GRAND SYEKH AHMAD TAYYIB: ANTARA PENCINTA DAN PENCELA

Written by Jauhar Ridloni Marzuq. Posted in artikel

Grand Syeikh Al Azhar

Syekh Yusuf Al-Qaradhawi pernah menulis buku judulnya “الإمام الغزالي بين مادحيه وناقديه” yang kalau diterjemahkan beraarti “Imam Ghazali: antara Pemujanya dan Pengritiknya”.

Untuk apa buku itu ditulis, padahal buku tentang biografi Imam Ghazali sudah sangat banyak dan bertebaran?

Jawabannya, buku ini bukan sekedar menulis biografi Imam Ghazali, tapi juga ingin menempuh jalan tengah dalam membaca biografi dan pemikiran seorang Imam yang disebut oleh Syekh Mustafa Maraghi sebagai “إنه جملة رجال في رجل واحد” alias “satu orang yang sebanding dengan kumpulan banyak orang” itu. Ada sebagian orang cinta berlebihan kepada Imam Ghazali sehingga bukunya Ihya Ulumuddin, misalnya, dianggap dan diposisikan hampir seperti Al-Qur’an. Sementara di sisi lain, ada golongan yang menganggap buku-buku Imam Ghazali layak dilemparkan ke dalam api neraka.

Membaca pro-kontra tentang kedatangan Syekh Azhar di Indonesia beberapa hari ini, saya teringat dengan buku Syekh Al-Qaradhawi di atas. Seakan menjadi ‘takdirnya’ orang-orang besar, pasti ada pencinta dan pencela; ada pemuja dan pengkritik.
وهو شأن كثير من العظماء في التاريخ
“Itu adalah kondisi yang dialami oleh banyak besar dalam perjalanan sejarah manusia,” kata Syekh Al-Qaradhawi.

Pro kontra tentang pemikiran Syekh Ahmad Tayyib, tidak lain, menujukkan keagungan posisi sosok yang bermanhab Maliki ini.

Tapi saya juga teringat perkataan Imam Ali bin Abi Thalib yang menceritakan tentang dirinya sendiri, ketika beliau berkata:
هَلَكَ فِيَّ رَجُلاَنِ: مُحِبٌّ غَالٍ وَ مُبْغِضٌ قَالٍ.
“Telah hancur dua orang (golongan) karenaku: yaitu mereka yang mencitaiku melebihi batas, dan yang membenciku berlebihan.”

Ya, mungkin sudah menjadi takdirnya orang-orang besar, apa yang dikatakan oleh Imam Ali tersebut seakan terjadi juga pada Grand Syekh Ahmad Tayyib.

Di satu sisi, ada pecinta yang berlebihan sehingga apa saja yang dikatakan Syekh Ahmad Tayyib dibela dan diperjuangkan mati-matian. Siapa yang mengkritik Syekh Tayyib, tidak sependapat dengan beliau, atau yang menolak pemikiran beliau, akan siap mendapatkan serangan “nuklir” dari kelompok ini.

Sementara di sisi lain, ada juga orang yang bencinya minta ampun terhadap sang Grand Syekh. Setiap perkataan Syekh Tayyib selalu dicari celah kekurangannya. Perkataan yang sebenarnya baik pun, dinukil dengan tidak lengkap sehingga terkesan jelek.

Contoh paling anyar, pidato Syekh Tayyib panjang lebar tentang persatuan umat Islam, penindasan terhadap umat Islam, kemoderatan Islam, nilai-nilai kasih sayang dalam Islam, pengharum LGBT, dan lain-lain, semua itu tenggelam, dan yang dimunculkan malah pandangan beliau tentang Syiah. Yang tentang Syiah itupun dipotong-potong dan tidak dipahami secara utuh. Kenapa menonjolkan pandangan beliau tentang Syiah dan tidak tentang LGBT, misalnya?

Jadilah perbincangan tentang Syekh Tayyib bertebaran di mana-mana. Yang mengkritik keterlaluan, yang membela juga kelewatan. Sama-sama ekstrem. Seperti Imam Ali tadi, Syekh Tayyib diperburuk oleh dua orang: yang membela dengan membabi-buta, dan yang mencela dengan membabi buta.

Kalau saya pribadi, saya sering tidak setuju dengan sikap atau mauqif Syekh Tayyib dalam masalah percaturan politik, terutama politik dalam negeri Mesir. Saya sering terlibat diskusi dan debat dengan mahasiswa Al-Azhar tentang sikap politik Syekh Tayyib. Tapi itu dalam hal sikap politik beliau. Dalam pemikiran-pemikiran keagamaan, seperti penafsiran asma’ sifat, hukum cadar, hukuman bagi murtad, definisi jihad, posisi Syiah, LGBT, dan lain-lain, saya banyak mengikuti pandangan beliau. Saya suka mendengar ceramah-ceramah beliau tentang Asya’irah di YouTube.

Sempat dua tahun saya mengalami secara langsung bagaimana Syekh Tayyib memimpin institusi Al-Azhar (dari 2010-2012). Di tahun-tahun itu, saya mendapatkan Syekh Tayyib benar-benar rapi dalam masalah administrasi dan birokrasi. Kebobrokan administrasi dan birokrasi di masa Syekh Azhar sebelumnya beliau rombak total. Beliau juga sangat peduli dengan mahasiswa-mahasiswa asing, sehingga jumlah beasiswa mereka ditambah, dapur umum direnovasi, asrama-asrama baru dibangun, fasilitas-fasilitas dan lapangan olahraga dinaiktarafkan. Pertama kali saya datang, tahun 2008, beasiswa saya dari Al-Azhar cuma 90 pounds; dan terakhir saya dengar ketika ke Mesir bulan lalu, tahun ini beasiswa dari Al-Azhar sudah 500 punds lebih.

Selain sangat administratif, dalam pandangan saya, Syekh Tayyib juga sosok yang santun. Saya hampir tidak pernah menemukan tulisan atau bahkan buku beliau yang mencela/menghujat ulama fulan, atau membantah ulama fulan yang mencela dirinya. Syekh Tayyib paham banyak orang yang mengritiknya secara membabi-buta, tapi beliau tetap menggapainya dengan kalem dan lembut.

Begitulah saya melihat sosok Syekh Tayyib. Meski tidak setuju dengan sikap politiknya, saya tetap mencintai Syekh Tayyib sebagai seorang ulama, guru, pemuka agama, dan Grand Syekh Azhar. Hanya saja, banyak orang yang gagal paham, sehingga berbeda pendangan otomatis dianggap benci. Biarkan saja.

Menyikapi sosok dan pemikiran Syekh Tayyib ini kita juga harus seimbang, seperti keseimbangan (wasathiyah) yang selalu beliau ajarkan. Anda yang membenci beliau jangan menutup mata dengan kebaikan-kebaikan beliau. Dan Anda yang mencintai beliau secara membabi buta, jangan kira itu baik buat Syekb Tayyib. Justru itu merugikan beliau. Apalagi jika pembelaan itu dilakukan dengan celaan, hinaan, makian, atau kata-kata kotor terhadap orang yang berbeda pandangan dengan Syekh Tayyib. Anda mengaku cinta kepada Syekh Tayyib, tirulah perangai Syekh yang tetap kalem dan santun menghadapi para pembenci dan pencelanya. Wallahualam.

(Photo; Dari Fan Page resmi Al Azhar University)

Comments

comments

Trackback from your site.

Leave a comment

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.