Ayyu faslin jalasta?

Written by admin. Posted in artikel

“Fasl Tsani K”, Kelas Dua K, “Fasl Tsalits Taksify F”, Kelas 3 Intensif F, “Fasl Tsalits I”, Kelas 3 I, begitu terlihat tulisan kelas di atas pintu bagian luar. Ya, di Gontor kami memiliki kelas dimulai dari kelas B sampai seterusnya, dulu pernah sampai abjad V bahkan. Alhamdulillah, seiring berkembangnya Gontor, pembagian jumlah santri lebih merata di pondok cabang, sehingga abjad kelas yang ada di Gontor sudah tidak sebanyak itu. Pasti agak mengherankan bagi orang yang tidak pernah belajar di Gontor, ketika ditanya; “Kamu kelas berapa?”, kemudian dijawab, “Saya kelas 5 Q”.

Pertanyaan pertama, kenapa dimulai dari B? kenapa tidak A? Memang pada kenyataannya klasifikasi kelas itu berdasarkan kategori nilai, misalnya siswa yang mendapat nilai rata-rata 8,5 ke atas mendapat kelas B, 8,0-8,5 mendapat kelas C, dan seterusnya. Kenapa tidak ada kelas A? Filosofi kenapa tidak ada A yang sebenarnya hanya Kyai pencetusnya yang benar-benar mengetahui, kami hanya mencoba meraba-raba kenapa tidak ada kelas A.

Kalau memang placement class itu sesuai nilai tertinggi, yang paling tinggi nilainya dalam angkatan itu maka namanya akan tertulis di nomor 1 absen kelas B, dan seterusnya, maka untuk mengimplementasikan “Fauqa zil ilmi aliim”, di atas langit masih ada langit, maka dibuatlah kelas tertinggi B, sehingga apabila seorang anak kelas B merasa dia the best, dia harus ingat, masih ada A, yang lebih dari B, jadi dengan menjadi penghuni B tidak perlu merasa tertinggi, kerena masih ada A.

Begitulah juga dalam kehidupan, meskipun kita berada di atas, ingat masih ada lagi di atas kita, meskipun di dunia kita paling tinggi, tapi masih ada Allah di atas kita. Di atas langit masih ada langit.

Pertanyaan kedua, apakah kelas itu menentukan? Menentukan apa dulu? Memang di Gontor terkenal istilah “Fasl fauq ta’alum daiman”, kelas tinggi belajar mulu. Ya, biasanya memang terkenal anak-anak kelas tinggi itu, B,C, atau D misalnya jarang aktif di organisasi, kegiatan-kegiatan ekstra kulikuler lainnya, mereka sibuk belajar saja, supaya tahun depan dapat duduk di kelas B kembali setelah naik kelas.

Kembali ke “apakah kelas itu menentukan?”, ya, dalam kondisi tertentu kelas itu menentukan, misalnya ketika seorang siswa harus menerima amanah jabatan tertentu dimana kelas turut berperan. Tapi, kelas sama sekali tidak menentukan kualitas siswa, semua mereka ibarat mutiara-mutiara, semua berkilau, tapi kilauannya tidak terlalu terlihat, karena dalam tumpukan mutiara, kelak ketika mereka dilempar dalam lumpur, dalam tumpukan batu, maka mereka akan menunjukkan kilauan aslinya.

Comments

comments

Tags:

Trackback from your site.

admin

Admin Website Blitza 679. Contact us at : admin@blitza679.com

Leave a comment

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.