Archive for April, 2013

TUMPULNYA HUKUM DI NEGERI HUKUM

Written by Amirul Bahri. Posted in Berita

0927481-susno-buron.-susno-buron-620X310

negeri ini (Indonesia) yang katanya “negeri hukum” sepertinya hanya teori ucapan yang enteh dari siapa yang mengucapkannya. Karena seperti yang masyarakat semua lihat, negeri ini tumpul hukum kalau yang dihukum adalah orang yang bernama dan berpunya materi lebih. Mulai dari kaburnya Koruptor Gayus Tambunan ke Bali untuk menonton kejuaraan tenis internasional Commonwealth Bank Tournament of Champions (CBTC) 2010 di Nusa Dua, Bali kemudian keluarnya Nazarudin ke Rumah Sakit Abdi Waluyo, Jakarta, selama sepekan yaitu 11-20 April 2013 lalu untuk berobat yang kemudian dilakukan pemberhentian sementara Syaiful Sahri sebagai Karutan Cipinang Jakarta dilakukan sejak 22 April 2013 serta yang menghebohkan akhir-akhir ini dengan dua kasus: 1) keluarnya Raffi Ahmad dan hanya menjadi tahanan kota, 2) gagalnya Jaksa Agung mengeksekusi Susno Djuadi pada Rabu 24 April 2013. Dan banyak lagi kasus lain selain dari kasus-kasus yang penulis ungkap di atas.

Negeri hukum yang tumpul dalam menghukum. Alangkah ngerinya kalau pihak-pihak yang berkuasa atas hukum: polisi, jaksa, dan hakim telah dan bisa di beli dengan rupiah. Kalau seperti ini, maka tak salah kalo ada ungkapan “hukum tajam ke bawah, tapi tumpul ke atas”. Hukum tajam ke bawah ketika ada rakyat kecil yang melanggar hukum langsung diterapkan dengan hukum yang berat. Tapi kalau orang atas (orang kaya –red) melanggar hukum, susah sekali menjeratnya seakan-akan tumpul. Ungkapan tersebut bukan sekedar ungkapan yang asal ucap, tapi melihat realita hukum dan penindakan hukum yang jauh beda ibarat langit dan bumi, maka nampaknya ungkapan tersebut sangatlah benar adanya. Maka yang menjadi pertanyaan, kemana lagi warga akan mencari keadilan hukum, kalau di tempat pengadilan banyak oknum yang tumpul hukum..??

Sumber Foto: http://nasional.kompas.com/

Ujian Nasional Antara Pro dan Kontra

Written by Amirul Bahri. Posted in Berita

UJIAN NASIONAL

Pendidikan sebagai sebuah proses belajar para siswa, hendaklah perlu adanya sebuah evaluasi. Evaluasi ini menjadi penting untuk mengukur dan menilai bagaimana kualitas para peserta didik dalam menjalani aktivitas belajar dalam sebuah lembaga pendidikan. Begitu juga hal nya dengan Ujian Nasional (UN) yang dilaksanakan secara terstruktur oleh pemerintah pusat, merupakan kegiatan pengukuran dan penilaian kompetensi peserta didik secara nasional pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Legalisasi untuk menjalankan Ujian Nasional (UN) berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Menumbuhkan (Kembali) Budaya Baca

Written by Jauhar Ridloni Marzuq. Posted in artikel

gerakan-mari-membaca

Awal Maret 2013 lalu (tanggal 1-10), untuk ke-12 kalinya pameran Islamic Book Fair (IBF) digelar. Ratusan penerbit dengan ribuan judul buku memenuhi Istora Gelora Bung Karno, Jakarta. Even seperti ini tentu patut dibanggakan. Tapi, ada satu hal yang lebih perlu diperhatikan: sudahkan budaya menyelenggarakan pameran buku seperti ini diikuti dengan budaya membaca masyarakat kita? Jika tema yang diusung oleh panitia penyelenggara adalah “Menuju Umat Berkarakter Qurani“, maka budaya baca sejatinya adalah salah satu karakter qurani yang utama. Bukankah ayat al-Quran yang pertama kali turun adalah perintah untuk membaca?.

Keadilan Tanpa Pandang Bulu

Written by Jauhar Ridloni Marzuq. Posted in artikel

keadilan-tanpa-pandang-bulu

Illustrasi Penegakan Hukum

Pada tahun ke-8 Hijriah, saat peristiwa pembebasan kota Mekah (Fathu Makkah), ada sebuah kejadian besar yang menggemparkan kaum Muslimin di sana. Peristiwa itu adalah tindak pidana pencurian yang dilakukan oleh seorang wanita terpandang dari Bani Makhzum. Bagi masyarakat Arab, Bani Makhzum adalah sebuah klan terpadang yang disejajarkan dengan Bani Hasyim, klan Nabi Muhammad SAW.

Mendapatkan laporan tersebut, Nabi SAW langsung bertitah agar wanita itu dipotong tangannya. Keluarga besar Bani Makhzum pun geger. Mereka tentu tidak mau menanggung malu mendapatkan salah satu anggota keluarganya dipotong tangannya. Ini akan menjadi aib bagi keluarga besar mereka.

Mereka memutar otak. Diambilah sebuah keputusan untuk meminta ampunan atau semacam keringanan dari Rasulullah SAW. Usamah bin Zaid, salah satu sahabat kesayangan Rasulullah SAW dimintai pertolongan. Keluarga besar Bani Makhzum meminta Usamah untuk mendekati Rasulullah agar beliau mau memberikan keringanan hukuman.

Datanglah Zaid kepada Rasulullah SAW menyampaikan apa yang diinginkan oleh Bani Makhzum. Mendapatkan hal itu, air muka Rasulullah SAW memerah seketika. “Apakah kamu meminta keringanan dalam masalah hukum Allah?!” tanya Rasul. Usamah pun tak berkutik. Dia merasa sangat bersalah dengan perbuatannya ini. “Maafkan saya Rasulullah. Maafkan saya,” pinta usamah.

Akhirnya hukum Allah SWT pun tetap ditegakkan. Tanpa melihat status sosialnya, wanita itupun dipotong tanganya. Malam harinya, Rasulullah SAW mengumpulkan para Sahabat. Rasulullah SAW ingin memberikan pelajaran penting tentang penegakan hukum tanpa pandang bulu kepada mereka.

“Sesungguhnya telah binasa orang-orang sebelum kalian, dikarenakan jika ada orang terpendang yang mencuri, mereka membiarkannya. Sedangkan apabila ada kaum lemah yang mencuri, mereka memberikan hukuman baginya. Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, maka aku sendiri yang akan memotong tanganya.” (HR Bukhari Muslim).

Kisah di atas adalah salah satu pelajaran berharga yang diajarkan Rasulullah SAW tentang penegakan hukum. Dalam konteks Indonesia, kisah tersebut sangat penting untuk direnungkan. Keterpurukan negeri kita saat ini – tepat seperti yang dikatakan oleh Rasulullah – salah satunya dikarenakan praktik tebang pilih dalam penegakan hukum. Seorang nenek miskin pencuri buah kakao mendapat hukuman penjara, sementara banyak sekali pejabat tinggi negara yang melakukan korupsi tak tersentuh hukum apa-apa.

Karena itu, untuk bangkit dari keterpurukan dan menghidari kebinasaan, para penegak hukum harus menyontoh apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Mereka harus menegakkan hukum tanpa pandang bulu. Tak peduli keluarga ningrat, konglomerat, kerabat, orang melarat, atau bahkan kerabat. Allah SWT berfirman,

“Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun ia adalah kerabat(mu), dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat.” (QS al-An’am [6]: 152).