Memilih Pemimpin

Written by Jauhar Ridloni Marzuq. Posted in artikel

pilkada-bersih-pemimpin-bersihPemimpin adalah unsur penting dalam suatu masyarakat. Baik atau buruknya kualitas suatu masyarakat, sangat ditentukan oleh kualitas pemipinnya. Sebagai agama yang bertujuan membawa manusia kepada kehidupan yang baik di dunia dan akhirat, Islam sangat memperhatikan masalah kepemimpinan.

Jangankan dalam suatu negara, dalam satu kumpulan kecil pun Rasulullah SAW mewajibkan adanya pemimpin. “Tidaklah dihalalkan bagi tiga orang yang dalam suatu perjalanan, kecuali mereka memilih salah satu di antara mereka untuk dijadikan pemimpin.” (HR Ahmad).

Kepemimpinan adalah tugas yang berat. Di pundak seorang pemimpin tergadaikan nasib jutaan manusia. Karena itu, kita tidak bisa memberikan amanat ini kepada sembarang orang. Ketika suatu hari Abu Dzar Al-Ghifari datang kepada Rasulullah SAW bertanya kepada beliau tidak menjadikannya sebagai salah satu piminan?

Rasulullah SAW menjawab, “Wahai Abu Dzar, kamu adalah orang yang lemah, sedangkan kepemimpinan adalah amanat yang berat. Amanat itu kelak akan mejadi penyesalan dan kehinaan di hari kiamat, kecuali siapa yang dapat mengambil apa yang menjadi haknya dan menjalankan apa yang menjadi kewajibannya.” (HR Muslim).

Jika kita mengkaji Al-Quran dan Hadis, setidaknya ada beberapa patokan yang bisa kita jadikan pertimbangan untuk memilih seorang pemimpin.

Pertama, kuat. Seorang pemimpin haruslah kuat. Kuat secara lahir maupun batin. Kekuatan batin diperlukan untuk tetap tegar di tengah ragam kritikan dari orang-orang yang tidak menyukai perbaikan. Sementara kekuatan lahir dibutuhkan agar tugas-tugas yang dia emban dapat dikerjakan dengan sempurna. Di sinilah kenapa Rasulullah SAW menolak permintaan Abu Dzar di atas, padahal dia terkenal warak dan berwawasan luas.

Ketika ditanya tentang dua orang untuk dijadikan pemimpin, satunya baik tapi lemah, dan satu lagi jahat tapi kuat, Ahmad bin Hambal memilih yang jahat tapi kuat. Kenapa? “Karena orang yang baik tapi lemah, kebaikannya untuk dirinya sendiri, sementara kelemahannya berdampak buruk terhadap Islam. Sedangkan orang yang jahat tapi kuat, kejahatannya untuk dirinya sendiri tapi kekuatannya bisa menguatkan Islam,” jawab Imam Ahmad.

Kedua, terpercaya. Seorang pemimpin memegang urusan banyak orang. Amanat jutaan manusia ada di tangannya. Karena itu dia harus berlaku amanah agar amanat-amanat yang diembankan di pundaknya dapat disampaikan kepada siapa yang berhak.

Ketika Nabi Musa AS menolong dua putri Nabi Syu’aib AS, salah seorang di antara mereka merokemendasikan kepada ayahnya agar menjadikan Nabi Musa AS sebagai pekerjanya. Sebabnya, Nabi Musa AS adalah orang kuat lagi terpercaya. “Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: ‘Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.” (QS al-Qasa [28]: 26).

Ketiga, berilmu. Memimpin adalah seni, karena itu dibutuhkan ilmu yang mumpuni. Terutama, ilmu tentang perkara-perkara yang dia pimpin. Para Nabi dan Rasul adalah pemimpin manusia, dan setiap mengutus Rasul-Nya, Allah SWT selalu menyertainya dengan ilmu.

Dalam surat al-Baqarah, Nabi Adam AS digambarkan sebagai orang yang diajarkan (diberi ilmu) oleh Allah SWT nama-nama segala sesuatu (QS Al-Baqarah: 21); Nabi Luth AS diberi hikmah (kenabian) dan ilmu (QS Al-Anbiya: 74); Nabi Musa AS, Nabi Yusuf AS, Nabi Daud AS dan Nabi Sulaiman AS juga diberi hikmah dan ilmu (QS Al-Qashash: 14, QS Yusuf: 22 dan QS al-Anbiya: 79). Nabi Ya’qub AS diajarkan Allah SWT banyak ilmu (QS Yusuf: 68); Nabi Isa AS diajarkan Al-Kitab, hikmah, Taurat dan Injil (QS Al-Maidah: 110); dan Nabi Muhammad diajarkan oleh Allah SWT ilmu tentang apa-apa yang tidak beliau ketahui (An-Nisa: 113).

Ditunjuknya Nabi Adam AS (bapak seluruh manusia) sebagai khalifah (pemimpin) tak lain adalah karena kelebihan ilmu yang dimilikinya. Malaikat yang pada awalnya “keberatan‟ dengan penunjukan Adam AS sebagai khalifah akhirnya menerima, karena mengakui bahwa Adam AS memiliki ilmu yang yang tidak mereka miliki.

Keempat, adil. Seorang pemimpin akan menghadapi masyarakat yang beragam. Setiap orang memiliki hak dan kewajiban yang berbeda dengan orang lain. Keadilan seorang pemipin sangat dibutuhkan agar setiap rakyat mendapatkan hak-hak sesuai dengan yang mereka butuhkan.

Saat Nabi Ibrahim AS didaulat oleh Allah SWT sebagai pemimpin, beliau bertanya, “Dan (apakah juga) dari anak cucuku?”

Allah menjawab, “Janji-Ku (ini) tidak berlaku bagi orang-orang zalim.” (QS Al-Baqarah [2]: 124). Orang yang zalim berarti tidak adil. Jika adil adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya, maka zalim adalah menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya.

Inilah, setidaknya, hal-hal yang perlu kita jadikan pedoman dalam memilih pemimpin. Hak suara kita adalah karunia sekaligus amanat dari Allah SWT yang kelak akan ditanya. Jangan sampai kita menghianati amanat tersebut dengan memilih pemimpin yang tidak layak untuk memimpin. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang memegang urusan kaum Muslimin, lalu memberikannya kepada seseorang, padahal ada orang lain yang lebih baik dari orang itu, maka dia telah menghianati Allah dan Rasul-Nya.” (HR Hakim).

Comments

comments

Trackback from your site.

Leave a comment

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.