Jantung Gontor itu Bernama Jaros

Written by admin. Posted in artikel

Jaros

“Al Jarosu Qalbul Ma’had”, Lonceng adalah Jantung Pondok, mungkin itu salah satu ungkapan yang sering disebutkan di Gontor. Kenapa? Karena memang semua gerak-gerik dan kegiatan diatur oleh lonceng ini, yang lebih terkenal dengan sebutan Jaros. Suaranya “Teng…klonteng…klonteeeng…”, sampai ada istilah “Pembacaan Tenko” yaitu pembacaan peraturan dan disiplin Gontor setiap awal tahun, Tengko sendiri merupakan singkatan dari Teng Komando, artinya apabila sudah dibacakan Tengko dan Jaros sudah dipukul, maka tidak ada toleransi lagi untuk tidak mengikuti disiplin. Konon, katanya Jaros ini adalah bom zaman Belanda atau zaman Jepang.

Di balik ungkapan Al jarosu Qalbul Ma’had banyak tersimpan rahasia, salah satunya membuat Jaros itu “sakral”, dalam artian banyak Jaros lain yang tersebar di beberapa sudut Pondok, tapi itu hanya jaros “cabang”, sedangkan ini jaros pusat yang terletak di depan Aula Pertemuan dan Masjid Jami. Kalau dulu di kampung suka mukul beduk sembarangan malam Ramadhan untuk bangunin orang sahur, maka Jaros ini hanya authorized bagi sebagian orang saja, antara Ustaz-ustaz Pengasuhan Santri, Bagian Keamanan, ketua-ketua Asrama dan Pengurus Asrama Anak Baru.

Aku sendiri pernah menjadi Ketua Asrama dan Bagian Keamanan, tapi belum pernah memukul jaros itu, pernah sih sekali, itupun salah pukul, aku memukulnya 3 menit sebelum waktunya, apa yang terjadi? Kebetulan waktu itu sedang ujian, Aula Pertemuan dipakai untuk ruang ujian, dan kebetulan salah satu pengawas di Aula adalah ustaz Pengasuhan santri, dia murka dan bisa dipastikan pelakunya akan digundul!

“Man yadhrib jaroooooosss!” teriak ustaz itu, aku yang baru mau naik sepeda, berpakaian rapi selaku bagian Keamanan, “Sef, nte yang pukul jaros? Jam berapa ini? Guoblooook!”, begitu kira-kira teriakan ustaz itu. Kalau aku bukan penghuni Santiniketan Kamar 2, sudah pasti digundul. Itu yang pertama dan terakhir aku memukul jaros. Sebenarnya itu murni salahku, karena di depan Aula ada jam besar sebagai patokan pemukul jaros, tapi aku melihat jam tanganku, ya wajar, jam tanganku selalu 3 menit lebih cepat dari jam normal. Bukan biar cepat bisa buka puasa, tapi kalau aku buat janji pada jam sekian, aku bisa hadir 3 menit lebih cepat.

Apa sih artinya 3 menit lebih cepat? Lagian anak-anak dalam ruang ujian juga sudah kelar dan sudah bosan. Masalahnya bukan itu, tapi ketika jaros pusat berbunyi, semua kegiatan yang seharusnya belum dilakukan, akan dilakukan, dan yang seharusnya sedang dilakukan, harus segera ditinggalkan. Ketidak jelasan dan ketidak teraturan waktu akan merusak tatanan disiplin yang sudah diatur.

Waktu aku kelas 5, masih “terjajah” oleh kelas 6, ada kejadian lucu yang memorable banget bagi kami semua, yaitu kecelakaan jaros yang terjadi pada salah satu “setan berjaket hitam”, saat itu dengan bangganya dia berdiri di depan jaros dan akan memukulnya, “Teng…Klonteng…Klonteng…klutuk awww..”, ternyata besi tengah itu dipegang terlalu tinggi, akhirnya jempolnya yang kena pukul, tak ayal lagi, langsung merah mukanya dan jempolnya bengkak, dan pastinya kukunya copot atau terkelupas. Masih banyak cerita lain di balik jaros itu…

Ustaz Syarif Abadi — Sang Tauladan

Written by admin. Posted in artikel

Ust. Syarif Abadi

Suatu ketika Kyai Hasan Abdullah Sahal pernah berkata, “Kalau Pondoknya lebih terkenal dari Kyainya, maka Kyainya telah berhasil membesarkan Pondoknya”, Hal itu sangat cocok untuk Kyai-kyai Gontor, semua orang tahu Gontor, tetapi sedikit sekali yang tahu Kyai Ahmad Sahal, Kyai Imam Zarkasyi, Kyai Zainuddin Fannanie rahimahumullah.

Sama seperti sosok teladan ustaz Syarif Abadi, salah seorang guru senior di Gontor yang menjadi rujukan ilmu Fiqih 4 mazhab, beliau bukan lulusan universitas ternama di dunia, tetapi para sarjana luar negeri yang saat ini mengajar di Gontor hormat pada beliau, bukan karena senioritas saja, tetapi dedikasi beliau, akhlak beliau, tawadhu beliau, dan pastinya kesederhanaan beliau.

Benar, jangankan di dunia pendidikan nasional, di kalangan santri sendiri ada yang tidak mengenal ustaz Syarif Abadi, hanya namanya saja yang mereka dengar, tapi tidak tahu orangnya, tetapi sekali mengenal beliau dijamin jatuh cinta.

Pernah suatu ketika, salah satu siswa kelas 6 yang akan menjalani ujian “Amaliyah Tadris” mendapat Pembimbing bernama ustaz Syarif Abadi, otomatis dia harus menemui beliau untuk mengajukan konsep amaliyahnya, beliau tinggal di luar komplek Pondok, di kampung sebelah, diseberang sungai Malo. Siswa itupun pergi dengan sepeda Keamanan, karena dia bagian Keamanan.

Kampung sebelah itu indah sekali, setelah melewati sungai Malo, terlihatlah sawah terhampar hijau sejauh mata memandang, dari kejauhan terlihat seorang laki-laki tua dengan pakaian sederhana sedang menggiring kambing-kambingnya.

Karena tidak tahu rumah ustaz Syarif dimana, siswa itu berhenti dan bertanya, “Pak, dimana ya rumah ustaz Syarif Abadi?”, dengan senyum laki-laki tua itu menjawab, “Kamu jalan terus saja, nanti akan ada sebuah gubuk kecil di pinggir sawah, itulah rumahnya, disitu Cuma ada satu rumah, itulah rumahnya”. Diapun melajutkan perjalanannya.

Sampai di depan rumah itu, terlihat sunyi, siswa itu memberanikan diri turun dan memberi salam, tapi tak ada jawaban, setelah 3 kali dia memberi salam sambil melihat-lihat kiri kanan rumah itu, dari kejauhan terdengar jawaban, “Waalaikumsalam…kamu mencari pak Syarif? ini saya Syarif”.

Segera saja dia berbalik ke arah suara, ternyata pemilik suara itu adalah laki-laki tua pengembala kambing. Siswa itu malu sekali, karena tidak mengenal gurunya yang akan menjadi pembimbingnya dalam ijian final Amaliyah Tadris.

Ustaz Syarif Abadi, sosok yang luar biasa, tidak pernah sekalipun terlihat beliau marah. Pada malam ujian, seperti terlihat pada foto itu, beliau dengan motor tuanya keliling pondok melihat anak-anak yang sedang belajar, dan pastinya menanyakan apapun masalah mereka.

Yang membuat beliau istimewa di hati semua alumni Gontor adalah sifat kebapakan beliau, ketulusan, keikhlasan, dan keilmuwannya. Kapanpun dan dimanapun kami berada, nama beliau selalu di hati dan dalam doa.

Tragedi Jaryu Sobah

Written by admin. Posted in artikel

Once upon a time, di Kampung Damai, bahasa arabnya Darussalam, beberapa santri kamar 3 asrama Saudi 1 lantai 1 sedang sholat subuh berjamaah di kamar.

“Assalamualaikum warahmatullah…..”, imam mengucapkan salam sambil menoleh ke kanan, diikuti oleh kawan-kawannya selaku jamaah di belakang. Tidak sempat berzikir, dari jauh kira-kira 5 meter, terdengar suara lemari yang dipukul dengan rotan, “bisur’ah…bisur’ah…” (cepat.. cepat..), Ya, itu suara mudabbir gebrak-gebrak anak-anak di asrama supaya segera bersiap-siap untuk keluar asrama mengikuti muhadtsah dan setelah itu jaryu sobah.

Mudabbir itu kakak kelas, pastinya kelas 5. Muhadtsah itu adalah ritual mingguan, isinya “pemaksaan” dan latihan berbicara bahasa arab atau bahasa inggris, tergantung minggu. Setiap orang mencari pasangannya masing-masing untuk conversation. Kalau jaryu sobah itu, istilah untuk lari pagi. Seminggu diadakan dua kali, lari pagi wajib most-compulsary, gundul hukumannya bagi yang melanggar. Larinya keliling kampung. Kenapa lari pagi wajib? Karena, tidak semua anak-anak santri itu suka olah raga, ada yang suka main basket, ada yang suka main bola, ada juga yang suka main voli, ada juga yang suka nyuci, main music, etc… Untuk yang suka basket atau bola, atau olah fisik sejenis, kebutuhan untuk oleh raga mereka sudah terpenuhi, nah yang jadi masalah buat yang hobinya nyuci, inilah kesempatan mereka mengeluarkan keringat, selain keluar keringat ketika dihukum sama bagian keamanan. Bagi santri di Darussalam itu, badan sehat adalah salah satu panca jiwa.

Setelah habis solat, si Arif langsung ke jemuran, mengambil kaos seragam asrama untuk lari pagi. Kaos “keramat” dicuci sebulan sekali, dipakai seminggu dua kali. Sprint dia lari ke lantai 4, sampai disana, dia bingung, ternyata tinggal hanger, kaosnya sudah raib. Saat itu pula, 1001 alasan muncul dalam kepalanya, “pura-pura sakit, nggak mungkin…sembunyi, pasti bagian olah raga dan keamanan razia ke selokan-selokan….”, akhirnya dia memutuskan untuk sembunyi di tong sampah lantai 5. Untuk sementara aman. Dia harus bertahan sekitar satu jam, paling tidak jaga-jaga supaya Tidak ketauan sama yang razia, karena resikonya gundul, dan gundul itu salah satu kredit yang bisa membuat nya istiqomah di kelas yang sama alias tidak naik kelas tahun depan.

Di saat si Arif bingung di lantai 4, si Anas sudah siap dengan pakaian olah raga, pas mau pakai sepatu olah raga, giliran dia sepatunyapun tinggal sebelah. Karena si Anas adalah asisten perpustakaan utama, dia punya kunci perpustakaan, dan rasanya memang perpustakaan adalah maximum security for ikhtiba, alias tempat sembunyi paling aman, at least dalam taktik persembunyian si Anas, maklum asisten perpustakaan itu 99,99 persen adalah anak-anak lurus, dengan tingkat pelanggaran disiplin 0,99%.

Tanpa pikir panjang, di sela-sela anak-anak berlarian menuju barisan lari pagi per-asrama, si Anas menuju ke arah perpustakaan, gedung Saudi 6 lantai 2. Si Arif pastinya sedang menikmati kebebasannya di tong sampah.

Suara peluit dan yel-yel anak-anak bersaing antar asrama bergemuruh, persis seperti pawai, apalagi mereka memakai kaos seragam berbeda-beda, semua membanggakan kostum dan meneriakkan nama asrama masing-masing.

Dengan santainya si Anas masuk ke perpus, dan memilih reading room sebagai tempat sembunyi. Tidak mungkin dia melewatkan moment indah untuk tidur itu dengan membaca buku, itu mustahil. Dia mengambil beberapa lembar koran, dan tidur di bawah meja.

Dalam hitungan menit, si Anas sudah hilang tenggelam dalam mimpi indahnya, sebelum itu dia membayangkan jam 8 teman-temannya sesama asisten perpustakaan yang sudah lari pagi pasti masuk ke perpus dan membangunnya, karena mereka pasti ngepel perpus, dan setelah itu mereka sama-sama ke dapur umum menikmati nasi pecel dengan satu potong tempe yang sudah berumur 1 juta tahun, tapi sangat nikmat.

Hey…ente, qum..qum… (bangun.. bangun..)”, seorang laki-laki bertampang serem membangunkan si Anas dengan nada keras.

Si Anas terbangun, matanya langsung terbelalak, tulang-tulangnya terasa copot satu persatu, bisa dipastikan keringatnya membasahi baju dalam hitungan detik.

Lima la tatba’ jaryu sobah, limaza tanam huna?”, suara berwibawa dan nakut-nakutin itu bertanya kenapa Anas tidak lari pagi dan kenapa sembunyi di perpus.

Indeed, no any replay dari Anas, dengan sopan dia mencopot papan namanya dan diberikan kepada laki-laki itu. Laki-laki itu adalah kakak kelas 6, dia bagian Keamanan Pusat OPPM. “Khuz fiddiwan”, keamanan itu menyuruhnya untuk mengambil papan nama di kantor keamanan. Kakak kelas 6 itupun pergi. Si Anas ditinggal sendiri di reading room, sambil membayangkan nasib apesnya. Padahal ini adalah pelanggarannya yang pertama selama 3 tahun jadi santri. Memang Allah sayang sama orang baik, sekali melanggar langsung ketahuan, hahaha…

Keamanan adalah pusat disiplin di Darussalam itu, mereka mengatur santri dari kelas 1 sampai kelas 5, mereka memiliki wewenang luar biasa, pastinya mereka sangat ditakuti oleh santri. Hal-hal yang menyeramkan bagi santri kelas 1-5 adalah Keamanan, gedung dan Santiniketan kamar 2, kamar dua itu adalah kantor keamanan pusat.

Papan nama adalah identitas santri, setiap santri wajib memakai papan nama khusus, disitu tertera nama lengkapnya, dari warna papan namanya bisa teridentifikasi kelasnya, misalnya hitam kelas 1, kuning kelas 2 dan seterusnya.

Anas turun dari perpus, santri-santri lain sedang gotong royong, bersih-bersih pesantren. Dengan muramnya, sambil bingung si Anas berjalan menuju gedung santiniketan kamar 2. Yang ada dalam benaknya adalah, dia akan digundul, dan tahun depan istiqomah di kelas yang sama, atau kalau nasibnya baik dia akan pindah ke Gontor 7, di Kendari Sulawesi tenggara, dimana sinyal Telk***el saja tidak sampai kesana, apalagi membayangkan bisa makan enak dan murah seperti di Ponorogo.

“Assalamualaikum..”, si anas memberi salam kepada salah seorang keamanan yang duduk di depan kantor membaca koran.

“Waalaikumsalam…maza turid ya akhi”, keamanan itu bertanya ada perlu apa, sopan sih, cuma nggak senyum.

“Abhas an al akh Maimun….”, nyari kak Maimun, kata Anas.

“Udkhul”. Si Anas disuruh masuk. Diapun masuk, dibukanya pintu sedikit-sedikit, akhirnya kemanan yang namanya Maimun asal Malang itu sudah duduk di sofa, menunggu Anas.

Tanpa banyak tanya, si Anas disodorin black book, dan dia mengisi biodatanya di dalam black book itu. Itu buku isinya catatan hitam tentang santri, sebagai pertimbangan nantinya ketika sidang kenaikan kelas.

Singkat cerita, buku ajaib black book itu memvonis si Anas dengan sentence yang sangat berat, dibandingkan dengan kesalahannya yang cuma nggak ikut lari pagi. Si Anas digundul dan dipajang di depan kantor keamanan.

Si Anas dieksekusi tepat jam 8.15 pagi jumat, gedung santiniketan adalah tempat yang sangat sentral setelah masjid, khususnya untuk rute ke dapur umum. Jam 8 adalah jam macet semacet-macetnya dapur umum, dan pastinya hamper 70 persen dari 4500 santri yang ke dapur umum melewati depan gedung santiniketan.

Bayangkan, betapa terkenalnya si Anas, muka innocentnya dengan kepala plontos dipajang di depan santiniketan, dan di lehernya digantung tulisan dalam bahasa arab, “Jangan ikuti saya, saya tidak ikut lari pagi”. Ribuan santri yang pulang dan pergi ke dapur berhenti, melihat dan membaca apa yang tertulis di papan yang digantung di leher Anas.

Setelah satu jam dijemur, si Anas dipersilahkan kembali ke asramanya. Ketika seseorang kena gundul, bukan saja pikirannya yang tertekan, bagaimana nasibnya tahun depan, tetapi dia juga wajib menutup kepala plontosnya itu sampai rambutnya tumbuh beberapa centi, cara menutupnya adalah dengan memakai peci. Selain itu, dia juga tidak bisa berolah raga kecuali lari pagi, karena olah raga dilarang pakai peci. Jadi, selama peci masih di kepala, dia tidak bisa main bola, main basket dan oleh raga lainnya.

Menikmati suasana Ujian di Gontor

Written by admin. Posted in artikel

“Ujian untuk belajar, bukan belajar untuk ujian”, ungkapan yang selalu didengung-dengungkan setiap menjelang ujian, bahkan banyak baliho dan poster terpampang dimana-mana bertuliskan ungkapan tersebut. Baliho dan Poster tersebut adalah kreasi siswa akhir KMI yang diperbantukan oleh Staff KMI dan Panitia Ujian KMI. Sehingga, setiap tahun kreatifitas santri-santri akhir KMI yang memiliki keahlian menggambar dan melukis salah satunya diaplikasikan dalam pembuatan Baliho dan Poster untuk menambah kehangatan suasana Ujian di Gontor.

Ujian di Gontor bukan saja sebuah event untuk mencari nilai dan kelulusan, tapi juga sebuah pendidikan akhlak dan kejujuran, dimana proses jauh lebih penting daripada hasil, kalaupun tujuan ujian untuk mendapat nilai yang bagus maka proses mencapai itu juga harus bagus. Artinya, kalau lulus dengan cara nyontek atau bawa kepekan, itu bukan sebuah usaha yang hasilnya terhormat.

Kesempatan berbuat curang dalam ujian di Gontor seems to be an impossible mission,  bagaiamana bisa nyontek?, kiri-kanan siswa kelas di atas atau dibawah kita, satu ruang kelas isinya 20 examinee dengan 3 atau 4 pengawas yang “diharamkan” duduk oleh Panitia Ujian KMI. Diluar ruang ujian, panitia ujian wira-wiri setiap 5 menit, apabila dalam kondisi demikian bisa berbuat curang, maka anda sangat luar biasa, cocok menjadi politikus. Kalau ketahuan berbuat curang dalam ujian, dijamin tahun depan pelakunya pasti duduk di kelas yang sama, karena dia akan kena sanksi berupa skorsing 1 tahun ajaran.

Ujian di Gontor bukan saja sebuah event untuk mencari nilai dan kelulusan, tapi juga kesempatan mendekatkan diri pada Allah, karena hanya Allah yang bisa menjaga kesehatan kami, dan dengan kesehatan kami bisa belajar dan mengikuti ujian secara maksimal. Tidak aneh kalau pada masa ujian anak-anak santri merengek-rengek pada Allah dengan berbagai ibadah, mulai dari zikir, sholat sunnah dan puasa, pemandangan yang sangat lazim ketika jam 2 dinihari situasi di Masjid Jami’ kondisinya seperti siang hari, banyak anak-anak qiyamul lail di sudut-suduh masjid dan juga di asrama, bahkan di atas jemuran lantai 6 yang gelap gulita.

Salah satu hal aneh yang sering dilakukan oleh beberapa santri adalah tidak mandi pagi sebelum berangkat ujian, habis subuh langsung siap-siap pakaian sekolah dan siap-siap sarapan, kemudian masuk ujian, tidak semenitpun waktu dibuang-buang untuk hal yang tidak berguna, selalu bersama buku. Kalau ditanya kenapa tidak mandi? Karena mandi itu akan melunturkan ilmu, ilmu akan mengalir bersama air-air yang menetes dan masuk ke selokan. Hahaha…

Sebenarnya bukan ketatnya pengawasan yang membuat anak-anak tidak mau berbuat curang di ujian, tapi karena mereka diajarkan “bangga dengan hasil usaha sendiri meskipun kecil”, itulah yang membuat mereka tidak mau berbuat curang, lulus dengan nilai tinggi, semua orang kagum pada dia, tapi hati kecilnya memberontak “kamu lulus karena curang, apa yang kamu banggakan?”, lebih baik nilai kecil tapi puasa karena itu hasil usaha sendiri.

Makanya di Gontor setelah ujian, para santri hanya menerima selembar kertas berisi nilai, yang disebut Kasyfu Darojah, waktu menerima rapor yang dilihat pertama kali bukan nilai materi ujian tapi nilai paling bawah yaitu suluk alias akhlak, kalau suluk itu nilainya bagus, hidup tenang, meskipun nilai jelek, karena nilai yang tinggi dengan suluk rendah sama dengan kemungkinan naik kelas menurun atau naik kelas dengan pilihan berada di Pondok Cabang. Jangan dikira Wali Santri tidak menerima duplikat Kasyfu Darojah ini. Paniti Ujian KMI Gontor sudah mempersiapkan segala sesuatunya, sehingga duplikasi Kasyfu Darojah tersebut dipastikan akan sampai ke rumah santri dan santriwati Gontor agar para orang tua mereka dapat melihat hasil ujian yang mereka dapatkan. Setelah itu, kertas satu lembar itu jadi bungkus kacang. Bisa jadi.