Author Archive

Fahmi Agustian

Pemuda yang ketlingsut di keramaian ibukota Indonesia.
follow me on twitter @FahmiAgustian

http://fahmiagustian.com

Yuk, Silatnas bro!

Written by Fahmi Agustian. Posted in artikel, Blitza News

Mungkin ada yang berpikir, kenapa kita bikin pertemuan yang skalanya besar dengan jarak waktu yang terlalu mepet. Ada yang beranggapan; “Baru tahun kemarin kita ngumpul di Ponorogo, kok tahun ini bikin acara lagi di Jogja”. Ada juga yang agak menggugat; “Ini konten Silatnas apa aja? Kalau kita cuma datang ke Silatnas agendanya hanya tajamuk, ndak perlu di Jogja!”. Dan seabrek anggapan lain yang muncul ke permukaan. Tidak ada yang salah dengan argumen-argumen itu, semua orang bebas berpendapat di Negara ini, kan sudah dijamin kebebasannya oleh Undang-Undang?

Ngumpulke balung pisah. Resminya, di agenda marhalah kita itu terdaftar 945 orang, faktanya dalam perjalanan selama 6 tahun sejak tahun 2000, jumlah yang tergabung dalam keluarga besar Blitza Remigion itu lebih dari itu. Mungkin jika didaftari, lebih dari 1000 orang jumlahnya. Dan tahun lalu di Ponorogo, yang datang di acara besar perdana kita belum mencapai sepertiganya. Iya, 300 orang pun belum sampai yang datang. Nah, Silatnas Blitza Remigion tahun ini adalah sebuah acara yang memang digagas untuk menjaring lebih banyak lagi teman-teman Blitza Remigion yang sudah lama terpisah.

Saya sendiri mengakui, bahwa pasca Reuni Blitza di 90 tahun Gontor 2016 lalu, teman-teman di Regional mulai menggeliat dan berkumpul. Mulai akrab lagi satu sama lain, mulai sering berkumpul lagi, bermuwajahah satu sama lain. Saya rasa ini hasil yang positif dari pertemuan di Ponorogo tahun lalu. Beberapa dari kalian mulai berkumpul sesuai dengan pemetaan bidangnya masing-masing. Satu modal awal yang baik untuk bersinergi bersama di masa yang akan datang. Bahkan, saya melihat sudah banyak pula yang mulai merintis sinergi bersama, meskipun skalanya masih sangat kecil.

Mungkin antum ingat salah satu pesan KH Syukri Zarkasyi, bahwa setiap 5 tahun kita harus memiliki pencapaian prestasi untuk mengukur diri kita. Silakan hitung mundur, sejak kita lulus dari Gontor kita saat ini sedang memasuki fase 5 tahun ke-3. Saya sendiri melihat begitu pesat perkembangan teman-teman Blitza Remigion dalam menapaki kariernya masing-masing. Mulai yang terjun ke dunia bisnis hingga akademis. Salam hormat saya buat antum semua. Perjuangan antum dalam mencapai itu semua mulai terlihat hasilnya. Meskipun tidak dipungkiri juga masih banyak yang berada pada fase proses. Setidaknya saya memetakan ada dua wilayah; fighting  dan  survive. Sebagian dari antum saat ini sudah ada yang mencapai titik  survive, titik dimana antum saat ini berjuang mempertahankan kondisi antum saat ini yang mungkin sudah mulai memasuki zona nyaman. Sementara ada juga yang masih berada di titik  fighting, titik dimana antum masih mencari wilayah yang tepat untuk menegaskan hidup antum. Apapun itu, yang namanya hidup penuh dinamika. Kalau orang jawa bilang;  sawang-sinawang.

Blitza Remigion itu bukan sebuah Perusahaan, juga bukan sebuah Partai Politik. Blitza Remigion ini hanya sebuah komunitas non profit. Tetapi, harus saya akui bahwa Blitza Remigion diisi oleh orang-orang berkualitas yang penuh talenta. Beberapa orang yang pernah bertukar pikiran dengan saya berpesan bahwa jangan sampai ikatan keluarga ini hancur tak tersisa, harus segera disinergikan potensinya. Sebuah usulan yang bagi saya sangat positif dan masuk akal. Tentu saja bukan saya sendiri yang melakukannya. Disinilah saya melihat betapa ikatan tanpa darah ini begitu erat terjalin.

Jika ditanya; apa goal dari Silatnas Blitza Remigion kali ini? Saya sendiri tidak bisa menjanjikan apa-apa dari Silatnas kali ini. Panitia pelaksana pun saya yakin juga tidak memiliki jawaban yang memuaskan. Begitu juga dengan Tim 12, bisa jadi jawaban yang mereka kemukakan justru akan mengecewakan antum. Yang bisa saya lakukan hanya ikut mensupport perjuangan teman-teman Panitia lokal di Jogja yang hampir setiap malam mereka berkumpul mempersiapkan acara ini. Mereka yang sangat tulus dan ikhlas, tanpa pamrih apapun telah mengorbankan tenaga, pikiran dan harta mereka. Menyingkirkan ego pribadi mereka demi suksesnya acara besar Blitza Remigion kali ini. Mereka yang sudah berkeluarga, juga punya tanggungan kesibukan lain di tempat mereka bekerja, ternyata mampu dan mau berkorban untuk menyisihkan sebagian tenaga seta pikiran mereka untuk kita. Masa iya kita menutup mata dan cuek? Tega antum?

Maka, dengan ini saya pribadi mengajak antum-antum semua, keluarga besar Blitza Remigion untuk hadir di Silatnas Blitza Remigion 2017 di Jogja yang akan kita selenggarakan beberapa hari lagi. Mari sedikit luangkan waktu kita untuk kembali bersua dengan keluarga kita ini. Beberapa ungkapan yang juga sampai ke telinga saya; ana mafi fulus pek, kaifa difa’ tasyjiluhu bakdin? ana astahi pek, aktsarukum kholas ghoni, kholas sukses, wa ma ana? wa man ana?.

Kalau antum masih memiliki anggapan pesimis seperti itu, sampai hari kiamat pun antum akan tetap merasa inferior. Keluarga besar Blitza Remigion ini tidak dibangun atas azas materi. Kita semua dipersatukan oleh ukhuwah Gontory yang tak lekang oleh zaman.

Akhi, masih ada waktu untuk berkoordinasi dengan temen-temen konsul antum. Sudahlah, singkirkan semua anggapan-anggapan yang tidak perlu. Datanglah ke Jogja hari Jum’at nanti, entah bagaimana cara antum datang ke Jogja, jangan risau dan galau nanti di Jogja bagaimana. Panitia sudah memikirkan semuanya. Kurang enak apa coba? Tinggal datang, ikut kumpul, ketemu dengan yang lainnya. Siapa tau setelah Silatnas Blitza Remigion kali ini, ada peluang bisnis yang bisa antum manfaatkan kedepannya?

Ana tunggu kehadiran antum di Jogja! Endangono dhulurmu, Dab!

Keluarga itu bernama : Blitza Remigion

Written by Fahmi Agustian. Posted in Agenda, celoteh

Masihkah kalian ingat kapan tanggal pertama kali kalian resmi menjadi santri di Gontor? Masihkah kalian ingat berapa nomor stambuk kalian? Masihkah kalian ingat berapa nilai Ujian Awal Tahun pertama kali kalian dapatkan? Masihkah kalian ingat kapan pertama kali kalian menerima kiriman wesel dari orang tua kalian? Masihkah kalian ingat setoran hafalan apa yang pertama kalian setorkan kepada wali kelas kalian dulu? Mungkin itu pertanyaan-pertanyaan yang agak susah dijawab. Tetapi jika ada pertanyaan; Masihkah kalian ingat teman sebelah lemari kalian? Masihkah kalian ingat teman sebangku kalian? Masihkah kalian ingat teman firqoh, teman konsul, teman POT, dan sekian banyak lagi klasifikasi teman ketika di Gontor, pasti dengan mudah kalian akan ingat nama-nama mereka, bahkan hafal semua peristiwa-peristiwa yang kalian lalui, bahkan sampai hal yang paling konyol sekalipun, akan lebih mudah kalian ingat bukan?

Saya yakin, tidak satupun dari kita di Blitza Remigion menghafal semua teman-teman yang totalnya lebih dari 940 orang, berdasarkan daftar yang tercatat secara administrasi di Agenda marhalah kita. Dan saya juga yakin, kalian justru mengingat teman-teman kita yang tidak terdaftar di Agenda marhalah itu. Ada banyak dari mereka yang harus berpisah dengan kita karena satu dan lain hal, sehingga tidak bisa bersama-sama kita sampai yudisium tanggal 11 Ramadhan 1426 H saat itu. Silahkan mulai perlahan daftari satu per satu teman-teman kita yang ternyata dulu tidak kita lihat namanya di Agenda marhalah ketika kita lulus kelas VI KMI, saya sendiri mendaftarinya dan setidaknya lebih dari 10 nama yang muncul.

Ya, secara administratif yang tercatat di KMI, sejumlah 945 orang yang tercatat sebagai siswa kelas VI KMI tahun 2005 saat itu. Tetapi, Blitza Remigion dimata saya bukanlah sebuah lembaga yang saklek dengan aturan administratif seperti itu. Sehingga, seperti yang sudah tertulis di grup facebook Blitza Remigion, bahwa yang pernah bersama-sama dengan kita mulai dari Calon Pelajar hingga angkatan KMI Gontor tahun 2005 itu resmi lulus dari Gontor, itulah Blitza Remigion. Dan jika dikerucutkan lagi, nama Blitza Remigion itupun sebenarnya hanya identitas saja yang kita sepakati bersama, kesepakatan itu agar memudahkan orang lain untuk mengidentifikasi kita. Tidak jauh berbeda peristiwanya dengan ketika orang tua kita memberi nama kepada kita.

Tentu ada banyak sekali kisah perjalanan dan dinamika kehidupan yang kita alami di Pondok dulu. Mulai dari tertawa bersama hingga menangis bersama, momen-momen yang terkadang bisa membuat kita juga kembali tertawa ketika kita mengingatnya. Itulah kenangan kita. Mahkamah ba’da maghrib, Ilqo Mufrodat, Jaryu Shobah dan seabrek agenda rutin setiap hari kita alami. Event-event besar tahunan mulai dari Folk Song, Drama Kontes, Lomba Pidato, Porseni, Drama Arena, KMD, Panggung Gembira hingga Khataman, memiliki tempat tersendiri di hati kita.

Hari ini, sudah 10 tahun lebih kita dinyatakan lulus dari KMI Gontor. Ketika ada usulan untuk mengumpulkan teman-teman Blitza Remigion di acara 90 tahun Gontor, saya sendiri sangat antusias. Tentu bukan hanya karena nanti kita akan ngumpul saja, tetapi sudah pasti yang akan kita rasakan pada hari itu nantinya akan sangat berkesan. Kita akan bertemu lagi satu sama lain dengan tampilan fisik yang jelas berbeda dengan ketika kita masih di pondok dulu. Kita akan melihat teman-teman kita sudah ada yang menjadi Kiai di pondok, ada yang menjadi pengusaha, ada yang menjadi guru, ada yang menjadi pedagang dan masih banyak lagi profesi-profesi yang sudah digeluti oleh teman-teman kita. Ada yang sudah menikah, ada yang sudah punya anak, ada yang sudah dua kali menikah, dan tentunya ada yang masih seperti saya; belum menikah. (ane yakin banyak yang ketawa ini… Gembel!!!).

Tapi, apapun itu dinamika kehidupan kita masing-masing, satu yang pasti; kita adalah KELUARGA. Ya, kita ini keluarga, bagi saya Blitza Remigion bukan hanya sebatas nama angkatan 2005. Kalian boleh tidak setuju dengan persepsi saya ini. Tetapi, izinkan saya untuk bercerita. Sekitar tahun 2009, saat itu meskipun internet sudah masuk ke Indonesia tetapi tidak semudah hari ini aksesnya. Saya ingat sekali saat itu di Indonesia mulai ramai orang-orang membuat akun Facebook yang kemudian disusul kemudian Twitter. Sejujurnya, saya sebelumnya tidak begitu aktif di dunia maya karena memang saat itu selain keterbatasan saya karena belum punya komputer dan biaya akses internet belum mampu saya jangkau seperti hari ini, juga mobile gadget tidak seperti hari ini perkembangannya, saya tidak begitu familiar dengan Yahoo Messenger, Milis atau media sosial zaman itu yang cukup booming; firendster. Saya tidak begitu aktif saat itu.

Barulah ketika tahun 2009, ketika orang mulai menggunakan Facebook kemudian saya mulai melacak satu per satu teman-teman Blitza Remigion melalui Facebook. Saat itu, saya kemudian akhirnya tahu bahwa mayoritas dari kita melanjutkan kuliah di Mesir dan di Yogyakarta. Singkat kata, akhirnya saya sendiri yang berinisiatif membuat Grup Facebook dan Fan Page Blitza Remigion di Facebook. Sebagai informasi, Grup Facebook yang sekarang ini adalah Grup yang dibuat oleh Nidauddin, sedangkan Grup yang saya buat pada saat itu akhirnya saya putuskan untuk saya hapus karena di Grup Facebook yang dibuat oleh Nidauddin ini ternyata lebih banyak teman-teman Blitza Remigion yang terjaring. Sementara Fan Page Facebook tetap saya aktifkan, hingga hari ini. Dan kita juga memiliki akun Twitter; @BlitzaRemigion.

Kemudian, melalui percakapan di dunia maya dengan beberapa teman, akhirnya disepakati untuk membeli domain http://www.blitza679.com. Arqom dan Nasrul yang terlibat di awal-awal pembuatan website marhalah ini. Tepat pada tahun 2011 bulan Oktober, domain itu resmi dibeli, Nasrul yang mengurus teknis pembelian domain dan hostingnya, sementara Arqom yang bertugas untuk membangun desain website itu. Sementara saya, ya saya sampai hari ini hanya bisa bertugas sebagai provokator saja.

Kenapa nggak pakai blitza saja? Kenapa kok harus ada angka 679. Kami saat itu hanya berfikiran teknis secepat mungkin. Domain blitza[dot]com sudah dimiliki oleh orang lain, dan dihargai dengan harga yang tidak masuk akal. Hari ini saja saya cek harga domain itu ditawarkan dengan harga 1450 USD. Sehingga, harga yang sangat mahal itu sudah pasti belum dapat kita jangkau saat ini. Sehingga dipilihlah domain www.blitza679.com, dan untuk pembiayaan administrasi tahunan untuk domain dan hosting website kita ini, saya menginisiasi pembuatan kaos dan jaket dimana keuntungan dari proses produksinya digunakan untuk pembiayaan website kita. Dari dana yang terkumpul itu, Insya Allah untuk 3 tahun kedepan website kita ini masih bisa kalian akses.

Ketika tahun 2010, saat itu Gunung Merapi di Yogyakarta erupsi, saat itu pula teman-teman kita yang masih mengabdi di Gontor membimbing Alumni 2011 untuk acara Panggung Gembira. Bagi yang masih ingat, kita juga saat itu sempat membikin kaos yang bertemakan Blitza Remigion. Setelah acara Panggung Gembira selesai, saya masih ingat Saepudin mengumpulkan beberapa teman-teman di depan kantor Pengasuhan Santri, yang saat itu masih berada di lantai 1 Masjid Jami’, pertemuan yang memang sangat singkat saat itu juga saya anggap sebagai salah satu fondasi yang menguatkan bahwa Blitza Remigion harus terus diperkuat jalinan silaturahminya.

Sekitar tahun 2012, pasca Silatnas IKPM di Cirebon, saya mulai menggaungkan ide reuni Blitza Remigion. Saat itu pertimbangan saya sangat sederhana, beberapa teman dari Mesir sudah mulai kembali ke Indonesia, sementara itu teman-teman yang mengabdi di Gontor 1 masih banyak. Tentu itu hanyalah alasan yang sangat sederhana dan tidak cukup kuat untuk mengadakan reuni. Setelah beberapa kali saya gaungkan di grup BBM dan grup Facebook, kemudian beberapa masukan dari teman-teman yang ada di Gontor saat itu seperti Firda, akhirnya memang saya memahami bahwa kita belum saatnya untuk melakukan reuni saat itu. Sehingga kemudian yang saya jajaki adalah mengumpulkan teman-teman yang ada di Jogja. Teknis berkumpulnya pun tidak harus resmi, mulai dari main futsal, ngopi atau hanya berkumpul di kontrakan salah satu dari kita di Jogja, kemudian bermain PES atau bahkan hanya ngobrol-ngobrol saja. Meskipun demikian, harapan saya tetap ingin berkumpul dengan teman-teman Blitza Remigion di Gontor suatu hari nanti.

Saya bekeyakinan bahwa hanya dengan cara itulah saya tetap menjalin tali silaturahmi yang kuat dengan teman-teman Blitza Remigion, meskipun hanya di wilayah Yogyakarta saja, dan meskipun hanya itu-itu saja yang sering berkumpul. Bagi saya itu sudah lebih dari cukup untuk memperkuat asumsi saya bahwa Blitza Remigion adalah Keluarga. Bahkan, saya pun sebenarnya sangat menyesal karena saya sendiri juga terlambat untuk ngumpul bersama teman-teman di Yogyakarta. Saya saat itu lebih sering berkumpul dengan Zarwin, Hidayat, Aminudin, Arsyi karena kami kuliah di kampus yang sama. Fathul Hijri pun yang kuliah di kampus yang sama, jarang saya temui saat itu. Kalaupun ada teman selain itu, dia adalah Hasanudin Tosimpak yang saat itu kuliah di UIN, tetapi kedekatan saya dengan mereka ini lebih karena dulu sama-sama mengabdi di Gontor 2.

Alhamdulillah, pada 5 April 2009 Blitza regional Yogyakarta ngumpul untuk pertama kalinya secara resmi. Artinya, berkumpul yang benar-benar kita agendakan dan kita atur. Tentunya, diluar perkumpulan ini beberapa teman-teman di Yogyakarta sering ngumpul. Dari sinilah kemudian saya sendiri mulai mengunjungi beberapa tempat tinggal teman-teman Blitza di Yogyakarta, dan mulai sering berkumpul bersama mereka, terutama seperti Ayyadana, Zikri, Farobi, Taufik, Irfan, Tosimpak dan beberapa teman-teman yang saat itu tinggal di daerah Sapen. Teman-teman yang lain ikut bergabung ketika kita mengadakan futsal bareng. Saya merasa, inilah Keluarga. Blitza Remigion bukan hanya sebuah komunitas angkatan 2005 KMI Gontor, tapi lebih dari itu.

Lebih jauh lagi saya melihat, beberapa teman-teman, tanpa mengurangi rasa hormat saya, teman-teman yang karena satu lain hal ternyata tidak bisa bersama-sama hingga Yudisium 11 Ramadhan 1426 H saat itu, saya melihat dan merasakan sendiri bahwa mereka benar-benar menunjukkan rasa memiliki yang luar biasa terhadap Blitza Remigion. Secara adminstratif, mereka tidak tercatat sebagai alumni tahun 2005, tetapi secara ruhani, saya melihat justru mereka adalah bagian yang juga sangat penting di Blitza Remigion. Contoh yang paling nyata yang saya lihat dan saya rasakan sendiri adalah Ayyadana (sepurone dab, mau nggak mau harus nyebut nama).

Ayyadana adalah teman satu kelas ketika kelas 6 saat itu. Karena ada satu permasalahan saat itu, Ayyadana terpaksa tidak bersama-sama dengan kita sampai Yudisium. Tetapi, saya merasakan sendiri bagaimana Ayyadana sangat care dengan teman-teman Blitza di Yogyakarta. Daya jelajah Ayyadana untuk tetap menjalin silaturahmi dengan teman-teman Blitza Remigion ini sangat luar biasa, saya akui bahwa saya kalah jauh dengan Ayyadana untuk hal yang satu ini. Ayyadana benar-benar mampu memposisikan diri, bagaimana kami yang saat itu notabene sebagai pendatang di Yogyakarta tetapi dikondisikan oleh Ayyadana bahwa meskipun tinggal jauh dari orang tua, tetapi kami merasakan bahwa kami memiliki KELUARGA di Yogyakarta. Keluarga itu bernama Blitza Remigion.

Dan orang-orang seperti Ayyadana ini saya yakin masih ada di regional-regional lain. Mereka yang sanggup untuk terus menjaga tali silaturahmi, mereka yang sanggup menjaga kekeluargaan dalam satu lingkaran Blitza Remigion. Dan apa yang saya lihat hari ini, semua itu tidak lepas dari bimbingan Musyrif kita; SPINKER. Kita harus berhutang banyak kepada mereka yang membimbing kita dulu di Gontor. Secara tidak langsung, didikan mereka yang mengkondisikan kita untuk tetap menjaga ukhuwah kita hari ini. Mereka yang mampu mengatur ritme kita, suasana kita, putaran roda kegiatan kita saat itu, sehingga apa yang kita rasakan saat ini, merupakan salah satu hasil dari apa yang mereka tanam saat itu.

Beberapa bulan setelah saya tinggal di Jakarta, saat itu salah satu teman kita; Adil Muamar mengalami kecelakaan. Atas inisiatif beberapa teman di Jakarta, akhirnya kita bersama-sama menggalang donasi untuk biaya perawatan Adil Muamar di rumah sakit. Dan ternyata, kita mampu mengumpulkan dana yang tidak sedikit. Meskipun akhirnya Allah berkehendak lain dan Adil Muamar meninggal dunia, tetapi dari peristiwa ini saya semakin yakin bahwa sebenarnya kita masih memiliki ikatan kekeluargaan yang cukup kuat. Sehingga, mau tidak mau harus ada orang yang tetap mengambil peran untuk berposisi sebagai petugas yang boleh saja kita sebut sebagai provokator agar satu sama lain dari kita tetap tersambung.

Jika kalian melihat ke belakang, beberapa kali memang saya sendiri sering “membuat keributan” di grup Facebook. Sebenarnya, tidak ada tujuan apapun dari saya, apalagi untuk menunjukkan inilah Fahmi Agustian, tidak sama sekali. Saya hanya bertujuan, dengan adanya “keonaran” di Grup Facebook Blitza Remigion, paling tidak beberapa dari kalian akan mampir ke Grup Facebook kita, dan paling tidak kemudian ada yang menjalin kembali komunikasi antara satu dengan yang lainnya. Bisa saja komunikasi itu kemudian berlanjut kepada relasi bisnis. Kita tidak ada yang tahu. Pemikiran saya hanya sederhana, bahwa harus ada orang yang tetap menjaga tali silaturahmi Blitza Remigion. Mungkin, apa yang saya lakukan hingga hari ini banyak sekali yang tidak sejalan dengan kalian, ada juga yang mungkin sepakat dengan apa yang saya lakukan. Yang pasti, tujuan utama saya adalah untuk tetap menjaga Blitza Remigion ini tetap satu. Apapun profesi kita hari ini, seperti apapun kondisi kita hari ini, ingatlah bahwa kita adalah satu keluarga.

Saya tidak memungkiri, bahwa selama 10 tahun lebih setelah kita lulus dari Gontor, kita mengalami banyak sekali persinggungan antara satu dengan yang lainnya. Ada beberapa kasus-kasus yang memang seharusnya tidak terjadi, ada beberapa peristiwa-peristiwa yang kemudian membekas dan tidak mengenakkan bagi beberapa orang karena ulah salah satu dari kita. Itulah dinamika yang ada, karena tidak mungkin kita mampu menyamakan persepsi 900 orang lebih agar bersedia satu jalur dengan kita. Setiap dari kita pasti memiliki pendapat yang berbeda. Dan seburuk apapun sebuah peristiwa, sesakit apapun luka yang membekas, saya yakin akan ada jalan, akan ada obat untuk memperbaiki itu semua.

Saya menggambarkan seperti ini; Blitza Remigion adalah sebuah ruangan yang berada didalam sebuah rumah yang besar bernama Gontor. Didalam ruangan Blitza Remigion itu sebenarnya bukan hanya berisi 947 orang yang terdaftar secara adminstratif di buku Agenda Marhalah 2005. Didalam ruangan Blitza itu juga ada saudara-saudara kita yang pernah bersinggungan dengan kita, entah ketika kelas 3, entah itu ketika kelas 5. Tetapi frekuensi yang mereka rasakan ketika bersama-sama dengan kita begitu membekas, sehingga rasa memiliki terhadap Blitza Remigion dalam hati mereka pun tidak berbeda dengan kita yang notabene secara administratif tercatat di buku Agenda Marhalah 2005.

Coba nanyikan pelan-pelan salah satu lagu kebesara kita;

Kala kita hadir disini, senandungkan lagu kita, Curahan hati bersama yang terjadi di kelas enam
Susah senang sedih bahagia bersama kita senandungkan, Eratkanlah jarak kita dengan tali persahabatan

Halo…halo.. kita slalu satu, Bagai musik dan lirik yang tak terpisahkan
Halo…halo.. kita slalu satu, Berseri hidup kita selamanya
Halo…halo.. kita slalu satu, Bagai kakak dan adik yang tak terpisahkan
Halo…halo.. kita slalu satu, Milikku, milik kita, selamanya

Ya, bagi saya inilah sebuah Keluarga, Keluarga bernama Blitza Remigion.

Apakah engkau berpuasa atas dasar kesenanganmu?

Written by Fahmi Agustian. Posted in artikel

puasa di bulan ramadhan

Makanan ini begitu menggoda sebelum Adzan Maghrib dikumandangkan

Jika anda bertemu dengan seorang pemain sepakbola, entah dia bermain di level kompetisi lokal atau nasional, coba tanyakan apa dasar dia bermain bola? Apakah atas dasar kesenangannya terhadap sepakbola atau bukan?. Mayoritas, mereka akan menjawab bahwa mereka bermain sepakbola karena memang atas dasar kesenangan mereka terhadap sepakbola. Ketika seseorang memutuskan bermain sepakbola, ia akan menghadapi resiko berupa kelelahan karena harus berlari kesana-kemari, menggiring bola, mengumpan bola, menendang bola dan pada saat yang bersamaan mereka juga tetap ikut berfikir bagaimana caranya menjebol gawang lawan.

Resiko lain yang harus dihadapi adalah cedera yang bisa saja datang kapan saja ketika ia di-tackling oleh pemain lawan pada saat ia menggiring bola. Atau bisa saja ia mengalami cedera pada saat berlari menggiring bola, tiba-tiba salah satu ototnya mengalami masalah. Kehadiran suporter, baik suporter sendiri ataupun suporter lawan juga tidak jarang menjadi beban tersendiri. Dukungan suporter sendiri bisa menjadi bumerang disaat para pemain memiliki beban harus menang. Cemoohan suporter lawan pun menjadi bagian intimidasi yang lain yang harus dihadapi ketika bermain sepakbola dalam sebuah turnamen.

Tetapi, dari sekian faktor yang menghiasi sebuah pertandingan sepakbola, tentulah ada satu alasan mendasar mengapa seseorang bermain sepakbola. Mungkin tidak semuanya memiliki alasan atas kesenangannya bermain sepakbola. Tetapi, apakah jika seorang pemain bola bermain sepakbola bukan atas dasar kesenangannya bermain bola kemudian ia mampu menampilkan performa terbaiknya di lapangan?

Pada dimensi yang lain, kita menemukan aktifitas-aktifitas yang lain yang sudah tentu memiliki alasan tersendiri pada saat kita melakukan aktifitas tersebut. Seorang guru mengajar, karena memang dia menyenangi dunia akademis dan senang berbagi ilmu. Seorang pedagang, pagi-pagi buta rela menuju ke pasar dan menggelar lapaknya karena memang jiwanya sudah menyatu dengan dunia jual beli. Apapun aktifitasnya itu, tentu ada alasan tersendiri bahwa sebenarnya seseorang melakukan sebuah aktfitas karena memang dia menyenangi dan menyukai aktifitas tersebut.

Lantas, apakah kita juga memiliki alasan yang sama ketika kita melaksanakan ibadah puasa?. Apakah kita benar-benar menyukai ibadah puasa? Sehingga kemudian di setiap akhir bulan ramadhan, banyak sekali dari kita yang berharap agar suasana Ramadhan tetap hadir meskipun sudah berganti bulan. Apakah memang kita benar-benar menyukai suasana Ramadhan? Apakah kita benar-benar menikmati suasana Ramadhan?. Semua jawabannya ada pada diri kita masing-masing, karena ibadah Puasa merupakan salah satu ritual ibadah yang sangat privat. Bahkan Allah sendiri begitu “posesif” terhadap ibadah Puasa yang kita lakukan ini.

Secara materi, kita memahami bahwa Ibadah Puasa adalah sebuah perilaku dimana seseorang menahan lapar, haus dan hawa nafsu sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari pada saat senja. Rentang waktu ini yang kemudian menjadi policy yang diputuskan oleh Allah terkait durasi waktu kita berpuasa. Namun, apabila dalam dimensi ruhani tentu jangkauan pemahaman puasa ini memiliki banyak sekali pemaknaannya.

Puasa sejatinya adalah implementasi dari pengendalian diri, karena orang yang berpuasa berani mengambil keputusan untuk “tidak” terhadap sesuatu hal yang sebenarnya bersifat “iya”. Pada ruang yang lain, puasa adalah sebuah keputusan dimana kita berani mengambil keputusan berupa “iya” terhadap sesuatu yang halal untuk “tidak”. Orang yang sedang berpuasa, dia berhadapan langsung dengan dunia, tetapi ia tidak mengambil dunia dan berani bersikap anti terhadap dunia dan mengambil jarak yang sangat radikal terhadap dunia. Berbeda dengan orang yang sedang sholat, dunia ada di belakangnya.

Lantas, apa hubungannya sepakbola dengan puasa?. Ketika seseorang memutuskan berolahraga sepakbola, maka ia akan menghadapi segala jenis resiko yang sudah saya jabarkan diatas. Jika kemudian kita memperluas ruang lingkup sepakbola yang kita bicarakan, maka akan lebih banyak lagi resiko yang akan ia hadapi. Begitu juga dengan keputusan seseorang untuk berpuasa, ia akan menghadapi segala macam resiko yang tentunya resiko-resiko tersebut merupakan hal yang harus ia hadapi. Ketika ia memutuskan untuk berpuasa, ia akan berhadapan dengan orang-orang yang mungkin tidak berpuasa misalnya. Jika anda berada di sebuah lingkungan yang tidak semuanya beragama Islam, anda akan menghadapi resiko seperti ini.

Seorang pemain sepakbola yang memiliki kesiapan mental yang tangguh akan mampu menjalani sebuah pertandingan sepakbola dengan tenang, meskipun atmosfer pertandingan di lapangan sangat tinggi. Ada beberapa tipikal pemain yang memang sangat tempramental, sehingga pada kondisi tertentu ia justru kewalahan mengahdapi dirinya sendiri. Tak jarang, seorang pemain harus rela diusir dari lapangan pertandingan karena ia melakukan pelanggaran yang fatal. Pemain yang tidak memiliki mental yang tangguh, sebaik apapun ia bermain bola ia akan menjadi pemain yang tidak berguna dalam sebuah pertandingan sepakbola. Apalagi dalam sebuah pertandingan yang sangat krusial, seperti pertandingan final misalnya.

Anggaplah Bulan Ramadhan ini adalah sebuah lapangan pertandingan sepakbola, dan kita adalah salah satu pemain sepakbola yang ada di dalam lapangan pertandingan tersebut. Tentu, setiap kita memiliki persiapan yang sangat matang dalam menghadapi pertandingan tersebut. Terlebih, kita sudah bertahun-tahun menjalani ibadah puasa di bulan Ramadhan. Tentu dengan semakin banyakanya pengetahuan kita tentang Islam, semakin banyak pula bekal kita untuk memasuki bulan ramadhan.

Seorang pemain sepakbola yang memiliki mental yang tangguh, tidak akan mempedulikan seperti apa cemoohan suporter lawan, tidak akan memperdulikan seperti apa tekanan intimidasi yang diberikan oleh pemain lawan. Karena ia sudah bertekad, bahwa yang ia perjuangkan adalah kemenangan tim yang ia bela. Batu sandungan sebesar apapun dilapangan, bukan menjadi hal yang mengganggu demi tercapainya “idul fitri” berupa kemenangan atas tim lawan.

Jadi, jika kita masih merasa terganggu dengan dibukanya warung makan di siang hari pada saat bulan ramadhan, mungkin perlu kita tanyakan kedalam diri kita sendiri, apakah mental kita untuk memasuki bulan ramadhan kali ini memang masih level warung makan atau bahkan lebih rendah?. Bukankah godaan orang yang berpuasa itu justru lebih kompleks dari ibadah-ibadah yang lainnya. Jika kemudian kita menganggap bahwa warung yang buka pada siang hari tidak menghormati kita yang sedang berpuasa, apakah kemudian kita juga berani bersikap sama terhadap televisi di rumah kita atau handphone yang kita pegang setiap hari. Bukankah kehadiran dua benda itu juga cukup menjadi godaan tersendiri bagi kita?. Ayolah, ngaku saja.

Sehingga, bagi saya terasa sangat konyol ketika ada tuntutan agar warung makan tutup di siang hari dengan alasan untuk menghormati orang yang sedang berpuasa. Jika kita mampu mengelola diri kita terhadap televisi dan handphone yang kita hadapi setiap hari, kenapa kita juga tidak mampu mengelola hal yang sama terhadap warung makan. Toh, intensitas pertemuan kita dengan warung makan di siang hari saat bulan puasa tidak seintens yang terjadi jika kita bandingkan dengan televisi atau handphone yang kita pegang setiap hari bukan?.

Saya melihat, dari facebook saja, banyak sekali teman-teman saya yang muncul dengan postingan baru, bahkan hampir setiap jam. Ini hanya yang terlihat saja, berapa orang yang hanya bersikap sebagai silent reader, misalnya?. Berapa orang yang mungkin membuka handphone untuk melakukan percakapan dan saling berikirim pesan instant kepada orang lain. Berapa banyak yang juga hanya sibuk bermain game dengan handphone yang ia miliki saat siang hari di bulan Ramadhan?.

Jadi, anda ini sebenarnya pemain sepakbola yang sudah bermental juara, atau “pemain sepakbola” yang masih bersertifikat warung makan?

#TerimaKasihIndraSjafri

Written by Fahmi Agustian. Posted in artikel

Indra Sjafri. Pelatih sepakbola yang melambung namanya setelah mengantarkan Timnas U-19 menjuarai Piala AFF tahun lalu. Coach Indra, seperti kebanyakan pelatih sepakbola pada umumnya, merintis karis sepakbola terlebih dahulu menjadi pemain. Satu-satunya klub sepakbola yang pernah ia bela adalah PSP Padang. Sebelum ia menjadi seorang pelatih sepakbola, ia berprofesi sebagai kepala kantor pos di sebuah kantor pos di Sumatera Barat. Keberhasilannya membawa Evan Dimas dkk menjuarai Piala AFF U-19 tahun lalu seakan menghadirkan oase yang menyegarkan ditengah kemarau panjang sepakbola Indonesia yang tidak kunjung menghadirkan trofi juara sebuah turnamen bergengsi.

Jika ada sebuah pertanyaan; apakah yang bisa menyatukan suatu bangsa?, saya akan menjawab: Sepakbola!. Bukan tanpa alasan, cabang olahraga ini memiliki daya tarik tersendiri saat ini. Tengok saja perhelatan Piala Dunia yang digelar setiap 4 tahun sekali itu. 32 negara berjibaku dalam sebuah turnamen akbar yang diselenggarakan oleh FIFA. Ada banyak kisah menarik betapa sepakbola berhasil menyatukan sebuah bangsa. Tidak terkecuali di Indonesia, sepakbola merupakan olahraga favorit.

Meskipun hanya berprestasi dalam turnamen KU (Kelompok Umur), Indra Sjafri telah membuktikan bahwa anak-anak Indonesia mampu menjadi juara dalam sebuah turnamen. Lebih dahsyat lagi, Indra Sjafri membangun sendiri tim yang ia latih. Ia mencari sendiri pemain-pemain yang akan ia bina, sekian puluh nama yang diberikan oleh PSSI di tahun 2011 silam ternyata tidak masuk kedalam kriteria. Pemain yang ia bawa ke turnamen AFC Cup U-16 di Thailand saat itu gagal total.

Bersama Nur Saelan dan Jarot, mereka dijuluki Trio JIN (Jarot-Indra-Nur). Trio JIN ini kemudian mengajukan sebuah presentasi kepada PSSI, bisa dikatakan sebagai cetak biru masa depan sepakbola Indonesia. Dalam presentasi itu, mereka menargetkan 3 poin: Juara AFF U-19 2013, Lolos ke Piala Asia U-19 2014 dan Lolos Piala Dunia U-20 tahun 2015. Presentasi itu diterima oleh PSSI dan kemudian mereka bertiga bergerak berkeliling Indonesia untuk mencari pemain-pemain yang mereka nilai sesuai dengan kriteria yang mereka inginkan. Tidak banyak yang tahu saat itu bagaimana Indra Sjafri bersama Nur saelan dan Jarot mencari pemain-pemain tersebut. Singkat cerita, terbentuklah timnas U-19 yang kemudian kita mengenalnya setelah mereka menjuarai Piala AFF U-19 tahun lalu di Sidoarjo.

Target pertama berhasil mereka raih. Sebulan setelahnya, target kedua yaitu lolos ke Piala Asia U-19 tahun 2014 berhasil mereka raih dengan langkah mantap; mengalahkan Korea Selatan di pertandingan terakhir kualifikasi Piala Asia U-19 di GBK. Satu target tersisa; lolos Piala Dunia U-20 2015 di Selandia Baru.

Dalam perjalanannya, Indra Sjafri kembali dibenturkan konflik-konflik akut di federasi. Sempat akan dipecat ditengah jalan tanpa sebab yang jelas, PSSI akhirnya mempertahankan Indra Sjafri untuk tetap menangani Timnas U-19 di Piala Asia yang dihelat di Myanmar bulan lalu. Gangguan belum berakhir, PSSI meminta Indra Sjafri untuk “mencari uang” sendiri untuk pembiayaan pemusatan pelatihan dalam rangka persiapan mereka menuju turnamen piala Asia U-19 bulan lalu. Tanpa saya jabarkan secara luas disini, kalian pasti sangat faham apa yang saya maksud. Setidaknya ada 41 pertandingan yang harus mereka jalani dalam kurun waktu 9 bulan, bukan hanya melintasi pulau-pulau di Indonesia, bahkan keluar dari benua Asia; Timur tengah dan Eropa. Bisa dibayangkan, usia pemain yang belum 20 tahun harus menjalani pertandingan uji coba dengan jadwal yang padat, dan disiarkan secara langsung. Benar adanya bahwa mereka mendapatkan jam terbang yang tinggi melawan pemain-pemain yang berbeda-beda. Tapi, sedikit sekali yang menyadari bahwa dengan banyaknya pertandingan tersebut yang disiarkan secara langsung berakibat fatal : terbacanya strategi yang dimainkan oleh Indra Sjafri.

Puncaknya, Timnas U-19 gagal mencapai peak performance saat turnamen yang sebenarnya; Piala Asia U-19 di Myanmar. Saya sendiri sebenarnya tidak optimis juga saat turnamen tersebut, demi menjaga suasana saat itu, sekalipun saya tidak pernah mempublikasi satupun kalimat pesimistis saat itu. Bagaimana mungkin ketika pemain-pemain sepakbola yang masih “suci” itu bertanding dengan membawa panji Indonesia tidak saya dukung?. Alhamdulillah, kegagalan mereka di Myanmar tidak banyak yang mencerca. Bangsa ini sudah mampu membedakan, mana yang sejati mana yang bukan. Meskipun masih sangat sedikit yang menyadari betapa berat beban yang ada di pundak Evan Dimas dkk saat itu.

Indikasi dipecatnya Indra Sjafri dari struktur Timnas U-19 pun sudah terbaca sejak kegagalan itu, ketika salah satu pengurus PSSI yang diwawancarai di Mekkah mengatakan bahwa Indra Sjafri akan dievaluasi. Dan hari ini, PSSI memastikan mendepak Indra Sjafri dari kursi kepelatihan.

Ironis. Ketika seorang pelatih asli keturunan, lahir dan besar di negeri sendiri justru tidak diberi waktu lebih untuk menangani anak-anak kita sendiri. Sungguh tragis, ketika kita diperlihatkan betapa federasi sepakbola kita tidak bisa menghargai seorang pelatih yang sudah mengorbankan segalanya demi membangun sepakbola bangsa ini, justru disingkirkan hanya karena ia gagal melampaui satu target yang ia ajukan sendiri. Ingat, target lolos Piala Dunia adalah target Indra Sjafri sendiri bersama Nur Saelan dan Jarot ketika memberikan presentasi di PSSI tahun 2011, bukan target federasi sepakbola kita!.

Indra Sjafri

Indra Sjafri (sumber @RIVALOOK)

Begitu lama kita merasakan kemarau panjang akan sebuah prestasi dalam sepakbola, Indra Sjafri hadir mempersembahkan sebuah prestasi yang membuat bangsa ini tersadar bahwa sebenarnya kita memang mampu untuk mencapai titik puncak itu. Jika kita berlaku normal, trofi AFF U-19 hanyalah trofi Turnamen Kelompok Umur. Sebuah trofi yang tidak bergengsi untuk kita banggakan. Tetapi bangsa ini sudah terlampau jenuh karena hampir setiap turnamen yang diikuti oleh Tim Nasional Indonesia di tingkat ASEAN saja paling pol mencapai posisi runner up saja. Tapi, itulah yang terjadi. Kita benar-benar sedang haus, meskipun yang hadir hanyalah sebuah trofi bernama AFF U-19, itu sudah cukup melegakan dahaga kita.

Jerman, sebelum menjadi Juara Dunia 2014, terakhir kali menjadi Juara Dunia adalah tahun 1990 dimana saat itu mereka masih terbelah menjadi Jerman Barat dan Jerman Timur. Prestasi terbaik mereka setelah bersatu menjadi sebuah negara bernama Jerman adalah Piala Eropa 1996 di Inggris. Berstatus sebagai Juara bertahan, Jerman gagal total di Piala Eropa tahun 2000. Meskipun di Piala Dunia 2002 mereka berhasil menembus ke partai Final dan dikalahkan oleh Brasil saat itu, federasi sepakbola mereka bersepakat untuk merintis kembali sepakbola mereka. Joachim Loew menyusun cetak biru pembinaan sepakbola Jerman itu sendiri. Setiap klub yang berlaga di Bundesliga diwajibkan memiliki sebuah akademi Sepakbola, jika tidak maka klub tersebut akan degradasi secara otomatis ke divisi 1. Sekian ratus sekolah sepakbola non-akademi mereka dirikan. 12 tahun setelah cetak biru itu dipraktekkan, Jerman menjadi Juara Dunia.

Berbeda dengan Inggris, meskipun mereka memiliki kompetisi terfavorit saat ini (jika hitungannya adalah rating penyiaran), Liga Inggris berada di urutan teratas. Namun apa yang terjadi dengan tim nasional mereka?. Pangeran Williams mungkin sudah lupa kapan Inggris menjadi juara dunia. Yang seharusnya dilakukan oleh PSSI adalah mencontoh bagaimana Jerman membangun kembali sepakbola mereka. Benar adanya bahwa saat ini sepakbola tidak bisa dilepaskan dari keuntungan bisnis. Namun yang terjadi di Indonesia, keuntungan dari segi materi hanya dinikmati oleh sebagian pelaku sepakbola itu sendiri saja. Sepakbola modern seharusnya bersinergi satu sama lain, bukan saling bersaing hanya untuk keuntungan pribadi atau golongan. Jepang mencanangkan mimpi menjadi Juara Dunia di Piala Dunia 2050, ini artinya para pemain yang akan bertanding di Piala Dunia 2050 belum lahir. Menurut Coach Indra Sjafri, kita tidak memiliki mimpi itu.

Indra Sjafri baru menjalankan cetak biru masa depan sepakbola Indonesia selama 2 tahun, dan berhasil meraih 1 trofi resmi dan 2 trofi turnamen kelompok umur di Hongkong saat itu. Federasi sepakbola kita ternyata tidak cukup memiliki kesabaran seperti yang dimiliki oleh federasi sepakbola Jerman. Federasi sepakbola kita tidak sepenuhnya ingin sepakbola kita berprestasi. Mereka tidak serius membangun suasana yang kondusif di negara ini dalam membangun sepakbola. Kompetisi sepakbola tidak pernah jauh dari kecurangan.

Indra Sjafri dengan segala keterbatasan yang ia miliki mampu mendapatkan 25 pemain yang bertalenta di Indonesia. Negara ini terdiri dari 33 Provinsi, jika saja PSSI kembali memberikan kesempatan kepada Indra Sjafri untuk kembali turun ke daerah dan membangun lagi sebuah tim sepakbola, bukan hal yang mustahil ia akan mendapatkan lebih banyak lagi pemain-pemain yang berkualitas. Dengan dukungan dana yang besar, infrastuktur yang mumpuni, sebuah hal yang sangat mungkin diwujudkannya sebuah tim nasional sepakbola yang berkualitas.

Apapun itu, salam hormat saya kepada anda Coach Indra Sjafri. Anda telah membuktikan bahwa bangsa ini sangat mampu untuk berprestasi dalam sepakbola. Anda juga telah membuktikan bahwa dengan anak-anak asli kelahiran bangsa ini, sebuah prestasi tertinggi dapat diraih. Sungguh benar apa yang teman anda sampaikan, anda memiliki pemain-pemain berkualitas, tetapi anda dan pemain-pemain yang anda bina berada di ladang yang tandus. #TerimaKasihIndraSjafri