Yuk, Silatnas bro!

Written by Fahmi Agustian. Posted in artikel, Blitza News

Mungkin ada yang berpikir, kenapa kita bikin pertemuan yang skalanya besar dengan jarak waktu yang terlalu mepet. Ada yang beranggapan; “Baru tahun kemarin kita ngumpul di Ponorogo, kok tahun ini bikin acara lagi di Jogja”. Ada juga yang agak menggugat; “Ini konten Silatnas apa aja? Kalau kita cuma datang ke Silatnas agendanya hanya tajamuk, ndak perlu di Jogja!”. Dan seabrek anggapan lain yang muncul ke permukaan. Tidak ada yang salah dengan argumen-argumen itu, semua orang bebas berpendapat di Negara ini, kan sudah dijamin kebebasannya oleh Undang-Undang?

Ngumpulke balung pisah. Resminya, di agenda marhalah kita itu terdaftar 945 orang, faktanya dalam perjalanan selama 6 tahun sejak tahun 2000, jumlah yang tergabung dalam keluarga besar Blitza Remigion itu lebih dari itu. Mungkin jika didaftari, lebih dari 1000 orang jumlahnya. Dan tahun lalu di Ponorogo, yang datang di acara besar perdana kita belum mencapai sepertiganya. Iya, 300 orang pun belum sampai yang datang. Nah, Silatnas Blitza Remigion tahun ini adalah sebuah acara yang memang digagas untuk menjaring lebih banyak lagi teman-teman Blitza Remigion yang sudah lama terpisah.

Saya sendiri mengakui, bahwa pasca Reuni Blitza di 90 tahun Gontor 2016 lalu, teman-teman di Regional mulai menggeliat dan berkumpul. Mulai akrab lagi satu sama lain, mulai sering berkumpul lagi, bermuwajahah satu sama lain. Saya rasa ini hasil yang positif dari pertemuan di Ponorogo tahun lalu. Beberapa dari kalian mulai berkumpul sesuai dengan pemetaan bidangnya masing-masing. Satu modal awal yang baik untuk bersinergi bersama di masa yang akan datang. Bahkan, saya melihat sudah banyak pula yang mulai merintis sinergi bersama, meskipun skalanya masih sangat kecil.

Mungkin antum ingat salah satu pesan KH Syukri Zarkasyi, bahwa setiap 5 tahun kita harus memiliki pencapaian prestasi untuk mengukur diri kita. Silakan hitung mundur, sejak kita lulus dari Gontor kita saat ini sedang memasuki fase 5 tahun ke-3. Saya sendiri melihat begitu pesat perkembangan teman-teman Blitza Remigion dalam menapaki kariernya masing-masing. Mulai yang terjun ke dunia bisnis hingga akademis. Salam hormat saya buat antum semua. Perjuangan antum dalam mencapai itu semua mulai terlihat hasilnya. Meskipun tidak dipungkiri juga masih banyak yang berada pada fase proses. Setidaknya saya memetakan ada dua wilayah; fighting  dan  survive. Sebagian dari antum saat ini sudah ada yang mencapai titik  survive, titik dimana antum saat ini berjuang mempertahankan kondisi antum saat ini yang mungkin sudah mulai memasuki zona nyaman. Sementara ada juga yang masih berada di titik  fighting, titik dimana antum masih mencari wilayah yang tepat untuk menegaskan hidup antum. Apapun itu, yang namanya hidup penuh dinamika. Kalau orang jawa bilang;  sawang-sinawang.

Blitza Remigion itu bukan sebuah Perusahaan, juga bukan sebuah Partai Politik. Blitza Remigion ini hanya sebuah komunitas non profit. Tetapi, harus saya akui bahwa Blitza Remigion diisi oleh orang-orang berkualitas yang penuh talenta. Beberapa orang yang pernah bertukar pikiran dengan saya berpesan bahwa jangan sampai ikatan keluarga ini hancur tak tersisa, harus segera disinergikan potensinya. Sebuah usulan yang bagi saya sangat positif dan masuk akal. Tentu saja bukan saya sendiri yang melakukannya. Disinilah saya melihat betapa ikatan tanpa darah ini begitu erat terjalin.

Jika ditanya; apa goal dari Silatnas Blitza Remigion kali ini? Saya sendiri tidak bisa menjanjikan apa-apa dari Silatnas kali ini. Panitia pelaksana pun saya yakin juga tidak memiliki jawaban yang memuaskan. Begitu juga dengan Tim 12, bisa jadi jawaban yang mereka kemukakan justru akan mengecewakan antum. Yang bisa saya lakukan hanya ikut mensupport perjuangan teman-teman Panitia lokal di Jogja yang hampir setiap malam mereka berkumpul mempersiapkan acara ini. Mereka yang sangat tulus dan ikhlas, tanpa pamrih apapun telah mengorbankan tenaga, pikiran dan harta mereka. Menyingkirkan ego pribadi mereka demi suksesnya acara besar Blitza Remigion kali ini. Mereka yang sudah berkeluarga, juga punya tanggungan kesibukan lain di tempat mereka bekerja, ternyata mampu dan mau berkorban untuk menyisihkan sebagian tenaga seta pikiran mereka untuk kita. Masa iya kita menutup mata dan cuek? Tega antum?

Maka, dengan ini saya pribadi mengajak antum-antum semua, keluarga besar Blitza Remigion untuk hadir di Silatnas Blitza Remigion 2017 di Jogja yang akan kita selenggarakan beberapa hari lagi. Mari sedikit luangkan waktu kita untuk kembali bersua dengan keluarga kita ini. Beberapa ungkapan yang juga sampai ke telinga saya; ana mafi fulus pek, kaifa difa’ tasyjiluhu bakdin? ana astahi pek, aktsarukum kholas ghoni, kholas sukses, wa ma ana? wa man ana?.

Kalau antum masih memiliki anggapan pesimis seperti itu, sampai hari kiamat pun antum akan tetap merasa inferior. Keluarga besar Blitza Remigion ini tidak dibangun atas azas materi. Kita semua dipersatukan oleh ukhuwah Gontory yang tak lekang oleh zaman.

Akhi, masih ada waktu untuk berkoordinasi dengan temen-temen konsul antum. Sudahlah, singkirkan semua anggapan-anggapan yang tidak perlu. Datanglah ke Jogja hari Jum’at nanti, entah bagaimana cara antum datang ke Jogja, jangan risau dan galau nanti di Jogja bagaimana. Panitia sudah memikirkan semuanya. Kurang enak apa coba? Tinggal datang, ikut kumpul, ketemu dengan yang lainnya. Siapa tau setelah Silatnas Blitza Remigion kali ini, ada peluang bisnis yang bisa antum manfaatkan kedepannya?

Ana tunggu kehadiran antum di Jogja! Endangono dhulurmu, Dab!

Silaturrahim Perdana Keluarga Besar Blitza Remigion

Written by admin. Posted in Berita, Blitza News

Alhamdulillah, setelah proses persiapan yang memakan waktu kurang lebih 8 bulan semenjak pertemuan 9 Januari 2016 di Matraman, akhirnya pada 26-28 Agustus 2016 kita bisa melaksanakan Silaturrahim Perdana Keluarga Besar Blitza Remigion di Hotel Gadjah Mada, Ponorogo. Berbagai persiapan dilakukan, mulai dari survey beberapa lokasi yang direkomendasikan oleh Panitia Lokal di Ponorogo, pemilihan menu untuk konsumsi, desain kaos, backdrop dan banner hingga mempersiapkan hal-hal yang mendukung terlaksananya agenda besar ini dilakukan secara marathon. Tentu saja bukan hanya menguras tenaga dan fikiran para inisiator yang tergabung juga dalam kepanitiaan ini. Falsafah Pondok; Bondo, Bahu, Pikir lek perlu sak-Nyawane pisan bukan hanya sebuah kalimat yang diingat, melainkan benar-benar menjadi perilaku teman-teman yang ditunjuk untuk menjadi panitia agenda besar ini.

Panitia yang dipimpin oleh M. Iqbal Faisal (Jepara), Arif Sholeh (Banten) dan Firdaus Ilham (Ponorogo), kemudian dibantu Syarif Hidayat (Kebumen) dan Muhammad Irfan (Klaten) sebagai Sekretaris, juga Dudi Kurniawan (Ciamis) dan Nasrul Fahmi Zaki Fuadi (Pati) sebagai Bendahara. Kemudian didukung oleh Panitia Lokal dari Ponorogo; M. Fidyani, Achmad Fauzy, M. Ahda Murtaqi juga Abdullah (Gresik) dan Luthfi Muhyidin (Bogor) yang saat ini berdomisili di Ponorogo, mampu bersinergi dengan panitia pusat dalam mensukseskan agenda perdana Blitza Remigion yang berskala nasional ini. Jajaran steering Commitee Blitza Remigion pun tidak ketinggalan, dibawah komando Arif Rosyidi (Bojonegoro) yang menaungi Ayyadana Akbar (Yogyakarta), Saepudin (Bogor), Fuad Hidayat (Malang), Ahmad Amrullah (Plumbon) dan Fahmi Agustian (Pemalang), juga berjibaku untuk ikut serta mengawal perjalanan panitia Silaturrahim Keluarga Besar Blitza Remigion kali ini. Dan tidak ketinggalan, M. Ikhwan Bandreas (Bojonegoro) yang menjadi ujung tombak persidangan agenda besar Blitza Remigion kali ini juga sangat serius berkontribusi.

WhatsApp Image 2016-08-26 at 13.23.50

Setelah melewati beberapa proses, akhirnya panitia menyepakati untuk menggunakan Hotel Gadjah Mada di Ponorogo. Mungkin sebagian teman-teman bertanya, mengapa kita tidak menggunakan Wisma Darussalam (Wisda) yang lokasinya lebih dekat dengan Gontor. Jawabannya adalah bahwa saat ini Gontor sedang melaksanakan hajatan besar; 90 Tahun Gontor, sehingga Wisma Darussalam tidak bisa dipastikan untuk dapat digunakan oleh Blitza Remigion jauh-jauh hari. Sementara rumah-rumah warga di sekitar Gontor juga tidak memungkinkan kita gunakan dikarenakan beberapa alasan teknis.

Jum’at, 26 Agustus 2016, setelah sholat Jum’at, panitia secara resmi membuka proses registrasi ulang. Hari pertama, panitia tidak mengadakan acara yang resmi, sehingga membebaskan semua peserta untuk bernostalgia satu sama lain. Suasana Hotel Gadjah Mada begitu ramai, semua yang datang saling bercerita pengalamannya masing-masing, bercerita proses yang sedang dijalani di daerah masing-masing hingga mengenang masa-masa ketika menjadi santri. Keceriaan tampak di wajah semua yang hadir, setiap yang datang disambut hangat bukan hanya oleh panitia, tetapi juga oleh semua peserta. Jabat tangan dan pelukan yang erat menggambarkan betapa kerinduan satu sama lain benar-benar sudah tidak bisa ditahan lagi. Alhamdulillah, tercatat di daftar hadir yang menghadiri agenda Blitza kali ini melebihi 200 orang peserta.

Hari kedua, Sabtu, 27 Agustus 2016 secara resmi agenda Silaturrahim Keluarga Besar Blitza Remigion dibuka. Pagi itu, panitia mengundang Ust. H. Akrim Mariyat, Dipl, M. Ed sebagai narasumber untuk menstimulasi ulang nilai-nilai kepondokmodernan kepada seluruh peserta. Panitia juga mengundang beberapa Musyrif (Spinker); Ust. Rahmatullah Oky, Ust. Tajuddin dan Ust. Jumhurul Umami yang kemudian mengisi sesi sharing dan nostalgia bersama.

14124420_1803870596559741_394233702881118007_o

Ust. Akrim juga menekankan bahwa keberkahan itu merupakan sebuah hasil dari pergerakan. Apapun profesi kita, apapun kesibukan kita, apabila dilandasi dengan niat yang ikhlas mnegabdi kepada Allah, maka keberkahan merupakan imbalan yang paling mulia. Beliau juga mengingatkan bahwa alumni Gontor jangan sampai tidak mengajar, dan mengajar itu bukan hanya terbatas dalam ruangan kelas saja, menjadi teladan bagi orang lain juga merupakan salah satu wujud mengajar. Sejalan dengan itu, Ust. Akrim juga menekankan pentingnya bersyukur dan mengingatkan agar kita hati-hati dalam bertahaduts binni’mah, karena bisa jadi justru kita akan terperosok kedalam jurang kesombongan.

Mengunjungi Pondok, maka kita harus melihat Pondok secara keseluruhan, melihat perkembangan Pondok saat ini yang harus kita lakukan tidak lain adalah bersyukur. Jika kita melihat ada kekurangan di Pondok, maka kita memiliki hak untuk memberikan saran, tetapi kita harus tahu diri untuk mengukur seberapa besar porsi kita dalam memberikan saran agar tidak kebablasan menjurus kepada intervensi. Menutup ceramah beliau, Ust. Akrim menyatakan bahwa Silaturrahim ke Pondok, ke Kiai dan ke Guru-guru senior merupakan perbuatan yang sangat mulia.

Setelah makan siang, kemudian semua bergerak menuju Pondok Modern Gontor untuk Ngendangi Pondok, sesuai dengan tema besar acara ini; “Endangono Pondokmu”, sebuah pesan yang selalu disampaikan oleh KH. Hasan Abdullah Sahal kepada para alumni Pondok Modern Darussalam Gontor. Dimana beliau menekankan agar kita sebagai alumni agar dapat selalu menyempatkan waktu untuk menjenguk Pondok. Ust. Akrim Mariyat sendiri dalam ceramahnya berpesan, bahwa ngendangi pondok itu bukan dalam rangka sekedar kita melihat perkembangan Gontor secara fisik, tetapi substansinya lebih dari itu. Bahwa dengan mengunjungi kembali Sang Ibu, kita dapat merefleksikan kembali nilai-nilai pondok modern dalam diri kita. Nilai-nilai yang tertulis dalam Panca Jiwa Pondok Modern yang mulai pudar, harus kita tekankan lagi sebagai bekal kehidupan kita di masyarakat. Tempat yang pertama kali dituju adalah makam Trimurti, kemudian kami berkesempatan untuk silaturrahim bersama Ust. H. Syarif Abadi di kediamannya. Meskipun hanya bertemu beberapa menit saja, beliau sangat antusias menyambut kedatangan Keluarga Besar Blitza Remigion.

WhatsApp Image 2016-08-27 at 15.55.51

Setelah mengunjungi Pondok, pada malam harinya panitia mengadakan Turnamen Futsal antar Regional yang tentu saja diramaikan oleh para peserta dari masing-masing regional. Semua regional ikut serta dalam turnamen ini; Luar Jawa, Jabodetabek, Priangan, Jogja-Solo, Jawa Tengah dan Jawa Timur tentunya yang mengutus tim terbanyak. Regional Jabodetabek akhirnya keluar sebagai Juara 1 setelah mengalahkan Regional Jawa Timur 3 di babak final. Setelah turnamen ini, kemudian semua peserta kembali ke Hotel Gadjah Mada untuk beristirahat.

Meskipun baru saja menguras keringat di lapangan futsal, ternyata tidak menyurutkan antuasias peserta untuk tetap begadang di malam terakhir acara ini. Sebagian dari mereka yang tidak bermain futsal, ada yang masih kangen dengan Pondok, sehingga mereka menuju ke Pondok untuk silaturrahim ke Pimpinan Pondok dan guru-guru senior. Memang, pada agenda ini panitia tidak mengadakan agenda khusus bersilaturrahim bersama Pimpinan Pondok dikarenakan kesibukan beliau dalam mengawal rentetan acara 90 Tahun Gontor ini.

Ahad, 28 Agustus 2016 merupakan hari terakhir dari rentetan agenda Silaturrahim Keluarga Besar Blitza Remigion kali ini. Panitia memang mengatur agar acara tidak dilaksanakan serius, sehingga acara berlangsung santai. Setelah Iqbal selaku ketua panitia sedikit bercerita dinamika perjalana panitia, kemudian dilanjutkan Saepudin yang mengharapakan kiprah teman-teman Blitza Remigion untuk lebih baik lagi dari hari ini. Arif Rosyidi kemudian juga bercerita tentang bagaimana akhirnya panitia memutuskan untuk memilih Hotel Gadjah Mada sebagai lokasi dilaksanakannya Silaturrahim Keluarga Besar Blitza Remigion ini. Acara siang itu kemudian juga menghasilkan terpilihnya 12 nama yang akan memegang tongkat estafet kepemimpinan Blitza Remigion. Regenerasi ini dimaksudkan agar semua anggota Blitza Remigion memiliki tanggung jawab dan rasa memiliki yang sama terhadap Blitza Remigion. Setelah sebelumnya Steering Commitee Blitza Remigion mengadakan rapat tertutup, terpilihlah 12 nama yang kemudian disepakati oleh forum. Mereka adalah; M. Kandias Rowi (Sidoarjo), Fadli Akbar (Makassar), Fahrizal Ischaq (Surabaya), Arif Hidayat (Yogyakarta), Abid Setiawan (Lamongan), Luthfi Muhyidin (Bogor), Kun Faisal (Banyumas), Yasir Mukhtar (Jakarta), Irvansyah Emmuty (Semarang), M. Zahjuli (Depok), Syamsul Arif Tombokan (Gorontalo), dan Syarif Hidayat (Kebumen). Mereka kemudian akan menyusun tim formatur yang akan membawa kemana Blitza Remigion akan diarahkan beberapa tahun kedepan. Mereka ini pula nanti yang akan memutuskan (atas usulan teman-teman tentunya) kapan akan diadakan kembali Silaturrahim Keluarga Besar Blitza Remigion.

Hasil kesepakatan lain yang juga lahir dalam pertemuan ini adalah bahwa Blitza Remigion akan mengumpulkan donasi dari semua anggota Blitza Remigion untuk kemudian diserahkan kepada Pondok Modern Darussalam Gontor. Teknis selanjutnya akan diupdate melalui Grup Facebook dan Grup Whatsapp di tiap-tiap regional.

Hanya ungkapan rasa syukur dan ucapan Alhamdulillah atas terselenggaranya Silaturrahim Keluarga Besar Blitza Remigion tahun ini. Tentu saja, kerinduan setelah 11 tahun tidak bertemu tidak akan terobati hanya dalam kurun waktu pertemuan selama 3 hari saja. Kami dari panitia pun sangat yakin, antum semua yang belum berkesempatan hadir dikarenakan satu dan lain hal memiliki kerinduan yang sama. Insya Allah, dilain kesempatan kita akan berjumpa lagi.

Mengutip syair yang ditulis oleh Fahrizal Ischaq;

Meski kau sekarang doktor, dan aku hanya lulus KMI, aku tak peduli
Meski kau anak Kyai, bahkan sudah menjadi Kyai, dan aku hanya guru ngaji, aku tetap tak peduli
Meski mobilmu Fortuner dan aku masih sibuk nyicil motor bututku, akupun tetap tak peduli
Meski kau dekat pejabat dan politisi,sibuk tebar pesona sana-sini, aku “pancet” wong cilik, tetap saja, aku tak peduli

Aku hanya peduli, kau pernah sepiring dan sesambel denganku
Kau pinjam sabunku, aku pinjam gayungmu
Aku hanya peduli, kita pernah tunggal Kyai dan guru
Akupun sangat peduli bahwa kita pernah dalam kandungan rahim yang seibu

Gontor tempat berpulang
Blitza inspirasi untuk terus berjuang
Apapun dan siapapun dirimu sekarang
Gontor dan Blitza adalah sejarah kita dalam berperang
Melawan hawa nafsu yang usang
Hingga sampai di keindahan pulau sebrang

 

 

Blitza Remigion supporting 90 tahun Gontor

Written by admin. Posted in Berita, Blitza News, Informasi

Sepuluh tahun yang lalu, ketika kami alumni Pondok Modern Darussalam Gontor tahun 2005 menjalani masa pengabdian, saat itu Gontor akan merayakan 80 tahun usianya. Tentu saja ada banyak sekali agenda-agenda pondok yang kemudian dalam perayaan itu tidak sedikit dari alumni tahun 2005 yang terlibat dalam kepanitiaan 80 tahun Gontor.

Tidak terasa, sepuluh tahun berlalu dan tahun ini Gontor akan merayakan perayaan 90 tahun usianya, dan tentu saja banyak sekali rentetan acara yang sudah dirancang oleh panitia 90 tahun Gontor. Sebagai bagian dari keluarga besar Pondok Modern Darussalam Gontor, tentu saja Blitza Remigion 2005 memiliki tanggung jawab moral untuk mendukung kesuksesan hajatan besar 90 tahun Gontor yang akan dihelat pada bulan Agustus-September tahun ini.

Ada banyak cara yang bisa dilakukan oleh setiap alumni untuk mensupport agenda besar Gontor tahun ini. Ada yang sudah merencanakan jauh-jauh hari untuk melaksanakan tour ke Gontor ketika rentetan 90 tahun Gontor nanti berlangsung, baik itu dengan keluarganya sendiri, dengan teman-teman satu marhalah, dengan keluarga IKPM setempat, ada juga yang berinisiatif untuk ikut mengumpulkan dana untuk disumbangkan kepada panitia pusat, karena tentu saja hajatan besar 90 tahun Gontor ini akan menghabiskan dana yang tidak sedikit.

Blitza Remigion Support 90 tahun Gontor

Sejenak kita flashback, 2 tahun lalu ketika Indonesia sedang ramai pemilihan presiden, situasi politik di Indonesia begitu panas dan menjalar hingga elemen masyarakat terbawah. Blitza Remigion mencoba untuk meminimalisir perpecahan akibat perbedaan pendapat itu, meskipun hanya di wilayah yang sangat sempit. Saat itu, Blitza Remigion mengajak seluruh alumni Gontor tahun 2005 untuk mengganti Profile Picture secara serentak dengan format yang seragam.

Gerakan yang mungkin sifatnya sangat sederhana saat itu setidaknya kami syukuri mampu meminimalisir adanya konflik gesekan yang merupakan efek dari perbedaan pandangan politik saat itu. Berkaca dari apa yang sudah dilakukan dua tahun yang lalu, tahun ini Blitza Remigion ingin melakukan gerakan yang sama dalam tema yang berbeda.

Hajatan besar 90 tahun Gontor tentu sangat sayang untuk kami lewatkan begitu saja tanpa kami ramaikan di media sosial. Mungkin bagi sebagian orang, mengganti gambar tampilan di media sosial itu sangat sederhana. Tetapi, dalam era media sosial yang begitu pesat perkembangannya saat ini menurut kami adalah salah satu media yang tepat untuk menggalang dukungan dari internal Blitza Remigion 2005 untuk meramaikan 90 tahun Gontor.

Tidak ada tujuan dari kami untuk mengatakan bahwa “ini lho kami, Marhalah 2005!”, sama sekali tidak. Kami hanya ingin mendukung agenda besar 90 tahun Gontor berdasarkan kemampuan yang kami miliki. Karena memang beberapa orang diantara kami memiliki concern di dunia maya dan perkembangannya saat ini, maka dari itu langkah awal yang kami lakukan adalah melakukan gerakan massal mengganti profile picture di media sosial. Dan tentu saja akan hadir di website Blitza ini artikel-artikel yang akan mengulas banyak cerita-cerita lama berdasarkan pengalaman kami menjadi santri di Gontor dulu. So, stay tune on our website.

Tentu saja kami mempersiapkan gerakan ini dengan serius, programmer handal kami sudah menyiapkan web apllication untuk memudahkan teman-teman Blitza Remigion 2005 merubah tampilan foto dengan desain yang sudah disiapkan, sehingga ketidakseragaman frame tidak akan terjadi. Bagi teman-teman Blitza Remigion yang belum merubah tampilan foto di media sosial, silahkan kunjungi : http://stamp.blitza679.com/. Jika teman-teman mengalami kendala dalam proses pengeditan, silahkan hubungi admin di grup Blitza Remigion, baik Facebook atau Whatsapp Messenger. Kami siap membantu 24 jam, kecuali ketika kami sedang istirahat. hehehehe. Dan kalau sudah jadi, jangan lupa diupload di media sosial; facebook, twitter, instagram, path dan yang lainnya dengan mencantumkan #90TahunGontor dan #BlitzaRemigion.

Dan tidak lupa kami sampaikan kepada teman-teman Blitza Remigion, bahwa ditengah rentetan agenda 90 tahun Gontor ini kita juga punya hajatan besar; Temu Kangen Blitza Remigion. Melalui kesempatan ini, kami sampaikan agar teman-teman Blitza Remigion di setiap regional untuk semakin memperkuat silaturahmi, dan  tidak lupa kami menyampaikan: SAMPAI KETEMU DI 27 AGUSTUS 2016!

Ngumpul bareng di Matraman

Written by admin. Posted in Berita, Blitza News, Blitzer, Informasi

Jakarta, 9 Januari 2016.

Salam Blitza. Menjelang akhir tahun 2015, terbesit obrolan ringan di grup whatsapp tentang rencana ngumpul bareng Blitza Remigion dalam skala Nasional. Perayaan 90 tahun Gontor tahun 2016 ini menjadi momentum yang cukup tepat untuk dilaksanakannya ngumpul bareng Blitza Remigion di Gontor. Menindak lanjuti obrolan ringan di dunia maya tersebut, kemudian direncanakanlah sebuah pertemuan yang melibatkan perwakilan Blitza Remigion dari beberapa daerah. Komunikasi dengan beberapa kawan-kawan ditempuh, alhamdulillah sekitar 40 orang hadir di Jakarta pada Sabtu, 9 Januari 2016 yang lalu.

Setelah semua berkumpul, kami selaku inisiator pertemuan ini kemudian mempresentasikan rencana pertemuan Blitza Remigion dalam skala Nasional di Gontor tahun 2016 ini. Pada pertemuan ini pula, forum menyepakati secara aklamasi menunjuk M. Iqbal Faishol (Jepara) dan Arif Sholeh (Banten) untuk menjadi Ketua dan Wakil Ketua paniti agenda Blitza Remigion ini. Selanjutnya, mereka berdua akan segera menyusun Tim Formatur yang lengkap, sesuai dengan kebutuhan untuk mensukseskan agenda besar kita ini.

Alhamdulillah, pertemuan berlangsung sangat hangat, semua yang hadir merasakan kerinduan yang sama satu sama lain untuk bertemu kembali setelah sekian lama tidak berjumpa. Semangat inilah yang semakin meyakinkan kami untuk menyelenggarakan ngumpul bareng Blitza Remigion di tahun 2016 ini.

picisto-20160110231735-938063

Endangono Pondokmu! (Jenguklah Pondokmu!), inilah salah satu pesan Kiai Hasan dalam sebuah pertemuan alumni di Gontor beberapa waktu silam. Pesan yang sangat singkat, namun begitu besar maknanya bagi kita yang sudah meninggalkan Pondok. Seperti apapun kita hari ini, ada Gontor yang sudah membentuk karakter kita hingga kita menjadi apa yang kita rasakan hari ini. Sudah saatnya kita menjenguk Ibu kita.

Mungkin ada yang hampir setiap bulan memiliki kesempatan untuk bersilaturahmi ke Gontor, ada yang satu tahun sekali, ada yang dua tahun sekali. Entah sudah berapa kali antum kembali ke Gontor untuk mengobati rasa kangen kepada Ibu, tapi kami yakin bahwa antum memiliki kerinduan yang sangat besar kepada Gontor. Setiap kita memiliki kesan tersendiri terhadap Gontor. Dan semua, memiliki kerinduan yang sama. Kerinduan sholat berjama’ah di Masjid Jami’, kerinduan mendengar Syi’ir Abu Nawas, kerinduan akan bunyi Jaros depan BPPM, kerinduan berkumpul di BPPM, kerinduan Jariyu Shobah, kerinduan akan kegembiraan di hari kamis dan segala macam kerinduan-kerinduan yang lain.

Pesan Kiai Hasan diatas kami coba inisiasi melalui beberapa person, seperti halnya dalam cerita di buku Muthola’ah, untuk agenda besar Blitza Remigion memerlukan sosok “Man yualliqu-l-jaros”. Dan pertemuan di Jakarta pada Sabtu (9/1) lalu merupakan satu momentum langkah awal untuk “Yualliqu-l-jaros”. Tentu dengan terpilihanya  Iqbal dan Arif tidak mungkin kita melepaskan begitu saja kedua kawan kita ini untuk berjuang mensukseskan agenda besar kita tahun ini. Tentu, mereka berdua membutuhkan support dari kita semua.

Alhamdulillah, pertemuan yang diinisiasi dalam waktu singkat ini bahkan bisa dikatakan kita mendapat banyak sekali “bonus”. Beberapa kawan yang hadir dapat bersilaturahmi dengan Kiai Syukri yang kebetulan sedang berada di Jakarta. Di hari Ahad pagi, beberapa dari kami yang masih di Jakarta juga bisa berkesempatan bersilaturahmi dengan Kiai Hasan. Dan di sore harinya, kami juga bisa bersilaturahmi dengan beberapa Musyrif kita, Spinker.

Sangat banyak hal yang kami dapatkan di 2 hari kemarin, bahkan sangat melampaui ekspektasi yang kami harapkan. Insya Allah, setelah terbentuknya Tim Formatur agenda besar Blitza Remigion tahun ini, akan segera pula disusun rentetan agenda untuk menuju pertemuan Blitza Remigion di tahun 2016 ini.