Tidak penting

Written by Angga Prilakusuma. Posted in artikel

Zaman internet di telepon genggam dapat berarti banyak hal. Positifnya, informasi mudah diperoleh, komunikasi tidak tersekat jarak dan waktu. Instan. Banyak hal yang dapat diketahui melalui internet atau aplikasi chat seperti WA. Sampai ada istilah masyarakat informasi. Konon setelah masa agraris dan industri, zaman baru yang datang adalah era informasi. Pengetahuan, ide dan kreativitas menjadi kapital baru, lebih penting dari era sebelumnya.

Negatifnya, informasi yang dapat dijangkau terlalu banyak. Sebagian besar tidak bermanfaat, tidak penting, dan tidak berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari. Mau Ahok jadi gubernur lagi atau tidak, karyawan counter di seberang terminal di Sidoarjo itu lebih memusingkan pemasukan sampingan atau macet di Gedangan yang lambat diatasi pemerintah. Seberapa pun banyak posting tentang Ahok di dinding FB, baginya hal itu tidak urgen. Kecuali misalnya, ia adalah warga Jakarta, atau akademisi dan ulama yang berkepentingan membahas polemik pemimpin non-muslim dalam tradisi Islam.

Social Media

Tapi tak dapat dipungkiri, dengan menelusuri timeline, waktunya sedikit banyak telah tersita untuk memperhatikan hal yang tak langsung berkaitan dan berdampak bagi kehidupannya. Ini cuma contoh.

Atau pesan yang terkirim lewat grup di WA. Belasan atau puluhan orang mengobrol di grup, banyak pula topik yang tidak berkaitan dengan kehidupan pribadi seseorang. Grup bisa “dibungkam” hingga maksimal setahun. Tapi pesan terbaru yang tak terbaca pasti berada di urutan paling atas, menuntun pengguna untuk membukanya. Belum lagi BC produk, dst. Barangkali itu yang dinamakan polusi informasi (information pollution).

Ponsel asalnya adalah ruang pribadi, tapi kini menjadi ruang publik yang dibawa ke kamar. Sales zaman dahulu datang mengetuk pintu rumah. Terserah empunya rumah, mau menerima atau tidak. Itu haknya. Tapi BC langsung hadir ke kamar, bisa jadi saat pemilik ponsel tidur, atau ke toilet. Tanpa permisi dan tak bisa ditolak, suka atau tidak. Sebagian orang cuek, tapi tak sedikit pula yang merasa terganggu.

Tapi yang terlihat, batas antara yang publik dan privat menjadi kabur. Status yang anda tulis atau obrolan singkat bersama kawan anda di timeline sebenarnya bersifat privat, dalam artian tidak ditujukan kepada khalayak, meski nyatanya teman anda yang lain dapat mengaksesnya. Belum lagi twitter yang kicauannya terbuka dan dapat dibaca publik, padahal isinya cerita keseharian pengguna itu. Obrolan anda melalui jalur pribadi (PM) juga dapat di-screenshot dan dibagikan ke grup lain tanpa sepengetahuan anda. Apalagi gambar-gambar yang dipampang di facebook atau instagram. Terlalu banyak orang yang dapat mengunduhnya (download). Syukur bila pengguna itu tahu, orang yang dapat melihatnya tidak berniat buruk. Akan lain lagi halnya bila niat pengunduhnya tidak diketahui.

Kemudahan informasi dapat menyebabkan banjir informasi (information overload), dan pengguna dituntut untuk bersusahpayah mencari beberapa informasi yang berguna bagi kehidupan pribadinya di tengah tumpukan informasi, seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami.

Banyaknya informasi juga dapat mengaburkan skala prioritas. Memilih isu mana yang harus diikuti, atau ditelusuri lebih jauh. Tapi untuk itu, banyak waktu yang tersita saat sekilas melihat opsi-opsi yang tersedia. Banyaknya opsi dapat menunda pengambilan keputusan.

Tanda baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak penting baginya. Tidak semua harus dibaca. Tidak semua harus dikomentari. Tidak semua harus difoto dan dipasang di internet.

Wallahu a’lam.

 

Comments

comments

Trackback from your site.

Leave a comment

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.