Blitza menyongsong 2014

Written by Fahmi Agustian. Posted in artikel

Sudah lama nih nggak ada yang posting dengan headline sedikit “anget”. Mungkin para kontributor Blitza sudah memiliki kesibukan yang sangat menyita waktu masing-masing. Sengaja ane bikin judul yang menyangkut 2014. Bukan bermaksud menarik Blitza ke ranah politik 2014, namun 2014 adalah pertaruhan seluruh rakyat Indonesia. Tapi apa mau dikata, pemerintah Indonesia sudah menjadi pelacur bangsa asing. Demokrasi yang sudah jelas-jelas bobrok masih saja terus diagung-agungkan. Cepat atau lambat, Blitza tidak hanya menjadi penonton. Tidak lama lagi Blitza akan ambil bagian. Ane sudah mendengar beberapa kabar yang mengatakan ada beberapa Blitzer yang sudah akan siap tampil di Pemilu 2019. iya 2019, bukan 2014. Tentu dengan jalan politik bukan?.

2014 tahun politik yang menentukan

2014 sangat berbeda dengan 2009 apalagi 2004. jika 2004 ketika kita masih kelas 6 KMI  dulu, Indonesia masih dalam masa euforia reformasi 1998, dimana para pejuang reformasi saling berebut kekuasaan hingga akhirnya kita tahu sendiri siapa yang berhasil berkuasa hingga sekarang. Saat itu, Indonesia seakan sedang berbahagia karena berhasil lepas dari cengkraman orde baru. Akhir-akhir ini justru banyak yang baru sadar, ternyata era reformasi nggak jauh beda dari era orde baru. Memang era reformasi ini lebih menjanjikan kebebasan dalam menuangkan unek-unek.  DI zaman orde baru, jangan harap ada orang yang berani mengkritik orde baru bisa bergerak bebas, hari ini berteriak kritis terhadap orde baru, besok sudah berada didalam tahanan. Kebebasan berekspresi inilah yang ane anggap satu-satunya hasil perjuangan Reformasi ’98. Selebihnya hanyalah urusan giliran merampok. Kita bisa melihat bagaimana para aktivis ’98 sekarang justru duduk manis kalau tidak di eksekutif, ya legislatif. Aktivis yang ndak dapat jatah?, pelan tapi pasti sedang membangun panggungnya sendiri menuju 2014. Apakah 2014 kita hanya akan meneruskan kontinyuitas dari pemilu-pemilu sebelumnya?. Apakah kita hanya akan digiring oleh media yang kemudian mengeksploitasi salah satu orang habis-habisan, hingga akhirnya masyarakat yang memeiliki kemudahan akses terhadap media, kemudian secara perlahan digiring untuk mengatakan “ya” pada salah satu tokoh.

Ane tidak bermaksud untuk menggalang opini untuk mendukung salah satu calon presiden di 2014. Ane tidak peduli dengan dukungan antum kepada Jokowi, Prabowo, Dahlan Iskan, Jusuf Kalla, Mahfud MD, Anies Baswedan atau siapapun saja di 2014 nanti. Silahkan, dukung saja siapapun untuk calon presiden antum. Satu yang perlu diingat, yang antum pilih nanti adalah yang akan menjadi imam Indonesia 2014-2019. Jika dalam sholat, imam adalah seorang yang dianggap layak untuk memimpin sholat berjama’ah. Ia memiliki sekian syarat mutlak yang harus dipenuhi.

Konstitusi negara Indonesia mengatur bahwa seorang calon presiden harus diajukan oleh satu atau beberapa partai yang memiliki suara minimal 20% dari total suara rakyat pada pemilihan legislatif (mohon dikoreksi kalau salah). Konstitusi Indonesia tidak membolehkan seorang warga negara mencalonkan diri menjadi calon presiden melalui jalur Independen tanpa melalui partai politik. Aturan ini sangat berbeda dengan aturan yang diterapkan dalam pemilihan gubernur atau level dibawahnya. Jika dalam pemilihan kepala daerah, calon independen diperbolehkan mencalonkan diri menjadi salah satu calon. Disinilah celah kenapa korupsi di Indonesia entah sampai kapan akan berakhir. Partai politik akan memiliki harga jual terhadap seseorang yang akan melamar menjadi calon presiden melalui partai tersebut. Katakanlah si A ingin mencalonkan diri menjadi calon presiden kepada partai XYZ. Si A harus berani memberikan tawaran politik yang menggiurkan kepada Partai XYZ agar partai tersebut mau menerima si A sebagai calon presiden yang akan diusungnya. Dalam skala yang lebih luas, Partai XYZ bahkan berani menjual harga yang tinggi kepada negara asing untuk ikut mensukseskan calon yang diusung tersebut menjadi Presiden. Adalah bullshit jika seorang calon presiden tidak menawarkan sesuatu kepada partai pengusung untuk menerimanya sebagai calon presiden yang akan diusung. Adalah bullshit jika yang ditawarkan tersebut bukan berupa materi.

Indonesia adalah sebuah negara yang oleh Allah benar-benar diberikan kekayaan alam yang luar biasa. Mulai dari tambang Emas, Batubara sampai Minyak bumi lengkap ada di Indonesia ini. Keanekaragaman suku bangsa, luasnya lautan, hutan dan kekayaan lainnya yang dimiliki oleh Indonesia tidak dimiliki oleh negara lainnya. Silahkan cari negara yang memiliki kekayaan seperti Indonesia, jika ada. Itulah mengapa Indonesia adalah negara yang cukup “seksi” bagi mereka yang memang gemar merampok bangsa lain. ane tidak perlu menjabarkan siapa “perampok” atau “penjajah” dari bangsa lain tersebut. Lalu apa hubungannya dengan 2014?. Ada yang bilang bahwa krisis yang dialami Amerika adalah sebuah skenario saja. Dan ane sangat setuju itu, kalau mereka ndak pura-pura miskin, gimana mau ngerampok negara lain?.

Bagi antum yang tidak begitu tertarik dengan tulisan politik dan teori konspirasi politik, lebih baik segera tutup saja halaman ini, dan kembali buka facebook atau website yang lain. Tapi bagi antum yang benar-benar ingin melihat Indonesia menjadi lebih baik dari sekarang, ane harap antum membaca tulisan ini sampai selesai.

Jika melihat tingkat kerusakan yang ada di Indonesia, sangat mustahil ada orang yang mampu memperbaiki. Kalau ane boleh mengambil istilahnya Ronggowarsito, hanya seorang Satrio Pinandhito sinisihan wahyu yang mampu memperbaiki Indonesia. Atau kalau antum agak alergi pada istilah kejawen, maka ane akan memakai istilah Imam Mahdi. Hanya manusia yang selevel dengan Imam Mahdi yang mampu memperbaiki Indonesia. Mungkin agak berlebihan, tapi inilah faktanya. Kebobrokan di level mana yang tidak kita dapati di Indonesia?. Bagi antum yang “silau” kepada tokoh-tokoh baru sekelas Jokowi atau Dahlan Iskan, maka teori ini akan mentah. Karena bagi antum Jokowi adalah pemimpin yang merakyat, pemimpin yang berani blusukan dst…dst…itu hal yang wajar, setiap orang pasti punya idola. Tapi menurut ane, apa yang dilakukan oleh Jokowi itu ya memang yang seharusnya dilakukan oleh seorang pemimpin. Kita hanya sedang lapar saja, kemudian melihat sepiring nasi yang ada lauknya, kemudian kita makan dan kita bilang enak. Lain halnya jika perut kita dalam keadaan kenyang, maka sepiring nasi dengan lauk ayam lengkap dengan sambal dan lalapan pasti tidak akan kita makan sampai habis. Kecuali memang berwatak rakus.

Nah, Negara Indonesia ini sudah bobrok, kekayaan alamnya pun dikuasai asing. Sekedar info saja, bahwa nanti ada freeport jilid 2 yang akan menjadi tujuan utama para petarung 2014. Petarung itu bukan dari dalam negeri, namun berasal dari luar negeri. Ada 2 petarung kuat, sebut saja Naga dan Monster. 2 petarung ini akan berebut bukit freeport kedua yang nilainya melebihi freeport jilid 1 yang ada di papua. Freeport jilid 2 ini ada dimana?, tunggu kabar selanjutnya ya. Hehehehehe. Area lain yang akan “dijual” menjelang 2014 adalah jembatan selat sunda. Jangan dikira tender proyek pembangunan jembatan tersebut akan dimenangkan oleh pengusaha dalam negeri. Maka, akan ada sebuah “big deal” di 2014 nanti. Atau kalau mau melihat kebelakang, sangat tidak masuk akal Indonesia yang dulu pernah swasembada beras, sekarang malah impor beras. Bahkan gula, kedelai, daging sampai kelapa sekarang Indonesia malah impor. Secara akal sehat, ini tidak bisa diterima. Tapi ya mau bagaimana lagi, semuanya sudah dijual kok ke negara asing. Maka, saya berani memberi sub judul, 2014 tahun politik yang menentukan. Menentukan bagaimana Indonesia kedepan.

Jokowi dan Hajar Aswad

Lalu, apakah Jokowi bukanlah Imam Mahdi yang kita harapkan?. Bisa iya, bisa tidak. Ane cuma bisa sampaikan, jangan mudah kagum. Dalam istilah jawa ada sebuah semboyan ojo gumunan, ojo kagetan lan ojo dumeh. Yang artinya kurang lebih, jangan mudah kagum, jangan mudah kaget, dan jangan sok. Jokowi memang fenomenal, tapi siapakah yang membuat Jokowi fenomenal? Silahkan dicari dan dipelajari kemudian difahami sendiri-sendiri. Saya akakn sangat bersyukur jika memang Jokowi adalah orang yang tepat untuk menjadi presiden Indonesia. Saya akan ikut bahagia kalau nanti jika Jokowi beneran jadi Presiden Indonesia, kita nggak disuguhi oleh berita-berita korupsi di televisi. Toh seandainya nanti Jokowi beneran maju ke bursa pertarungan RI1 dan terpilih, kemudian ternyata hasilnya tidak lebih baik dari yang sekarang, nanti  dia akan diolok habis-habisan juga oleh rakyat. Siapapun Presiden Indonesia nantinya, harus menyadari bahwa orang Indonesia itu mudah lupa dan mudah berubah fikiran. Sekarang mengatakan A, dua jam kemudian mengatakan B, hanya orang Indonesia yang mampu melakukan hal tersebut.

Cak Nun memiliki teori tentang pernikahan, bahwa pernikahan itu ada 4 jenis; 1. Pernikahan antara manusia dengan Tuhannya, 2. Pernikahan manusia dengan alam sekitarnya (lingkungan), 3. Pernikahan antara seorang pemimpin dengan rakyatnya, 4. Pernikahan antara laki-laki dengan perempuan.

Sebelumnya, Jokowi adalah walikota Solo yang kemudian mencalonkan diri menjadi Gubernur DKI Jakarta, hingga akhirnya terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta. Konstitusi kita lagi-lagi memiliki celah. Pak Walikota Jokowi yang saat itu memiliki istri yaitu kota Solo, mencoba melamar perempuan yang lebih seksi bernama Jakarta, ternyata diterima lamarannya dan menikahlah Jokowi dengan Jakarta. Ternyata istri pertama Jokowi (solo) malah senang dan bahagia, bahkan rela diceraikan oleh Jokowi. Terlepas dari bahwa Jokowi dibujuk oleh beberapa fihak untuk maju ke DKI 1. Tapi secara etika,  seharusnya  Jokowi menceraikan dulu istri pertama (Solo), kemudian melamar Jakarta. Tapi hal ini dibolehkan oleh konstitusi di Indonesia, menyelingkuhi istri pertama untuk kemudian menceraikannya setelah berhasil menikahi perempuan lain yang lebih “menantang”. Nasib Jokowi lebih beruntung daripada Alex Noordin yang sempat juga melamar Jakarta dan menduakan Sumatera Selatan. Nah kelak, jangan mengutuk siapapun saja yang mengikuti langkah Jokowi ini jika ada kejadian serupa, karena sebagian besar dari kita toh merasa baik-baik saja dengan apa yang dilakukan oleh Jokowi tersebut.

Dalam prosesi ibadah Haji, ada sebuah ritual yang dinamakan thawaf. Thawaf adalah ritual mengelilingi ka’bah sebanyak 7 putaran. Ketika kita thawaf, maka kita akan melihat ka’bah dari keempat sisinya. Bukan hanya melihat ka’bah dari hajar aswadnya saja atau hijir ismail-nya saja. Nah, kenapa ilmu thawaf ini tidak kita aplikasikan juga ketika kita melihat Jokowi, Dahlan Iskan, Jusuf Kalla dan yang lainnya?. Lihat siapa yang ada disekeliling mereka. Cari tahu siapa yang ada dibelakang mereka. Pelajari darimana mereka sebelumnya. Inilah kelemahan orang Indonesia, mudah kagum dengan hajar aswad saja. Sehingga ketika melihat ka’bah yang dituju adalah hajar aswadnya saja. Kemudian yang diperjuangkan adalah mencium hajar aswadnya saja. Bahkan ada yang rela membayar calo sampai ratusan riyal agar bisa mendekat ke hajar aswad. Itulah perumpamaan politik di Indonesia. Persis. Kalau perlu menjilati pantat calon presiden agar kelak ketika yang dijilati pantatnya itu menjadi presiden, ia kecipratan posisi strategis di pemerintahan. Bukankah dalam ritual Haji, hajar aswad bukanlah yang utama?.  Bagi ane Hajar aswad adalah batu hitam yang tidak wajib untuk sekedar disentuh apalagi dicium. Apakah jokowi adalah hajar aswad-nya Indonesia saat ini? Ane bisa pastikan, iya. Karena secara masif, masyarakat Indonesia sudah digiring kepada satu tokoh;  Jokowi. Padahal, Indonesia bukan hanya Jokowi seperti halnya ka’bah bukan hanya hajar aswad.

Dimana Blitza memposisikan dirinya?

Seperti yang sudah ane sampaikan diawal, ane tidak bermaksud membawa Blitza ke ranah politik. Silahkan bagi antum yang mau tetap eksis di dunia akademis, perdagangan, pengusaha, aktifis, dakwah atau apapun pilihan yang antum ambil. Tapi ane harap antum jangan menutup mata terhadap 2014. Jika kita hanya berdiam diri saja, lantas apakah kita juga akan rela melihat Indonesia yang seperti ini saja di tahun-tahun yang akan datang?.

Ane harap, antum benar-benar objektif dalam menentukan pilihan di 2014 nanti. Silahkan pilih Jokowi, Prabowo, Jusuf Kalla, Mahfud MD, atau Rhoma Irama sekalipun, silahkan. Asalkan pilihan itu sudah melalui proses yang matang. Seperti halnya kita memutuskan memakan nasi, kita harus mampu melihat bahwa nasi tersebut sudah melalui proses yang sangat panjang sebelum menjadi nasi. Dan ane berharap, antum menyelipkan sebuah doa disetiap sholat antum, terserah kalimatnya seperti apa antum menyusunnya tapi pada intinya doa itu adalah : “Ya Allah…., mbok njenengan ikut ambil bagian di PEMILU 2014″.  Karena jika Allah ikut ambil bagian di Pemilu nanti, maka hidayah Allah akan merasuk ke dalam hati nurani masyarakat Indonesia dalam menentukan pilihannya. Sehingga siapapun yang terpilih di 2014 kelak, maka itu juga adalah berkat ridhla Allah swt.

Comments

comments

Trackback from your site.

Fahmi Agustian

Pemuda yang ketlingsut di keramaian ibukota Indonesia.
follow me on twitter @FahmiAgustian

http://fahmiagustian.com

Leave a comment

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.