Tragedi Jaryu Sobah

Written by admin. Posted in artikel

Once upon a time, di Kampung Damai, bahasa arabnya Darussalam, beberapa santri kamar 3 asrama Saudi 1 lantai 1 sedang sholat subuh berjamaah di kamar.

“Assalamualaikum warahmatullah…..”, imam mengucapkan salam sambil menoleh ke kanan, diikuti oleh kawan-kawannya selaku jamaah di belakang. Tidak sempat berzikir, dari jauh kira-kira 5 meter, terdengar suara lemari yang dipukul dengan rotan, “bisur’ah…bisur’ah…” (cepat.. cepat..), Ya, itu suara mudabbir gebrak-gebrak anak-anak di asrama supaya segera bersiap-siap untuk keluar asrama mengikuti muhadtsah dan setelah itu jaryu sobah.

Mudabbir itu kakak kelas, pastinya kelas 5. Muhadtsah itu adalah ritual mingguan, isinya “pemaksaan” dan latihan berbicara bahasa arab atau bahasa inggris, tergantung minggu. Setiap orang mencari pasangannya masing-masing untuk conversation. Kalau jaryu sobah itu, istilah untuk lari pagi. Seminggu diadakan dua kali, lari pagi wajib most-compulsary, gundul hukumannya bagi yang melanggar. Larinya keliling kampung. Kenapa lari pagi wajib? Karena, tidak semua anak-anak santri itu suka olah raga, ada yang suka main basket, ada yang suka main bola, ada juga yang suka main voli, ada juga yang suka nyuci, main music, etc… Untuk yang suka basket atau bola, atau olah fisik sejenis, kebutuhan untuk oleh raga mereka sudah terpenuhi, nah yang jadi masalah buat yang hobinya nyuci, inilah kesempatan mereka mengeluarkan keringat, selain keluar keringat ketika dihukum sama bagian keamanan. Bagi santri di Darussalam itu, badan sehat adalah salah satu panca jiwa.

Setelah habis solat, si Arif langsung ke jemuran, mengambil kaos seragam asrama untuk lari pagi. Kaos “keramat” dicuci sebulan sekali, dipakai seminggu dua kali. Sprint dia lari ke lantai 4, sampai disana, dia bingung, ternyata tinggal hanger, kaosnya sudah raib. Saat itu pula, 1001 alasan muncul dalam kepalanya, “pura-pura sakit, nggak mungkin…sembunyi, pasti bagian olah raga dan keamanan razia ke selokan-selokan….”, akhirnya dia memutuskan untuk sembunyi di tong sampah lantai 5. Untuk sementara aman. Dia harus bertahan sekitar satu jam, paling tidak jaga-jaga supaya Tidak ketauan sama yang razia, karena resikonya gundul, dan gundul itu salah satu kredit yang bisa membuat nya istiqomah di kelas yang sama alias tidak naik kelas tahun depan.

Di saat si Arif bingung di lantai 4, si Anas sudah siap dengan pakaian olah raga, pas mau pakai sepatu olah raga, giliran dia sepatunyapun tinggal sebelah. Karena si Anas adalah asisten perpustakaan utama, dia punya kunci perpustakaan, dan rasanya memang perpustakaan adalah maximum security for ikhtiba, alias tempat sembunyi paling aman, at least dalam taktik persembunyian si Anas, maklum asisten perpustakaan itu 99,99 persen adalah anak-anak lurus, dengan tingkat pelanggaran disiplin 0,99%.

Tanpa pikir panjang, di sela-sela anak-anak berlarian menuju barisan lari pagi per-asrama, si Anas menuju ke arah perpustakaan, gedung Saudi 6 lantai 2. Si Arif pastinya sedang menikmati kebebasannya di tong sampah.

Suara peluit dan yel-yel anak-anak bersaing antar asrama bergemuruh, persis seperti pawai, apalagi mereka memakai kaos seragam berbeda-beda, semua membanggakan kostum dan meneriakkan nama asrama masing-masing.

Dengan santainya si Anas masuk ke perpus, dan memilih reading room sebagai tempat sembunyi. Tidak mungkin dia melewatkan moment indah untuk tidur itu dengan membaca buku, itu mustahil. Dia mengambil beberapa lembar koran, dan tidur di bawah meja.

Dalam hitungan menit, si Anas sudah hilang tenggelam dalam mimpi indahnya, sebelum itu dia membayangkan jam 8 teman-temannya sesama asisten perpustakaan yang sudah lari pagi pasti masuk ke perpus dan membangunnya, karena mereka pasti ngepel perpus, dan setelah itu mereka sama-sama ke dapur umum menikmati nasi pecel dengan satu potong tempe yang sudah berumur 1 juta tahun, tapi sangat nikmat.

Hey…ente, qum..qum… (bangun.. bangun..)”, seorang laki-laki bertampang serem membangunkan si Anas dengan nada keras.

Si Anas terbangun, matanya langsung terbelalak, tulang-tulangnya terasa copot satu persatu, bisa dipastikan keringatnya membasahi baju dalam hitungan detik.

Lima la tatba’ jaryu sobah, limaza tanam huna?”, suara berwibawa dan nakut-nakutin itu bertanya kenapa Anas tidak lari pagi dan kenapa sembunyi di perpus.

Indeed, no any replay dari Anas, dengan sopan dia mencopot papan namanya dan diberikan kepada laki-laki itu. Laki-laki itu adalah kakak kelas 6, dia bagian Keamanan Pusat OPPM. “Khuz fiddiwan”, keamanan itu menyuruhnya untuk mengambil papan nama di kantor keamanan. Kakak kelas 6 itupun pergi. Si Anas ditinggal sendiri di reading room, sambil membayangkan nasib apesnya. Padahal ini adalah pelanggarannya yang pertama selama 3 tahun jadi santri. Memang Allah sayang sama orang baik, sekali melanggar langsung ketahuan, hahaha…

Keamanan adalah pusat disiplin di Darussalam itu, mereka mengatur santri dari kelas 1 sampai kelas 5, mereka memiliki wewenang luar biasa, pastinya mereka sangat ditakuti oleh santri. Hal-hal yang menyeramkan bagi santri kelas 1-5 adalah Keamanan, gedung dan Santiniketan kamar 2, kamar dua itu adalah kantor keamanan pusat.

Papan nama adalah identitas santri, setiap santri wajib memakai papan nama khusus, disitu tertera nama lengkapnya, dari warna papan namanya bisa teridentifikasi kelasnya, misalnya hitam kelas 1, kuning kelas 2 dan seterusnya.

Anas turun dari perpus, santri-santri lain sedang gotong royong, bersih-bersih pesantren. Dengan muramnya, sambil bingung si Anas berjalan menuju gedung santiniketan kamar 2. Yang ada dalam benaknya adalah, dia akan digundul, dan tahun depan istiqomah di kelas yang sama, atau kalau nasibnya baik dia akan pindah ke Gontor 7, di Kendari Sulawesi tenggara, dimana sinyal Telk***el saja tidak sampai kesana, apalagi membayangkan bisa makan enak dan murah seperti di Ponorogo.

“Assalamualaikum..”, si anas memberi salam kepada salah seorang keamanan yang duduk di depan kantor membaca koran.

“Waalaikumsalam…maza turid ya akhi”, keamanan itu bertanya ada perlu apa, sopan sih, cuma nggak senyum.

“Abhas an al akh Maimun….”, nyari kak Maimun, kata Anas.

“Udkhul”. Si Anas disuruh masuk. Diapun masuk, dibukanya pintu sedikit-sedikit, akhirnya kemanan yang namanya Maimun asal Malang itu sudah duduk di sofa, menunggu Anas.

Tanpa banyak tanya, si Anas disodorin black book, dan dia mengisi biodatanya di dalam black book itu. Itu buku isinya catatan hitam tentang santri, sebagai pertimbangan nantinya ketika sidang kenaikan kelas.

Singkat cerita, buku ajaib black book itu memvonis si Anas dengan sentence yang sangat berat, dibandingkan dengan kesalahannya yang cuma nggak ikut lari pagi. Si Anas digundul dan dipajang di depan kantor keamanan.

Si Anas dieksekusi tepat jam 8.15 pagi jumat, gedung santiniketan adalah tempat yang sangat sentral setelah masjid, khususnya untuk rute ke dapur umum. Jam 8 adalah jam macet semacet-macetnya dapur umum, dan pastinya hamper 70 persen dari 4500 santri yang ke dapur umum melewati depan gedung santiniketan.

Bayangkan, betapa terkenalnya si Anas, muka innocentnya dengan kepala plontos dipajang di depan santiniketan, dan di lehernya digantung tulisan dalam bahasa arab, “Jangan ikuti saya, saya tidak ikut lari pagi”. Ribuan santri yang pulang dan pergi ke dapur berhenti, melihat dan membaca apa yang tertulis di papan yang digantung di leher Anas.

Setelah satu jam dijemur, si Anas dipersilahkan kembali ke asramanya. Ketika seseorang kena gundul, bukan saja pikirannya yang tertekan, bagaimana nasibnya tahun depan, tetapi dia juga wajib menutup kepala plontosnya itu sampai rambutnya tumbuh beberapa centi, cara menutupnya adalah dengan memakai peci. Selain itu, dia juga tidak bisa berolah raga kecuali lari pagi, karena olah raga dilarang pakai peci. Jadi, selama peci masih di kepala, dia tidak bisa main bola, main basket dan oleh raga lainnya.

Comments

comments

Tags:

Trackback from your site.

admin

Admin Website Blitza 679. Contact us at : admin@blitza679.com

Leave a comment

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.