Matbakh ‘Aam

Written by admin. Posted in artikel

Matbakh ‘Aam alias dapur umum, ya dapur umum, salah satu tempat yang paling crowded apabila sudah waktu sarapan, makan siang dan makan malam. Santri-santri penghuni gedung baru (judud) berlari seakan mengejar sesuatu yang tidak ingin mereka lepaskan, santri-santri lama (qudama) bergerak lebih cepat seakan mereka berlomba meraih sesuatu yang sangat berharga, apa benar makanan di dapur umum enak sekali sehingga mereka berlari menuju dapur? Atau yang jaga loket makanan adalah perempuan-perempuan yang cantik-cantik?

Ternyata tidak, ternyata bukan itu sebabnya, ternyata mereka berlari karena dikejar waktu, dapur umum terdiri dari dua lantai, dengan 3 tempat antrian di tiap-tiap lantai, harus menampung 4500-an santri yang kelaparan! Mereka memiliki waktu yang sangat terbatas untuk menyantap makanan itu, makanya supaya tidak terperangkap dalam kemacetan, mereka harus cepat-cepat, “no time for ecek-ecek!”. Tidak jarang setelah antrian panjang, ketika gilirannya harus mengambil nasi di loket, lonceng berbunyi, tanda waktu makan habis, perut lapar, makanan di depan mata, tapi tidak berani dimakan, yang membagikan makanan tetap saja membagi, tapi yang ngantri tidak berani, karena di luar dapur penegak disiplin sudah berdiri dengan sepeda mereka. Jika pagi hari, Staff KMI yang berjaga-jaga di sekitar Matbakh ‘Aam, jika siang hari Staff Bagian Pengajaran OPPM yang siap memberikan hadiah khusus bagi mereka yang terlambat masuk ke kelas Pelajaran Sore, dan pada setiap makan malam, Staff Pengasuhan Santri dan Staff Keamanan Pusat OPPM biasanya yang akan berjaga-jaga di sekitar Matbakh ‘Aam. Khusus untuk hari Kamis siang, Staff Koordinator Gerakan Pramuka dengan peluitnya akan memberi tanda bahwa waktu makan siang sudah habis.

Terus bagaimana, tidak makan? Tidak sarapan? Nah, disinilah terletak legenda “Salathoh Rohah”, Salathoh itu maksudnya sambal, rohah artinya jam istirahat. Jam 6.50 sudah masuk kelas, jam 8.30 lonceng berbunyi tanda istirahat, sata inilah yang digunakan untuk kembali menyerang dapur umum, mbok’e yang jaga dapur juga sudah menyiapkan menu spesial, yaitu “sambal jam istirahat” alias salathoh rohah, yang hanya ada pada jam istirahat. Sebenarnya Salathoh rohah itu cuma kecap dicampur cabe, tapi rasanya kemana-mana, kepala ngantuk langsung hilang, hidung meler langsung sembuh, benar-benar sambal “hell taste”! tapi meskipun demikian, itu sambal adalah legenda yang hanya ada pada jam istirahat.

Itu pilihan bagi mereka yang hobi makan pedas atau memang lagi bokek, karena kalau lagi banyak uang bisa pergi ke kantin, semuanya tersedia, mulai dari kue-kue kecil sampai nasi goreng “ala Qiwaqo”.

Sebenarnya, dapur umum itu nggak hancur-hancur banget, memang sih makananya tidak seenak di rumah, yah ada tempe berdarah, tahu titanic, kerupuk rasa karet, tapi yang paling spesial itu pagi jumat dan jumat siang, nasi pecel dan ikan lele goreng. Sekali-kali, kalau ada hari besar Islam, adalah disediakan ayam goreng satu potong. Dan ada hari dimana makan malam menunya sangat spesial, benar-benar lengkap; Sepiring Nasi dengan lauk Ayam Goreng plus Sambal, ditambah buah-buahan untuk pencuci mulut dan tentunya minuman segar; Dawet Jabung. Menu spesial ini hanya akan ada ketika Malam serah terima amanah Pengurus OPPM  dan ketika Hari perpulangan untuk liburan tiba.

Tapi, sebenarnya bukan itu saja peran penting dapur umum bagi anak-anak santri, tapi banyak “kesepakatan-kesepakatan terang dan gelap” terjadi di sini, ya di dapur. Artinya, memang penggunaan soft power yang paling enak adalah ketika di meja makan. Beberapa gembong marhalah tidak jarang melakukan meeting di Matbakh ‘Aam ini untuk menyusun strategi gebrakan marhalah mereka. Ide-ide gila ala ro’yun ghonam juga seringkali lahir ketika mereka menikmati makanan di Matbakh ‘Aam.

Comments

comments

Tags:

Trackback from your site.

admin

Admin Website Blitza 679. Contact us at : admin@blitza679.com

Leave a comment

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.