PROFESI GURU PONDOK MODERN

Written by Sofwan Hadikusuma. Posted in artikel

Oleh : Sofwah Hadi Kusuma | Email | Blog

Disampaikan oleh: KH. Atim Husnan, B.A.
Pada penataran guru baru Kulliyyatul Mu’allimin al-Islamiyyah
Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo

A. PROFESI GURU PONDOK MODERN

Guru harus profesional untuk melaksanakan tugasnya. Tidak hanya sekedar melaksanakan intruksi atau perintah pimpinan atau direktur, tetapi harus merupakan keterpanggilan dirinya untuk melaksanakan tugas suci ini.

Maka guru harus memahami benar terhadap tugasnya, dan berusaha maksimal untuk melaksanakannya sampai berhasil. Beberapa hal yang harus dimengerti:

  • Mengapa harus menjadi guru?
  • Bagaimana si murid?
  • Bagaimana cara mentransfer ilmu kepada murid?
  • Hasil apa yang kita harapkan?
  • Bagaimana karakter guru?

B. HAKIKAT MENGAJAR

Tidak cukup memasukkan ilmu ke otak santri tetapi juga mendidik, dan yang lebih dari itu menghembuskan ruh perjuangan sehingga menjadi santri yang bermental juang.

Berjuang, berarti menegakkan agama Allah, membela agama Allah, meneruskan perjuangan Rasulullah SAW. untuk itu maka ia:

  • Berani berjuang
  • Berani berkorban
  • Berani miskin sekalipun ………………. demi i’laan likalimatillah.

C. KRITERIA MENTAL SANTRI HASIL DIDIKAN

Dua macam mental santri yang akan terpaku dalam dirinya setelah belajar:

  1. Bermental pemimpin, dengan ciri utama: – Mandiri – menciptakan – dinamis – keikhlasan tinggi
  2. Bermental pegawai: Tergantung – menjiplak – statis – keikhlasan bersyarat

Untuk Pondok Modern, gurunya harus bermental pejuang untuk menelurkan santri yang bermental pemimpin.

D. MENGAJAR, BERDAKWAH, BERTABLIGH, DAN BERIBADAH

Mengajar berarti berdakwah atau bertabligh atau beribadah. Mengajar adalah menyampaikan wahyu Allah dan menjadi misi Rasulullah.

Menyampaikan wahyu Allah tanpa disertai pendekatan diri kepada Allah tidak akan mendapatkan kemudahan dari Allah.

Obyek yang didakwahi atau diajari adalah milik Allah sepenuhnya (hati, otak, dan jiwanya).

Terbukanya hati si murid adalah atas pertolongan Allah yang akan membukakan hatinya sesuai dengan sunnah Allah.

Tanpa diragukan lagi bahwa pahala orang mengajarkan wahyu Allah mendapat pahala seperti Rasulullah, kalau memang jihadnya juga setingkat Rasulullah. Allah tidak akan menyalahi janjinya.

E. YANG MENJADIKAN SANTRI BAIK

Santri dikatakan baik, diantaranya dari segi ibadahnya, akhlaqnya, ilmunya, dan dedikasinya.

Bisa demikian, bukan karena pinter gurunya tetapi karena Allah. Namun Allah tidak menjadikan demikian kecuali mengikuti sunnahnya.

Diantara sunnah-sunnahNya:

  • Harus diajar
  • Harus sungguh-sungguh dalam mengajar (jihad) untuk memandaikan santri-santrinya.
  • Harus mendidik, membimbing, mendekati, mengajak, mendorong, mengoreksi, membetulkan, kalau perlu memarahi sehingga sadar, mau belajar dan rajin. Jadi…….
  • Berangkat dari niat karena Allah, dengan sunnah Allah, dengan metode Allah, maka akan memberi rejeki ilmu pemahaman dan petunjuknya.

F. APA YANG KITA DIDIK

Jelasnya, kita mendidik santri, yaitu manusianya seutuhnya. Manusianya berarti otaknya, jiwanya, dan hatinya.

Ketiga-tiganya bukan ciptaan manusia atau rekayasa, tetapi semuanya adalah milik Allah. Maka mendidik harus selalu disertai dengan memohon pertolongan kepada Allah. Usaha lahir kita mengajar, sedangkan usaha batin kita mohon Allah untuk membukakan hatinya.

Maka kalau mendidik disertai dengan rasa sombong titelnya atai kepandaiannya, sulit untuk memasukkan ilmu ke otak, hati, dah jiwanya. Ingat petunjuk Allah.

G. GURU ADALAH MANUSIA TELADAN

Santri berguru berarti ingin mendapatkan sesuatu yang berharga dari seorang guru. Kalau guru tidak punya sesuatu yang berharga, atau punya sesuatu yang berharga tetapi tidak mampu memberikannya kepada santri, maka tidak akan membuahkan hasil dan santri tidak mendapatkan sesuatu dari guru.

Santri ingin mendapatkan sesuatu dari guru, seperti ilmu baru, pengalaman baru, contoh keteladanan dari segala segi (sabar dan tambahnya, kejujurannya, ketekunannya, keilmuannya, kehidupan nyatanya, akhlaknya, ibadahnya, ketekunannya, kefasihan bahasanya, dedikasinya, disiplinnya, cara dan pakainnya, dan kesederhanaannya).

Kalau memang tidak memiliki hal-hal tersebut berarti tidak pantas untuk menjadi guru. Sebab tak punya takkan memberi.

Keteladanan guru merupakan mu’jizat untuk masuknya pendidikan jiwa ke santri.

Guru memang harus pandai menyampaikan wahyu Allah. Tetapi harus pandai juga mengamalkannya sehingga santri menerima kedua-duanya. Sebab guru itu digugu (ditaati) ajarannya dan ditiru amaliyahnya.

Guru tidak hanya memberi contoh, tetapi yang paling tepat adalah menjadi contoh. Tanpa demikian berarti munafik.

H. GURU ITU DI MANA-MANA TETAP GURU

Menjadi guru tidak hanya di dalam kelas tetapi di luar kelas pun tetap guru. Bahkan guru itu di mana-mana tetap guru dan kapan sajapun tetap guru.

Konsekwensi menjadi guru harus menjaga dirinya supaya ia tetap guru di mana saja dan kapan saja.

Guru adalah guru sepanjang hidup dan mati, murid mau mengakui atau tidak yang penting guru tetap berkepribadian guru.

Oleh karena guru di mana-mana adalah guru, tetapi tidak bisa berbuat demikian, karena kelemahan pribadinya, maka jangan ditunjukkan kelemahannya kepada anak didik atau kepada orang lain.

I. GURU YANG BERBESAR HATI

Guru adalah manusia biasa. Tidak lepas dari kekurangan atau kelemahan. Namun demikian guru tidak boleh kecil hati, lantaran kekurangan-kekurangannya seperti kurang cerdas, mungkin cacat tubuh, miskin, dari kampung, dan lain-lain.

Kekurangan-kekurangan ini justru harus memacu untuk berjihad mengajar di depan anak. Dengan kata lain, walaupun miskin saya tetap mengajar. Walaupun cacat kami tetap mengajar. Justru guru yang seperti ini yang memajukan anak didik, mengajari berjuang, berkorban dan walaupun dalam keadaan kesulitan. Dengan sendirinya kelemahan-kelemahan yang bersifat keilmuan, keterampilan, dll. bisa dihilangkan dengan persiapan (i’dad yang sempurna).

Guru yang kecil hati, minder, terpengaruh oleh keadaan dirinya, sangat membayakan murid, bisa jadi meracuni anak didik, bahkan menjadikannya kecil hati, minder dan menjadi putus asa.

Guru justru memberikan harapan-harapan yang terang kepada anak didik, dan seharusnya anak didik diharapkan selalu lebih maju dan lebih baik dari guru-gurunya. Lebih beruntung dan lebih sukses.

Sedangkan guru siap menghantarkannya dan memberikan petunjuk bahwa belajar sekarang adalah salah saru jalan untuk menuju cita-cita itu.

Guru yang menakut-nakuti anak didik dengan kesulitan-kesulitan hidup seperti yang dialami guru, bisa mematahkan semangat belajar anak-anak.

Guru kerdil takkan melahirkan pemimpin yang berjiwa besar tetapi malah menelorkan generasi pengecut, minder, dan rendah hati, tak berani hidup, apalagi berani mati atau berjuang.

Agar guru besar hati harus kaya batin, banyak beribadah, banyak membaca sejarah pemimpim-pemimpin Islam dan para ilmuawan serta berusaha terus menambah ilmu.

J. PERGAULAN GURU

Terhadap anak didik, seoran guru harus bersikap ubuwwah, laksana ayah, bersikap dewasa tidak kekanak-kanakan.

Guru harus siap membimbing, mengarahkan, mendekati, dan berlaku adil.

Kedewasaan guru nampak dalam:

  • Tindakannya
  • Pembicaraannya
  • Pakaiannya
  • Cara bergaul dan bahasanya, dan lain-lain

Terhadap kawan-kawan guru lain, bersikap ukhuwwah, laksana saudara, tidak menjatuhkan, menghibah, atau menjelek-jelekkan. Kalau berbuat demikian bukan kawannya yang jelek tetapi ia sendiri demikian. Yang benar, selalu menjaga nama baik, mendukung dan memperbaiki korp guru.

Terhadap guru-guru senior, yang lebih tua, bapak direktur atau bapak pimpinan, tunjukkan sikap hormat, seperti halnya orang tua sendiri. Hal yang sedemikian itu sudah merupakan pendidikan buat santri untuk selalu menghormati orang tua, guru, dan pimpinannya.

Sebab guru nantinya tua juga, dan akan mendapatkan penghormatan dari yang muda atau murid-muridnya.

K. GURU HANYA MOHON PAHALA DARI ALLAH, TIDAK MINTA APAPUN KEPADA SANTRI

Guru harus mempunyai dedikasi yang tinggi dan keikhlasan yang murni untuk mendidik. Kalau berbuat demikian maka ia berjasa tinggi terhadap santrinya. Sehingga tanpa diminta dan dipaksa santri merasa berhutang budi sepanjang hidupnya. Daru sinilah maka santri selalu menghormati gurunya.

Dari dedikasi yang tinggi dan keikhlasan yang murni inilah maka Allah akan melimpahkan pahala, pertolongan, dan ketetapan hati.

Guru bukanlah pengemis, dan berharap materi kepada santri, karena yang sedemikian itu merendahkan martabat guru dan mungkin akan mendapat predikat ‘Guru Bayaran’. Mungkin berkatalah si murid, ‘Tanpa SPP ku kamu tak makan’. Na’udzubillah.

Maka miskin seperti apapun, guru harus tahan, harus isti’faf. Bapak pimpinan yang akan memikirkan dan mengusahakan menutupi kekurangannya sehingga istiqamah mengajarnya.

Memang ini adalah beban yang berat buat guru-guru swasta yang harus mandiri dan berani memacu diri supaya tetap terhormat di sisi Allah dan di mata masyarakat.

L. GURU DAN MAHKOTANYA

Predikat guru adalah anugrah yang tinggi dan luhur, sebab tidak semua orang meraihnya. Sedikitnya guru adalah manusia terpilih untuk mentransfer ilmu sesuai dengan keguruannya kepada generasi berikutnya.

Diangkat menjadi guru berarti diberi anugrah, mendapat mahkota, menjelma gelar kehormatan yang layak dan pantas untuk menyampaikan wahyu Allah kepada anak didik.

Gelar kehormatan ini akan dibawa sampai ke akhir hayatnya dan mungkin akan tetap dipanggil ‘guru kami’ sampai meninggal dunia.

Bahkan para santri akan tetapi mendoakan guru-gurunya sampai kapan saja mereka ingat, tidak hanya di saat mengajar, tetapi sampai di luar mengajar.

Tetapi sebaliknya, kalau guru sudah tidak memegang keguruannya, artinya keluat dari etika keguruan, akan kehilangan segala-galanya.

M. GURU YANG HILANG ILMU DAN WIBAWANYA

Seakan-akan hal itu tidak akan terjadi. Tidak mungkin ilmu yang sudah melekat di dada guru kemudian menghilang. Ilmu tidak akan hilang kecuali terlupakan. Tetapi manfaat ilmu akan hilang seandainya pemilik itu kurang menghargai, sembrono karena tidak melaksanakan atau sebab dosa besar.

Santri takkan menggubris gurunya, kalau sudah berdosa besar, ilmunya tidak bermanfaat, nasihatnya tidak didengar, akibatnya gurunya kurang bersemangat, yang menyebabkan hilangnya arti mengajar.

Beberapa hal yang menyebabkan hilangnya manfaat ilmu dan wibawa guru:

  • Terkena dosa seperti pacaran menjurus ke perzinahan, dari main kartu menjurus ke perjudian, minum-minuman keras, mencuri, tidak sembahyang fardlu atau jum’atan, tidak pernah jama’ah atau melanggar disiplin dan lain-lain.
  • Pandai ngomong tetapi amaliyahnya tidak ada.
  • Sombong, takabbur, menghina santri, merendahkan dan kurang menghargainya, dan lain-lain.

N. GURU YANG MENGGEMBOSI SANTRI

Tujuan guru mengajar adalah untuk beribadah, ibadah atau dedikasi ini akan batal kalau punya niat yang lain.
Tujuan mengajar santri supaya kerasan, belajar sungguh-sungguh, baik dan maju, bukan sebaliknya.

Kalau membuat anak didik dan mempengaruhinya supaya tidak kerasan, melanggar disiplin, berarti guru itu:

  • Khianat pada dirinya
  • Khianat pada santri dan walinya
  • Khianat pada pondok dan Islam, dan sebagainya

Seandainya guru ditakdirkan tidak kerasan, terganggu fikiran atau dedikasinya, dan mungkin berbeda ide dengan pondok, sekali-kali tidak boleh mempengaruhi anak untuk tidak kerasan, untuk membenci pondok, mencelanya, bahkan mengajak kabur. Na’udzubillah.

Jangan menggembosi santri, hilang harga diri, batal dedikasi dan mendapat laknat ilahi.

O. SUMBER KEKUATAN GURU

Guru dan murid derajatnya sama. Kedua-duanya hamba Allah. Setiap orang punya kelebihan. Bisa jadi keistimewaan murid lebih banyak dari pada guru. Pondok bagaimanapun keadaannya, guru harus lebih baik daripada murid. Seandainya belum punya kelebihan maka harus berusaha dan berdoa supaya mempunyai kelebihan dari santrinya.

Beberapa hal yang harus diupayakan guru supaya memiliki kelebihan atau mu’jizat:

  1. Keikhlasan, ketulusan hati.
  2. Banyak beribadah dan mohon kepada Allah untuk diberi kekuatan dan dibukakan hati muridnya dan prihatin.
  3. Persiapan yang lengkap (i’dad tertulis).
  4. Banyak membaca buku-buku Islam yang berpendidikan.
  5. Berbahasa Arab yang fasih setiap saat.

P. TAKKAN BOSAN DAN PUTUS ASA

Yang harus dididik bukan hanya santri yang cerdas-cerdas yang taat-taat saja, tetapi yang bodoh yang nakal atau yang bandel-bandel, lebih harus mendapat prioritas.

Mendidik tidak cari enaknya, tetapi bagaimana baiknya,

Yang bodoh yang malas diusahakan pandai dan rajin. Yang pandai dan rajin diusahakan lebih meningkatkan lagi.

Sekali lagi guru tidak bosan-bosan karena harus mengulang-ngulang nasehatnya, menegur, mengoreksi, membetulkan, memperbaiki, dan lain-lain. Memang itu tugas guru.

Kalau muridnya sudah pandai pun harus dikoreksi supaya lebih maju, jangan berenak-enak (ngenak awak) tidak prihatin.

Anak didik melawan guru, tidak mentaati dan lain-lain. Jangan putus asa, mohon kepada Allah untuk dibukakan hatinya. Sepanjang umur guru harus tetap mendoakan murid-muridnya, walaupun sudah tamat, terjun di masyarakat supaya ilmunya bermanfaat, di mana gurunya tetap dapat pahala.

Comments

comments

Trackback from your site.

Sofwan Hadikusuma

twitter.com/choe_fn

Comments (6)

  • amirulbahri

    |

    layak menjadi inspirasi dan sumber rujukan menjadi guru yang amanah…^^

    Reply

    • inzacky

      |

      Guru yang patut digugu dan ditiru ya bang… 🙂

      Reply

  • arielthekillers

    |

    nyesssss… langsung dingin.
    ini bukan cuma buat guru kelas. tapi jg untuk guru2 di masyarakat.
    termasuk google sepertinya sudah memahami konsep diatas. 😀

    Reply

    • inzacky

      |

      Termasuk orang tua yang menjadi guru langsung sang anak-anaknya… 😀 hehehe….

      Reply

  • neilhoja

    |

    mantap… ijin share bro. he.

    Reply

    • Muhammad Rifai Rohim 679

      |

      Memang tidak semudah mengedipkan mata untuk mengaku sebagai “Guru”.
      izin share ya…

      Reply

Leave a comment

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.