KETIKA GONTOR (katanya) WAHABI

Written by Firman Arifandi. Posted in artikel

Gontor

(Revisi)

Refleksi ini ditulis dari hasil obrolan saya dengan salah satu kawan dekat di Sudan*. Dalam obrolan itu beliau menyayangkan beberapa alumni Gontor di Sudan yg pemikiranya mudah ikut arus pemikiran kelompok Salafi Wahabi yang keras, setelah pulang ke Indonesia, kemudian menjadi tokoh da’i Wahabi y ang sedikit-sedikit teriak haram, bid’ah, kafir. Dia bertanya; “Gontor emangnya bermanhaj seperti apa? Kenapa kok banyak saya lihat yang pemikirannya keras (baca: radikal)?”

Saya katakan; “Gontor sama seperti prinsip Azhar, Wasathi. Tidak akan berpihak pada ormas manapun, tidak condong pada partai apapun, apalagi ikut manhajnya. Tapi Gontor tidak melarang para alumninya bahkan santrinya untuk bergabung dengan ormas, partai, dan madzhab apapun. Namun demikian, semua label ideologi ormas, partai dan manhaj itu tidak boleh dibawa ke Gontor. Harapannya, dengan kewasathiyahan Gontor, alumninya tidak ekstrim kanan sehingga berfikiran radikal, tidak juga ekstrim kiri sehingga jadi liberal”.

Kawan saya kemudian bertanya; “Lah, jika Gontor tidak punya latar belakang ormas atau harokah, apa menjamin arah ideologi para alumninya?”.

“Justru itu kang, prinsip ketidakberpihakan itu justru menjamin originalitas keislaman alumninya”, saya menimpali.

“Tapi faktanya, banyak tuh  di Sudan yang wahabi dari alumni gontor?”, lanjutnya.

Saya mencoba menjelaskan semampu saya; “Iya, coba sampeyan lihat jumlah alumni Pondok almamater sampeyan di Sudan sama alumni Gontor di Sudan, banyakan mana? Kalau perbandingannya adalah jumlah, itu karena Gontor setiap tahunnya menelurkan seribuan alumni, insya Allah alumni Gontor yg lurus lebih banyak daripada alumni Gontor yang Wahabi. Alumni Gontor tidak hanya ada yang Wahabi, kang. Liberal juga ada, bahkan Syi’ah juga ada. Dan saya yakin, alumni pesantren lainpun demikian, hanya bedanya di kuantitas karena pesantren lain nggak sebanyak Gontor alumni per tahunnya. Sebagai contoh saja, ada tuh alumni Pesantren Tambak Beras yg jadi tokoh besar Wahabi di Cipayung, Jakarta Timur. Eksis di youtube bahkan.”

Seakan belum puas dengan penjelasan saya, ia melanjutkan pertanyaannya; “Sejauh mana Gontor men-counter Wahabi? Sekuat apa pondasi pemahaman aqidah di Gontor diajarkan? Apa sistem pesantren salaf dengan ngaji sorogan dipakai di Gontor?”

Saya menjawab; “Kang, apa iya pesantren itu nggak ngajarkan Aqidah? Di Gontor santri diperkuat faham aqidahnya di 3 tahun pertama dengan kecondongan terhadap Aqidah Asy’ariyah. Jadi, insya Allah pondasi itu diperkuat dari awal mereka nyantri. Sistem pesantren salaf dengan ngaji kitab cara sorogan sengaja tidak dipakai di Gontor, hal ini agar santri dan guru lebih interaktiv dalam belajar dan mengajar, serta menghidupkan antusiasme pengajaran. Maka, ngaji kitab tetap ada tapi dengan sistem yg berbeda. Jadi Gontor sama sekali tidak menghilangkan substansi kepesantrenannya.”

Sepertinya kawan saya ini masih penasaran dengan Gontor, ia kemudian bertanya; “Saya dengar santri Gontor ngaji kitabnya Soleh Fauzan untuk bidang Tauhid? Bukankah itu artinya santri dimatikan akal logisnya, dibunuh nalar kritiknya untuk takwil dan diarahkan ke pemikiran takfiri dan tabdi’i?”

“Benar, di Gontor memang ngaji kitabnya Soleh Fauzan. Tapi alhamdulillahnya, 3 tahun pertama di gontor sudah diawali ngajinya kitab tauhid 20 sifat, itu supaya jadi pondasi kuat dan akal logisnya hidup utk takwil. Adapun kitab Soleh Fauzan tidak semuanya dimasukkan kedalam sillabus, bahkan bab bid’ah tidak dibaca. Saya melihat, kenapa kitab itu dijadikan bacaan di Gontor? Justru supaya nalar kritis santri makin hidup, dan agar santri mampu meng-compare jenis pemahaman aqidah dari sumbernya. Serta agar santri terarah untuk menilai segala hal secara objektiv, bahkan tidak jadi bagian dari takfiri dan tabdi’i. Seandainya isi kitab Soleh Fauzan itu jadi pedoman hidup di Gontor, saya yakin ngga akan ada wiridan setelah shalat jama’ah di Gontor, saya yakin qunut akan dilarang di Gontor, bahkan saya yakin pentas seni tahunan akan ditiadakan karena ada joget-joget dan musik-musiknya. Tapi ternyata semua itu masih ada tuh di Gontor sampai hari ini.”, saya merespon.

Ia kemudian bertanya lagi; “Lalu apa yang menjadikan alumninya (Gontor) berubah jadi Wahabi, Syi’ah, Liberal?”

“Pesantren pada umumnya ada untuk membentuk miliu kehidupan beragama, memberikan pondasi, peraturan-peraturannya yang mengikat, disiplin-disiplinnya yang kuat menjadikan santri terbentuk untuk ikut ke arah yang dibuat oleh pesantren tersebut. Nah, tatkala sudah jadi alumni, miliu pendukung seperti peraturan yang mengikat, dan silabus yang tertata mulai renggang, alumni tersebut mulai bebas menentukan arahnya sendiri. Kalau dia berada di lingkungan yang tepat, dia pasti akan Aswaja, tapi jika tidak, akan sebaliknya. ya seperti alumni kami yg di Sudan lah, kata sampeyan banyak yang Wahabi, tapi alumni Gontor yg di Pakistan, Aswaja semua itu, nggak ada tuh yang model-model Takfiri Tabdi’i kalau di Pakistan. Jadi, lagi-lagi lingkungan yang mendukung dia berubah, dan ini tolak ukur untuk semua Alumni Pesantren manapun saya kira”, saya menjawab.

Ia seakan belum puas, kemudian bertanya; “Terus, realisasi Gontor sebagai lembaga Tafaqquh Fi-d-diin dan menjaga Aswaja (ahlu sunnah wal jamaah) gimana menurut sampeyan?”

“Gontor sudah sangat totalitas juga di kurikulumnya Kang dalam menjaga aqidah santri. Di Gontor ada bahtsul masail dengan sistem ujian Fathul Kutub diaplikasikan melalui metode diskusi berkelompok, itu sangat akurat sekali menangkal pemikiran santri agar nggak nyeleneh. Ujian Fathul Kutub itu salah satu tujuannya untuk membuka apa yang ada di otak si santri pada sebuah Qodiyyah dengan metode analisa kitab dan diskusi, jadi akan terbuka lebar sejauh mana wawasan dia terhadap agama. Kalau kelihatan melenceng akan diluruskan dalam diskusi oleh musyrifnya. Cukup esensial saya rasa. Goal-nya Gontor pada penjagaan ke-Aswajaan. Meski Gontor nggak menamakannya kajian Aswaja, tapi substansinya sudah Aswaja banget. Jadi sebelum njenengan teriak-teriak untuk ber Aswaja, Gontor sudah mempraktekan Aswaja duluan”, saya merespon. Dan semoga apa yang saya jelaskan kepadanya sedikit merubah pemikirannya terhadap Gontor dari sebelumnya.

Islamabad, 29 maret 2016

Sumber

*Pada redaksi sebelumnya, penulis mencatut nama Tanfidziyah PCINU Sudan, setelah melakukan klarifikasi, penulis meralat klaim tersebut dan meminta maaf kepada pihak pengurus Tanfidziyah PCINU Sudan atas kekeliruan menyertakan nama lembaga dalam sebuah obrolan yang sifatnya individu.

Comments

comments

Trackback from your site.

Comments (2)

  • irnayanti

    |

    Assalamualaikum.

    Artikel ini sangat melegakan kami, karna kebetulan saat ini anak kami sedang nyantri di gontor. mudah mudahan bisa lulus dengan baik.
    Gontor harusnya bisa jadi contoh bagi lembaga pendidikan lainnya.

    Reply

Leave a comment

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.