Keluarga itu bernama : Blitza Remigion

Written by Fahmi Agustian. Posted in Agenda, celoteh

Masihkah kalian ingat kapan tanggal pertama kali kalian resmi menjadi santri di Gontor? Masihkah kalian ingat berapa nomor stambuk kalian? Masihkah kalian ingat berapa nilai Ujian Awal Tahun pertama kali kalian dapatkan? Masihkah kalian ingat kapan pertama kali kalian menerima kiriman wesel dari orang tua kalian? Masihkah kalian ingat setoran hafalan apa yang pertama kalian setorkan kepada wali kelas kalian dulu? Mungkin itu pertanyaan-pertanyaan yang agak susah dijawab. Tetapi jika ada pertanyaan; Masihkah kalian ingat teman sebelah lemari kalian? Masihkah kalian ingat teman sebangku kalian? Masihkah kalian ingat teman firqoh, teman konsul, teman POT, dan sekian banyak lagi klasifikasi teman ketika di Gontor, pasti dengan mudah kalian akan ingat nama-nama mereka, bahkan hafal semua peristiwa-peristiwa yang kalian lalui, bahkan sampai hal yang paling konyol sekalipun, akan lebih mudah kalian ingat bukan?

Saya yakin, tidak satupun dari kita di Blitza Remigion menghafal semua teman-teman yang totalnya lebih dari 940 orang, berdasarkan daftar yang tercatat secara administrasi di Agenda marhalah kita. Dan saya juga yakin, kalian justru mengingat teman-teman kita yang tidak terdaftar di Agenda marhalah itu. Ada banyak dari mereka yang harus berpisah dengan kita karena satu dan lain hal, sehingga tidak bisa bersama-sama kita sampai yudisium tanggal 11 Ramadhan 1426 H saat itu. Silahkan mulai perlahan daftari satu per satu teman-teman kita yang ternyata dulu tidak kita lihat namanya di Agenda marhalah ketika kita lulus kelas VI KMI, saya sendiri mendaftarinya dan setidaknya lebih dari 10 nama yang muncul.

Ya, secara administratif yang tercatat di KMI, sejumlah 945 orang yang tercatat sebagai siswa kelas VI KMI tahun 2005 saat itu. Tetapi, Blitza Remigion dimata saya bukanlah sebuah lembaga yang saklek dengan aturan administratif seperti itu. Sehingga, seperti yang sudah tertulis di grup facebook Blitza Remigion, bahwa yang pernah bersama-sama dengan kita mulai dari Calon Pelajar hingga angkatan KMI Gontor tahun 2005 itu resmi lulus dari Gontor, itulah Blitza Remigion. Dan jika dikerucutkan lagi, nama Blitza Remigion itupun sebenarnya hanya identitas saja yang kita sepakati bersama, kesepakatan itu agar memudahkan orang lain untuk mengidentifikasi kita. Tidak jauh berbeda peristiwanya dengan ketika orang tua kita memberi nama kepada kita.

Tentu ada banyak sekali kisah perjalanan dan dinamika kehidupan yang kita alami di Pondok dulu. Mulai dari tertawa bersama hingga menangis bersama, momen-momen yang terkadang bisa membuat kita juga kembali tertawa ketika kita mengingatnya. Itulah kenangan kita. Mahkamah ba’da maghrib, Ilqo Mufrodat, Jaryu Shobah dan seabrek agenda rutin setiap hari kita alami. Event-event besar tahunan mulai dari Folk Song, Drama Kontes, Lomba Pidato, Porseni, Drama Arena, KMD, Panggung Gembira hingga Khataman, memiliki tempat tersendiri di hati kita.

Hari ini, sudah 10 tahun lebih kita dinyatakan lulus dari KMI Gontor. Ketika ada usulan untuk mengumpulkan teman-teman Blitza Remigion di acara 90 tahun Gontor, saya sendiri sangat antusias. Tentu bukan hanya karena nanti kita akan ngumpul saja, tetapi sudah pasti yang akan kita rasakan pada hari itu nantinya akan sangat berkesan. Kita akan bertemu lagi satu sama lain dengan tampilan fisik yang jelas berbeda dengan ketika kita masih di pondok dulu. Kita akan melihat teman-teman kita sudah ada yang menjadi Kiai di pondok, ada yang menjadi pengusaha, ada yang menjadi guru, ada yang menjadi pedagang dan masih banyak lagi profesi-profesi yang sudah digeluti oleh teman-teman kita. Ada yang sudah menikah, ada yang sudah punya anak, ada yang sudah dua kali menikah, dan tentunya ada yang masih seperti saya; belum menikah. (ane yakin banyak yang ketawa ini… Gembel!!!).

Tapi, apapun itu dinamika kehidupan kita masing-masing, satu yang pasti; kita adalah KELUARGA. Ya, kita ini keluarga, bagi saya Blitza Remigion bukan hanya sebatas nama angkatan 2005. Kalian boleh tidak setuju dengan persepsi saya ini. Tetapi, izinkan saya untuk bercerita. Sekitar tahun 2009, saat itu meskipun internet sudah masuk ke Indonesia tetapi tidak semudah hari ini aksesnya. Saya ingat sekali saat itu di Indonesia mulai ramai orang-orang membuat akun Facebook yang kemudian disusul kemudian Twitter. Sejujurnya, saya sebelumnya tidak begitu aktif di dunia maya karena memang saat itu selain keterbatasan saya karena belum punya komputer dan biaya akses internet belum mampu saya jangkau seperti hari ini, juga mobile gadget tidak seperti hari ini perkembangannya, saya tidak begitu familiar dengan Yahoo Messenger, Milis atau media sosial zaman itu yang cukup booming; firendster. Saya tidak begitu aktif saat itu.

Barulah ketika tahun 2009, ketika orang mulai menggunakan Facebook kemudian saya mulai melacak satu per satu teman-teman Blitza Remigion melalui Facebook. Saat itu, saya kemudian akhirnya tahu bahwa mayoritas dari kita melanjutkan kuliah di Mesir dan di Yogyakarta. Singkat kata, akhirnya saya sendiri yang berinisiatif membuat Grup Facebook dan Fan Page Blitza Remigion di Facebook. Sebagai informasi, Grup Facebook yang sekarang ini adalah Grup yang dibuat oleh Nidauddin, sedangkan Grup yang saya buat pada saat itu akhirnya saya putuskan untuk saya hapus karena di Grup Facebook yang dibuat oleh Nidauddin ini ternyata lebih banyak teman-teman Blitza Remigion yang terjaring. Sementara Fan Page Facebook tetap saya aktifkan, hingga hari ini. Dan kita juga memiliki akun Twitter; @BlitzaRemigion.

Kemudian, melalui percakapan di dunia maya dengan beberapa teman, akhirnya disepakati untuk membeli domain http://www.blitza679.com. Arqom dan Nasrul yang terlibat di awal-awal pembuatan website marhalah ini. Tepat pada tahun 2011 bulan Oktober, domain itu resmi dibeli, Nasrul yang mengurus teknis pembelian domain dan hostingnya, sementara Arqom yang bertugas untuk membangun desain website itu. Sementara saya, ya saya sampai hari ini hanya bisa bertugas sebagai provokator saja.

Kenapa nggak pakai blitza saja? Kenapa kok harus ada angka 679. Kami saat itu hanya berfikiran teknis secepat mungkin. Domain blitza[dot]com sudah dimiliki oleh orang lain, dan dihargai dengan harga yang tidak masuk akal. Hari ini saja saya cek harga domain itu ditawarkan dengan harga 1450 USD. Sehingga, harga yang sangat mahal itu sudah pasti belum dapat kita jangkau saat ini. Sehingga dipilihlah domain www.blitza679.com, dan untuk pembiayaan administrasi tahunan untuk domain dan hosting website kita ini, saya menginisiasi pembuatan kaos dan jaket dimana keuntungan dari proses produksinya digunakan untuk pembiayaan website kita. Dari dana yang terkumpul itu, Insya Allah untuk 3 tahun kedepan website kita ini masih bisa kalian akses.

Ketika tahun 2010, saat itu Gunung Merapi di Yogyakarta erupsi, saat itu pula teman-teman kita yang masih mengabdi di Gontor membimbing Alumni 2011 untuk acara Panggung Gembira. Bagi yang masih ingat, kita juga saat itu sempat membikin kaos yang bertemakan Blitza Remigion. Setelah acara Panggung Gembira selesai, saya masih ingat Saepudin mengumpulkan beberapa teman-teman di depan kantor Pengasuhan Santri, yang saat itu masih berada di lantai 1 Masjid Jami’, pertemuan yang memang sangat singkat saat itu juga saya anggap sebagai salah satu fondasi yang menguatkan bahwa Blitza Remigion harus terus diperkuat jalinan silaturahminya.

Sekitar tahun 2012, pasca Silatnas IKPM di Cirebon, saya mulai menggaungkan ide reuni Blitza Remigion. Saat itu pertimbangan saya sangat sederhana, beberapa teman dari Mesir sudah mulai kembali ke Indonesia, sementara itu teman-teman yang mengabdi di Gontor 1 masih banyak. Tentu itu hanyalah alasan yang sangat sederhana dan tidak cukup kuat untuk mengadakan reuni. Setelah beberapa kali saya gaungkan di grup BBM dan grup Facebook, kemudian beberapa masukan dari teman-teman yang ada di Gontor saat itu seperti Firda, akhirnya memang saya memahami bahwa kita belum saatnya untuk melakukan reuni saat itu. Sehingga kemudian yang saya jajaki adalah mengumpulkan teman-teman yang ada di Jogja. Teknis berkumpulnya pun tidak harus resmi, mulai dari main futsal, ngopi atau hanya berkumpul di kontrakan salah satu dari kita di Jogja, kemudian bermain PES atau bahkan hanya ngobrol-ngobrol saja. Meskipun demikian, harapan saya tetap ingin berkumpul dengan teman-teman Blitza Remigion di Gontor suatu hari nanti.

Saya bekeyakinan bahwa hanya dengan cara itulah saya tetap menjalin tali silaturahmi yang kuat dengan teman-teman Blitza Remigion, meskipun hanya di wilayah Yogyakarta saja, dan meskipun hanya itu-itu saja yang sering berkumpul. Bagi saya itu sudah lebih dari cukup untuk memperkuat asumsi saya bahwa Blitza Remigion adalah Keluarga. Bahkan, saya pun sebenarnya sangat menyesal karena saya sendiri juga terlambat untuk ngumpul bersama teman-teman di Yogyakarta. Saya saat itu lebih sering berkumpul dengan Zarwin, Hidayat, Aminudin, Arsyi karena kami kuliah di kampus yang sama. Fathul Hijri pun yang kuliah di kampus yang sama, jarang saya temui saat itu. Kalaupun ada teman selain itu, dia adalah Hasanudin Tosimpak yang saat itu kuliah di UIN, tetapi kedekatan saya dengan mereka ini lebih karena dulu sama-sama mengabdi di Gontor 2.

Alhamdulillah, pada 5 April 2009 Blitza regional Yogyakarta ngumpul untuk pertama kalinya secara resmi. Artinya, berkumpul yang benar-benar kita agendakan dan kita atur. Tentunya, diluar perkumpulan ini beberapa teman-teman di Yogyakarta sering ngumpul. Dari sinilah kemudian saya sendiri mulai mengunjungi beberapa tempat tinggal teman-teman Blitza di Yogyakarta, dan mulai sering berkumpul bersama mereka, terutama seperti Ayyadana, Zikri, Farobi, Taufik, Irfan, Tosimpak dan beberapa teman-teman yang saat itu tinggal di daerah Sapen. Teman-teman yang lain ikut bergabung ketika kita mengadakan futsal bareng. Saya merasa, inilah Keluarga. Blitza Remigion bukan hanya sebuah komunitas angkatan 2005 KMI Gontor, tapi lebih dari itu.

Lebih jauh lagi saya melihat, beberapa teman-teman, tanpa mengurangi rasa hormat saya, teman-teman yang karena satu lain hal ternyata tidak bisa bersama-sama hingga Yudisium 11 Ramadhan 1426 H saat itu, saya melihat dan merasakan sendiri bahwa mereka benar-benar menunjukkan rasa memiliki yang luar biasa terhadap Blitza Remigion. Secara adminstratif, mereka tidak tercatat sebagai alumni tahun 2005, tetapi secara ruhani, saya melihat justru mereka adalah bagian yang juga sangat penting di Blitza Remigion. Contoh yang paling nyata yang saya lihat dan saya rasakan sendiri adalah Ayyadana (sepurone dab, mau nggak mau harus nyebut nama).

Ayyadana adalah teman satu kelas ketika kelas 6 saat itu. Karena ada satu permasalahan saat itu, Ayyadana terpaksa tidak bersama-sama dengan kita sampai Yudisium. Tetapi, saya merasakan sendiri bagaimana Ayyadana sangat care dengan teman-teman Blitza di Yogyakarta. Daya jelajah Ayyadana untuk tetap menjalin silaturahmi dengan teman-teman Blitza Remigion ini sangat luar biasa, saya akui bahwa saya kalah jauh dengan Ayyadana untuk hal yang satu ini. Ayyadana benar-benar mampu memposisikan diri, bagaimana kami yang saat itu notabene sebagai pendatang di Yogyakarta tetapi dikondisikan oleh Ayyadana bahwa meskipun tinggal jauh dari orang tua, tetapi kami merasakan bahwa kami memiliki KELUARGA di Yogyakarta. Keluarga itu bernama Blitza Remigion.

Dan orang-orang seperti Ayyadana ini saya yakin masih ada di regional-regional lain. Mereka yang sanggup untuk terus menjaga tali silaturahmi, mereka yang sanggup menjaga kekeluargaan dalam satu lingkaran Blitza Remigion. Dan apa yang saya lihat hari ini, semua itu tidak lepas dari bimbingan Musyrif kita; SPINKER. Kita harus berhutang banyak kepada mereka yang membimbing kita dulu di Gontor. Secara tidak langsung, didikan mereka yang mengkondisikan kita untuk tetap menjaga ukhuwah kita hari ini. Mereka yang mampu mengatur ritme kita, suasana kita, putaran roda kegiatan kita saat itu, sehingga apa yang kita rasakan saat ini, merupakan salah satu hasil dari apa yang mereka tanam saat itu.

Beberapa bulan setelah saya tinggal di Jakarta, saat itu salah satu teman kita; Adil Muamar mengalami kecelakaan. Atas inisiatif beberapa teman di Jakarta, akhirnya kita bersama-sama menggalang donasi untuk biaya perawatan Adil Muamar di rumah sakit. Dan ternyata, kita mampu mengumpulkan dana yang tidak sedikit. Meskipun akhirnya Allah berkehendak lain dan Adil Muamar meninggal dunia, tetapi dari peristiwa ini saya semakin yakin bahwa sebenarnya kita masih memiliki ikatan kekeluargaan yang cukup kuat. Sehingga, mau tidak mau harus ada orang yang tetap mengambil peran untuk berposisi sebagai petugas yang boleh saja kita sebut sebagai provokator agar satu sama lain dari kita tetap tersambung.

Jika kalian melihat ke belakang, beberapa kali memang saya sendiri sering “membuat keributan” di grup Facebook. Sebenarnya, tidak ada tujuan apapun dari saya, apalagi untuk menunjukkan inilah Fahmi Agustian, tidak sama sekali. Saya hanya bertujuan, dengan adanya “keonaran” di Grup Facebook Blitza Remigion, paling tidak beberapa dari kalian akan mampir ke Grup Facebook kita, dan paling tidak kemudian ada yang menjalin kembali komunikasi antara satu dengan yang lainnya. Bisa saja komunikasi itu kemudian berlanjut kepada relasi bisnis. Kita tidak ada yang tahu. Pemikiran saya hanya sederhana, bahwa harus ada orang yang tetap menjaga tali silaturahmi Blitza Remigion. Mungkin, apa yang saya lakukan hingga hari ini banyak sekali yang tidak sejalan dengan kalian, ada juga yang mungkin sepakat dengan apa yang saya lakukan. Yang pasti, tujuan utama saya adalah untuk tetap menjaga Blitza Remigion ini tetap satu. Apapun profesi kita hari ini, seperti apapun kondisi kita hari ini, ingatlah bahwa kita adalah satu keluarga.

Saya tidak memungkiri, bahwa selama 10 tahun lebih setelah kita lulus dari Gontor, kita mengalami banyak sekali persinggungan antara satu dengan yang lainnya. Ada beberapa kasus-kasus yang memang seharusnya tidak terjadi, ada beberapa peristiwa-peristiwa yang kemudian membekas dan tidak mengenakkan bagi beberapa orang karena ulah salah satu dari kita. Itulah dinamika yang ada, karena tidak mungkin kita mampu menyamakan persepsi 900 orang lebih agar bersedia satu jalur dengan kita. Setiap dari kita pasti memiliki pendapat yang berbeda. Dan seburuk apapun sebuah peristiwa, sesakit apapun luka yang membekas, saya yakin akan ada jalan, akan ada obat untuk memperbaiki itu semua.

Saya menggambarkan seperti ini; Blitza Remigion adalah sebuah ruangan yang berada didalam sebuah rumah yang besar bernama Gontor. Didalam ruangan Blitza Remigion itu sebenarnya bukan hanya berisi 947 orang yang terdaftar secara adminstratif di buku Agenda Marhalah 2005. Didalam ruangan Blitza itu juga ada saudara-saudara kita yang pernah bersinggungan dengan kita, entah ketika kelas 3, entah itu ketika kelas 5. Tetapi frekuensi yang mereka rasakan ketika bersama-sama dengan kita begitu membekas, sehingga rasa memiliki terhadap Blitza Remigion dalam hati mereka pun tidak berbeda dengan kita yang notabene secara administratif tercatat di buku Agenda Marhalah 2005.

Coba nanyikan pelan-pelan salah satu lagu kebesara kita;

Kala kita hadir disini, senandungkan lagu kita, Curahan hati bersama yang terjadi di kelas enam
Susah senang sedih bahagia bersama kita senandungkan, Eratkanlah jarak kita dengan tali persahabatan

Halo…halo.. kita slalu satu, Bagai musik dan lirik yang tak terpisahkan
Halo…halo.. kita slalu satu, Berseri hidup kita selamanya
Halo…halo.. kita slalu satu, Bagai kakak dan adik yang tak terpisahkan
Halo…halo.. kita slalu satu, Milikku, milik kita, selamanya

Ya, bagi saya inilah sebuah Keluarga, Keluarga bernama Blitza Remigion.

Comments

comments

Trackback from your site.

Fahmi Agustian

Pemuda yang ketlingsut di keramaian ibukota Indonesia.
follow me on twitter @FahmiAgustian

http://fahmiagustian.com

Leave a comment

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.