Author Archive

admin

Admin Website Blitza 679. Contact us at : admin@blitza679.com

Silaturrahim Perdana Keluarga Besar Blitza Remigion

Written by admin. Posted in Berita, Blitza News

Alhamdulillah, setelah proses persiapan yang memakan waktu kurang lebih 8 bulan semenjak pertemuan 9 Januari 2016 di Matraman, akhirnya pada 26-28 Agustus 2016 kita bisa melaksanakan Silaturrahim Perdana Keluarga Besar Blitza Remigion di Hotel Gadjah Mada, Ponorogo. Berbagai persiapan dilakukan, mulai dari survey beberapa lokasi yang direkomendasikan oleh Panitia Lokal di Ponorogo, pemilihan menu untuk konsumsi, desain kaos, backdrop dan banner hingga mempersiapkan hal-hal yang mendukung terlaksananya agenda besar ini dilakukan secara marathon. Tentu saja bukan hanya menguras tenaga dan fikiran para inisiator yang tergabung juga dalam kepanitiaan ini. Falsafah Pondok; Bondo, Bahu, Pikir lek perlu sak-Nyawane pisan bukan hanya sebuah kalimat yang diingat, melainkan benar-benar menjadi perilaku teman-teman yang ditunjuk untuk menjadi panitia agenda besar ini.

Panitia yang dipimpin oleh M. Iqbal Faisal (Jepara), Arif Sholeh (Banten) dan Firdaus Ilham (Ponorogo), kemudian dibantu Syarif Hidayat (Kebumen) dan Muhammad Irfan (Klaten) sebagai Sekretaris, juga Dudi Kurniawan (Ciamis) dan Nasrul Fahmi Zaki Fuadi (Pati) sebagai Bendahara. Kemudian didukung oleh Panitia Lokal dari Ponorogo; M. Fidyani, Achmad Fauzy, M. Ahda Murtaqi juga Abdullah (Gresik) dan Luthfi Muhyidin (Bogor) yang saat ini berdomisili di Ponorogo, mampu bersinergi dengan panitia pusat dalam mensukseskan agenda perdana Blitza Remigion yang berskala nasional ini. Jajaran steering Commitee Blitza Remigion pun tidak ketinggalan, dibawah komando Arif Rosyidi (Bojonegoro) yang menaungi Ayyadana Akbar (Yogyakarta), Saepudin (Bogor), Fuad Hidayat (Malang), Ahmad Amrullah (Plumbon) dan Fahmi Agustian (Pemalang), juga berjibaku untuk ikut serta mengawal perjalanan panitia Silaturrahim Keluarga Besar Blitza Remigion kali ini. Dan tidak ketinggalan, M. Ikhwan Bandreas (Bojonegoro) yang menjadi ujung tombak persidangan agenda besar Blitza Remigion kali ini juga sangat serius berkontribusi.

WhatsApp Image 2016-08-26 at 13.23.50

Setelah melewati beberapa proses, akhirnya panitia menyepakati untuk menggunakan Hotel Gadjah Mada di Ponorogo. Mungkin sebagian teman-teman bertanya, mengapa kita tidak menggunakan Wisma Darussalam (Wisda) yang lokasinya lebih dekat dengan Gontor. Jawabannya adalah bahwa saat ini Gontor sedang melaksanakan hajatan besar; 90 Tahun Gontor, sehingga Wisma Darussalam tidak bisa dipastikan untuk dapat digunakan oleh Blitza Remigion jauh-jauh hari. Sementara rumah-rumah warga di sekitar Gontor juga tidak memungkinkan kita gunakan dikarenakan beberapa alasan teknis.

Jum’at, 26 Agustus 2016, setelah sholat Jum’at, panitia secara resmi membuka proses registrasi ulang. Hari pertama, panitia tidak mengadakan acara yang resmi, sehingga membebaskan semua peserta untuk bernostalgia satu sama lain. Suasana Hotel Gadjah Mada begitu ramai, semua yang datang saling bercerita pengalamannya masing-masing, bercerita proses yang sedang dijalani di daerah masing-masing hingga mengenang masa-masa ketika menjadi santri. Keceriaan tampak di wajah semua yang hadir, setiap yang datang disambut hangat bukan hanya oleh panitia, tetapi juga oleh semua peserta. Jabat tangan dan pelukan yang erat menggambarkan betapa kerinduan satu sama lain benar-benar sudah tidak bisa ditahan lagi. Alhamdulillah, tercatat di daftar hadir yang menghadiri agenda Blitza kali ini melebihi 200 orang peserta.

Hari kedua, Sabtu, 27 Agustus 2016 secara resmi agenda Silaturrahim Keluarga Besar Blitza Remigion dibuka. Pagi itu, panitia mengundang Ust. H. Akrim Mariyat, Dipl, M. Ed sebagai narasumber untuk menstimulasi ulang nilai-nilai kepondokmodernan kepada seluruh peserta. Panitia juga mengundang beberapa Musyrif (Spinker); Ust. Rahmatullah Oky, Ust. Tajuddin dan Ust. Jumhurul Umami yang kemudian mengisi sesi sharing dan nostalgia bersama.

14124420_1803870596559741_394233702881118007_o

Ust. Akrim juga menekankan bahwa keberkahan itu merupakan sebuah hasil dari pergerakan. Apapun profesi kita, apapun kesibukan kita, apabila dilandasi dengan niat yang ikhlas mnegabdi kepada Allah, maka keberkahan merupakan imbalan yang paling mulia. Beliau juga mengingatkan bahwa alumni Gontor jangan sampai tidak mengajar, dan mengajar itu bukan hanya terbatas dalam ruangan kelas saja, menjadi teladan bagi orang lain juga merupakan salah satu wujud mengajar. Sejalan dengan itu, Ust. Akrim juga menekankan pentingnya bersyukur dan mengingatkan agar kita hati-hati dalam bertahaduts binni’mah, karena bisa jadi justru kita akan terperosok kedalam jurang kesombongan.

Mengunjungi Pondok, maka kita harus melihat Pondok secara keseluruhan, melihat perkembangan Pondok saat ini yang harus kita lakukan tidak lain adalah bersyukur. Jika kita melihat ada kekurangan di Pondok, maka kita memiliki hak untuk memberikan saran, tetapi kita harus tahu diri untuk mengukur seberapa besar porsi kita dalam memberikan saran agar tidak kebablasan menjurus kepada intervensi. Menutup ceramah beliau, Ust. Akrim menyatakan bahwa Silaturrahim ke Pondok, ke Kiai dan ke Guru-guru senior merupakan perbuatan yang sangat mulia.

Setelah makan siang, kemudian semua bergerak menuju Pondok Modern Gontor untuk Ngendangi Pondok, sesuai dengan tema besar acara ini; “Endangono Pondokmu”, sebuah pesan yang selalu disampaikan oleh KH. Hasan Abdullah Sahal kepada para alumni Pondok Modern Darussalam Gontor. Dimana beliau menekankan agar kita sebagai alumni agar dapat selalu menyempatkan waktu untuk menjenguk Pondok. Ust. Akrim Mariyat sendiri dalam ceramahnya berpesan, bahwa ngendangi pondok itu bukan dalam rangka sekedar kita melihat perkembangan Gontor secara fisik, tetapi substansinya lebih dari itu. Bahwa dengan mengunjungi kembali Sang Ibu, kita dapat merefleksikan kembali nilai-nilai pondok modern dalam diri kita. Nilai-nilai yang tertulis dalam Panca Jiwa Pondok Modern yang mulai pudar, harus kita tekankan lagi sebagai bekal kehidupan kita di masyarakat. Tempat yang pertama kali dituju adalah makam Trimurti, kemudian kami berkesempatan untuk silaturrahim bersama Ust. H. Syarif Abadi di kediamannya. Meskipun hanya bertemu beberapa menit saja, beliau sangat antusias menyambut kedatangan Keluarga Besar Blitza Remigion.

WhatsApp Image 2016-08-27 at 15.55.51

Setelah mengunjungi Pondok, pada malam harinya panitia mengadakan Turnamen Futsal antar Regional yang tentu saja diramaikan oleh para peserta dari masing-masing regional. Semua regional ikut serta dalam turnamen ini; Luar Jawa, Jabodetabek, Priangan, Jogja-Solo, Jawa Tengah dan Jawa Timur tentunya yang mengutus tim terbanyak. Regional Jabodetabek akhirnya keluar sebagai Juara 1 setelah mengalahkan Regional Jawa Timur 3 di babak final. Setelah turnamen ini, kemudian semua peserta kembali ke Hotel Gadjah Mada untuk beristirahat.

Meskipun baru saja menguras keringat di lapangan futsal, ternyata tidak menyurutkan antuasias peserta untuk tetap begadang di malam terakhir acara ini. Sebagian dari mereka yang tidak bermain futsal, ada yang masih kangen dengan Pondok, sehingga mereka menuju ke Pondok untuk silaturrahim ke Pimpinan Pondok dan guru-guru senior. Memang, pada agenda ini panitia tidak mengadakan agenda khusus bersilaturrahim bersama Pimpinan Pondok dikarenakan kesibukan beliau dalam mengawal rentetan acara 90 Tahun Gontor ini.

Ahad, 28 Agustus 2016 merupakan hari terakhir dari rentetan agenda Silaturrahim Keluarga Besar Blitza Remigion kali ini. Panitia memang mengatur agar acara tidak dilaksanakan serius, sehingga acara berlangsung santai. Setelah Iqbal selaku ketua panitia sedikit bercerita dinamika perjalana panitia, kemudian dilanjutkan Saepudin yang mengharapakan kiprah teman-teman Blitza Remigion untuk lebih baik lagi dari hari ini. Arif Rosyidi kemudian juga bercerita tentang bagaimana akhirnya panitia memutuskan untuk memilih Hotel Gadjah Mada sebagai lokasi dilaksanakannya Silaturrahim Keluarga Besar Blitza Remigion ini. Acara siang itu kemudian juga menghasilkan terpilihnya 12 nama yang akan memegang tongkat estafet kepemimpinan Blitza Remigion. Regenerasi ini dimaksudkan agar semua anggota Blitza Remigion memiliki tanggung jawab dan rasa memiliki yang sama terhadap Blitza Remigion. Setelah sebelumnya Steering Commitee Blitza Remigion mengadakan rapat tertutup, terpilihlah 12 nama yang kemudian disepakati oleh forum. Mereka adalah; M. Kandias Rowi (Sidoarjo), Fadli Akbar (Makassar), Fahrizal Ischaq (Surabaya), Arif Hidayat (Yogyakarta), Abid Setiawan (Lamongan), Luthfi Muhyidin (Bogor), Kun Faisal (Banyumas), Yasir Mukhtar (Jakarta), Irvansyah Emmuty (Semarang), M. Zahjuli (Depok), Syamsul Arif Tombokan (Gorontalo), dan Syarif Hidayat (Kebumen). Mereka kemudian akan menyusun tim formatur yang akan membawa kemana Blitza Remigion akan diarahkan beberapa tahun kedepan. Mereka ini pula nanti yang akan memutuskan (atas usulan teman-teman tentunya) kapan akan diadakan kembali Silaturrahim Keluarga Besar Blitza Remigion.

Hasil kesepakatan lain yang juga lahir dalam pertemuan ini adalah bahwa Blitza Remigion akan mengumpulkan donasi dari semua anggota Blitza Remigion untuk kemudian diserahkan kepada Pondok Modern Darussalam Gontor. Teknis selanjutnya akan diupdate melalui Grup Facebook dan Grup Whatsapp di tiap-tiap regional.

Hanya ungkapan rasa syukur dan ucapan Alhamdulillah atas terselenggaranya Silaturrahim Keluarga Besar Blitza Remigion tahun ini. Tentu saja, kerinduan setelah 11 tahun tidak bertemu tidak akan terobati hanya dalam kurun waktu pertemuan selama 3 hari saja. Kami dari panitia pun sangat yakin, antum semua yang belum berkesempatan hadir dikarenakan satu dan lain hal memiliki kerinduan yang sama. Insya Allah, dilain kesempatan kita akan berjumpa lagi.

Mengutip syair yang ditulis oleh Fahrizal Ischaq;

Meski kau sekarang doktor, dan aku hanya lulus KMI, aku tak peduli
Meski kau anak Kyai, bahkan sudah menjadi Kyai, dan aku hanya guru ngaji, aku tetap tak peduli
Meski mobilmu Fortuner dan aku masih sibuk nyicil motor bututku, akupun tetap tak peduli
Meski kau dekat pejabat dan politisi,sibuk tebar pesona sana-sini, aku “pancet” wong cilik, tetap saja, aku tak peduli

Aku hanya peduli, kau pernah sepiring dan sesambel denganku
Kau pinjam sabunku, aku pinjam gayungmu
Aku hanya peduli, kita pernah tunggal Kyai dan guru
Akupun sangat peduli bahwa kita pernah dalam kandungan rahim yang seibu

Gontor tempat berpulang
Blitza inspirasi untuk terus berjuang
Apapun dan siapapun dirimu sekarang
Gontor dan Blitza adalah sejarah kita dalam berperang
Melawan hawa nafsu yang usang
Hingga sampai di keindahan pulau sebrang

 

 

Amaliyatu At Tadris, Micro Teaching ala Gontor

Written by admin. Posted in artikel

Oleh Ust. Rahmatullah Oky

Saya berbincang dengan seorang lulusan S-2 di salah satu universitas di Bandung ini. Beliau bercerita tentang unik dan asyiknya “Micro Teaching” yang beliau alami di bangku kuliah. Mengajar dan diawasi oleh teman-temannya, lalu di evaluasi bersama-sama sebagai bahan bahasan pada saat diskusi nanti. Beliau bercerita berapi-api, karena mungkin menganggap saya belum tahu hal seperti itu.

Sesaat setelah beliau selesai, lalu saya ceritakan pengalaman saya ketika dulu menjalani masa Amaliah Tadris (Praktek Mengajar). Bagimana kita diberi waktu 2,5 hari untuk menghubungi pengajar aslinya untuk bertanya materi apa yang harus diberikan, kemudian membuat persiapan mengajar selengkap-lengkapnya, lalu membawanya dihadapan ustadz pembimbing untuk dikoreksi, lalu diperbaiki lagi, diajukan lagi, setelah ditanda tangani, lalu kita praktekkan apa yang akan kita ajarkan itu di hadapan teman-teman terlebih dahulu, apa yang akan kita sampaikan harus kita tulis lengkap, cara-caranya, pertanyaanya, jawabannya, disiapkan seluruhnya. Dan diusahakan kita tidak membuka persiapan kita ketika mengajar meskipun itu dibolehkan.

Lalu tibalah saat amaliah itu. Saya tunjukkan foto di bawah ini, dia terkejut tak alang kepalang. Dihadapan puluhan Guru senior, dihadapan ratusan teman-teman kelas enam, harus mengajar kelas yang kita sama sekali tidak tahu kemampuannya. Sebab kalau kita ketahuan memberi tahu anggota kelas itu tentang materi ajar kita, otomatis amaliah kita akan hangus dan otomatis pula saya harus mengulang lagi amaliah saya. Ratusan mata itu menatap sang pengajar dengan mimik muka serius, meneliti semua apa yang dia ajarkan, kalau ada satu saja kesalahan akan langsung ditulis sebagai kritik kepadanya. Kawan saya terkejut bukan kepalang, dia bilang kalau saya diminta seperti itu pasti tidak sanggup, dan mungkin harus berfikir ulang untuk praktek mengajar….

Amaliyatu At Tadris

Saya bilang lagi, itu belum selesai…karena setelah itu ada “Darsu An-Naqdi” (Evaluasi Proses Pengajaran) dimana kritik dan kesalahn kita akan dibuka di hadapan para Guru dan teman-teman. Ada 4 kriteria kritik :

1. Thariqah (Cara mengajar) : Karena ini yang terpenting. Mengajar Muthala’ah (Bahasa Arab) jelas beda caranya dengan mengajar Hadits, jelas beda lagi kalau mengajar Khat (menulis Arab). Jadi tidak bisa diambil sama semua. Karena keliru mengambil cara, maka ini fatal. Kita harus mengulang lagi Amaliah Tadris kita. Bahkan kalau kita bertanya “Hari ini tanggal berapa?” sebelum bertanya “Apa Pelajaran kita?” ini sudah masuk kritik “Thariqah” yang besar. Karena murid belum sepenuhnya memberikan perhatian kepada pelajaran, tapi sudah ditanya macam-macam. In bagaimana?? Atau menunjuk santri cuma yang itu-itu saja untuk menjawab pertanyaan. Ini juga salah.

2. Maadah (Materi) : Materi ini meliputi apa isi pengajarannya. Materinya sudah betul atau salah. Kesalahan pada materi ini meliputi kesalahan pemberian kosakata baru, kesalahan memberikan keterangan pelajaran, kesalahan menjawab pertanyan santri, dan beberapa kesalahan materi ajar yang lain. Kalau sampai ada materi yang keliru, maka hukumanyya sama, kita harus mengulang lagi Amaliah Tadris kita.

3. Ahwalu Almudarris (Kepribadian Guru): Apakah Guru suaranya kurang lantang? Apakah Guru berdebar sehingga kelihatan? Apakah Guru mengajar dan jas-nya kotor? Apakah Guru hanya memberi pertanyaan kepada satu orang saja? Apakah Guru membiarkan murid yang tidur? Apakah Guru menghapus papan tulis dengan tangan dan bukan dengan penghapus papan tulis? Apakah wajah Guru tidak tersenyum? Apakah Guru melihat persiapan mengajarnya atau tidak? Apakah Guru mengajar tepat waktu? Apakah Guru memberi pinjaman pena kepada santri yang tidak membawa pena? Apakah guru bisa menjawab pertanyaan siswa diluar pertanyaan yang ada pada lembar persiapannya? Dan setumpuk pertanyaan lain. Ini harus dijawab oleh sang Guru. Tapi ini tidak terlalu fatal.

4. Lughatul Mudarris (Bahasa Guru) : Ini kesalahan yang PASTI dimiliki oleh semua Guru. Jadi tentu saja yang paling banyak adalah pada hal ini. Ini juga bukan kesalahan fatal, karena bisa jadi terpengaruhi oleh dialek masing-masing Guru.

Setelah panjang lebar dia saya beri keterangan tentang apa itu amliha tadris dan bagaimana praketikumnya. Dia kemudian berkata :

“Micro Teaching saya ternyata tidak ada apa-apanya disbanding Amaliyah Tadris sampeyan mas… Kapan ada Amaliyah di Gontor?? Saya harus menyaksikannya…!!”

Sayang. Amaliyah baru saja berlalu…Mungkin tahun depan pak…Semoga kita bisa bertemu lagi…

Sumber

Blitza Remigion supporting 90 tahun Gontor

Written by admin. Posted in Berita, Blitza News, Informasi

Sepuluh tahun yang lalu, ketika kami alumni Pondok Modern Darussalam Gontor tahun 2005 menjalani masa pengabdian, saat itu Gontor akan merayakan 80 tahun usianya. Tentu saja ada banyak sekali agenda-agenda pondok yang kemudian dalam perayaan itu tidak sedikit dari alumni tahun 2005 yang terlibat dalam kepanitiaan 80 tahun Gontor.

Tidak terasa, sepuluh tahun berlalu dan tahun ini Gontor akan merayakan perayaan 90 tahun usianya, dan tentu saja banyak sekali rentetan acara yang sudah dirancang oleh panitia 90 tahun Gontor. Sebagai bagian dari keluarga besar Pondok Modern Darussalam Gontor, tentu saja Blitza Remigion 2005 memiliki tanggung jawab moral untuk mendukung kesuksesan hajatan besar 90 tahun Gontor yang akan dihelat pada bulan Agustus-September tahun ini.

Ada banyak cara yang bisa dilakukan oleh setiap alumni untuk mensupport agenda besar Gontor tahun ini. Ada yang sudah merencanakan jauh-jauh hari untuk melaksanakan tour ke Gontor ketika rentetan 90 tahun Gontor nanti berlangsung, baik itu dengan keluarganya sendiri, dengan teman-teman satu marhalah, dengan keluarga IKPM setempat, ada juga yang berinisiatif untuk ikut mengumpulkan dana untuk disumbangkan kepada panitia pusat, karena tentu saja hajatan besar 90 tahun Gontor ini akan menghabiskan dana yang tidak sedikit.

Blitza Remigion Support 90 tahun Gontor

Sejenak kita flashback, 2 tahun lalu ketika Indonesia sedang ramai pemilihan presiden, situasi politik di Indonesia begitu panas dan menjalar hingga elemen masyarakat terbawah. Blitza Remigion mencoba untuk meminimalisir perpecahan akibat perbedaan pendapat itu, meskipun hanya di wilayah yang sangat sempit. Saat itu, Blitza Remigion mengajak seluruh alumni Gontor tahun 2005 untuk mengganti Profile Picture secara serentak dengan format yang seragam.

Gerakan yang mungkin sifatnya sangat sederhana saat itu setidaknya kami syukuri mampu meminimalisir adanya konflik gesekan yang merupakan efek dari perbedaan pandangan politik saat itu. Berkaca dari apa yang sudah dilakukan dua tahun yang lalu, tahun ini Blitza Remigion ingin melakukan gerakan yang sama dalam tema yang berbeda.

Hajatan besar 90 tahun Gontor tentu sangat sayang untuk kami lewatkan begitu saja tanpa kami ramaikan di media sosial. Mungkin bagi sebagian orang, mengganti gambar tampilan di media sosial itu sangat sederhana. Tetapi, dalam era media sosial yang begitu pesat perkembangannya saat ini menurut kami adalah salah satu media yang tepat untuk menggalang dukungan dari internal Blitza Remigion 2005 untuk meramaikan 90 tahun Gontor.

Tidak ada tujuan dari kami untuk mengatakan bahwa “ini lho kami, Marhalah 2005!”, sama sekali tidak. Kami hanya ingin mendukung agenda besar 90 tahun Gontor berdasarkan kemampuan yang kami miliki. Karena memang beberapa orang diantara kami memiliki concern di dunia maya dan perkembangannya saat ini, maka dari itu langkah awal yang kami lakukan adalah melakukan gerakan massal mengganti profile picture di media sosial. Dan tentu saja akan hadir di website Blitza ini artikel-artikel yang akan mengulas banyak cerita-cerita lama berdasarkan pengalaman kami menjadi santri di Gontor dulu. So, stay tune on our website.

Tentu saja kami mempersiapkan gerakan ini dengan serius, programmer handal kami sudah menyiapkan web apllication untuk memudahkan teman-teman Blitza Remigion 2005 merubah tampilan foto dengan desain yang sudah disiapkan, sehingga ketidakseragaman frame tidak akan terjadi. Bagi teman-teman Blitza Remigion yang belum merubah tampilan foto di media sosial, silahkan kunjungi : http://stamp.blitza679.com/. Jika teman-teman mengalami kendala dalam proses pengeditan, silahkan hubungi admin di grup Blitza Remigion, baik Facebook atau Whatsapp Messenger. Kami siap membantu 24 jam, kecuali ketika kami sedang istirahat. hehehehe. Dan kalau sudah jadi, jangan lupa diupload di media sosial; facebook, twitter, instagram, path dan yang lainnya dengan mencantumkan #90TahunGontor dan #BlitzaRemigion.

Dan tidak lupa kami sampaikan kepada teman-teman Blitza Remigion, bahwa ditengah rentetan agenda 90 tahun Gontor ini kita juga punya hajatan besar; Temu Kangen Blitza Remigion. Melalui kesempatan ini, kami sampaikan agar teman-teman Blitza Remigion di setiap regional untuk semakin memperkuat silaturahmi, dan  tidak lupa kami menyampaikan: SAMPAI KETEMU DI 27 AGUSTUS 2016!

Blitza Remigion, kalian luar biasa

Written by admin. Posted in Berita

Salah satu rekomendasi dari pertemuan pada tanggal 9 Januari 2016 di Jakarta adalah agar setiap regional segera merapatkan barisan dengan kembali mengajak kawan-kawan yang sudah lama tidak bertemu untuk berkumpul bersama, bersenda gurau, tertawa bersama, nostalgia masa-masa di pondok dulu, tajammu’ hingga main futsal. Alhamdulillah, beberapa regional Blitza Remigion sudah melaksanakan pertemuan awal di daerah masing-masing.

Seperti yang sudah kita ketahui bersama, Panitia Temu Kangen Blitza Remigion sudah merilis tanggal resmi Temu Kangen pada tanggal 27 Agustus 2016 yang akan datang. Untuk membantu kinerja panitia ini, maka salah satu tujuan agar berkumpulnya setiap regional ini adalah untuk merekatkan kembali tali silaturrahmi satu sama lain.

Beberapa perwakilan dari panitia inti sudah menjajaki untuk mengunjungi kawan-kawan di beberapa daerah, seperti yang dilakukan Ayyadana, Arif Rosyidi dan Iqbal contohnya. Alhamdulillah, beberapa regional sudah mengumpulkan beberapa orang di rumah salah satu diantara mereka di setiap regional. Mungkin pada pertemuan awal tersebut tidak banyak membahas perihal yang krusial terkait Temu Kangen Blitza Remigion, tetapi setidaknya kita melihat bahwa animo kawan-kawan untuk kembali berkumpul itu ternyata luar biasa.

12646931_10205742302865981_1903401630498149022_o

Blitza Regional Bandung

Beberapa regional yang sudah berkumpul diantaranya; Jawa Tengah (Pati, Demak dan sekitarnya), Jawa Timur (Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Lamongan, Bojonegoro dan sekitarnya), BogorYogyakarta dan Bandung. Tentu saja kita sangat berharap regional yang lain segera berkumpul bersama seperti yang sudah dilakukan oleh regional yang lain.

Sudah pasti, kawan-kawan yang sudah lama tidak berjumpa satu sama lain, akan melihat perubahan fisik mereka satu sama lain. Ada yang sudah menikah, ada yang baru menikah, ada yang akan segera menikah dan ada yang calon istrinya belum ketemu. Ada yang sudah nyaman dengan pekerjaannya, ada yang sudah sukses dengan bisnisnya, ada yang masih merintis usahanya, ada yang istiqomah berjuang di dunia dakwah, tentu sangat beragam kita melihat dinamika perjalanan kawan-kawan kita. Satu yang harus tetap kita pegang adalah, kita ini satu keluarga, Keluarga Blitza Remigion.

Dalam khasanah Jawa terdapat istilah nglumpukke balung pisah, yang kurang lebih artinya adalah mengumpulkan tulang yang terpisah. Sepuluh tahun sudah kita terpisah setelah resmi kita dinyatakan lulus dari Gontor, bahkan bagi beberapa teman yang terpaksa tidak bisa bersama-sama hingga momen tersebut, hitungan sepuluh tahun itu bisa bertambah lagi. Sudah pasti, kerinduan satu sama lain, rasa kangen satu sama lain terpendam dalam hati kawan-kawan dimanapun saat ini berada. Kenangan saat di pondok, tanpa harus ditulis disini, satu persatu mulai kembali muncul. Dan salah satu obatnya tentu saja adalah bertemu kembali kawan-kawan satu perjuangan selama di Gontor.

Momentum 90 tahun Gontor dirasa menjadi sebuah momentum yang pas untuk kembali kita berkumpul, bersama-sama mengunjungi Gontor, mengunjungi Ibu kita, mengunjungi Rumah kita. Pernahkah kita bertanya dalam hati kita; berapa kali kita ke Pondok setelah kita lulus?. Sebuah pertanyaan yang sangat sederhana, yang seringkali juga menjadi salah satu bahan perbincangan ketika kita bertemu dengan kawan-kawan kita yang pernah bersama-sama di Gontor.

Endangono pondokmu!, Datangilah Pondokmu!, begitulah kira-kira pesan Kiai kita yang harus segera kita laksanakan. 27 Agustus 2016, insya Allah akan menjadi salah satu hari bersejarah bagi Blitza Remigion. Sebelum kita menuju pada agenda itu, maka berkumpulnya setiap regional adalah satu hal yang perlu dilakukan. Dengan berkumpul bersama, tajammu’, ngopi dan ngrokok bareng, bertanding game bola, atau bahkan bermain futsal adalah cara masing-masing untuk mengajak kembali berkumpul. Luangkanlah waktu satu hari untuk kembali berkumpul, bermuwajjahah, bersenda gurau, tertawa lepas, bernostalgia bersama kawan-kawan satu perjuanganmu di Gontor dulu.

Blitza Remigion, kalian luar biasa!