An Article about “Glory Hunter”

Written by Fahmi Agustian. Posted in artikel

Berbicara mengSuporterenai sepakbola tidak akan lepas dari hal-hal yang ada disekitarnya, salah satunya adalah fans atau suporter. Suporter sering diebut sebagai pemain ke 12 dalam sebuah pertandingan sepakbola, dan label pemain ke 12 juga menurut saya hanya boleh disandang oleh mereka yang datang langsung menonton pertandingan di stadion. Bagi yang menonton lewat layar televisi, saya lebih sering menyebutnya sebagai suporter layar kaca.

Kontribusi suporter sendiri juga bermacam-macam. Ada yang mampu membeli merchandise klub sepakbola, entah itu KW atau ori. Ada yang datang ke stadion menonton pertandingan, baik kandang maupun tandang. Atau bahkan hanya mengirimkan untaian doa karena hanya menjadi suporter layar kaca yang kere.

Salah satu idiom suporter yang paling sering saya dengar beberapa tahun belakangan adalah “Glory Hunter”. Entah siapa yang pertama kali memunculkan sebutan ini dan entah mengapa sebutan ini sering disematkan kepada fans Manchester United. Secara harfiah, Glory Hunter memiliki makna pencari kejayaan. Jika idiom ini disematkan kepada pemain sepakbola, saya rasa sangat pantas. Mayoritas pemain sepakbola adalah pencari kejayaan, baik itu kejayaan individu atau kejayaan tim yang ia bela. Kejayaan yang diburu oleh pemain sepakbola salah satunya adalah trofi, dan kejayaan itu tidak bisa ia raih sendirian. Glory Hunter akan sangat pantas disematkan kepada sebuah klub sepakbola yang mengejar kejayaan.

Idiomatik “Glory Hunter” sendiri beberapa tahun terakhir menjadi salah kaprah pemakaiannya oleh banyak penggemar sepakbola. Seperti yang sudah saya tanyakan sebelumnya,  kenapa “Glory Hunter” lebih sering disematkan kepada fans Manchester United?. Pertanyaan ini sebenarnya sangat mudah dijawab. Bagi mereka yang sudah mengenal sepakbola eropa sejak medio 90-an pasti tidak termasuk dalam kategori “Glory Hunter”. Sekalipun ia adalah fans Manchester United. Idiomatik “Glory Hunter” sering digunakan untuk banter antar fans ketika mendapati fans sebuah klub sepakbola tidak lantang bersuara karena tim yang ia dukung mengalami kekalahan.  Ketika tim yang didukungnya mengalami kekalahan, mayoritas fans sepakbola spesies “Glory Hunter” mendadak hilang dari peredaran bumi. Yang bisa ia lakukan adalah pasrah. Seketika ia mendapat ilmu kasunyatan dan kanuragan untuk menghilangkan diri dari kehidupan sosial, baik nyata maupun maya. Jika anda mendapati seorang fans sepakbola yang pada akhir pekan berteriak lantang mendukung klub sepakbola yang ia dukung, dan pada awal pekan anda melihat wajahnya yang bermuram durja, hal yang harus anda lakukan adalah hanya cukup melihat halaman utama website livescore untuk mendapatkan jawaban pasti kenapa wajahnya tampak lebih jelek dari biasanya. Fans spesies “Glory Hunter” ini merasakan sakit yang luar biasa ketika melihat tim yang ia dukung mengalami kekalahan, bahkan konon lebih sakit daripada ditinggal kawin wanita pujaan hatinya. Dan kebetulan, yang sering saya temui di dunia nyata maupun maya, adalah fans Manchester United. (No Offense ya, saya tidak menyebut nama orang. Hehehehehe…). Dan musim ini makin menguatkan bahwa mereka memang layak disebut sebagai spesies “Glory Hunter”. Biasanya mereka kemudian berkilah dengan mengatakan “kan dukungan saya tidak harus saya tulis di facebook, status BBM atau memakai jersey”.  Atau mereka akan mengatakan “bodo amat, cuman sepakbola ini, yang penting kalau menang gue senang”. (kalau kalah????). Kalimat yang muncul lagi biasanya adalah “pelatih baru dan manajemen baru butuh waktu” (dan fans butuh kemenangan). Ada pula yang mencoba menahan rasa malunya dengan mempublish statement hasil plagiasi “If you can’t support us when we win, don’t support us when we lose or draw”.

Sebenarnya fans spesies “Glory Hunter” ini tidak hanya terdapat di barisan pendukung Manchester United saja. Di klub sepakbola lainnya seperti Arsenal, Chelsea, Barcelona, Real Madrid, Bayern Munchen bahkan Liverpool pun akhir-akhir ini ada. Terlebih dalam beberapa tahun terakhir, statistik resmi yang dikeluarkan oleh Barcelona menunjukkan bahwa jumlah pendukung mereka mengalami peningkatan yang signifikan. Atau bagi para penikmat Liga Itali di akhir 90-an, kalian pasti melihat banyak sekali pendukung As Roma atau Lazio yang sekarang mereka sudah berubah mendukung tim lain karena terlihat lebih konsisten dalam penampilan mereka. Beruntung mereka dulu mendukung tim tersebut di era dimana media sosial belum berkembang pesat seperti sekarang. Tidak menutup kemungkinan, sebuah klub yang berjaya dalam 3 tahun kedepan akan dibanjiri ribuan fans spesies “Glory Hunter”. Fans yang hanya mengenal timnya ketika menang, fans yang hanya bangga mendukung tim ketika meraih kemenangan. Fans yang hanya berani berdiri di barisan penggembira ketika tim nya juara.

Hooligan

Secara objektif, fans spesies “Glory Hunter” ini sah-sah saja keberadaannya. Karena tidak ada aturan baku yang mengatur tentang hal ini. Hanya saja kalian pasti akan tergoda untuk menganggu kehidupan sosial spesies “Glory Hunter” ini -sekalipun hanya didunia maya- ketika tim yang didukungnya mengalami kekalahan, apalagi kekalahan tersebut dialami berkali-kali.  Yang perlu diingat adalah spesies “Glory Hunter” tidak sama dengan suporter level “Die Hard” atau “Hard Line”. Ultras atau Hooligan jauh lebih terhormat daripada spesies “Glory Hunter”.

Pada akhirnya, sepakbola hanyalah salah satu cabang olahraga. Dan kita hanya bisa menikmatinya dari layar televisi, jangankan untuk menonton langsung di Eropa sana, untuk membayar langganan TV berbayar saja kita masih enggan. Beruntunglah mereka yang memiliki akses internet kecepatan tinggi, sehingga bisa tetap menikmati siaran langsung pertandingan sepakbola melalui layanan streaming. Jika anda merasa sebagai salah satu spesies “Glory Hunter”, belajarlah bagaimana cara mendukung tim kesayangan anda kepada fans Ac Milan atau Liverpool, atau kalau anda merasa hina jika ingin menimba ilmu kepada mereka, perbanyaklah bergaul dengan fans-fans senior di komunitas pendukung klub kesayanganmu. Saya yakin mereka sangat faham tentang filosofi “Form is temporary, Class is permanent”.

Comments

comments

Trackback from your site.

Fahmi Agustian

Pemuda yang ketlingsut di keramaian ibukota Indonesia.
follow me on twitter @FahmiAgustian

http://fahmiagustian.com

Comments (2)

  • Mashadi

    |

    Ulasane mantap mi, gooners ttap setia, walapun nihil gelar, merah putih tetap gooners

    Reply

    • Fahmi Agustian

      |

      hahahah…. intine, jadilah fans yang cerdas…. kalah atau menang, harus berani mendukung tim kesayangan… jangan hanya koar-koar pas menang aja….

      Reply

Leave a comment

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.