Meletakkan Nama Suami di Belakang Nama Istri, Bolehkah?

Written by Jauhar Ridloni Marzuq. Posted in artikel

Ada berseliweran timeline yang pada intinya melarang seorang istri menaruh nama suami di belakangnya. Alasannya, hubungan mereka bukan orang tua-anak sehingga tidak boleh dinisbahkan kepada nama sang suami itu. Dan dalam hadis disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Tiada seorangpun yang menisbahkan diri kepada selain bapaknya dengan sengaja melainkan ia menjadi kufur.” (HR Bukhari).

Saya katakan, masalah sejatinya bukan pada dalil, tapi pada pemahaman terhadap dalil. Ini penting. Banyak masalah yang akhir-akhir ini bikin dunia persilatan kacau bukan karena tidak ada dalilnya, tapi karena salah memahami dalilnya.

Khawarij itu setiap pendapatnya berdasarkan dalil, tapi mereka salah memahami dalil, sehingga mengkafirkan Sahabat dan menghalalkan darah sesama Muslim. Orang-orang Syiah juga punya dalil untuk mencela Sahabat dan memaksumkan 12 imam, tapi pemahaman mereka terhadap dalil itulah yang bermasalah.

Di dunia canggih seperti sekarang ini, dalil mudah dicari. Tinggal klik dalil yang dinginkan, di Google atau perpustakaan digital, dapat semua dalil yang dibutuhkan. Yang tidak bisa dicari itu pemahaman terhadap dalil. Ini butuh belajar dan berguru, terutama sekali belajar bahasa Arab. Butuh juga mengetahui dan memahami kaidah-kaidah menafsirkan dalil.

Pentingnya pemahaman terhadap dalil.

“Coba sekarang menurut Anda, yang dimakan Adam di surga itu buah atau pohon? Pasti kita semua akan mengatakan buah. Atau lebih popularnya Buah Khuldi”.

Tapi tahukah Anda, yang disebutkan oleh Al-Quran bukan buah (yang dalam bahasa Arabnya ثمار atau أكل), tapi pohon (شجرة). Silakan cek, Al-Quran menyebutkan bahwa yang dimakan adalah adalah syajarotal khuld (pohon khuld), bukan tsamratul khuldi (buah khuld).

فَدَلَّاهُمَا بِغُرُورٍ ۚ فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَةَ بَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَرَقِ الْجَنَّةِ ۖ وَنَادَاهُمَا رَبُّهُمَا أَلَمْ أَنْهَكُمَا عَنْ تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ وَأَقُلْ لَكُمَا إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُبِينٌ

الأعراف-22

maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?” – Surat Al-A’raf Ayat 22

Lalu kenapa selama ini kita mengatakan yang dimakan Adam itu buah, bukan pohon? Setelah mengetahui bahwa dalilnya menyebutkan pohon, apakah kita sekarang akan mengatakan bahwa yang dimakan Adam itu pohon, bukan buah? Nanti dulu.

Bukan dalilnya yang salah, tapi pemahaman kita yang salah. Bahasa itu ada hakiki ada majazi, ada ziyadah ada hadzf, dan lain sebagainya.

Ketika seseorang mengatakan kepada saya, “Jauhar, coba tanyakan ke Kemenag kenapa mereka memberi penghargaan ke Metro TV”. Saya tidak mungkin tanya ke Kemenag, karena Kemenag bukan makhluk hidup, bukan manusia. Kemenag itu benda mati, tidak bisa ditanyai, tidak bisa jawab. Maka akal saya akan menegaskan bahwa yang harusnya saya tanyai bukan Kemenag, tapi pegawai Kemenag atau orang yang bekerja di Kemenag. Jadi maksud kalimat “tanyakan kepada Kemenag” adalah “tanyakan kepada pegawai Kemenag”.

Begitulah contoh memahami sebuah dalil. Tidak bisa serta memahami kata perkata atau huruf per huruf secara leterlek. Ada cara-cara dan kaidahnya.

Begitu jugalah seharusnya kita memahami hadis tentang larangan menempelkan nama suami kepada istri, atau selain orang tua kepada selain anaknya. Kita harus teliti dulu, apakah hadis itu berlaku mutlak atau tidak? Kalau mutlak, kenapa sahabat bernama Miqdad dinisbahkan kepada Al-Aswad padahal Al-Aswad itu bukan nama bapaknya, tapi nama bapaknya adalah Amru? Kenapa anak Ali bin Abi Thalib, Muhammad bin Hanifiyah dinisbahkan kepada Hanifiyah, bukan kepada Ali padahal Ali-lah bapaknya?

Di sinilah, Ibnu Hajar mengatakan maksud dari larangan di atas bukanlah mutlak sekedar menisbahkan suatu nama di belakang kita. Larang tersebut adalah bagi yang menisbahkan nama dengan maksud menganggap sebagai bapak biologis. Dalil ini utamanya ditujukan kepada seorang bapak angkat yang sudah saking dekatnya kepada anak yang diangkat sehingga ingin dinisbahkan kepada mereka. Al-Quran menyuruh kita tetap menisbahkan kepada bapak kandungnya, bukan bapak angkatnya, untuk menjaga keturunan dan mengatur masalah mahram pernikahan.

Karena itu, Shihabuddin Alusi tidak melarang orang yang lebih tua memanggil seorang anak kecil yang bukan anaknya dengan sebutan “Nak”. Misalnya, perkataan saya kepada murid saya, atau saya kepada anaknya kawan saya, atau saya kepada anak tetangga saya. “Nak, tolong nanti kerjakan PR halaman 2 ya..”. Ini tidak masalah karena maksud pemanggilan nama itu bukan menisbahkan anak tersebut adalah anak kandung saya, tapi sebagai ungkapan sayang dan cinta kepada murid. Di Arab, guru-guru kami sering memanggil kami dengan Yanbi atau Ya bunayya (wahai anakku), bukan ya thalibi atau ya tilmidzi (wahai muridku).

Intinya, menaruh nama suami di belakang istri tidak masalah. Ini alasannya.

  1. Peletakan nama itu sama sekali bukan untuk menisbahkan istri kepada suami, dalam artian menganggap sang istri adalah anak dari suami. Peletakan nama suami itu sekedar untuk pengenalan bahwa wanita tersebut sudah dinikahi oleh nama suami yang ada di belakang nama sang istri. Saya rasa tidak ada suami yang dalam peletakan nama itu bermaksud mengangap istrinya adalah anak kandungnya.
  2. Penisbatan nama Ani Yudhoyono misalnya bermakna Ani istri Yudhoyono, bukan Ani anak Yudhoyono. Jadi ada yang mahdzuf di situ. Ini seperti ayat Al-Quran yang berbunyi حرمت عليكم أمهاتكم (diharamkan bagimu ibu-ibumu). Di ayat itu tidak dijelaskan apa yang diharamkan. Apakah yang diharamkan itu menyentuh, melihat, mencium, atau menikahi? Ulama kemudian mengeluarkan kata yang mahdzuf itu, dan menafsirkannya dengan “diharamkan bagimu MENIKAHI ibu-ibumu”, bukan menyentuh atau mencium ibu-ibumu. Salah menafsirkan kata yang mahdzuf itu implikasinya sangat berbahaya.

Di sinilah seperti yang saya sebutkan sebelumnya, bahwa masalahnya bukan pada dalil, tapi pada cara memahami dalil. Ani Yudhoyono artinya Ani istri Yudhoyono, bukan Ani anak Yudhoyono. Masa tidak boleh mengatakan begitu?? Ya boleh-boleh saja.. Wallahua’lam.

Sumber

Comments

comments

Trackback from your site.

Leave a comment

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.