Perbedaan Sikap

Written by Jauhar Ridloni Marzuq. Posted in artikel

Dunia ini adalah tempat perbedaan. Allah menciptakan manusia dengan watak dan sifat yang berbeda-beda. Dalam Ilmu Fikih, kita biasa mengenal istilah Syadaa’id Ibnu Umar (ketegasan Ibnu Umar) dan Rukhas Ibnu Abbas (kelonggaran Ibnu Abbas).

Ibnu Umar RA terkenal ketat dalam menjalankan ajaran-ajaran agama, sementara Ibnu Abbas RA terkenal longgar. Dalam perkara yang membatalkan wudhu, misalnya, Ibnu Umar RA berpendapat sentuhan kulit antara perempuan dan lelaki yang bukan mahram membatalkan wudhu, baik dengan syahwat ataupun tidak. Sementara Ibnu Abbas RA berpendapat ia tidak membatalkan wudhu, bahkan meskipun diikuti dengan syahwat.

Dalam ibadah haji, Ibnu Ummar RA rela berdesak-desakan untuk mencium Hajar Aswad, sementara Ibnu Abbas RA cukup dengan melambaikan tangan dari jauh. Ketika ditanya, Ibnu Umar RA bilang, “Hati ini seperti ditarik untuk menciumnya, meskipun harus berdesak-desakan”. Sementara Ibnu Abbas RA bilang, “Tidak harus berdesak-desakan. Tidak boleh menyakiti dan disakiti.”

Bukan hanya para Sahabat muda Rasulullah, para pembesar sahabat juga memiliki kecondongan masing-masing. Ketika Rasulullah SAW meminta pendapat tentang tawanan perang Badar, Abu Bakar RA bilang: “Rasulullah, para tawanan itu banyak dari keluarga dan sanak saudara kita. Lepaskanlah saja biar mereka membayar tebusan, dan uangnya kita gunakan untuk keperluan kaum Muslimin.”

Sementara Umar bin Khattab RA bilang, “Jangan lepaskan mereka, Ya Rasulullah. Kita harus memberi pelajaran kepada kaum Musyikirin. Berikan si A kepada saya, dan si B kepada Ali, dan di C kepada Ustman, biar kami penggal leher mereka.”

Bukan hanya para Sahabat, para Nabi dan Rasul juga tidak sama pembawaanya. Nabi Nuh AS, ketika melihat kaumnya ingkar, beliau berdoa kepada Allah “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara kaum Kafir itu tinggal di atas bumi (alias hancurkanlah mereka semua).” Sementara Nabi Isa AS berdoa, “Jika Engkau akan mengazab mereka (dan itu adalah hak-Mu), maka sesungguhnya mereka adalah hamba-Mu, namun jika Egkau memaafkan mereka, maka sesungguhnya Engkau maha perkasa lagi maha bijaksana.”

Bahkan mereka yang lahir dari bapak dan ibu yang sama, di tempat yang sama, pada masa yang sama, bisa juga berbeda perangainya.

Lihatlah Hasan dan Husein radhiyallahu ‘anhuma. Keduanya sama-sama lahir dari Ali bin Abi Thalib dan Fatimah, sama-sama cucu Nabi, tapi pembawaan keduanya seperti bertolak belakang. Hasan RA terkenal kalem dan suka mengalah, Husein RA tegas dan berapi-api. Husein RA, meskipun memiliki hak baiat untuk menjadi khalifah, beliau rela mundur demi kemashlahatan kaum Muslimin dan menyerahkannya kepada Muawiyah. Sementara Husein RA, yang belum mendapatkan baiat setelah kematian Muawiyah RA, justru keluar dari kepamimpinan Yazid dan ingin membuat khilafah tandingan di Kufah.

Intinya apa? Intinya itulah manusia. Kita diciptakan dengan begitu banyak keragaman dan perbedaan. Masalahnya bukan pada perbedaan, tapi bagaimana kita menyikapi perbedaan.

Comments

comments

Trackback from your site.

Leave a comment

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.