Islam, terutama mereka yang mendalami ilmu agama dan juga memiliki sebuah pondok pesantren, mereka dipanggil dengan sapaan “Kiai”. Sebagai catatan; pada zaman kolonial Belanda, penggunaan Kiai lebih disematkan kepada barang yang dianggap memiliki kekuatan spiritual, maka beberapa nama Keris pusaka di beberapa keraton memiliki nama yang berawalan Kiai. Yang sekarang masih cukup terkenal adalah kerbau Keraton Solo. Silahkan googling sendiri namanya.

cutekiddies

Panggilan ulama “Kiai” sangat populer di pulau jawa, terutama Jawa Timur. Selain sebagai basis pondok pesantren, Jawa Timur juga dikenal sebagai basis masa Organisasi Nahdhlatul Ulama, dimana organisasi ini masih sangat identik dengan Islam tradisional. Berbeda dengan Muhammadiyah, meskipun dulu sang pendiri Muhammadiyah dipanggil oleh para muridnya dengan panggilan Kiai Haji Ahmad Dahlan, sekarang Muhammadiyah sudah tidak menggunakan istilah Kiai. Namun, ketika Prof. Dr. Syafii Ma’arif menjadi Ketua Umum Pimpina Pusat Muhammadiyah, banyak sekali warga Muhammadiyah memanggil beliau dengan sapaan Buya Syafii. Istilah Buya sendiri hampir sama dengan Kiai. Hanya saja istilah Buya dipakai oleh masyarakat Sumatera Barat. Di beberapa wilayah lain juga memiliki istilah yang berbeda, seperti “Tuan Guru” di NTB, “Ajengan” di daerah Sunda, atau “Tofanrita” di Sulawesi Selatan.

Dalam sebuah bukunya, Cak Nun (Emha Ainun Nadjib) mengklasifikasi 3 jenis Kiai; Kiai Genthong, Kiai Ceret dan Kiai Talang.

Kiai Genthong. Adalah jenis Kiai yang Ilmunya sangat mendalam dan luas. Ilmu yang didapatkan berasal dari banyak cara. Mulai dari menjadi santri di pondok pesantren, proses perenungan spiritual, berguru kepada seseorang yang dianggap sebagai guru, atau dari pengalaman hidupnya. Kiai Genthong ini ibarat sebuah Genthong (ember yang besar), terserah pengikutnya mau mengambil ilmu seberapa banyak. Sang Kiai biasanya tidak menyiapkan sebuah materi ketika ia akan berdakwah, namun ia menunggu pertanyaan dari muridnya. Kemudian dijelaskan oleh Sang Kiai. Penjelasan yang dijabarkan oleh Kiai Genthong juga tidak selalu panjang lebar. Terkadang, persoalan yang ditanyakan muridnya terlihat sangat rumit, Kiai Genthong mampu menjelaskannya dengan singkat, padat, berisi dan jelas. Siapapun lawan bicaranya, Kiai Genthong akan berbicara dengan tepat dan benar. Terkadang menggunakan bahasa simbolik atau perlambang, terkadang juga menggunakan bahasa yang lugas dan transparan. Pada prinsipnya, Kiai Genthong adalah Kiai yang benar-benar menggunakan ‘bahasa hati’, karena keyakinannya terhadap Allah sudah sangat mendalam, sehingga ia sudah berada pada titik “Haqqul yaqin”. Tingkatan “Haqqul yaqin” ini dicapai setelah melalui tahapan “Ilmul yaqin” dan “Ainul yaqin”. Dalam Kitab Ihya Ulumuddin, Imam Al Ghazali menyebutnya sebagai orang yang telah mendapatkan “ilmu hikmah’.

Kiai Ceret. Pada umumnya, Kiai Ceret adalah Kiai yang tampil di podium dihadapan audien yang sangat banyak. Ibaratnya ceeret (poci), kadar air yang dituangkan sesuai dengan tempat yang berada di dekatnya, jika dia dihadapakan dengan gelas, maka air yang dituangkan ya sebatas ukuran gelas, begitu juga jika dihadapkan dengan botol, cangkir dst. Kiai Ceret biasanya sangat terkenal di seantero negeri. Kiai Ceret ini, saking terkenalnya, melalui manjamennya mematok tarif yang berbeda sesuai dengan lokasi dan audien yang akan diceramahinya. Padahal, jika dibandingkan dengan Kiai Genthong, ilmu yang dimiliki oleh Kiai Ceret tidak sebanding. Bahkan bisa dikatakan hanya kulitnnya saja. Memang, dari segi tata bahasa yang digunakan Kiai Ceret lebih tertata rapi, sesuai dengan EYD, karena ia banyak membaca buku-buku agama. Sedangkan Kiai Genthong lebih memilih tata bahasa yang mudah difahami oleh lawan bicaranya. Kiai Genthong akan cepat mengetahui bagaimana cara menjelaskan suatu permasalahan kepada lawan bicaranya dengan tata bahasa yang tepat dan benar, meskipun tidak sesuai dengan EYD.

Kiai Talang. Kiai ini adalah Kiai yang norak, narsis, sok.  Setiap ketemu orang dimanapun, tidak perduli dia muslim atau bukan, tidak perduli lawan bicaranya itu pandai atau bodoh, semua dianggapnya sama. Ibaratnya talang ketika air hujan turun, ia akan terus mengalirkan air hujan sampai hujan reda. Maka, seringkali ilmu yang diceramahkan oleh Kiai Talang ini menjadi sia-sia, karena ia tidak memiliki kemampuan mendefiniskan kebutuhan ilmu lawan bicaranya. Asal ketemu orang, dia ceramah.

Nah, dari ketiga klasifikasi Kiai diatas, jika kata “Kiai” diganti menjadi “Manusia”, manakah klasifikasi yang tepat untu kita?. Genthong, Ceret atau Talang?.

Ustadz Bukan Profesi!

Written by Saifannur. Posted in artikel

ilustrasi_profesi

Sering kita dengar, “Kok kamu panggil aku ustaz? aku kan nggak ngajar di pesantren!”, “Kok panggil aku ustazah? aku kan nggak ngajar di TPA, ilmu agamaku juga dikit!”, “Jangan panggil aku ustaz lah, nggak enak kedengerannya!’, “Wew… ustazah zaman sekarang gaul-gaul ya…”,  “Alah, gayanya sok ustaz, padahal kerjaannya….”

Sedikit opini tentang Barcelona dan Real Madrid.

Written by Fahmi Agustian. Posted in artikel

Barcelona adalah salah satu unggulan yang diprediksi menjadi Juara Liga Champions Eropa musim ini. Bagaimana tidak, Tito Vilanova sepertinya tidak akan mengalami jalan terjal menukangi Barcelona meskipun ia sejak awal mengalami gangguan kesehatan. Pada awalnya, ketidakhadiran Tito Vilanova di bangku cadangan (karena harus menjalani pengobatan) tidak begitu mengganggu pencapaian yang diraih oleh anak asuhnya. Jordi Roura pun seakan hanya menyusun starting XI yang sama pada setiap laga ketika Tito Vilanova absen mendampingi Barcelona. Akibatnya ternyata fatal. Barcelona yang hampir selalu memainkan pemain yang sama mengakibatkan beberapa pemain mengalami cedera. Sebut saja Carles Puyol dan David Villa. Alarm mereka berbunyi ketika AC Milan mengalahkan mereka di San Siro pada laga 16 besar dengan skor 2-0. Beruntung, dukungan sektiar 90 ribu Cules di Camp Nou seakan membuat skuad Allegri tidak berdaya menghadapi gempuran Messi dkk. Leg ke 2 Barcelona membabat AC Milan 4-0. Undian 8 besar mempertemukan Barcelona dengan Paris Saint Germain (PSG). Lawan yang ternyata juga tidak mudah dikalahkan oleh Barcelona. Barcelona diuntungkan oleh sistem gol tandang, sehingga mereka lolos ke semifinal. Undian kembali dilakukan, Barcelona harus berhadapan dengan Bayern Munchen. Tim Bavarian yang melaju kencang di perhelatan Liga Champions musim ini. Terbukti hanya Arsenal yang hampir menghentikan laju kencang mesin Bavarian ini. Sepertinya, mesin Bayern Munchen adalah perpaduan BMW dan Mercedes yang dibalut dengan klasiknya Volks Wagen.

Messi

Lionel Messi adalah target man Barcelona. Banyak orang mengatakan, jika Messi tidak bermain, maka Barcelona mudah ditaklukan. Teori ini terbukti dalam beberapa laga terakhir. Messi diharuskan menepi akibat cedera hamstring.  Barcelona hampir tersingkir di 8 besar Liga Champions musim ini. Jika kalian menonton leg ke 2 Barcelona vs PSG, maka akan sangat terlihat bedanya ketika Messi belum dimainkan, dan ketika Messi dimainkan. Kembalinya Cesc Fabregas ke Barcelona dan masuknya Alexis Sanchez dianggap oleh beberapa pengamat sepakbola hanya sebagai hiasan saja. Tanpa kedua pemain ini pun, Barcelona masih bisa memainkan gaya mereka.

Undian semifinal ternyata tidak berfihak pada Barcelona. Jika diperbolehkan memilih, Barcelona mungkin akan memilih Borussia Dortmund sebagai lawan yang harus mereka hadapi di semifinal. Dan Barcelona juga tidak akan bodoh memilih Real Madrid sebagai lawan mereka di semifinal. Karena Real Madrid musim ini sudah berhasil menaklukan Barcelona di beberapa pertemuan El Clasico.

Bayern Munchen adalah klub yang harus dihadapi oleh Barcelona. Berbeda dengan Barcelona yang lolos ke semifinal berkat agresifitas gol tandang. Bayern Munchen melangkah ke semifinal setelah menghentikan laju kuda zebra si nyonya tua, Juventus. Dengan agregat 4-0, bursa taruhan berbalik mengunggulkan Bayern Munchen akan mengalahkan Barcelona di semifinal. Seperti yang sudah diperkirakan, Bayern Munchen akan mengalahkan Barcelona di semifinal. Yang tidak diprediksi sebelumnya adalah hasil agregat gol “tujuh” berbanding “nol” yang seakan membangunkan mimpi indah publik spanyol akan sebuah laga El Clasico di Wembley. Mimpi itu buyar pada leg pertama. Allianz arena menjadi saksi bisu pembantaian Raja Sepakbola Eropa beberapa tahun terakhir. Skor 4-0 menjadi bekal meyakinkan bagi Bavarian untuk menjalani lawatan ke Catalan. Terbukti, di Camp Nou, Barcelona dibuat tak berdaya, menyerah 3 gol tanpa balas. Rekor tertorehkan, laga semifinal tidak satupun gol diciptakan oleh pemain Barcelona ke gawang lawan. Ada satu gol yang diciptakan oleh pemain Barcelona, Pique. Sayangnya gol itu bersarang di gawang Victor Valdes. Seorang komentator sepakbola Indonesia, Pangeran Siahaan mengatakan bahwa Bayern Munchen menyempurnakan tiki-taka khas Barcelona. Menjadi Tiki-taka versi 2.0. Permainan umpan-umpan pendek dikombinasikan dengan umpan-umpan panjang, didukung postur tubuh para pemain yang ideal, Bayern Munchen seakan memberi “Ujian Nasional” kepada Barcelona tentang materi tiki-taka yang sebenarnya. Sayangnya, Ujian Nasional itu tidak terkendala keterlambatan pendistribusian soal, sehingga Barcelona yang tidak siap secara materi pemain harus mengalami skor agregat 7-0 di laga semifinal. Semoga Ujian Nasional yang dilalui Barcelona kali ini menjadikan Barcelona belajar bagaimana agar bisa tetap bermain cantik tiki-taka khas La Masia tanpa kehadiran Lionel Messi. Karena Ujian untuk belajar, bukan belajar untuk ujian.

Bagaimana dengan Real Madrid?. Seperti yang sudah saya tulis di artikel sebelumnya, banyak pengamat sepakbola mengatakan bahwa tahun ini Real Madrid diprediksi akan menjadi Juara Liga Champions. Hal ini diperkuat dengan beberapa faktor : kualitas entrenador Jose Mourinho yang sudah tidak diragukan lagi. Komposisi pemain Real Madrid musim ini dinilai oleh banyak fihak sebagai komposisi paling komplit, Real Madrid memiliki pemain pelapis yang tidak kalah kualitasnya  dengan pemain utama di beberapa sektor. Barcelona yang dalam beberapa tahun terakhir sulit ditaklukan, seakan-akan kelemahan mereka sudah diketahui oleh Mourinho, sehingga jika Final di Wembley mempertemukan Real Madrid dengan Barcelona, maka pasukan Jose Mourinho memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi.

Ronaldo

Cristiano Ronaldo adalah bintang utama Real Madrid saat ini. Label pemain termahal didunia saat ini memang sangat layak ia sandang. Postur tubuh ideal, kecepatan, akurasi umpan, dua kaki yang sama kuatnya, bahkan tidak sedikit gol yang ia cetak melalui sundulan kepala. Bisa dikatakan, ia adalah salah satu pemain yang sempurna di era sepakbola modern ini. Sayang, ia tidak beruntung harus hidup di masa yang sama dengan Lionel Messi. Bermain di Liga yang sama,membela  klub yang saling berseteru.

Peringatan bagi Real Madrid sebenarnya sudah berbunyi sejak fase grup. Tanpa diprediksi sebelumnya, Borussia Dortmund yang menjadi tim kuda hitam lolos ke fase knock out sebagai juara grup diatas Real Madrid. Mourinho sepertinya tidak gentar dengan peringatan ini, Porto dan Inter Milan dia loloskan ke Final dan menjadi Juara di Liga Champions setelah sebelumnya hanya menjadi runner-up di fase grup. Manchester United mereka singkirkan (dengan sedikit bantuan wasit). Begitu juga Galatasaray, keangkeran Stadion Ali Sami Yen berhasil mereka lalui .Fans Real Madrid bahkan masih sangat yakin ketika undian semifinal mempertemukan Real Madrid dengan Borussia Dortmund. Berbeda dengan Barcelona, andai saja undian semifinal liga champions kali ini Real Madrid boleh memilih, sepertinya Barcelona adalah yang mereka pilih. Karena El Real terbukti sudah mengetahui titik kelemahan Barcelona musim ini. Pada akhirnya, Borussia Dortmund adalah lawan mereka di semifinal. Sebagai catatan : Inter Milan saat Juara di Liga Champions 2009-2010 berada satu grup dengan Barcelona yang kemudian mereka kalahkan di partai semifinal. Dengan aktor yang sama; Jose Mourinho, para Madridistas tentu masih sangat yakin bahwa musim ini Real Madrid akan meraih La Decima. Ketika Barcelona dikalahkan oleh Bayern Munchen dengan skor 4-0, saya yakin seluruh fans Real Madrid tertawa girang dan bahagia. Ternyata tawa itu tidak bertahan lama, karena dalam kurun waktu 24 jam, Real Madrid ditaklukan oleh Borussia Dortmund dengan skor 4-1. Sebagian fans Real Madrid masih yakin bahwa tim mereka akan mencetak 3 gol tanpa balas di Santiago Bernabeu. Yang terjadi adalah 2 gol terlambat Karim Benzema dan Sergio Ramos. Melaju kencang sejak fase knock out 16 besar, Real Madrid harus mengakui kejeniusan Jurgen Klopp yang menjadi laksamana armada Borussia Dortmund. Ternyata “Ujian Nasional” dengan materi Borussia Dortmund juga tidak berhasil dilalui oleh Real Madrid. Jangan protes kepada Mendikbud untuk persoalan “Ujian Nasional” yang satu ini.

Sejauh pengamatan saya yang sok tahu ini, kesalahan Real Madrid dan Barcelona hampir sama. Mereka terpaku pada satu pemain bintang mereka; Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi. Dan dua tim Jerman, Dortmund dan Munchen terbukti mampu mematikan pergerakan dua “alien” dari liga spanyol tersebut. Fans Barca mungkin akan berapologi dengan mangatakan “Kami kalah karena Messi dan beberapa pemain pilar kami cedera”. Dan hal ini juga harus dimaklumi oleh fans Real Madrid, bahwa komposisi pemain El Real memang lebih diunggulkan, ketika Iker Cassillas harus absen, Diego Lopez muncul sebagai kiper pengganti, ternyata masih bisa diandalkan. Meskipun demikian, saya yakin jika Cassillas tidak cedera, Real Madrid tidak akan mengalami kekalahan telak 4-1 di Signal Iduna Park. Kalah dengan skor telak yang dialami oleh Barcelona dan Real Madrid di leg pertama mencerminkan bahwa pertahanan tim Spanyol saat ini tidak tangguh. Maka di artikel sebelumnya saya berani memberi judul “Akhir dari kejayaan sepakbola Spanyol?”. Sebagus apapun kualitas pemain klub sepakbola dalam sebuah liga pasti akan bermuara pada kebanggaan mereka membela tim nasional negara mereka. Barcelona dan Real Madrid adalah patokan kualitas tim nasional Spanyol saat ini. Melihat fakta yang terjadi, saya pun berani memprediksi bahwa Spanyol tidak akan berbicara banyak di Piala Dunia 2014 tahun depan. Rivalitas Real Madrid dengan Barcelona sangat berimbas pada suasana di ruang ganti tim nasional. Pemain Spanyol yang bermain di Liga Inggris meamang berkualitas, dan seakan melengkapi puzzle Matador. Hal ini bisa kita lihat pada Euro 2012 yang lalu.

EL Clasico di Wembley hanya mimpi. Dan mimpi itu sudah sirna digantikan Der Klassiker. Sepakbola akhirnya hanya menjadi satu dari kepingan perjalanan hidup kita. Tim manapun yang kita dukung, tentu sudah seharusnya tetap kita dukung, apapun keadaannya. Jika kalian adalah pecinta sepakbola, maka beruntunglah kita hidup di masa ketika Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo saling bergantian menorehkan rekor-rekor baru dalam sejarah sepakbola. Kelak kita akan bercerita panjang lebar kepada anak-anak kita betapa indahnya permainan kedua “alien” ini.

Akhir dari kejayaan sepakbola Spanyol?

Written by Fahmi Agustian. Posted in artikel

Sebagian besar pecinta sepakbola eropa memiliki pendapat yang sama ketika menyaksikan laga semifinal Liga Champions pekan lalu, yang kemudian meloloskan Borussia Dortmund dan Bayern Munchen ke partai puncak di Wembley 25 mei mendatang. Era kejayaan Spanyol dihentikan oleh Jerman. Bagitulah kira-kira kalimat yang keluar dari beberapa penikmat sepakbola eropa.

DFB

Jerman adalah sebuah negara eropa yang memiliki sejarah indah di dunia sepakbola, 3 kali mereka menjuarai Piala Dunia, meskipun pada saat itu mereka masih terbagi menjadi dua, yaitu Jerman barat dan Jerman timur. 3 kali pula Jerman menjadi kampiun Piala Eropa. Namun, kesuksesan mereka di kejuaraan antar negara terhenti pada tahun 1996, ketika Piala Eropa dihelat di Inggris, Jerman yang saat itu masih diperkuat Oliver Bierhoff mengalahkan Ceko melalui golden goal di masa perpanjangan waktu. Itulah kejayaan terakhir Jerman di kancah Internasional. Setali tiga uang, di ajang bergengsi antar klub eropa, Liga Champions, tim Jerman terakhir kali mengankat trofi kuping lebar yaitu pada musim kompetisi 200-2001. Adalah Bayern Munchen yang menjuarai kompetisi ini setelah mengalahkan Valencia melalui babak adu pinalti. Partai final dalam sejarah Liga Champions Eropa dimana seluruh gol yang tercipta berasal dari titik putih. Bersama Ajax Amsterdam, Bayern Munchen adalah klub kedua yang pernah merengkuh trofi bergensi antar klub di benua biru sebanyak 3 kali berturut-turut, sedangkan Real Madrid adalah klub yang pertama kali dan satu-satunya pernah meraih trofi ini 5 kali berturut-turut.

Piala Dunia 1998 adalah awa mula menurunnya kualitas sepakbola Jerman, gagal melangkah ke semi final karena kalah oleh “negara baru” Kroasia. Di Piala Eropa 2000, Jerman lebih tragis lagi nasibnya, Jerman adalah Juara bertahan Piala Eropa pada tahun 1996, justru menjadi tim juru kunci pada babak penyisihan grup A piala Eropa 2000. Kegagalan di Piala Eropa 2000 menjadi bahan evaluasi DFB (PSSI-nya Jerman). Sejumlah riset dan penelitian dilakukan. Tidak hanya ahli sepakbola, namun juga ahli gizi sampai ahli matematika dilibatkan. Dua tahun waktu yang mereka perlukan untuk mematangkan cetak biru pembinaan baru sepakbola mereka. Piala Dunia 2002, Jerman memang berhasil melaju ke partai Final, namun harus mengakui kekuatan Brasil saat itu. Meskipun Jerman saat itu diisi oleh pemain-pemain yang masih berada dalam usia produktif, sebut saja Miroslav Klose, Christoph Metzelder dan Torsten Frings. Namun skuad Jerman kalah kualitas dibanding skuad Brasil yang didominasi oleh pemain-pemain yang juga bermain di Final Piala Dunia 1998.

Syarat mutlak cetak biru pembinaan sepakbola Jerman yang dirintis mulai tahun 2002 adalah mewajibkan 36 klub yang berlaga di Bundesliga 1&2 untuk memiliki akademi klub mandiri. Apabila ada klub yang tidak bersedia mendirikan akademi mandiri ini, maka klub tersebut akan dicoret dari keikutsertaan di Bundesliga. Tidak hanya itu, pembenahan juga berlaku pada sistem finansial. Setiap akademi diharuskan memiliki setidaknya 12 pemain yang memenuhi syarat untuk menjadi pemain tim nasional Jerman. Dengan menghabiskan dana kurang lebih 100 juta dolar AS untuk pembangunan akademi pada setiap klub, sistem ini seperti menyempurnakan kebijakan 6+5 yang dimiliki oleh FIFA.

Tidak hanya itu, DFB membangun setidaknya 121 pusat sepakbola nasional di seluruh Jerman, dikhususkan untuk mendidik pemain berusia 10-17 tahun. Setiap akademi menghabiskan biaya 15,6 juta dolar AS, dan hanya difokuskan untuk mendidik skill individu, setiap akademi ini dilatih oleh dua pelatih kepala dengan lisensi terbaik. Selain itu, pemerintah Jerman menyetujui usulan DFB untuk merubah UU Imigrasi Jerman. Konsep liberalisasi kependudukan yang diterapkan, memudahkan para anak muda imigran untuk mendapatkan paspor Jerman. Sistem ini sangat menguntungkan DFB, siapa tak kenal Mesut Ozil dan Sami Khedira?. Kurikulum kepelatihan pembinaan sepakbola usia 9-13 tahun dirubah. Berdasarkan penelitian mahasiswa Universitas Koln, mereka tidak merekomendasikan sistem pelatihan 11vs11 bagi anak-anak dibawah usia 14 tahun.

“Anak usia 9 tahun dilatih 4 vs 4 dalam lapangan kecil. Ini berguna untuk memancing skil dan tehnik individu. Mereka tidak dikenalkan strategi dan tidak digembleng secara fisik. Bermain dengan 11 pemain baru dikenalkan pada usia 13 tahun,” ungkap direktur pembinaan pemain VfB Stuttgart, Thomas Albeck.

Kurikulum dengan sistem baru ini juga diterapkan di 29 sekolah khusus, Elite Football Schools. Di Akademi ini, mereka  hanya menerima anak usia 11-14 tahun, dan kurikulum sepakbola adalah materi utama, meskipun mereka juga mempeljari pelajaran umum.

DFB tidak berhenti pada titik tersebut, bersama sejumlah Universitas, DFB merancang penerapan psikologi olahraga, pusat kebugaran, fitnes, dokter dan fisioterapis. Sejumlah data fisik, statistik, analisa, performa hingga karakter personal dari seluruh pemain muda dikumpulkan. Hasilnya; tim yunior sepakbola Jerman merajai Eropa dalam kurun waktu 6 tahun setelah cetak biru pembinaan sepakbola Jerman tersebut diterapkan. Jerman U-19 menjadi kampiun Euro 2008, Jerman U-17 menjadi jawara di Euro 2009, dan Jerman U-21 juga mengangkat piala pada ajang Euro 2009. Bahkan Sekjen DFB saat itu, Wolfgang Niersbach tidak menyangka bahwa revolusi sepakbola Jerman membuahkan hasil dalam kurun waktu yang sangat cepat.

Puncaknya, meski tidak juara, Jerman memiliki rata-rata pemain dengan usia 24,7 tahun di Piala Dunia 2010 lalu alias yang termuda sepanjang sejarah turnamen bergengsi tersebut. Status tim termuda sepanjang turnamen Eropa juga ditorehkan Jerman di Euro 2012, 24,52 tahun. Gelandang Mario Goetze, yang ikut menjuarai Euro U-17 2009, adalah termuda (20 tahun) dan penyerang Miroslav Klose adalah pemain tertua (33 tahun).

Dalam dua turnamen Internasional yang diikuti oleh Jerman, setidaknya Jerman selalu lolos ke partai Semifinal mulai tahun 2002, dimana 2 diantaranya mereka berhasil menembus partai Final, yaitu Piala Dunia 2002 dan Euro 2008.

Bayern Munchen dan Borussia Dortmund akan berlaga di Final Liga Champions Eropa 25 mei 2013 mendatang. Bayern adalah tim yang dalam 4 tahun terakhir berhasil lolos ke partai Final, tahun ini untuk ketiga kalinya. Terakhir kali mereka menjuarai ajang bergengsi antar klub eropa ini adalah pada tahun kompetisi 2000-2001. Dortmund, tim kuda hitam musim ini, lolos ke Liga Champions eropa dengan status Juara Bundesliga, tergabung dengan 4 juara liga eropa lainnya, berhasil mematahkan hampir sebagian besar prediksi pengamat sepakbola yang mengatakan bahwa Real Madrid akan meraih trofi Liga Champions untuk ke sepuluh kalinya musim ini. Dalam sejarah keikut sertaannya di Liga Champions Eropa, Dortmund baru sekali melaju hingga partai Final, yaitu pada musim kompetisi 1996-1997, dimana pada saat itu Dormund berhasil mengalahkan Juventus dengan skor 3-1, di kandang Bayern Munchen, Stadion Olimpiade yang menjadi stadion penyelenggara partai Final saat itu.

Wembley akan menjadi saksi, siapakah diantara duo Jerman ini yang akan mengangkat trofi. Simpan dulu prediksi kalian. Mari kita bicarakan Spanyol.

Spanyol adalah kiblat sepakbola eropa dalam kurun waktu 6 tahun terakhir. Euro 2008 menjadi tonggak sejarah sepakbola Spanyol. Mulai tahun 2008, seakan silih berganti antara Tim Nasional dan Klub Sepakbola Spanyol menjadi kampiun di berbagai ajang Internasional. Trofi Euro 2008 seakan menjadi awal, berlanjut ke trofi Liga Champions Eropa, Trofi Piala Dunia antarklub, hingga Trofi Piala Dunia 2010. Perhelatan Euro 2012 adalah puncaknya. Tidak bisa dipungkiri, Barcelona dan Real Madrid adalah aktor utamanya.

Barcelona yang mewakili publik Catalan tidak tinggal diam, mereka memilih jalur yang berbeda, mengandalkan sebagian besar pemain binaan mereka sendiri di akademi La Masia. Melalui jalan pintas, Real Madrid meraih trofi Liga Champions Eropa pada musim kompetisi 2002-2003, setelah mengalahkan Bayern Leverkusen di partai Final. Gol Zinedine Zidane menjadi penentu kemenangan Real Madrid pada Final yang dihelat di Hampden Park, Glasgow, Skotlandia. 4 tahun berselang, giliran Barcelona yang meraih trofi bergengsi ini, mereka berhasil mengangkat trofi setelah mengalahkan Arsenal di partai puncak Liga Champions Eropa musim 2005-2006 di Stade de France, Prancis. Adalah Frank Riijkard yang merintis skuad Barcelona, yang kemudian disempurnakan oleh Pep Guardiola dengan sangat fenomenal meraih 6 trofi dalam satu tahun. Namun, fans Barcelona tentu tidak akan melupakan jasa Johan Cruyff, legenda sepakbola Belanda ketika menjuarai Piala Dunia 1974, sosok yang bermain sebagai pemain Barcelona pada tahun 1973-1978, kemudian menjadi pelatih Barcelona pada tahun 1988-1996. Dialah sosok utama dibelakang strategi tiki-taka. Peletak fondasi utama permainan Barcelona saat ini. Total football ala Belanda ia terapkan di Barcelona ketika ia menjadi pelatih Barcelona, strategi itu membuahkan hasil Juara Liga Champions Eropa pada musim 1991-1992. Pep Guardiola degan tiki-taka ramuannya total meraih 14 trofi bersama skuad Barcelona dalam kurun waktu 4 tahun. Tito Vilanova yang menjadi asisten Pep Guardiola urung melanjutkan kesuksesan Pep, terganggu faktor kesehatan dirinya, ditambah badai cedera beberapa pemain pilarnya, skuad Barcelona dibawah Tito Vilanova seakan-akan diajarkan tiki-taka versi 2.0 oleh Bayern Munchen di 2 pertandingan semifinal pekan lalu.

Bagaimana dengan Real Madrid?. Di awal 2000-an, Real Madrid membangun skuad mega bintang sehingga mereka mendapat julukan Los Galacticos.Klub terkaya dalam beberapa tahun terakhir ini lebih memilih mendatangkan pemain-pemain berkualitas nan mahal, seolah ingin melahirkan Los Galacticos jilid 2, pemain sekaliber Cristiano Ronaldo, Ricardo Kaka, Xabi Alonso, Mesut Ozil sampai Luca Modric didatangkan dengan harga yang tidak murah. Hasilnya, 1 trofi Juara Liga Spanyol, 1 trofi Piala Raja dan 1 trofi Piala Super Spanyol. Sangat njomplang  jika dibandingkan dengan uang yang sudah dihabiskan untuk memborng pemain. Banyak pengamat sepakbola memprediksi, bahwa tahun ini adalah tahun dimana Real Madrid akan menuntaskan dahaga trofi mereka di kancah eropa, sekaligus menggenapi koleksi trofi kuping lebar menjadi sepuluh di lemari mereka. Bukan hanya dengan mendatangkan pemain megabintang, pelatih-pelatih hebat seperti Fabio Capello dan Jose Mourinho didapuk untuk menukangi skuad Los Galacticos jilid 2 (wannabe). Namun apadaya, berkali-kali pula mereka gagal. Ironisnya, tiga musim terakhir mereka lolos ke partai semifinal, pada kesempatan itu dua kali mereka disingkirkan oleh tim Jerman.

Bagi fans Real Madrid pasti akan berujar, “Setidaknya kami tidak kalah dengan agregat 7-0”. Apadaya, tim sekuat Real Madrid yang diisi oleh komposisi pemain-pemain berpostur ideal, harus kandas oleh tim kuda hitam, Borussia Dortmund. Berapapun skornya, kalah tetaplah kalah. Real Madrid harus berjuang lebih keras lagi untuk meraih La Decima yang mereka kampanyekan satu dekade terakhir. Barcelona sedikit lebih baik, tanpa mengeluarkan uang yang besar, dalam 7 tahun terakhir, 3 trofi Liga Champions Eropa sudah mereka raih.

Sepakbola tidak lepas dari mitos. Salah satu mitos dalam Liga Champions Eropa adalah, klub yang mengalahkan Barcelona di semifinal, maka klub tersebut akan menjadi Juara Liga Champions Eropa musim tersebut. Manchester United, Inter Milan dan Chelsea sudah membuktikan. Apakah tradisi dalam mitos ini juga berlaku pada Bayern Munchen?. Silahkan kalian prediksi sendiri-sendiri, yang pasti Juaranya berasal dari Jerman. Final Wembley kali ini menguatkan keteguhan saya untuk menjagokan Jerman menjadi Juara Piala Dunia 2014 tahun depan. How about you?.