Ujian Nasional dan Olimpiade Eropa

Written by Fahmi Agustian. Posted in artikel

Ilustrasi Dikisahkan, terdapat  sebuah sekolah ternama benua biru dibawah kendali seorang kepala sekolah bernama Elizabeth II. Setiap tahun sekolah tersebut melaksanakan sebuah kompetisi mingguan yang berlangsung selama 10 bulan. Kompetisi itu digunakan untuk menyeleksi siswa mereka yang berhak menjadi kontingen perwakilan sekolah untuk berlaga di Olimpiade Eropa. Olimpiade ini bukan sekedar ajang uji kemampuan para siswa, namun juga gelontoran uang yang dijanjikan pada setiap perlombaan begitu menggiurkan bagi para siswa di sekolah tersebut.

Tahun ajaran ini kompetisi di sekolah tersebut sangat sengit. Setiap pekan para peserta kompetisi saling berlomba mengumpulkan poin demi poin dari setiap ulangan mata pelajaran yang diberikan oleh kepala sekolah agar mereka berada di jajaran empat teratas, karena hanya akan ada empat siswa dengan poin terbanyak yang berhak menjadi bagian dari kontingen sekolah untuk berlaga di Olimpiade tersebut.

Hingga bulan ketujuh berjalannya kompetisi tersebut, poin yang dikumpulkan oleh masing-masing siswa sangatlah berdekatan. Si Biru Tua yang dibiayai seorang taipan minyak dengan uang tak berseri saat ini memimpin perolehan poin diikuti oleh Si Merah dari kota pelabuhan yang memiliki poin sama dengan Si Meriam yang sempat beberapa kali menjadi juara mingguan dan memiliki racikan peluru dari seorang professor (yang dalam dua bulan terakhir racikan peluru meriam seperti salah resep, sehingga berubah menjadi sebuah petasan). Ketiganya diikuti oleh Si Biru Muda yang memiliki pabrik percetakan uang sendiri di ruang ganti, dimana ia masih menyimpan 2 materi ulangan yang tidak ia ikuti karena ia berhalangan mengikuti ulangan tersebut.

Uniknya di sekolah ini adalah Ujian Nasional yang diwajibkan untuk diikuti oleh seluruh siswanya tidak dilaksanakan secara serentak pada medio waktu tertentu. Ada yang harus melaksanakan Ujian tersebut pada bulan pertama, ada yang melaksanakan pada bulan ke enam. Dengan tingkat kesulitan yang berbeda. Sial bagi Si Meriam, bulan ini merupakan bulan dimana dia harus melakukan Ujian Nasional secara beruntun dengan persiapan yang sangat kurang. Konon, racikan peluru sang Professor masih terkendala bahan baku yang terlambat di impor dari negeri seberang. Si Merah dari kota pelabuhan sedang dalam tren positif dan mengancam kemapanan Si Biru Tua yang terus mengganggu konsentrasi siswa lainnya dengan mind games buatannya.  Sedangkan Si Biru Muda, dia masih enjoy menikmati piala perdana tahun ini dan ia juga masih menyimpan 2 kesempatan ulangan untuk meraih poin tambahan. Dari keempat siswa ini, hanya Si Merah yang memiliki keuntungan dimana dia tidak disibukkan untuk ikut berlomba di Olimpiade Eropa musim ini.

Kompetisi sekolah masih tersisa 10 pekan dengan tingkat kesulitan yang berbeda antara mata pelajaran satu dengan mata pelajaran yang lainnya. Masing-masing siswa semakin serius mempersiapkan bekal masing-masing dalam menghadapi ujian. Tidak seperti kompetisi musim lalu, sepertinya Juara Umum akan ditentukan pada hari terakhir ujian.

Tidak ada orang tua manapun yang tidak ingin anaknya tidak sukses dalam sebuah perlombaan, para orang tua meracik bekal makanan setiap hari sebagai asupan gizi yang bervitamin bagi anak-anak mereka.

Oia. Apa kabar Juara Kelas tahun lalu?. Kabarnya ia sibuk mencari ayahnya yang mendadak memutuskan untuk liburan panjang menikmati hari tua.

Comments

comments

Trackback from your site.

Fahmi Agustian

Pemuda yang ketlingsut di keramaian ibukota Indonesia.
follow me on twitter @FahmiAgustian

http://fahmiagustian.com

Leave a comment

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.