Author Archive

Sofwan Hadikusuma

twitter.com/choe_fn

Kaum Proletar di Pondok Modern Darussalam Gontor

Written by Sofwan Hadikusuma. Posted in artikel

Saya pribadi, ketika mendengar istilah proletar, langsung membayangkan buruh pekerja kasar berpenampilan dekil dengan baju lusuh warna biru sedang bekerja menggali tanah dan memindahkan batu di sebuah pabrik pengolahan logam, diawasi oleh mandor yang selalu siaga (siap-antar-jagal) dan sedia membentak mereka yang terlihat ingin beristirahat karena kelelahan.

Setidaknya itulah gambaran liar di pikiran saya yang mungkin sedikit terpengaruh oleh keadaan kaum pekerja yang digambarkan oleh film-film Hollywood sana. Saya kira keadaan aslinya juga tidak jauh berbeda.

Pengertian proletar (proletariat) seperti yang dimuat KBBI adalah lapisan sosial yg paling rendah, atau golongan buruh, khususnya golongan buruh industri yang tidak mempunyai alat produksi dan hidup dari menjual tenaga. Lebih lanjut tentang proletar dalam laman wikipedia:

Proletariat (dari Latin proles) adalah istilah yang digunakan untuk mengidentifikasikan kelas sosial rendah; anggota kelas tersebut disebut proletarian. Awalnya istilah ini digunakan untuk mendeskripsikan orang tanpa kekayaan; istilah ini biasanya digunakan untuk menghina. Di era Roma Kuno penamaan ini memang sudah ada dan bukan hanya orang tanpa kekayaan saja, melainkan juga kelas terbawah masyarakat tersebut. Hal ini terjadi sampai Karl Marx mengubahnya menjadi istilah sosiologi yang merujuk pada kelas pekerja.

Tak ada gambaran yang meng-enak-kan untuk istilah proletar. Bahkan malah sebaliknya, yang ada adalah gambaran keadaan susah, melarat, tertindas, sakit-sakitan, dll.

Untunglah dewasa ini kehidupan sosial yang dibedakan atas dasar status hidup seseorang sudah tidak berlaku lagi. Tak ada lagi pandangan terhadap sebuah kelompok masyarakat bahwa mereka termasuk golongan proletar yang lalu sah untuk direndahkan, atau dari golongan bangsawan maka harus diperlakukan istimewa. Setidaknya, sudah tidak ada lagi masyarakat yang dipandang berdasarkan kelas-kelas sosialnya.

Meskipun begitu, jangan kaget kalau saya katakan bahwa kaum proletar masih ada dan istilah proletar masih akrab digunakan di kalangan santri Pondok Modern Darussalam Gontor. Benarkah itu? Benar.

Kalau ingin memastikan silahkan bertanya kepada mereka yang pernah mondok di Gontor, atau jika anda adalah alumni Gontor maka mengakulah kalau dulu anda juga adalah seorang proletar, hehehe… (pis brow :D)

Eits, tapi tunggu dulu, jangan samakan gambaran mengenaskan tentang proletar masa lalu dengan kaum proletar yang ada di Gontor. Percayalah, ini hanyalah kesamaan istilah dengan keadaan yang jauh berbeda. Kaum proletar di Gontor adalah kelompok masyarakat santri pondok yang terhormat, bukan sebaliknya.

Istilah proletar di kalangan santri Gontor mengacu pada santri kelas lima atau enam yang tidak menjadi pengurus pada organisasi pelajar. Ada dua organisasi pelajar yang kepengurusannya diserahkan khusus kepada santri kelas lima dan enam, OPPM (Organisasi Pelajar Pondok Modern) dan Gerakan pramuka. Nah, para santri yang kebetulan tidak dipilih menjadi pengurus kedua organisasi tersebut biasanya dikenal dengan sebutan proletar.

Jadi penyebutan istilah proletar bukan karena mereka santri tertindas yang bisa di-bully dan direndahkan. Bahkan lebih spesial lagi, penyematan istilah proletar mengukuhkan status istimewa mereka sebagai penggerak aktivitas non-organisasi pondok yang terpenting, yaitu meramaikan masjid jami’ tercinta. Bravo proletar!

Tulisan Alay Versi Arab

Written by Sofwan Hadikusuma. Posted in artikel

Di Indonesia, tulisan alay biasanya menjelaskan bentuk tulisan seseorang yang ‘luar biasa cetar membahana’ dan ga kayak biasanya. Maksud kayak biasanya di sini ya seperti tulisan yang sedang anda baca ini, alias seperti yang udah diajarkan guru-guru kita di sekolah sejak SD sampe tamat. Serasi dari awal penulisan sampai akhir, pake huruf semua dan ga disusupi sama angka.

Dengan berkembangnya jaman, -berkembang di sini ga tau ukurannya apa, kalo menurut saya sih mungkin dengan bertambahnya usia bumi dan munculnya teknologi yang mempermudah cara dan gaya hidup manusia- berkembang pula cara pikir anak-anak muda kita (ngerasa udah tua coy? hehe) dalam ungkapan yang ingin disampaikan melalui tulisan. Mereka menjadi sedikit lebih kreatif plus lebih ingin dipahami. Maksud lebih kreatif di sini karna mereka berani untuk menjebol batas aturan baku menulis yang selama ini menjadi pegangan manusia normal pada umumnya, yang mana mereka tak berani memasukkan unsur angka pada tulisan mereka. Dengan jiwa muda yang berkobar dalam diri anak-anak muda ini, mereka berani melepaskan diri dari hal-hal yang mengekang, untuk lalu menambahkan unsur angka pada gaya tulisan mereka. Yah, mudah-mudahan itu bisa dikatakan kreatif lah in syaAllah menurut mereka.

Begitulah, dan saya yakin kita semua sudah tau bagaimana hasil kreatifitas anak-anak muda kita itu. Tapi biar lebih ‘maknyus’ (minjem kata-katanya pak Bondan), saya coba untuk memperlihatkan bagaimana tulisan itu kepada anda. Namun mohon berhati-hati, karna saya akan memperingatkan terlebih dahulu bahwa tulisan alay ini banyak mempunyai efek samping, dan diharap bagi yang tidak sanggup untuk melanjutkan melihat tulisan ini agar melambaikan tangannya ke arah kamera yang ada di sana, di sana dan di sana. *sambil nunjuk arah kamera*.

Ini dia contohnya:

aku*

k4l4u 54MP41 w4KtuKu
‘Ku m4u TaK 53Or4n6 kan m3R4yu
t1d4k ju64 k4U

T4k perlu SeDu 53d4n 1tU

4kU iN1 b1n4taN6 jAlAn6
dari kuMPuL4nny4 T3rbU4N6

b14r PELurU m3n3mbu5 kul1tku
4ku t3t4p m3rad4N6 m3n3RJ4n6

lUk4 Dan Bi54 kub4W4 b3RLar1
bErl4r1
hIn664 h1l4Ng p3D1h P3rI

d4n 4ku 4k4n l3b1h TId4k P3rdul1

4ku m4u hidup 53r1Bu t4hun la6I

*Diadaptasi dari puisi karya Khairil Anwar (Buat para pengagum puisi-puisinya jangan marah ye, cuma buat contoh aja kok #peace :D)

Nah, kalo secara sederhana ukuran tulisan alay adalah tulisan yang nyampur-nyampur antara huruf dan angka, maka bukan cuma orang Indonesia aja lho yang kreatif begitu, orang Mesir atau mungkin orang Arab pada umumnya ternyata juga kreatif seperti anak-anak muda kita.

Hah, enelan kamu? ciyus? miapah? (Jangan meniru adegan tulisan di samping O-O)

Sebagaimana yang sedikit saya perhatikan ketika sesama orang arab lagi ngomenin sesuatu atau lagi ‘chatingan’, mereka tidak selalu menulis dengan huruf hijaiyah seperti biasanya, tapi kadang juga menggunakan huruf latin yang dikombinasikan dengan huruf hijaiyah dan angka. Contohnya seperti ini:

wana bein edaik me7taga eih?
feh 7aga akbar men keda
w ana 3omri kont a7lam fe youm a3ish 7ayah bel shakl da*

*Dari lirik lagunya mbak Nancy Ajram yang judulnya “wana bein eidak”.

Sedikit penjelasannya, jadi angka 7 itu sebagai ganti dari huruf ha “ح”, dan angka 3 sebagai ganti huruf ‘ain “ع”.

Bener kan, ternyata virus tulisan alay ga hanya ada di Indonesia, tapi juga udah nyebar ke Arab, hehe. Tapi meskipun begitu, ada sedikit perbedaan antara keduanya. Kalo tulisan alay versi arab, sejatinya ditujukan untuk mempermudah mereka ketika harus menulis cepat dibanding jika menulis dengan huruf hijaiyah. Beda lagi kalo tulisan alay versi pribumi yang malah ga punya tujuan. Udah ga punya tujuan, bahkan malah mempersulit orang untuk membaca apalagi memahaminya. Untung aja tulisan itu hanya dipakai ketika nulis status di media sosial atau pas lagi ngirim sms ke sesama, coba mereka pake itu juga buat nulis skripsi, bisa-bisa meteorid yang kemaren jatuh ke Rusia nyuruh temennya untuk jatuh di Indonesia, hehe.. Jangan lah, mudah-mudah hal itu ga terjadi. 🙂

PROFESI GURU PONDOK MODERN

Written by Sofwan Hadikusuma. Posted in artikel

Oleh : Sofwah Hadi Kusuma | Email | Blog

Disampaikan oleh: KH. Atim Husnan, B.A.
Pada penataran guru baru Kulliyyatul Mu’allimin al-Islamiyyah
Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo

A. PROFESI GURU PONDOK MODERN

Guru harus profesional untuk melaksanakan tugasnya. Tidak hanya sekedar melaksanakan intruksi atau perintah pimpinan atau direktur, tetapi harus merupakan keterpanggilan dirinya untuk melaksanakan tugas suci ini.