Archive for March, 2013

MAKANAN MEMPENGARUHI KARAKTER.

Written by Fikri Hakim. Posted in artikel

Saya hampir tidak menyadari bahwa dalam keseharian saya, saya hampir hampir vegetarian. Saya lebih suka tempe atau tahu daripada daging (mungkin karena duitnya juga kali ya hahaha…). Kalau memang harus ada protein hewani saya lebih memilih ikan daripada daging.

Saya benar benar acungkan jempol untuk orang orang indonesia yang cinta kuliner indonesia asli. Seperti sayur asem, lalapan untuk yang sunda, sayur kunjuy untuk cita rasa banjar dan kalimantan, lotek karedok. See ? Hampir semua jenis makanan kita dari TUMBUHAN.

Itulah sebabnya masyarakat asia khususnya indonesia lebih tenang. Lebih bersahaja. Lebih produktif ketimbang masyarakat eropa dan amerika yang 60 persen makanannya berasal dari HEWAN. Kasus obesitas, lemak, jantung koroner dipicu lebih besar oleh DAGING daripada TANAMAN.

Orang yang darah tinggi dilarang makan DAGING, tapi mereka tidak dilarang makan SAYURAN (kecuali sayur ganja hahaha..)
Masyarakat Timur rata rata sopan dan tenang karena konsumsi sebagian besar penduduknya adalah TANAMAN. Masyarakat barat ? Mereka cenderung ‘ganas’, ini dipengaruhi pola makan mereka yang lebih KARNIVORA.

Di dunia sedang giat giatnya gerakan makan sehat. Dan makan sehat cenderung vegetarian.
Jadi, untuk orang yang cinta masakan indonesia, yang lebih suka tempe dan tahu, yang suka lalapan daun singkong, sambal terasi, jengkol dan pete, jangan khawatir anda TETAP KEREN dengan apa yang anda makan tiap hari.
^_^

SEPERTI LEBAH

Written by Fikri Hakim. Posted in Berita

SEPERTI LEBAH

Lebah itu hewan yang hebat.
Lebah tidak pernah pilih-pilih bunga manapun yang ada di dekatnya untuk dihisap. selama masih harus mengumpulkan nektar untuk madu, maka selama itu pula dia terus mencari bunga.
Namun, jika ternyata disekelilingnya tidak terdapat bunga, atau nektar untuk dibawa ke sarang, lebah tidak pernah ‘nekad’ menghisap kotoran, lalu dikumpulkan kedalam sarang bersama lebah-lebah yang lain. padahal, kalau lebah mau curang, setitik debu dalam madu, siapa yang akan tahu ?
Tapi tidak dengan lebah. Lebah tidak menghianati teman-temannya. Lebah juga tidak menghianati diri mereka sendiri. Bahkan lebah tetap menaga kualitas madu mereka.
Bayangkan, sekawanan lebah rela terbang sejauh 5 km dari sarang demi untuk mendapatkan nektar bunga. mereka BENAR-BENAR terbang sejauh apapun demi menemukan bunga-bbunga. Di padang pasir yang tandus, sekawanan lebah bahkan harus terbang hampir sejauh 50 km untuk mengumpulkan sari-sari madu. Tapi, itu mereka lakukan. Dan hasilnya, Madu menjadi satu-satunya makanan di muka bumi yang awet dan tidak akan basi disimpan selama apapun. Bahkan dalam kuburan raja dan ratu mesir ditemukan segentong madu yang rasanya TIDAK BERUBAH SAMA SEKALI. padahal sudah ribuan tahun terkubur.
maka pantaslah jika hewan ini kemudian dijadikan salah satu nama surah didalam Kitab Suci ALQUR’AN surat ke 16.
Lihatlah lebah.
1. Mereka hanya makan makanan yang benar-benar halal dan baik.
2. Lebah tidak pernah nekad memakan “kotoran” walau keadaan mengharuskan mereka bekerja ekstra.
3. Lebah bekerja untuk yang halal, dengan cara yang halal, dan hasilnya ? sudah tentu “madu” berkualitas.
4. Jika lebah saja begitu hebatnya, mungkinkah manusia tidak lebih hebat dari mereka ??
^_^

HAL YANG MUDAH

Written by Fikri Hakim. Posted in artikel

Seorang Ayah terburu buru menuju kantor karena ditelpon atasan akan ada rapat. Setelah bersalaman dengan istri dan anaknya si bapak lalu menstarter motor. Motor tidak menyala.

Dicoba kembali beberapa kali tetap tidak menyala.

Sementara waktu semakin terasa cepat maka si bapak pun mencoba menyalakan motor dengan disela. Motor mesin seperti mau menyala, tapi kemudian mati lagi. Dicoba lagi menyela, keadaan tetap sama. Mesin motor tetap tak menyala. Choke pun ditarik, barangkali saja menyala.

Istrinya yang melihat suaminya belum berangkat pun bertanya. “Kenapa pak ?”

sang suami menjawab dengan putus asa. “motornya nggak nyala bu”.

Si istri kemudian mendekat ke arah motor lalu mencoba menstarter. Ajaib. Motor langsung menyala.

Si istri pun lalu tersenyum sambil berkata pada suami tercinta. “Pantes aja ga nyala, kuncinya belum diputar”.

Note:

“Memutar kunci itu hal mudah yang jika tidak dilakukan akan menggagalkan seluruh aktifitas anda.

SHOLAT anda adalah PUTARAN KUNCI ANDA.

Seberapa hebatpun usaha anda tanpa anda memutar kunci, anda akan terpaksa ‘berjalan tanpa motor’.

Dan anda akan dikalahkan orang yang ‘memutar kunci’. ^_^”

Peradaban Ilmu Berbasis al-Quran

Written by Jauhar Ridloni Marzuq. Posted in artikel

Al-Quran tertua di Indonesia Dunia

Mayoritas ulama sepakat bahwa ayat al-Quran yang pertama kali turun adalah surat al-Alaq 1-5. Turunnya ayat yang diawali dengan perintah membaca ini, menurut Raghib al-Sirjani dalam “al-Ilmu wa Binâ’ al-Umam” sangat aneh. Setidaknya, ada tiga alasan yang mendasari pandangan ini. Pertama, dari sekian ribu tema yang bisa diangkat, al-Quran ternyata memilih tema tentang baca-tulis. Padahal, Nabi Muhammad sebagai orang pertama yang menerima ayat itu adalah seorang buta huruf. Kedua, al-Quran mengajak bangsa Arab -yang mayoritas masyarakatnya buta huruf- untuk memperhatikan suatu masalah yang sama sekali jarang mereka perhatikan. Seperti tertulis dalam banyak buku sejarah, bangsa Arab ketika al-Quran diturunkan adalah masyarakat primitif yang hidupnya dipenuhi oleh urusan takhayul, khurafat dan kebodohan. Karena itu, turunnya al-Quran dengan perintah membaca adalah suatu keanehan. Sedangkan ketiga, untuk menjadi media transformasi ilmu, al-Quran memilih media yang sangat berat bagi masyarakat Arab saat itu, yaitu membaca.

Dengan tiga alasan tersebut, maka Raghib al-Sirjani kemudian berkesimpulan bahwa fenomena ini tentu memiliki rahasia yang perlu diungkap dan diketahui. Sebagai kitab petunjuk, Allah tidak mungkin memilih tema sembarangan untuk menjadi permulaan penurunan kalam-Nya. Salah satu alasannya, menurut al-Sirjani, adalah sebagai bukti paling jelas bahwa Islam adalah sebuah agama yang bersandar kepada ilmu pengetahuan dan menolak kebodohan. Permulaan ayat ini juga menjelaskan bahwa membaca adalah kunci untuk memahami agama baru ini, sekaligus menjadi syarat utama yang harus dimiliki oleh manusia untuk mendapatkan kebahagian dunia dan akhirat.

Ilmu Sebagai Sifat Utama Kenabian.

Sebagai seorang pemimpin, nabi adalah aktor utama pembangun peradaban dalam Islam. Jika Islam secara substansif telah ada sejak Nabi Adam, maka nabi yang harus diyakini oleh umat Islam adalah Nabi Adam hingga Nabi Muhammad SAW. Keseluruhan jumlah nabi memang tidak dijelaskan oleh al-Quran. Namun dalam beberapa cerita yang disebutkan al-Quran, Allah selalu mengaitkan mereka dengan ilmu. Dalam surat al-Baqarah, Nabi Adam digambarkan sebagai orang diajarkan (diberi ilmu) oleh Allah nama-nama segala sesuatu (QS al-Baqarah 21); Nabi Luth diberi hikmah (kenabian) dan ilmu (QS al-Anbiya: 74); Nabi Musa, Nabi Yusuf dan Nabi Sulaiman juga diberi hikmah dan ilmu (QS Qashash: 14, QS Yusuf: 22 dan QS al-Anbiya: 79); Nabi Ya’qub diajari banyak ilmu (QS Yusuf 68); Nabi Isa diajari al-Kitab, hikmah, Taurat dan Injil (QS al-Maidah: 110); dan Nabi Muhammad diajari oleh Allah apa-apa yang tidak beliau ketahui (al-Nisa 113).Di sini dapat disimpulkan bahwa salah satu sifat utama kenabian adalah berilmu, karena tanpa ilmu seorang nabi tidak akan pernah bisa mengajarkan sesuatu. Sebuah pepatah mengatakan, “Orang yang tidak memiliki tidak akan bisa memberi.”

Dalam perjalanan sejarah selanjutnya, al-Quran kemudian memuat banyak sekali ayat yang mengajak manusia untuk mencari ilmu pengetahuan. Al-Quran juga dalam banyak kesempatan mencela kebohodohan dan kejumudan. Meski tidak bisa baca tulis, dalam banyak riwayat Hadis, Rasulullah memerintahkan beberapa Sahabat untuk belajar membaca dan menulis. Usai Perang Badar, Rasulullah bahkan menjadikan pembelajaran baca-tulis sebagai media tebusan para tawanan perang.

Di sinilah, Islam kemudian hadir sebagai kekuatan baru untuk mengubah tatanan hidup masyarakat Arab Jahiliyah menuju tatatan hidup baru yang berperadaban, dengan berlandaskan pada nilai-nilai ilmu pengetahuan yang bersumber dari al-Quran.

Tradisi ini kemudian terwariskan dari generasi ke generasi sehingga membentuk sebuah pandangan hidup. Pandangan hidup seperti inilah yang kemudian menjadikan Islam mampu mengambil alih kepemimpinan peradaban dari tangan Romawi Persia hingga lebih dari 1000 tahun lamanya.

Ilmu Sebagai Syarat Utama Menguasai Dunia.

Salah satu tujuan utama diciptakannya manusia adalah untuk menjadi khalifah di bumi. Namun, posisi dan kedudukan khalifah yang diberikan Allah kepada mereka bukanlah tanpa syarat. Dalam surat al-Baqarah Allah menjelaskan bahwa ditunjuknya Adam (bapak seluruh manusia) sebagai khalifah adalah karena kelebihan ilmu yang dimilikinya. Malaikat yang pada awalnya ‘keberatan’ dengan penunjukan Adam akhirnya menerima, karena mengakui bahwa Adam memiliki ilmu yang yang tidak mereka miliki.

Fenomena seperti ini berlaku juga pada kisah penunjukan Thalut sebagai raja (QS al-Baqarah: 247), seorang hamba shalih sebagai pemenang sayembara pengalihan singgasana Bilqis (QS al-Naml: 39), Sulaiman sebagai penguasa (QS al-Naml: 42), dan Khidhir sebagai guru Nabi Musa (QS al-Kahfi: 65).

Dengan demikian, terlihat jelas bagaimana al-Quran sangat menjunjung tinggi kedudukan ilmu. Menurut Hamid Fahmy Zarkasyi, peradaban Islam sebenarnya dimulai dari komunitas kecil yang bergiat mempelajari al-Quran dan Sunnah. Komunitas yang dipengaruhi oleh pandangan hidup al-Quran itu kemudian berstambah besar dengan membentuk kekuatan militer yang akhirnya menjadi institusi negara. Karena universalitas ajaran Islam, maka negara bangsa yang berdasarkan ras dilebur bersama bangsa-bangsa lain di bawah naungan Islam. Kekuatan pemersatu bangsa-bangsa itu adalah pandangan hidup Islam yang teratur dan rasional, serta bahasa Arab.

Dengan demikian, maka dapat diambil benang merah bahwa untuk membangun kembali peradaban Islam harus diawali dengan membangun peradaban ilmu. Karena asas peradaban Islam adalah ilmu pengetahuan yang bersumber pada al-Quran dan Sunnah, maka peranan ilmu pengetahuan yang sangat sentral dalam keseluruhan struktur konsep peradaban Islam, seperti pendapat Hamid Fahmy, perlu dikembalikan sebagaimana aslinya. Dalam hal ini, al-Quran adalah landasan utama yang kita jadikan sebagai acuan, bukan filsafat-filsafat asing yang lebih banyak merusak daripada membangun. Wallahu a’lam.