Meletakkan Nama Suami di Belakang Nama Istri, Bolehkah?

Written by Jauhar Ridloni Marzuq. Posted in artikel

Ada berseliweran timeline yang pada intinya melarang seorang istri menaruh nama suami di belakangnya. Alasannya, hubungan mereka bukan orang tua-anak sehingga tidak boleh dinisbahkan kepada nama sang suami itu. Dan dalam hadis disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Tiada seorangpun yang menisbahkan diri kepada selain bapaknya dengan sengaja melainkan ia menjadi kufur.” (HR Bukhari).

Saya katakan, masalah sejatinya bukan pada dalil, tapi pada pemahaman terhadap dalil. Ini penting. Banyak masalah yang akhir-akhir ini bikin dunia persilatan kacau bukan karena tidak ada dalilnya, tapi karena salah memahami dalilnya.

Yuk, Silatnas bro!

Written by Fahmi Agustian. Posted in artikel, Blitza News

Mungkin ada yang berpikir, kenapa kita bikin pertemuan yang skalanya besar dengan jarak waktu yang terlalu mepet. Ada yang beranggapan; “Baru tahun kemarin kita ngumpul di Ponorogo, kok tahun ini bikin acara lagi di Jogja”. Ada juga yang agak menggugat; “Ini konten Silatnas apa aja? Kalau kita cuma datang ke Silatnas agendanya hanya tajamuk, ndak perlu di Jogja!”. Dan seabrek anggapan lain yang muncul ke permukaan. Tidak ada yang salah dengan argumen-argumen itu, semua orang bebas berpendapat di Negara ini, kan sudah dijamin kebebasannya oleh Undang-Undang?

Ngumpulke balung pisah. Resminya, di agenda marhalah kita itu terdaftar 945 orang, faktanya dalam perjalanan selama 6 tahun sejak tahun 2000, jumlah yang tergabung dalam keluarga besar Blitza Remigion itu lebih dari itu. Mungkin jika didaftari, lebih dari 1000 orang jumlahnya. Dan tahun lalu di Ponorogo, yang datang di acara besar perdana kita belum mencapai sepertiganya. Iya, 300 orang pun belum sampai yang datang. Nah, Silatnas Blitza Remigion tahun ini adalah sebuah acara yang memang digagas untuk menjaring lebih banyak lagi teman-teman Blitza Remigion yang sudah lama terpisah.

Saya sendiri mengakui, bahwa pasca Reuni Blitza di 90 tahun Gontor 2016 lalu, teman-teman di Regional mulai menggeliat dan berkumpul. Mulai akrab lagi satu sama lain, mulai sering berkumpul lagi, bermuwajahah satu sama lain. Saya rasa ini hasil yang positif dari pertemuan di Ponorogo tahun lalu. Beberapa dari kalian mulai berkumpul sesuai dengan pemetaan bidangnya masing-masing. Satu modal awal yang baik untuk bersinergi bersama di masa yang akan datang. Bahkan, saya melihat sudah banyak pula yang mulai merintis sinergi bersama, meskipun skalanya masih sangat kecil.

Mungkin antum ingat salah satu pesan KH Syukri Zarkasyi, bahwa setiap 5 tahun kita harus memiliki pencapaian prestasi untuk mengukur diri kita. Silakan hitung mundur, sejak kita lulus dari Gontor kita saat ini sedang memasuki fase 5 tahun ke-3. Saya sendiri melihat begitu pesat perkembangan teman-teman Blitza Remigion dalam menapaki kariernya masing-masing. Mulai yang terjun ke dunia bisnis hingga akademis. Salam hormat saya buat antum semua. Perjuangan antum dalam mencapai itu semua mulai terlihat hasilnya. Meskipun tidak dipungkiri juga masih banyak yang berada pada fase proses. Setidaknya saya memetakan ada dua wilayah; fighting  dan  survive. Sebagian dari antum saat ini sudah ada yang mencapai titik  survive, titik dimana antum saat ini berjuang mempertahankan kondisi antum saat ini yang mungkin sudah mulai memasuki zona nyaman. Sementara ada juga yang masih berada di titik  fighting, titik dimana antum masih mencari wilayah yang tepat untuk menegaskan hidup antum. Apapun itu, yang namanya hidup penuh dinamika. Kalau orang jawa bilang;  sawang-sinawang.

Blitza Remigion itu bukan sebuah Perusahaan, juga bukan sebuah Partai Politik. Blitza Remigion ini hanya sebuah komunitas non profit. Tetapi, harus saya akui bahwa Blitza Remigion diisi oleh orang-orang berkualitas yang penuh talenta. Beberapa orang yang pernah bertukar pikiran dengan saya berpesan bahwa jangan sampai ikatan keluarga ini hancur tak tersisa, harus segera disinergikan potensinya. Sebuah usulan yang bagi saya sangat positif dan masuk akal. Tentu saja bukan saya sendiri yang melakukannya. Disinilah saya melihat betapa ikatan tanpa darah ini begitu erat terjalin.

Jika ditanya; apa goal dari Silatnas Blitza Remigion kali ini? Saya sendiri tidak bisa menjanjikan apa-apa dari Silatnas kali ini. Panitia pelaksana pun saya yakin juga tidak memiliki jawaban yang memuaskan. Begitu juga dengan Tim 12, bisa jadi jawaban yang mereka kemukakan justru akan mengecewakan antum. Yang bisa saya lakukan hanya ikut mensupport perjuangan teman-teman Panitia lokal di Jogja yang hampir setiap malam mereka berkumpul mempersiapkan acara ini. Mereka yang sangat tulus dan ikhlas, tanpa pamrih apapun telah mengorbankan tenaga, pikiran dan harta mereka. Menyingkirkan ego pribadi mereka demi suksesnya acara besar Blitza Remigion kali ini. Mereka yang sudah berkeluarga, juga punya tanggungan kesibukan lain di tempat mereka bekerja, ternyata mampu dan mau berkorban untuk menyisihkan sebagian tenaga seta pikiran mereka untuk kita. Masa iya kita menutup mata dan cuek? Tega antum?

Maka, dengan ini saya pribadi mengajak antum-antum semua, keluarga besar Blitza Remigion untuk hadir di Silatnas Blitza Remigion 2017 di Jogja yang akan kita selenggarakan beberapa hari lagi. Mari sedikit luangkan waktu kita untuk kembali bersua dengan keluarga kita ini. Beberapa ungkapan yang juga sampai ke telinga saya; ana mafi fulus pek, kaifa difa’ tasyjiluhu bakdin? ana astahi pek, aktsarukum kholas ghoni, kholas sukses, wa ma ana? wa man ana?.

Kalau antum masih memiliki anggapan pesimis seperti itu, sampai hari kiamat pun antum akan tetap merasa inferior. Keluarga besar Blitza Remigion ini tidak dibangun atas azas materi. Kita semua dipersatukan oleh ukhuwah Gontory yang tak lekang oleh zaman.

Akhi, masih ada waktu untuk berkoordinasi dengan temen-temen konsul antum. Sudahlah, singkirkan semua anggapan-anggapan yang tidak perlu. Datanglah ke Jogja hari Jum’at nanti, entah bagaimana cara antum datang ke Jogja, jangan risau dan galau nanti di Jogja bagaimana. Panitia sudah memikirkan semuanya. Kurang enak apa coba? Tinggal datang, ikut kumpul, ketemu dengan yang lainnya. Siapa tau setelah Silatnas Blitza Remigion kali ini, ada peluang bisnis yang bisa antum manfaatkan kedepannya?

Ana tunggu kehadiran antum di Jogja! Endangono dhulurmu, Dab!

Spirit of SPINKER & Spirit of BLITZA

Written by Abu Shofi Shidiq. Posted in artikel, celoteh

“I Live Sepinkerr..! Yo Semuanya; I Love Sepinkerrr..!”

Lagi dan lagi..sambil menepuk dada bangga lagu dan yel-yel ini yang selalu dikumandangkan di setiap perhelatan dari sejak kelas 1 KMI s.d kelas 5 KMI..Para Muharrik Marhalah membius semangat anak-anak didik berpapan nama coklat ini.

Banyak sekali atribut Spinker melekat menjadi asa yang ditransfer secara langsung ataupun tidak langsung oleh Ustadz/Musyrif kami yang memang “betul-betul” berdaulat atas nama SPINKER Generation 598/620 bersama rekan-rekan seliting.

Faktanya, peranakan SPINKER dengan segala pernak perniknya, mulai dari tahun 2000 bagi yang Fashl Adi, dan mulai dari tahun 2002 bagi Fashl Taksifi adalah kesan dan pesan tersendiri yang tak akan terlupakan. Entah mengapa SPINKER senantiasa membangkitkan semangat “kebersamaan dan keharmonisan”. Ada cerita tersendiri yang membuat diri ini tertawa geli atau haru bahkan tersedu-sedu jika mengingatnya, sekalipun merasakan semangat ini hanya di kelas 1 atau 1 tahun kurang sekalipun.

Sejarah pun ditoreh, mereka yang diberi kesempatan sampai menjadi siswa akhir hingga akhirnya secara resmi mendapat penamaan/label BLITZA REMIGION terpilih untuk siswa akhir KMI tahun 2005 (605) atau siswa akhir KMI yang ke 79 (679).

Blitza

Nama BLITZA seperti sebuah euforia bagi siswa akhir saat itu, melanjutkan ruh “kebersamaan dan keharmonisan” yang telah ada sebelumnya, jika dipanjangkan BLITZA adalah “Bil-insijami wal-ma’iyyati nabtaghi mardhotillah”. Sedang REMIGION mempunyai spirit “Reanimated Generation”. Keren sekali, nggeleleng pokoke!

Siswa akhir yang penuh haibah dan muru’ah sekalipun tidak di munazomah almuhim sanah sadisah!. Dari PBR, PBS, yang masih berkepala “cepak jundi”, lalu Panggung Gembira, min lajnah ilaa lajnah ukhro sampai Imtihan Niha-i dan mengabdi. Tak dapat dipungkiri sangat-sangat membekas walau 1 tahun BLITZA REMIGION di masa siswa akhir digembleng untuk senantiasa bersama dan harmonis..lalu apa?

Harapan dan doanya adalah seperti lirik lagu kebersmaan folksong saat kelas 5 KMI dimana Adi dan Taksifi dilebur untuk saling melengkapi “Jika tua nanti kita telah hidup masing-masing..ingatlah hari ini..”. Berlanjut lagu “Bersatu” di Panggung Gembira “Sudah sudahlah lupakan saja semua..kebencian perdengkian..tiada berguna” juga lagu pamungkas berjudul “Hallo” yang laris manis semua adik angkatan mungkin menghafalnya..”Hallo, Hallo…kita selalu satu..selamanya..” aih manisnya kenangan itu.

Namun..siapa yang berhak menyandang spirit SPINKER hingga saat ini ?. Nyatanya, bukan hanya the real SPINKER 620. Si BLITZA 679/605 pun punya hak memiliki spirit itu karena mereka besar di Gontor dibersamai Para Musyrif & Teman-teman sekelas seangkatan, lebih dari itu ada saudara-saudara kita yang mungkin tidak begitu bangga dengan nama BLITZA tapi mereka berhak memiliki spirit SPINKERS di eranya di masanya. Biarlah spirit itu membumi, jangan mengunci diri, meluaslah bahkan lepaskanlah untuk merekat umat ini.

Setuju ataupun tidak setuju inilah kata hati yang lazim bagi para pemersatu. Bawalah spirit SPINKER atau BLITZA ini dalam mewarnai organisasi apapun dimanapun kapanpun, termasuk di keluarga. Dukunglah Banggalah dan Doakanlah sahabat kita dimanapun dan sebagai apapun.

Blitza

Mari Buka fikiran buka tangan dan buka hati..Hancurkan belenggu dan sekat iri apalagi dengki. Sukses yang lalu atau sukses sekarang entah bagaimana masa depan. Biarlah yang lalu atau yang saat ini belum sukses jadi pelajaran..adalah yang paling berharga yakni pengalaman dan perjuangan. Tuhan saja tidak menuntut untuk Sukses, tapi Tuhan meminta kita untuk Berjuang”. Dan Perjuangan belum berakhir kawan..karena hidup adalah perjuangan dan proses belajar tanpa batas.

Ingat Spirit kita bersama!. Spirit itu bukan lain adalah..Spirit Kebersamaan dan keharmonisan.. Mari tularkan ini bukan hanya merebak harumnya ke bapak-bapak angkatan atau anak-anak angkatan tapi UMUM-kan.
BIL-INSIJAMI WAL-MA’IYYATI NABTAGHI MARDHOTILLAH. Dan..Tak lupa bagi sahabat yang telah mendahului kita..lahum Alfaatihah.

Salam BLITZA teriring Doa,
Abu Shofi Shidiq @busovs.

Amaliyatu At Tadris, Micro Teaching ala Gontor

Written by admin. Posted in artikel

Oleh Ust. Rahmatullah Oky

Saya berbincang dengan seorang lulusan S-2 di salah satu universitas di Bandung ini. Beliau bercerita tentang unik dan asyiknya “Micro Teaching” yang beliau alami di bangku kuliah. Mengajar dan diawasi oleh teman-temannya, lalu di evaluasi bersama-sama sebagai bahan bahasan pada saat diskusi nanti. Beliau bercerita berapi-api, karena mungkin menganggap saya belum tahu hal seperti itu.

Sesaat setelah beliau selesai, lalu saya ceritakan pengalaman saya ketika dulu menjalani masa Amaliah Tadris (Praktek Mengajar). Bagimana kita diberi waktu 2,5 hari untuk menghubungi pengajar aslinya untuk bertanya materi apa yang harus diberikan, kemudian membuat persiapan mengajar selengkap-lengkapnya, lalu membawanya dihadapan ustadz pembimbing untuk dikoreksi, lalu diperbaiki lagi, diajukan lagi, setelah ditanda tangani, lalu kita praktekkan apa yang akan kita ajarkan itu di hadapan teman-teman terlebih dahulu, apa yang akan kita sampaikan harus kita tulis lengkap, cara-caranya, pertanyaanya, jawabannya, disiapkan seluruhnya. Dan diusahakan kita tidak membuka persiapan kita ketika mengajar meskipun itu dibolehkan.

Lalu tibalah saat amaliah itu. Saya tunjukkan foto di bawah ini, dia terkejut tak alang kepalang. Dihadapan puluhan Guru senior, dihadapan ratusan teman-teman kelas enam, harus mengajar kelas yang kita sama sekali tidak tahu kemampuannya. Sebab kalau kita ketahuan memberi tahu anggota kelas itu tentang materi ajar kita, otomatis amaliah kita akan hangus dan otomatis pula saya harus mengulang lagi amaliah saya. Ratusan mata itu menatap sang pengajar dengan mimik muka serius, meneliti semua apa yang dia ajarkan, kalau ada satu saja kesalahan akan langsung ditulis sebagai kritik kepadanya. Kawan saya terkejut bukan kepalang, dia bilang kalau saya diminta seperti itu pasti tidak sanggup, dan mungkin harus berfikir ulang untuk praktek mengajar….

Amaliyatu At Tadris

Saya bilang lagi, itu belum selesai…karena setelah itu ada “Darsu An-Naqdi” (Evaluasi Proses Pengajaran) dimana kritik dan kesalahn kita akan dibuka di hadapan para Guru dan teman-teman. Ada 4 kriteria kritik :

1. Thariqah (Cara mengajar) : Karena ini yang terpenting. Mengajar Muthala’ah (Bahasa Arab) jelas beda caranya dengan mengajar Hadits, jelas beda lagi kalau mengajar Khat (menulis Arab). Jadi tidak bisa diambil sama semua. Karena keliru mengambil cara, maka ini fatal. Kita harus mengulang lagi Amaliah Tadris kita. Bahkan kalau kita bertanya “Hari ini tanggal berapa?” sebelum bertanya “Apa Pelajaran kita?” ini sudah masuk kritik “Thariqah” yang besar. Karena murid belum sepenuhnya memberikan perhatian kepada pelajaran, tapi sudah ditanya macam-macam. In bagaimana?? Atau menunjuk santri cuma yang itu-itu saja untuk menjawab pertanyaan. Ini juga salah.

2. Maadah (Materi) : Materi ini meliputi apa isi pengajarannya. Materinya sudah betul atau salah. Kesalahan pada materi ini meliputi kesalahan pemberian kosakata baru, kesalahan memberikan keterangan pelajaran, kesalahan menjawab pertanyan santri, dan beberapa kesalahan materi ajar yang lain. Kalau sampai ada materi yang keliru, maka hukumanyya sama, kita harus mengulang lagi Amaliah Tadris kita.

3. Ahwalu Almudarris (Kepribadian Guru): Apakah Guru suaranya kurang lantang? Apakah Guru berdebar sehingga kelihatan? Apakah Guru mengajar dan jas-nya kotor? Apakah Guru hanya memberi pertanyaan kepada satu orang saja? Apakah Guru membiarkan murid yang tidur? Apakah Guru menghapus papan tulis dengan tangan dan bukan dengan penghapus papan tulis? Apakah wajah Guru tidak tersenyum? Apakah Guru melihat persiapan mengajarnya atau tidak? Apakah Guru mengajar tepat waktu? Apakah Guru memberi pinjaman pena kepada santri yang tidak membawa pena? Apakah guru bisa menjawab pertanyaan siswa diluar pertanyaan yang ada pada lembar persiapannya? Dan setumpuk pertanyaan lain. Ini harus dijawab oleh sang Guru. Tapi ini tidak terlalu fatal.

4. Lughatul Mudarris (Bahasa Guru) : Ini kesalahan yang PASTI dimiliki oleh semua Guru. Jadi tentu saja yang paling banyak adalah pada hal ini. Ini juga bukan kesalahan fatal, karena bisa jadi terpengaruhi oleh dialek masing-masing Guru.

Setelah panjang lebar dia saya beri keterangan tentang apa itu amliha tadris dan bagaimana praketikumnya. Dia kemudian berkata :

“Micro Teaching saya ternyata tidak ada apa-apanya disbanding Amaliyah Tadris sampeyan mas… Kapan ada Amaliyah di Gontor?? Saya harus menyaksikannya…!!”

Sayang. Amaliyah baru saja berlalu…Mungkin tahun depan pak…Semoga kita bisa bertemu lagi…

Sumber