Amaliyatu At Tadris, Micro Teaching ala Gontor

Written by admin. Posted in artikel

Oleh Ust. Rahmatullah Oky

Saya berbincang dengan seorang lulusan S-2 di salah satu universitas di Bandung ini. Beliau bercerita tentang unik dan asyiknya “Micro Teaching” yang beliau alami di bangku kuliah. Mengajar dan diawasi oleh teman-temannya, lalu di evaluasi bersama-sama sebagai bahan bahasan pada saat diskusi nanti. Beliau bercerita berapi-api, karena mungkin menganggap saya belum tahu hal seperti itu.

Sesaat setelah beliau selesai, lalu saya ceritakan pengalaman saya ketika dulu menjalani masa Amaliah Tadris (Praktek Mengajar). Bagimana kita diberi waktu 2,5 hari untuk menghubungi pengajar aslinya untuk bertanya materi apa yang harus diberikan, kemudian membuat persiapan mengajar selengkap-lengkapnya, lalu membawanya dihadapan ustadz pembimbing untuk dikoreksi, lalu diperbaiki lagi, diajukan lagi, setelah ditanda tangani, lalu kita praktekkan apa yang akan kita ajarkan itu di hadapan teman-teman terlebih dahulu, apa yang akan kita sampaikan harus kita tulis lengkap, cara-caranya, pertanyaanya, jawabannya, disiapkan seluruhnya. Dan diusahakan kita tidak membuka persiapan kita ketika mengajar meskipun itu dibolehkan.

Lalu tibalah saat amaliah itu. Saya tunjukkan foto di bawah ini, dia terkejut tak alang kepalang. Dihadapan puluhan Guru senior, dihadapan ratusan teman-teman kelas enam, harus mengajar kelas yang kita sama sekali tidak tahu kemampuannya. Sebab kalau kita ketahuan memberi tahu anggota kelas itu tentang materi ajar kita, otomatis amaliah kita akan hangus dan otomatis pula saya harus mengulang lagi amaliah saya. Ratusan mata itu menatap sang pengajar dengan mimik muka serius, meneliti semua apa yang dia ajarkan, kalau ada satu saja kesalahan akan langsung ditulis sebagai kritik kepadanya. Kawan saya terkejut bukan kepalang, dia bilang kalau saya diminta seperti itu pasti tidak sanggup, dan mungkin harus berfikir ulang untuk praktek mengajar….

Amaliyatu At Tadris

Saya bilang lagi, itu belum selesai…karena setelah itu ada “Darsu An-Naqdi” (Evaluasi Proses Pengajaran) dimana kritik dan kesalahn kita akan dibuka di hadapan para Guru dan teman-teman. Ada 4 kriteria kritik :

1. Thariqah (Cara mengajar) : Karena ini yang terpenting. Mengajar Muthala’ah (Bahasa Arab) jelas beda caranya dengan mengajar Hadits, jelas beda lagi kalau mengajar Khat (menulis Arab). Jadi tidak bisa diambil sama semua. Karena keliru mengambil cara, maka ini fatal. Kita harus mengulang lagi Amaliah Tadris kita. Bahkan kalau kita bertanya “Hari ini tanggal berapa?” sebelum bertanya “Apa Pelajaran kita?” ini sudah masuk kritik “Thariqah” yang besar. Karena murid belum sepenuhnya memberikan perhatian kepada pelajaran, tapi sudah ditanya macam-macam. In bagaimana?? Atau menunjuk santri cuma yang itu-itu saja untuk menjawab pertanyaan. Ini juga salah.

2. Maadah (Materi) : Materi ini meliputi apa isi pengajarannya. Materinya sudah betul atau salah. Kesalahan pada materi ini meliputi kesalahan pemberian kosakata baru, kesalahan memberikan keterangan pelajaran, kesalahan menjawab pertanyan santri, dan beberapa kesalahan materi ajar yang lain. Kalau sampai ada materi yang keliru, maka hukumanyya sama, kita harus mengulang lagi Amaliah Tadris kita.

3. Ahwalu Almudarris (Kepribadian Guru): Apakah Guru suaranya kurang lantang? Apakah Guru berdebar sehingga kelihatan? Apakah Guru mengajar dan jas-nya kotor? Apakah Guru hanya memberi pertanyaan kepada satu orang saja? Apakah Guru membiarkan murid yang tidur? Apakah Guru menghapus papan tulis dengan tangan dan bukan dengan penghapus papan tulis? Apakah wajah Guru tidak tersenyum? Apakah Guru melihat persiapan mengajarnya atau tidak? Apakah Guru mengajar tepat waktu? Apakah Guru memberi pinjaman pena kepada santri yang tidak membawa pena? Apakah guru bisa menjawab pertanyaan siswa diluar pertanyaan yang ada pada lembar persiapannya? Dan setumpuk pertanyaan lain. Ini harus dijawab oleh sang Guru. Tapi ini tidak terlalu fatal.

4. Lughatul Mudarris (Bahasa Guru) : Ini kesalahan yang PASTI dimiliki oleh semua Guru. Jadi tentu saja yang paling banyak adalah pada hal ini. Ini juga bukan kesalahan fatal, karena bisa jadi terpengaruhi oleh dialek masing-masing Guru.

Setelah panjang lebar dia saya beri keterangan tentang apa itu amliha tadris dan bagaimana praketikumnya. Dia kemudian berkata :

“Micro Teaching saya ternyata tidak ada apa-apanya disbanding Amaliyah Tadris sampeyan mas… Kapan ada Amaliyah di Gontor?? Saya harus menyaksikannya…!!”

Sayang. Amaliyah baru saja berlalu…Mungkin tahun depan pak…Semoga kita bisa bertemu lagi…

Sumber

Comments

comments

Trackback from your site.

admin

Admin Website Blitza 679. Contact us at : admin@blitza679.com

Leave a comment

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.