Author Archive

Meletakkan Nama Suami di Belakang Nama Istri, Bolehkah?

Written by Jauhar Ridloni Marzuq. Posted in artikel

Ada berseliweran timeline yang pada intinya melarang seorang istri menaruh nama suami di belakangnya. Alasannya, hubungan mereka bukan orang tua-anak sehingga tidak boleh dinisbahkan kepada nama sang suami itu. Dan dalam hadis disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Tiada seorangpun yang menisbahkan diri kepada selain bapaknya dengan sengaja melainkan ia menjadi kufur.” (HR Bukhari).

Saya katakan, masalah sejatinya bukan pada dalil, tapi pada pemahaman terhadap dalil. Ini penting. Banyak masalah yang akhir-akhir ini bikin dunia persilatan kacau bukan karena tidak ada dalilnya, tapi karena salah memahami dalilnya.

Perbedaan Sikap

Written by Jauhar Ridloni Marzuq. Posted in artikel

Dunia ini adalah tempat perbedaan. Allah menciptakan manusia dengan watak dan sifat yang berbeda-beda. Dalam Ilmu Fikih, kita biasa mengenal istilah Syadaa’id Ibnu Umar (ketegasan Ibnu Umar) dan Rukhas Ibnu Abbas (kelonggaran Ibnu Abbas).

Ibnu Umar RA terkenal ketat dalam menjalankan ajaran-ajaran agama, sementara Ibnu Abbas RA terkenal longgar. Dalam perkara yang membatalkan wudhu, misalnya, Ibnu Umar RA berpendapat sentuhan kulit antara perempuan dan lelaki yang bukan mahram membatalkan wudhu, baik dengan syahwat ataupun tidak. Sementara Ibnu Abbas RA berpendapat ia tidak membatalkan wudhu, bahkan meskipun diikuti dengan syahwat.

Dalam ibadah haji, Ibnu Ummar RA rela berdesak-desakan untuk mencium Hajar Aswad, sementara Ibnu Abbas RA cukup dengan melambaikan tangan dari jauh. Ketika ditanya, Ibnu Umar RA bilang, “Hati ini seperti ditarik untuk menciumnya, meskipun harus berdesak-desakan”. Sementara Ibnu Abbas RA bilang, “Tidak harus berdesak-desakan. Tidak boleh menyakiti dan disakiti.”

Bukan hanya para Sahabat muda Rasulullah, para pembesar sahabat juga memiliki kecondongan masing-masing. Ketika Rasulullah SAW meminta pendapat tentang tawanan perang Badar, Abu Bakar RA bilang: “Rasulullah, para tawanan itu banyak dari keluarga dan sanak saudara kita. Lepaskanlah saja biar mereka membayar tebusan, dan uangnya kita gunakan untuk keperluan kaum Muslimin.”

Sementara Umar bin Khattab RA bilang, “Jangan lepaskan mereka, Ya Rasulullah. Kita harus memberi pelajaran kepada kaum Musyikirin. Berikan si A kepada saya, dan si B kepada Ali, dan di C kepada Ustman, biar kami penggal leher mereka.”

Bukan hanya para Sahabat, para Nabi dan Rasul juga tidak sama pembawaanya. Nabi Nuh AS, ketika melihat kaumnya ingkar, beliau berdoa kepada Allah “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara kaum Kafir itu tinggal di atas bumi (alias hancurkanlah mereka semua).” Sementara Nabi Isa AS berdoa, “Jika Engkau akan mengazab mereka (dan itu adalah hak-Mu), maka sesungguhnya mereka adalah hamba-Mu, namun jika Egkau memaafkan mereka, maka sesungguhnya Engkau maha perkasa lagi maha bijaksana.”

Bahkan mereka yang lahir dari bapak dan ibu yang sama, di tempat yang sama, pada masa yang sama, bisa juga berbeda perangainya.

Lihatlah Hasan dan Husein radhiyallahu ‘anhuma. Keduanya sama-sama lahir dari Ali bin Abi Thalib dan Fatimah, sama-sama cucu Nabi, tapi pembawaan keduanya seperti bertolak belakang. Hasan RA terkenal kalem dan suka mengalah, Husein RA tegas dan berapi-api. Husein RA, meskipun memiliki hak baiat untuk menjadi khalifah, beliau rela mundur demi kemashlahatan kaum Muslimin dan menyerahkannya kepada Muawiyah. Sementara Husein RA, yang belum mendapatkan baiat setelah kematian Muawiyah RA, justru keluar dari kepamimpinan Yazid dan ingin membuat khilafah tandingan di Kufah.

Intinya apa? Intinya itulah manusia. Kita diciptakan dengan begitu banyak keragaman dan perbedaan. Masalahnya bukan pada perbedaan, tapi bagaimana kita menyikapi perbedaan.

GRAND SYEKH AHMAD TAYYIB: ANTARA PENCINTA DAN PENCELA

Written by Jauhar Ridloni Marzuq. Posted in artikel

Grand Syeikh Al Azhar

Syekh Yusuf Al-Qaradhawi pernah menulis buku judulnya “الإمام الغزالي بين مادحيه وناقديه” yang kalau diterjemahkan beraarti “Imam Ghazali: antara Pemujanya dan Pengritiknya”.

Untuk apa buku itu ditulis, padahal buku tentang biografi Imam Ghazali sudah sangat banyak dan bertebaran?

Jawabannya, buku ini bukan sekedar menulis biografi Imam Ghazali, tapi juga ingin menempuh jalan tengah dalam membaca biografi dan pemikiran seorang Imam yang disebut oleh Syekh Mustafa Maraghi sebagai “إنه جملة رجال في رجل واحد” alias “satu orang yang sebanding dengan kumpulan banyak orang” itu. Ada sebagian orang cinta berlebihan kepada Imam Ghazali sehingga bukunya Ihya Ulumuddin, misalnya, dianggap dan diposisikan hampir seperti Al-Qur’an. Sementara di sisi lain, ada golongan yang menganggap buku-buku Imam Ghazali layak dilemparkan ke dalam api neraka.

Membaca pro-kontra tentang kedatangan Syekh Azhar di Indonesia beberapa hari ini, saya teringat dengan buku Syekh Al-Qaradhawi di atas. Seakan menjadi ‘takdirnya’ orang-orang besar, pasti ada pencinta dan pencela; ada pemuja dan pengkritik.
وهو شأن كثير من العظماء في التاريخ
“Itu adalah kondisi yang dialami oleh banyak besar dalam perjalanan sejarah manusia,” kata Syekh Al-Qaradhawi.

Pro kontra tentang pemikiran Syekh Ahmad Tayyib, tidak lain, menujukkan keagungan posisi sosok yang bermanhab Maliki ini.

Tapi saya juga teringat perkataan Imam Ali bin Abi Thalib yang menceritakan tentang dirinya sendiri, ketika beliau berkata:
هَلَكَ فِيَّ رَجُلاَنِ: مُحِبٌّ غَالٍ وَ مُبْغِضٌ قَالٍ.
“Telah hancur dua orang (golongan) karenaku: yaitu mereka yang mencitaiku melebihi batas, dan yang membenciku berlebihan.”

Ya, mungkin sudah menjadi takdirnya orang-orang besar, apa yang dikatakan oleh Imam Ali tersebut seakan terjadi juga pada Grand Syekh Ahmad Tayyib.

Di satu sisi, ada pecinta yang berlebihan sehingga apa saja yang dikatakan Syekh Ahmad Tayyib dibela dan diperjuangkan mati-matian. Siapa yang mengkritik Syekh Tayyib, tidak sependapat dengan beliau, atau yang menolak pemikiran beliau, akan siap mendapatkan serangan “nuklir” dari kelompok ini.

Sementara di sisi lain, ada juga orang yang bencinya minta ampun terhadap sang Grand Syekh. Setiap perkataan Syekh Tayyib selalu dicari celah kekurangannya. Perkataan yang sebenarnya baik pun, dinukil dengan tidak lengkap sehingga terkesan jelek.

Contoh paling anyar, pidato Syekh Tayyib panjang lebar tentang persatuan umat Islam, penindasan terhadap umat Islam, kemoderatan Islam, nilai-nilai kasih sayang dalam Islam, pengharum LGBT, dan lain-lain, semua itu tenggelam, dan yang dimunculkan malah pandangan beliau tentang Syiah. Yang tentang Syiah itupun dipotong-potong dan tidak dipahami secara utuh. Kenapa menonjolkan pandangan beliau tentang Syiah dan tidak tentang LGBT, misalnya?

Jadilah perbincangan tentang Syekh Tayyib bertebaran di mana-mana. Yang mengkritik keterlaluan, yang membela juga kelewatan. Sama-sama ekstrem. Seperti Imam Ali tadi, Syekh Tayyib diperburuk oleh dua orang: yang membela dengan membabi-buta, dan yang mencela dengan membabi buta.

Kalau saya pribadi, saya sering tidak setuju dengan sikap atau mauqif Syekh Tayyib dalam masalah percaturan politik, terutama politik dalam negeri Mesir. Saya sering terlibat diskusi dan debat dengan mahasiswa Al-Azhar tentang sikap politik Syekh Tayyib. Tapi itu dalam hal sikap politik beliau. Dalam pemikiran-pemikiran keagamaan, seperti penafsiran asma’ sifat, hukum cadar, hukuman bagi murtad, definisi jihad, posisi Syiah, LGBT, dan lain-lain, saya banyak mengikuti pandangan beliau. Saya suka mendengar ceramah-ceramah beliau tentang Asya’irah di YouTube.

Sempat dua tahun saya mengalami secara langsung bagaimana Syekh Tayyib memimpin institusi Al-Azhar (dari 2010-2012). Di tahun-tahun itu, saya mendapatkan Syekh Tayyib benar-benar rapi dalam masalah administrasi dan birokrasi. Kebobrokan administrasi dan birokrasi di masa Syekh Azhar sebelumnya beliau rombak total. Beliau juga sangat peduli dengan mahasiswa-mahasiswa asing, sehingga jumlah beasiswa mereka ditambah, dapur umum direnovasi, asrama-asrama baru dibangun, fasilitas-fasilitas dan lapangan olahraga dinaiktarafkan. Pertama kali saya datang, tahun 2008, beasiswa saya dari Al-Azhar cuma 90 pounds; dan terakhir saya dengar ketika ke Mesir bulan lalu, tahun ini beasiswa dari Al-Azhar sudah 500 punds lebih.

Selain sangat administratif, dalam pandangan saya, Syekh Tayyib juga sosok yang santun. Saya hampir tidak pernah menemukan tulisan atau bahkan buku beliau yang mencela/menghujat ulama fulan, atau membantah ulama fulan yang mencela dirinya. Syekh Tayyib paham banyak orang yang mengritiknya secara membabi-buta, tapi beliau tetap menggapainya dengan kalem dan lembut.

Begitulah saya melihat sosok Syekh Tayyib. Meski tidak setuju dengan sikap politiknya, saya tetap mencintai Syekh Tayyib sebagai seorang ulama, guru, pemuka agama, dan Grand Syekh Azhar. Hanya saja, banyak orang yang gagal paham, sehingga berbeda pendangan otomatis dianggap benci. Biarkan saja.

Menyikapi sosok dan pemikiran Syekh Tayyib ini kita juga harus seimbang, seperti keseimbangan (wasathiyah) yang selalu beliau ajarkan. Anda yang membenci beliau jangan menutup mata dengan kebaikan-kebaikan beliau. Dan Anda yang mencintai beliau secara membabi buta, jangan kira itu baik buat Syekb Tayyib. Justru itu merugikan beliau. Apalagi jika pembelaan itu dilakukan dengan celaan, hinaan, makian, atau kata-kata kotor terhadap orang yang berbeda pandangan dengan Syekh Tayyib. Anda mengaku cinta kepada Syekh Tayyib, tirulah perangai Syekh yang tetap kalem dan santun menghadapi para pembenci dan pencelanya. Wallahualam.

(Photo; Dari Fan Page resmi Al Azhar University)

Memilih Pemimpin

Written by Jauhar Ridloni Marzuq. Posted in artikel

pilkada-bersih-pemimpin-bersihPemimpin adalah unsur penting dalam suatu masyarakat. Baik atau buruknya kualitas suatu masyarakat, sangat ditentukan oleh kualitas pemipinnya. Sebagai agama yang bertujuan membawa manusia kepada kehidupan yang baik di dunia dan akhirat, Islam sangat memperhatikan masalah kepemimpinan.

Jangankan dalam suatu negara, dalam satu kumpulan kecil pun Rasulullah SAW mewajibkan adanya pemimpin. “Tidaklah dihalalkan bagi tiga orang yang dalam suatu perjalanan, kecuali mereka memilih salah satu di antara mereka untuk dijadikan pemimpin.” (HR Ahmad).

Kepemimpinan adalah tugas yang berat. Di pundak seorang pemimpin tergadaikan nasib jutaan manusia. Karena itu, kita tidak bisa memberikan amanat ini kepada sembarang orang. Ketika suatu hari Abu Dzar Al-Ghifari datang kepada Rasulullah SAW bertanya kepada beliau tidak menjadikannya sebagai salah satu piminan?