Paksa!

Written by Nurdin Sarim. Posted in artikel

“Perintahkanla anak kalian untuk sholat saat mereka berusia tujuh tahun dan pukullah mereka, (jika meninggalkan sholat) saat mereka berusia sepuluh tahun”.

Kata “Pukulah” dalam hadits diatas menyiratkan “paksaan”. Paksaan untuk melakukan tindakan keras terhadap anak yang enggan sholat.

Memang, terkadang kebaikan itu harus dipaksakan hingga menjadi kebiasaan. Bukankah Allah juga “memaksa” kita untuk beribadah kepadanya?, jika tidak Neraka balasannya.

Saya masih ingat bagaimana pendidikan paksaan ini dilakukan Gontor, hampir disegala bidang dan lini kehidupan pesantren, berawal dari pemaksaan.

Waktu dinyatakan lulus ujian masuk saja, siswa langsung dipaksa untuk mengikuti disiplin dari A  sampai Z nya. Jangan harap ada peraturan tertulis, semua peraturan hanya diucapkan, disosialisasikan, peraturan-peraturan ini kemudian kami kenal dengan sebutan “Tengko” teng komando. Melanggar tengko sama saja dengan cari mati.

Siswa baru dipaksa untuk meninggalkan bahasa kampungnya, meninggalkan kesukuan dan kedaerahannya, semua dilebur, dicampur dengan siswa lain dalam kamar-kamar asrama. Menghina daerah dan suku lain, mati. Angkat koper.

Tiga bulan jadi santri baru, mereka dipaksa untuk meninggalkan bahasa Indonesia sama sekali. Berganti Bahasa Arab atau Inggris. tidak bisa, diam saja. Percakapan di semua lini kehidupan siswa tak lepas dari dua bahasa; di asrama, kantin, dapur, lapangan dan laennya.

Santri ingusan itu juga dipaksa menyapu, mengepel, ngaji 4 kali sehari, azan, jadi imam sholat, pidato arab inggris, berpakaian rapi, rambut klimis bak polisi dan mengurus kebutuhannya sendiri. Tak jarang, karena filosofi paksaan begitu kuat, mereka tak makan, tak mandi, kurang tidur dan kurus kering.

Pendidikan paksaan ini begitu kuat di kelas satu, dan semakin keras di kelas selanjutnya. Kelas tiga dan empat tipaksa menjadi panitia lomba drama, pidato, pentas musik dan seni, tak beres umpatan dan kayu bisa melayang dari pengurus rayon.

Kelas lima lebih gila lagi. Pendidikan paksaan ini luar biasa gilanya. Mereka harus sekolah tapi juga harus mengurus siswa laen yang ratusan di asrama. Ngurus kebersihan asrama, lampu, bahasa, keamanan, laporan, dan lain sebagainya.

Mereka harus bangun sebelum anggotanya, dikejar-kejar keamanan, tandatangan kehadiran, asrama tak beres, kayu melayang. Malamnya harus belajar bersama, ngantuk cap lima jari balasannya. Usai belajar bersama harus rapat pengurus asrama hinngga tengah malam. Tak jarang jam 12 malam dipanggil keamanan, asrama tak beres, anggota tak disiplin.

Saya merasakan kelas lima di Gontor laksana neraka di dunia. Anggota yang salah pengurus yang dihabisi, anggota tak berbahasa, makan berdiri, lingkungan tak bersih dan hal tak beres lainnya, tanggungjawab ada di pengurusnya. Pengurus OPPM bagai singa dan anjing yang siap menerkam, mengusik ketentraman kapan dan dimana saja.

Naik ke kelas enam, mungkin agak lebih baik dari kelas lima, tapi semua urusan pesantren ada di pindaknya. Dapur, administrasi keuangan, kantin, laundry, koperasi pelajar, masjid, dokumentasi dan sebagainya adalah tanggungjawabnya, salah laporan, sumpah serapa didapat.

Maka saat laporan pertanggungjawaban semua bendahara bagian tak henti-hentinya menghafal uang masuk dan keluar yang jumlahnya miliaran. Salah satu angka saja, dampaknya fatal.

Pendidikan paksaan di Gontor luar biasa kerasnya. Tapi walaupun begitu, pemaksaan ini kemudian menjadi karakter tersendiri bagi siswanya. Siswa menjadi terbiasa kerja cepat, jalan cepat, belajar cepat, berfikir cepat dan semua kecepatan lainnya.

Pak Syukri selalu berkata “Kalian dipaksa disini, bukan untuk kami atau pondokmu ini, kalian dipaksa untuk kebaikan diri kalian sendiri.”

Saya rasakan paksaan itu menjadi pemicu kreatifitas, karena dipaksa, dihabisi dan ditekan untuk belajar disiplin, akhirnya jadi biasa. Sahabat yang lain dipaksa mengurus dapur dan penginapan, jadilah ia pengusaha rumah makan dan hotel.

Pendidikan dengan memaksa tidak selamanya negatif, ada ruh kreatifitas, kecepatan dan disiplin yang kuat di dalamnya. Dan ini yang saya rasa belum ditemukan di sini.

Allahua’lam.

Comments

comments

Trackback from your site.

Leave a comment

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.