Kegembiraan berolahraga di Gontor

Written by admin. Posted in artikel

Olah Raga

Ada istilah “Mens sana in corpore sano” dalam bahasa Latin, kalau diterjemahkan dalam bahasa Inggris kira-kira artinya “A sound mind in a sound body.”, dalama Bahasa Arab disebut “Al aqlus salim fil jismis salim”, Akal yang sehat terdapat dalam badan yang sehat.

Tidak semua orang suka berolahraga, apalagi di Gontor, dimana semua kegiatan ditentukan lonceng, 1 menit terlambat, pasti konsekwensinya semua kegiatan selanjutnya akan terlambat atau memilih meninggalkan salah satu kegiatan untuk memotong keterlambatan.

Misalnya, habis sholat ashar jam 15.45 adalah waktu olah raga, berlangsung selama 60 menit, dan jam 16.45 lonceng berbunyi tandanya semua sudah harus siap-siap ke masjid, persiapan untuk ke masjid mulai dari mandi dan lain-lain hanya 30 menit, kalau terlambat berarti kamu “menantang” bagian Ta’mir Masjid. Nah, bagi anak-anak yang tidak berani mengambil resiko, mereka memilih tidak ikut olah raga, akhirnya selama 60 menit itu mereka manfaatkan untuk mandi dan tertawa-tertawa, atau pergi ke kantin. Bagi yang suka olah raga, 60 menit dipakai untuk melakukan olah raga yang mereka sukai.

Pastinya, ketika lonceng jam 17.00 berbunyi, dengan pakaian berkeringat mereka lari ke asrama masing-masing, karena tidak boleh mandi di asrama orang lain, kalau antrian panjang, otomatis dengan cekatan dia menggantung pakaian oleh raga di jemuran dan memakai pakaian ke masjid, dalam pikirannya, “Bodo amat lah belum mandi, yang penting nggak terlamabat ke masjid”, Masya Allah semangatnya ke masjid, bukan karena rindu masjid sih, tapi karena takut sama bagian Keamanan dan bagian Ta’mir Masjid yang sudah berdiri menyeramkan di depan masjid.

“Jadi, ke masjid sore-sore nggak mandi? Keringetan gitu? Habis oleh raga?”, Eits, tunggu dulu, mereka-mereka yang suka tantangan seperti itu punya trik khusus bisa mandi tanpa harus kena hukuman, meskipun mandinya di tempat wudhu! Tapi itu ada kisahnya. Lain kali akan kami tuliskan kisah tersebut.

Nah, karena di Gontor banyak kegiatan, banyak aktivitas, anak-anak muda yang berumur 14-20 tahun itu tidak mungkin dibiarkan begitu saja, harus ada pelampiasan, makanya pelampiasan mereka adalah olah raga, dengan olah raga pikirannya akan fresh dan pikiran-pikiran negatif akan hilang. Makanya, untuk menjaga stabilitas bagi yang tidak mau olah raga, diwajibkanlah lari pagi dua kali seminggu, semua santri dari kelas 1-5 wajib ikut lari pagi keliling desa Gontor, menikmati indahnya sawah dan kebun jagung yang membentang hijau sejauh mata memandang.

Tapi, kalau memang sudah malas, banyak saja alasan, bahkan demi tidak ikut lari pagi, ada yang mengaku sakit paru-paru dengan membawa hasil ronsen dada orang lain yang menderita sakit paru-paru, entah dimana dapatnya, yang pasti bagaian Olah Raga memberinya lisensi untuk tidak ikut lari pagi. Akhirnya saat orang lari pagi, dia tarik selimut lagi.

Tidak ikut lari pagi, termasuk pelanggaran sedang, yang dikenakan hukuman gundul. Ketika semua orang lari pagi, bagian Keamanan razia ke Asrama dan tempat-tempat yang dicurigai sebagai tempat sembunyi, apalagi bagian Keamanannya dulu ketika masih santri biasa termasuk santri yang bandel, pastinya tahu dimana tempat persembunyian.

Anehnya, ada yang memilih bersembunyi di dalam tandon kamar mandi daripada harus ikut lari pagi. Ada juga yang memilih sembunyi di Kuburan, di Sungai sampai pura-pura jadi piket! Mendingan nyapu dan ngepel 10 kamar asrama, daripada lari pagi!

Comments

comments

Tags:

Trackback from your site.

admin

Admin Website Blitza 679. Contact us at : admin@blitza679.com

Leave a comment

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.