Apa yang kita dapat dari gunung meletus?

Written by Fahmi Agustian. Posted in artikel

Tahun 1994, tepatnya hari selasa 22 November 1994 adalah hari dimana Gunung Merapi bereupsi. Itulah pertama kali saya mengenal yang namanya erupsi. Saat itu betapa takutnya saya terhadap peristiwa yang namanya gunung meletus. Di koran, televisi dan radio diberitakan semburan awan panas atau “wedhus gembel” yang membakar tubuh masyarakat sekitar gunung merapi. Saya tidak berani membayangkan bagaimana paniknya masyarakat di muntilan dan sekitarnya yang pada saat itu menjadi jalur aliran erupsi gunung merapi. Keadaan masyarakat kita saat itu tentu berbeda jauh dengan sekarang. Hari ini ketika terjadi sebuah peristiwa, dalam hitungan menit informasi sudah tersebar ke seluruh pelosok Indonesia melalui media internet.

Tahun 2010 yang lalu, ketika Gunung Merapi kembali erupsi, saya masih tinggal di Jogja. Masih ingat betul bagaimana suasana Jogja saat itu. Hujan abu vulkanik menyelimuti kota Jogja. Proses evakuasi masyarakat sekitar Gunung Merapi dilakukan, semua bergerak, kaya miskin tidak ada bedanya. Teknologi yang sudah semakin canggih setidaknya membantu uuntuk memperingatkan kepada masyarakat akan terjadinya erupsi.

Tahun 2014, setelah sebelumnya gunung Sinabung sejak akhir 2013 sudah erupsi, Gunung Kelud yang sejak awal bulan februari berstatus waspada akhirnya erupsi juga. Dari kejadian-kejadian ini saya tidak hendak menjelaskan tentang bahasan ilmiahnya. Karena sudah banyak orang yang pakar dalam urusan gunung berapi menjelaskan di televisi, koran, dan media lainnya.

Saya termasuk orang yang percaya bahwa salah satu bencana yang mengerikan adalah ketika suatu bangsa kehilangan orang-orang yang saleh disekitarnya karena meninggal dunia. Saya juga percaya bahwa alam semesta ini membutuhkan keseimbangan. Ketika sebagian manusia hanya berbuat kerusakan dan pertumpahan darah di muka bumi, maka ada sebagian manusia lainnya yang melakukan transaksi dan investasi kepada Allah dalam bentuk ibadah. Ibaratnya membayar pajak, Allah menyediakan kepada manusia alam semesta dan seluruh isinya tanpa adanya hitungan transaksi untung dan rugi, manusia diwajibkan membayar pajak kepada Allah dalam bentuk ibadah sehari-hari. Mulai dari yang wajib sampai yang sunnah, itulah pajak yang dibayarkan manusia kepada Allah. Meskipun demikian bukan berarti Allah membutuhkan pajak tersebut, karena Allah sudah mempunyai aturan perhitungan tersendiri di hari akhir kelak. Sekalipun manusia berbuat jahat, toh masih ada saja yang diberi kesehatan, diberi rizki, diberi kemudahan dan sebagainya.

Ketika kita naik pesawat terbang misalnya, menurut saya rasanya tidak mungkin sekali seluruh penumpang pesawat itu lupa kepada Allah swt. Ada beberapa penumpang yang ingat kepada Allah ketika pesawat itu terbang di atas awan. Saya menyebut orang-orang yang ingat kepada Allah inilah sebagai penyeimbang bagi penumpang-penumpang lainnya. Disaat penumpang lainnya sibuk dengan kebahagiaannya bisa naik pesawat terbang, tertawa terbahak-bahak di dalam kabin pesawat, ada beberapa orang yang tetap ingat kepada Allah sepanjang perjalanan yang kemudian Allah menganugerahkan keselamatan perjalanan pesawat terbang itu ke bandara tujuan. Sama dengan Indonesia ini. Disaat kebanyakan orang sibuk dengan urusan dunia, sibuk berebut jabatan, sibuk mengumpulkan harta, saya yakin ada sebagian orang yang setiap harinya memposisikan dirinya untuk bertransaksi kepada Allah dalam rangka menyeimbangkan kehidupan. Disinilah letak negosiasi antara manusia dengan Allah. Ada sebagian manusia yang terus menerus tanpa lelah melakukan ritual ibadah dari yang wajib sampai yang sunnah tanpa merasa lelah. Disaat manusia yang lain sibuk dengan urusan dunia, orang-orang ini justru sibuk “setor” kepada Allah. Kebanyakan dari kita sepertinya sangat rakus dan sangat bersemangat ketika makan. Kita lupa bahwa harus ada transaksi kepada Allah yang harus kita bayarkan dalam bentuk ibadah seperti sholat, puasa, zakat dan sebagainya. Orang-orang yang saleh ini, yang sangat dekat dengan Allah seringkali dibukakan mata hatinya dan diperlihatkan atau setidaknya diberi “clue” bahwa akan terjadi sesuatu di tempat ia tinggal. Sayangnya orang-orang ini tidak memiliki kekuatan politik untuk dapat menyampaikannya ke khalayak luas. Sehingga yang terjadi kemudian hari ini adalah, ketika ada orang yang mengatakan bahwa sebentar lagi ada sebuah peristiwa ini itu dan sebagainya maka dianggap sebagai sesuatu yang klenik dan tidak masuk akal, karena semua yang terjadi di dunia sudah digariskan oleh Allah swt. Saya menjadi ingat kisah Khalifah Umar R.A ketika dalam sebuah khutbah jum’ah beliau berteriak-teriak yang tidak ada hubungannya dengan khutbah yang disampaikan, ternyata beliau memerintahkan pasukan Islam saat itu yang berada disebuah bukit agar segera turun karena sudah dihadang oleh musuh dari arah yang berlawanan. Apakah ini sebuah kebetulan?. Saya rasa tidak.

Setiap umat muslim mendambakan bertemu Rasulullah SAW dalam mimpinya, tetapi seandainya yang datang di mimpi kita itu bukan Rasulullah SAW, misalkan kakek kita yang sudah meninggal, saya rasa kita juga ketika bangun tidur akan merasa bahagia. Atau misalkan yang Muhammadiyah, seandainya ditemui KH. Ahmad Dahlan dalam mimpi, pasti bahagia. Yang Nahdhatul Ulama (NU), ditemui KH. Hasyim Asy’ari didalam mimpi, pasti bahagia. Terlepas bahwa itu hanyalah bunga tidur, tapi saya yakin siapapun yang mengalaminya pasti bahagia. Jangankan ditemui ulama¬† saleh seperti beliau-beliau, mimpi indah bertemu wanita pujaan hati didalam mimpi saja kita bahagia bukan main ketika bangun tidur. Hehehehehe.

Mayoritas dari kita sekarang tidak bisa menerima jika ada seorang yang saleh yang memang diperlihatkan “clue” akan terjadi sebuah peristiwa, yang jika kemudian “clue” tersebut disampaikan kepada kita, kita kemudian menganggapnya hanya sebuah kabar burung yang tidak berdasar. Setiap kita pasti punya panutan yang kita jadikan sebagai teladan kita selain Nabi Muhammad SAW. Meskipun seharusnya tidak ada sekat dalam hubungan kita dengan Allah swt. Yang sebaiknya kita lakukan ketika mendapatkan “clue” tersebut adalah : tidak mempercayai sepenuhnya dan¬† juga tidak membantahnya.

Ketika gunung berapi erupsi, gempa bumi, atau banjir terjadi, sebagian masyarakat kita tidak mau merefleksikan dengan apa yang terjadi sehari-hari di Indonesia ini. Ada yang hanya menganggap bahwa peristiwa tersebut sudah digariskan oleh Allah swt. Sebagian yang lain menganggap bahwa terjadi ketidak seimbangan dalam kehidupan ini yang kemudian menyebabkan terjadinya peristiwa-peristiwa tersebut. Ada juga yang bersikap acuh tak acuh. Padahal Allah sudah mengingatkan kita bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu bangsa (kaum) kecuali bangsa (kaum) itu sendiri yang merubahnya. Meskipun demikian, bukan berarti hak prerogatif Allah dalam menentukan alur kehidupan suatu kaum itu kemudian lepas begitu saja. Pada tahap tertentu, Allah lah yang melakukan perubahan-perubahan terhadap suatu kaum itu sendiri. Tentu saja perubahan-perubahan itu banyak sekali macamnya, bisa lewat gunung meletus, gempa bumi, banjir atau peristiwa-peristiwa yang sifatnya membahagiakan manusia. Sudah terlalu banyak kaum cendekia, orang saleh yang berbicara tentang apa yang ada di dalam dan di antara Bumi dan Langit. Bahkan sudah sejak lama mereka memperingatkan bangsa ini terhadap peristiwa-peristiwa gempa bumi, gunung meletus dan sebagainya, namun Bangsa Indonesia selalu saja meremehkannya.

Manusia di Indonesia ini terlampau kreatif dalam menyikapi sebuah peristiwa. Ketika terjadi gunung meletus, gempa bumi atau peristiwa yang berkaitan dengan bencana alam lainnya, kemudian dengan sangat berani menyambungkan peristiwa tersebut dengan Al-Qur’an. Disambungkan dengan teori “uthak-athik gathuk”, mengkombinasikan angka-angka yang diperoleh dari hitungan jam, menit, tanggal, bulan dan tahun terjadi peristiwa kemudian disambungkan dengan susunan angka yang menunjukkan pada ayat dan surat tertentu dalam Al-Qur’an. Misalkan angka 2014 dijadikan rujukan untuk membaca Surat ke 20 ayat 14. Kemudian otak saya agak konslet dan bertanya, bagaimana jika sebuah peristiwa terjadi pada pukul 2 dinihari lewat 1 menit, ada nggak yang kemudian meng-uthak-athik gathuk menjadi Surat ke 2 Ayat ke 1. Aliif laam miim. Jika pakem jam, hari, menit, tanggal, bulan dan tahun yang digunakan, maka angka maksimalnya pada hitungan jam adalah 60 dan angka maksimal hitungan hari adalah 30. Lantas dimanakah kedudukan surat atau ayat setelah angka maksimal itu?. Kemudian, kok ketika terjadi peristiwa-peristiwa alam yang bersifat bencana baru disambungkan dengan Al-Qur’an, kenapa ketika terjadi peristiwa-peristiwa yang membahagiakan tidak disambungkan dengan Al-Qur’an?. Memangnya Al-Qur’an hanya memberikan informasi tentang bencana alam?. Apakah hanya ini yang kita dapatkan dari gunung meletus?.

Comments

comments

Trackback from your site.

Fahmi Agustian

Pemuda yang ketlingsut di keramaian ibukota Indonesia.
follow me on twitter @FahmiAgustian

http://fahmiagustian.com

Leave a comment

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.