Solusi bukanlah sekedar kata-kata

Written by Fahmi Agustian. Posted in artikel

Pagi ini saya membaca sebuah berita di sebuah portal berita yang menyebutkan bahwa Lokalisasi prostitusi Dolly akan segera ditutup oleh pemkot Surabaya pada tahun 2014 yang akan datang. Saya yakin berita ini akan sangat banyak yang mensyukuri dan berharap bahwa rencana tersebut benar-benar akan dilaksanakan. Bahkan pemkot Surabaya berjanaji sebelum bulan Ramadhan tahun depan, Dolly akan ditutup selama-lamanya. Pemkot Surabaya siap menggelontorkan 5 milyar rupiah sebagai modal awal untuk membeli beberapa wisma untuk dirubah fungsinya menjadi fasilitas umum dan pelatihan ketrampilan bagi para eks PSK.

Bukan tentang Dolly yang menjadi pesan utama sebenarnya, namun bagaimana keseriusan Pemkot Surabaya dalam menangani permasalahan masyarakat ini patut kita apresiasi. Jika kita mengatakan kepada pelacur bahwa zina itu haram, mereka sudah faham dan sangat mengerti bahwa zina itu haram. Permasalahannya adalah bagaimana memberi mereka solusi agar mereka mampu keluar dari dunia prostitusi itu sendiri. Seseorang pernah bercerita kepada saya, bahwa para pelacur di Dolly itu sangat ingin meninggalkan dunia prostitusi itu, mereka sadar bahwa yang mereka lakukan itu salah, namun mereka belum menemukan solusi agar mereka mampu bertahan hidup.

Jika kita hanya bisa mengatakan kepada mereka tentang haramnya berzina tanpa memberi mereka solusi, itu sama saja seperti motivator tentang sukses yang memotivasi kata-kata bijak kepada peserta training tanpa memberi solusi kongkrit bagaimana menjadi orang yang sukses. Kita harus ingat bahwa para pelacur itu juga manusia yang memiliki akal, mereka butuh orang yang tepat untuk membimbing mereka kembali ke jalan yang benar. Yang kita lakukan selama ini kebanyakan hanya menghina mereka, mendiskriminasi mereka, mengasingkan mereka, mencampakkan mereka. Apakah  sudah tertutup kemungkinan bagi mereka untuk memperbaiki diri?.

Tentu kita sangat hafal tentang sebuah cerita yang masyhur, ketika seorang pelacur dijamin masuk surga karena memberi minum keapada seekor anjing yang kehausan. Ikhlas. Saya mengambil pelajaran dari cerita itu adalah tentang sebuah keikhlasan dalam memberi sesuatu yang sebenarnya juga ia butuhkan. Tentang Ikhlas ini sudah dibahas oleh kawan kita di postingan sebelumnya. Postingan saudara Jauhar sangat mengena dan sangat dalam.

Kembali ke Dolly. Di kota-kota lain saya rasa juga terdapat lokalisasi serupa dengan Dolly. Yang harus kita lakukan kepada mereka bukan dengan cara paksa mendatangi mereka bergerombol, kemudian menghancurkan infrasturktur dengan berteriak Allahu Akbar. Kalimat Agung itu terlalu rendah harganya jika diaplikasikan seperti itu. Apakah dengan kekerasan seperti itu benar-benar menjadi solusi penyelesaian masalah?.  Atau justru akan membuat masalah baru?. Saya rasa apa yang akan dilakukan oleh Pemkot Surabaya bisa ditiru oleh pemkot lain yang memiliki permasalahan serupa. Jika kalian menemui seorang pelacur atau pencuri, coba tanyakan apakah mereka benar-benar ingin melakukan profesi itu?. Saya rasa mereka akan menjawab tidak, karena setiap manusia memiliki hati nurani.

Saya kembali teringat kepada wasiat KH. Imam Zarkasyi tentang orang besar. Orang besar menurut beliau bukanlah ia yang menjadi Presiden, Menteri, Gubernur atau pemangku jabatan tinggi, namun orang besar menurut beliau adalah orang yang mau berdakwah di surau-surau kecil. Sudahkah kita menemukan surau kita masing-masing?.

————————————————————————————

Berita tentang rencana penutupan Dolly.

Comments

comments

Trackback from your site.

Fahmi Agustian

Pemuda yang ketlingsut di keramaian ibukota Indonesia.
follow me on twitter @FahmiAgustian

http://fahmiagustian.com

Leave a comment

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.