Membongkar strategi ala Indra Sjafrie pada Timnas Indonesia U-19

Written by Fahmi Agustian. Posted in artikel

Evan Dimas Darmono

Evan Dimas Darmono, kapten timnas U-19

Euforia kesuksesan Timnas U-19 asuhan Indra Sjafrie masih saja menjadi perbincangan masyarakat luas. Berbagai media online pun masih saja membahas artikel yang berkaitan dengan Evan Dimas dkk. Gelaran kualifikasi Piala Asia U-19 pekan lalu adalah bukti terbaru kesuksesan Evan Dimas cs setelah sebelumnya mereka mampu meraih trofi AFF U-19 bulan lalu. Tentu saja kita menantikan bukti-bukti kehebatan Evan Dimas dkk selanjutnya. Ada yang menarik dalam 3 laga kualifikasi Piala Asia U-19 pekan lalu yang luput dari pemberitaan. Timnas U-19 melawan 3 tim yang menerapkan strategi berbeda satu sama lain. Laos yang berani menampilkan permainan terbuka, bahkan sejak menit pertama melakukan pressing ketat di area pertahanan Indonesia, Filipina yang memasang pertahanan “parkir bus”, dan Korea Selatan dimana sebagai juara bertahan kejuaraan ini adalah Raja Asia yang menggunakan strategi menyerang namun dengan garis pertahanan yang dalam. Kunci kemenangan Indonesia di 3 laga tersebut ada pada 3 gelandang Indonesia : Evan Dimas, Hargianto dan Zulfiandi. 3 pemain ini adalah tipe pemain box to box midfielder. Mereka tidak memiliki posisi yang pasti di setiap pertandingan. Kita bisa melihat terkadang Evan Dimas berada di depan bek Indonesia untuk melakukan intercept terhadap serangan lawan, kadang kita juga melihat Hargianto yang overlap untuk menciptakan peluang ke gawang lawan. Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada pemain lain, namun sektor tengah Indonesia U-19 yang dipimpin oleh Evan Dimas adalah poros utama serangan Indonesia U-19. Bahkan ada sebuah artikel yang mengatakan bahwa 3 pemain tengah ini adalah circle of dead yang dimiliki oleh skuad besutan Indra Sjafrie.

INDONESIA vs LAOS

Pada pertandingan pembuka kualifikasi Piala Asia U-19 Indonesia menjamu Laos. Indonesia menggunakan strategi 4-3-3 dengan memanfaatkan kecepatan 2 penyerang sayap ; Maldini dan Ilham Udin, sedangkan Muchlis Hadi diplot sebagai penyerang tengah. Laos yang menerapkan strategi 4-2-3-1 mengawali pertandingan dengan high pressing terhadap pemain Indonesia. Slah stau buktinya adalah Phithack yang berposisi sebagai penyerang, acapkali terlihat melakukan tekel terhadap pemain-pemain Indonesia untuk memotong serangan Evan Dimas cs. Pressing ketat yang dipergakan Laos ini membuat 3 gelandang dan 3 penyerang mereka mampu melakukan tekanan secara sporadis kepada pemain bertahan Indonesia ketika menguasai bola. Akibatnya, 3 gelandang Indonesia tidak mampu berkreasi secara maksimal, bahkan cenderung melakukan umpan-umpan pendek di area pertahanan sendiri. Hal ini menyebabkan Evan Dimas beberapa kali melepaskan umpan longball kepada Ilham Udin yang berposisi sebagai winger kiri. Gol Pertama Indonesia adalah gol yang tercipta setelah Indonesia melakukan tekanan dari sisi kiri yang kemudian memaksa kiper Laos melakukan pelanggaran terhadap pemain Indonesia disamping kotak pinalti. Evan Dimas dengan cerdik mengarahkan bola ke depan gawang dimana Muchlis Hadi memiliki ruang yang cukup untuk melakukan sundulan ke gawang Laos. Di pertandingan ini kita juga melihat Hansamu Yama Pranata beberapa kali mendapatkan peluang bersih. Bek tengah berpostur tinggi ini kerap membantu serangan ketika Indonesia mendapatkan sepak pojok atau set piece akibat pelanggaran pemain lawan. Strategi high pressing yang diperagakan Laos terbukti ampuh menahan serangan Evan Dimas dkk, bahkan setelah gol pertama, pertahanan Indonesia harus berjibaku terhadap serangan Laos, beruntung bola sepakan pemain Laos mengenai mistar gawang, dan bola pantulan tersebut yang kemudian disepak oleh pemain Laos dari sisi kanan berhasil diblok oleh Fatchu Rochman. Melihat lini tengah yang terlihat kurang kreatif, Indra Sjafrie memasukkan Paulo Sitanggang pada menit 43 menggantikan Hargianto. Babak pertama berakhir dengan skor 1-0 untuk Indonesia. Memasuki babak kedua, pada menit ke 50 Muchlis Hadi kembali mencetak gol, kali ini melalui open play, Evan Dimas dengan cerdik mengumpan bola kearah pertahanan Laos dimana Muchlis Hadi mampu mengejar bola hasil umpan Evan Dimas tersebut, upaya kiper Laos untuk menutup ruang tembak Muchlis Hadi terbukti sia-sia, dengan cerdik Muchlis melambungkan bola keatas kiper Laos yang sudah terlampau jauh meninggalkan gawang. Beberapa menit berselang, Maldini memiliki peluang yang berhasil dimentahkan oleh kiper Laos Boungpaseuth Niphavong. Di menit 73, kiper Laos tersebut kembali mementahkan serangan Idnonesia dari kaki Ilham Udin yang melakukan serangan dari sisi kiri.

Strategi high pressing yang diperagakan Laos harus dibayar mahal dengan 2 kartu merah yang diberikan wasit kepada Laos. Meskpiun demikian, 2 gol Indonesia selanjutnya tidak didapatkan dengan mudah, bahkan baru didapatkan ketika Laos menerima kartu merah kedua. Paulo Sitanggang terbukti menjadi pembeda dalam pertandingan ini. Pemain yang juga mampu menjadi box to box midfielder ini membayar kepercayaan Indra Sjafrie dengan sebuah gol yang tercipta dari sebuah skema serangan yang apik. Evan Dimas yang mendapatkan bola di area tengah melakukan longball kepada Maldini yang memiliki ruang di sisi kanan, akselerasi pemain nomor 15 ini kemudian dengan tenang mengumpan bola kepada Sitanggang yang meskipun dijaga ketat oleh pemain Laos, ia mampu mencari ruang tembak untuk kemudian mencetak gol ke 3 bagi Indonesia. 5 menit berselang, Evan Dimas mencetak gol. Berawal dari kesalahan pemain belakang Laos dalam mengontrol bola, Evan Dimas dengan tenang mengarahkan bola ke tiang jauh, tendangan datarnya merobek gawang Laos untuk keempat kalinya. Gol ini menjadi penutup sekaligus mencatatkan Evan DImas sebagai man of the match pada pertandingan ini dengan 1 gol dan dua assistnya.

Meskipun Laos harus kalah dengan skor telak, namun Laos beberapa kali mampu mebahayakan gawang Ravi Murdianto, terutama di babak pertama. Bola hasil intercept dan clearance beberapa kali berhasil dikonversi menjadi possesion ball, untungnya pemain bertahan Indonesia mampu bertahan dengan baik dengan skema pertahanan yang rendah. Di babak kedua, Laos mampu melakukan 17 intercept dan 17 tackle terhadap serangan pemain Indonesia. Kemenagan telak Indonesia ini dibantu oleh stamina pemain Laos yang kedodoran sejak akhir babak pertama. Masuknya Paulo Sitanggang terbukti ampuh menghancurkan high pressing Laos dan membuat serangan Indonesia tidak terbendung. Terbukti beberapa kali Ilham Udin dan Maldini berhasil menusuk area pertahanan Laos dan melakukan tembakan, sayangnya kiper Laos mampu mementahkan serangan-seranagn tersebut.

INDONESIA vs FILIPINA

Sebelum pertandingan, pendukung Indonesia banyak yang sesumbar bahwa Indonesia akan mencetak banyak gol ke gawang The Azkals. Ternyata, skema bertahan total yang diterapkan Filipina akhirnya hanya membuahkan 2 gol bagi Indonesia. Indra Sjafrie memperlihatkan keberaniannya bahwa baginya tidak ada the winning team. Pada laga kedua ini, Maldini yang di pertandingan sebelumnya bermain apik, tidak dimainkan oleh Indra Sjafrie. Terlepas dari strategi menjaga stamina Maldini untuk dipersiapkan melawan Korea Selatan. Namun, keputusan Indra Sjafrie memasang Dinan Javier untuk mengisi posisi Maldini terbukti jitu. Keputusan beresiko tinggi juga harus diambil oleh Indra Sjafrie dengan menggeser Putu Gede Arta ke posisi bek tengah dan memasang Mahdi Fahri di posisi fullback kanan. Duet Hansamu-Syahrul harus dikorbankan. Keputusan ini sangat beresiko karena mau tidak mau Indonesia harus mendobrak pertahana Filipina. Dinan yang diplot sebagai winger kanan. Kombinasi Dinan-Fahri ini terbukti lebih baik darpada memaksakan kombinasi Maldini-Fahri. Karena Maldini dan Fahri memiliki tipikal permainan yang sama. Sedangkan Dinan memiliki kemampuan melakukan ancaman melalui tembakan jarak jauh yang tidak dimiliki oleh Maldini. Melawan tim yang menumpuk 11 pemain di area pertahan mereka membutuhkan kesabaran. Namun kita disuguhkan oleh kemampuan tendangan jarak jauh dari pemain-pemain U-19 ini. Indra Sjafrie mengakui bahwa pemain-pemainnya kurang tenang dalam mengeksekusi peluang, sehingga banyak peluang yang terbuang. Dinan Javier mendapat peluang bersih dari sepakan pojok Evan Dimas di menit ke 20, sayang bola sundulannya tepat megarah pada kiper Filipina. 5 menit berselang bola hasil set piece diluar kotak pinalti yang dieksekusi oleh Evan Dimas masih membentur mistar gawang. 2 menit berselang Indonesia kembali mendapatkan set piece. Hargianto sukses mengeksekusi peluang ini setelah sebelumnya Evan Dimas melakukan gerak tipu. Sepakan Hargianto ini meluncur deras ke gawang Filipina dan gagal ditepis oleh kiper Filipina meskipun sempat mengenai tangan kiper. 1-0 untuk Indonesia hingga babak pertama berakhir. Startegi bertahan totoal Filipina memaksa Indonesia beberapa kali melakukan tendangan dari luar kotak pinalti. 3 gelandang Indonesia Evan Dimas, Hargianto dan Zulfiandi, motor serangan Indonesia di lini tengah ini mampu melakukan attempt. 3 tendangan bebas Indonesia di babak pertama dieksekusi bergantian oleh 3 pemain ini, hasilnya : eksekusi Evan Dimas menerpa mistar gawang, eksekusi Hargianto berbuah gol, dan sepakan Zulfiandi on target.

Kekuatan lini tengah Indonesia di pertandingan ini dimanfaatkan dengan sangat jenius oleh Indra Sjafrie di babak kedua. Jika di babak pertama Indonesia menyerang dari sayap, maka di babak kedua serangan Indonesia berawal dari poros tengah Evan-Hargianto-Zulfiandi. Di babak pertama, double pivot Indonesia; Zulfiandi dan Hargianto berhasil meredam serangan Filipina, sementara Evan Dimas berada di belakang Muchlis Hadi. Hargianto kerap membantu Evan Dimas dalam merusak pertahanan Filipina, sedangkan Zulfiandi tetap berada didepan bek tengah. Strategi ini memaksa Hargianto maupun Zulfiandi mengirim bola ke sisi lapangan, terutama ke wilayah Dinan. Berbeda di babak kedua, Dinan berani melakukan tusukan ke area tengah pertahanan Filipina karena Indonesia melakukan serangan yang diawali dari poros tengah. Bahkan beberapa kali Dinan berada di belakang Muchlis. Namun upaya ini ternyata belum membuahkan hasil, karena 5 pemain Filipina mampu bertahan sejajar di area pertahann mereka ketika Indonesia melakukan serangan. Akibatnya baik Dinan maupun Ilham selalu dikawal oleh 2 pemain FIlipina ketika melakukan serangan. Pertahanan sayap Filipina juga terbukti sukses meredam Indonesia. beberapa kali pergerakan Dinan maupun Ilham mampu dimentahkan oleh pertahanan Filipina. Terbukti dari 15 attempts hanya 5 yang berasal dari dalam kotak pinalti, itupun hanya 1 yang on target. Paulo Sitanggang kembali dimainkan untuk menggantikan Zulfiandi di menit 64. Pemain ini kembali menjadi pembeda karena selain mampu melakukan pressing dang merebut bola, ia juga mampu melakukan transformasi dari bertahan ke menyereang serta memiliki umpan terobosan yang sangat baik. Memasuki menit ke 80, Indra Sjafrie menginstruksikan anak asuhnya untuk kembali mendobrak pertahanan dari sayap kanan dan melonggarkan permainan dengan tujuan memancing keluar para pemain Filipina dari area pertahanan mereka. Dengan sedikit menurunkan tempo pertandingan kerapatan antarlini Filipina kemudian menjadi longgar. Hal ini memudahkan Evan Dimas dan Paulo Sitanggang untuk melakukan trough pass. Masuknya Yabes Roni Malaifani menggantikan Dinan Javier sangat mendukung pergerakan Evan DImas dan Paulo Sitanggang. Yabes dan Paulo mampu menusuk dari area kanan ini seperti yang dilakukan oleh Korea Selatan saat mengalahkan Filipina. Terbukti, gol Yabes Roni tercipta dari area ini yang juga hasil dari kombinasinya dengan Paulo Sitanggang. Serangan ini sebenarnya sudah dilakukan di babak pertama, hanya saja Dinan Javier tidak mampu melewati pemain bertahan FIlipina sehingga serangannya selalu mentah di kaki pemain bertahan Filipina.

Timnas U-19

Timnas U-19 saat berlaga di Piala AFF U-19

KOREA SELATAN vs INDONESIA

Dalam sebuah konfrensi pers, Coach Indra Sjafrie mengatakan: “Jangan terlalu dibesar-besarkan soal Korsel. Indonesia lebih besar dari Korsel. Sampaikan kepada Korsel, kami akan mengalahkan mereka pada 12 Oktober nanti”. Nada “sombong” seorang Indra Sjafrie ini sempat dinyinyiri oleh banyak orang yang akhirnya mereka hanya mampu tersenyum kecut setelah Indonesia mampu mengalahkan Korea Selatan dengan skor 3-2. Evan Dimas pun berulang kali berujar; “Tidak ada yang bisa dikalahkan kecuali Tuhan”. 3 gol Evan Dimas malam itu seakan menjadi bukti bahwa memang hanya Tuhan yang tidak bisa dikalahkan.

“Jangan terlalu dibesar-besarkan soal Korsel. Indonesia lebih besar dari Korsel. Sampaikan kepada Korsel, kami akan mengalahkan mereka pada 12 Oktober nanti”

Secara taktikal, skuad Garuda sebenarnya sangat mirip dengan punggawa Taeguk Warriors. Sama-sama mengandalkan penguasaan bola dan umpan-umpan pendek. Sama-sama menerapkan garis pertahanan yang dalam. Sehingga serangan lebih sering langsung dilancarkan ke jantung pertahanan lawan, dengan cara melepaskan trough ball ke area final third. Coach Indra Sjafrie kembali merubah line-up pemain pada pertandingan kali ini. Maldini kembali menjadi starter, dan Putu Gede kembali pada posisi semula yaitu fullback kanan. Pada pertandingan ini kita disuguhkan sebuah pertandingan yang sangat menarik. Banyak orang mengatakan “Ini seperti bukan Indonesia yang bermain”. Jika lawan sebelumnya hanyalah lawan lokal ASEAN yang sudah menajdi langganan di bebrbagai ajang, lawan kali ini adalah Korea Selatan, sang Juara bertahan dan pengoleksi trofi AFC Cup terbanyak, yaitu 12. Evan Dimas cs terbukti tidak sedikitpun merasakan beban atas nama besar Korea Selatan malam itu. Inisiatif menyerang langsung dilancarkan sejak menit pertama. Meskipun kemudian Korea Selatan mampu mengimbanginya. Hujan deras yang turun malam itu sangat membantu Coach Indra Sjafrie dalam berfikir untuk merubah strategi. Korea Selatan yang kerap melancarkan serangan dari sayap mampu dimentahkan oleh dua fullback Indonesia malam itu; Putu Gede dan Fatchu Rochman. Lapangan di sisi kanan pertahanan Indonesia beberapa kali dimanfaatkan oleh pemain-pemain Korea Selatan yang menyerang melalui area ini. Beberapa kali Korea Selatan menumpuk 5 pemain di area ini dan hanya menyisakan 1 pemain di kotak pinalti Indonesia. Air hujan yang tidak begitu menggenangi area ini seakan menjadi berkah bagi Korea Selatan karena mereka mudah melakukan passing antar pemain. Korea Selatan yang juga kerap mengirim crossing dari ujung garis pertahanan Indonesia memaksa  Hansamu membantu Fatchu ROchman untuk meredam serangan tersebut dari sisi kiri, sementara itu Zulfiandi turun ke area yang ditinggalkan Hansamu. Ketiga gelandang Indonesia yang dimainkan malam itu Evan Dimas-Hargianto_Zulfiandi bermain sangat rapat didepan lini pertahanan Indonesia, sehingga membuat gelandang-gelandang Koreaa Selatan tidak mampu berbuat banyak diarea tersebut. Sehingga bisa kita lihat betapa frustasinya Korea Selatan karena gagal menembus kotak pinalti Indonesia. Sebagai catatan 2 gol Korea Selatan malam itu tidak tercipta dari open play; satu gol dari tendangan pinalti dan satu gol lainnya berawal dari sebuah set piece.

Hujan yang cukup deras sempat menimbulkan kekhawatiran akan menurunnya stamina Evan Dimas dan Zulfiandi yang  bermain lebih dalam dari biasanya. Hal ini tentu menguras stamina mereka karena area mereka bertambah dalam menyerang dan bertahan. Evan Dimas memecah kebuntuan di menit ke 30. Ilham Udin yang menerima umpan lambung terbebas dari jebakan offside pemain Korea Selatan. Ia menggiring bola hingga hampir ke garis akhir, kemudian melepaskan umpan sambil terjatuh, Evan Dimas tanpa diduga oleh pemain Korea Selatan berlari dari arah yang berbeda dan menyambut umpan Ilham tersebut. Sayangnya hanya 2 menit berselang Hansamu melakukan pelanggaran di kotak pinalti dan wasit menunjuk titik putih. 5 menit berselang, pergerakan Evan Dimas gagal dimanfaatkan oleh Muchlis Hadi. Bola hasil umpan Evan Dimas tersebut gagal diceploskan ke gawang Korea Selatan oleh Muchlis Hadi. Di menit ke 43 wasit terpaksa menghentikan pertandingan karena air yang menggenang di lapangan sudah terlalu banyak. Para pemain memasuki ruang ganti sementara panitia pertandingan berusaha mengurangi genagan air. Pertnadingan dilanjutkan dan Indonesia sempat mendapat peluang bersih dari sepakan keras Hargianto dari luar kotak pinalti, namun bola hanya membentur mistar gawang dan kemelut didepan gawang tidak berhasil dimanafaatkan oleh Maldini. Babak pertama berakhir imbang 1-1.

Di babak kedua, Maldini yang pada babak pertama terlihat lebih kedalam untuk membantu Putu Gede dalam bertahan, diplot untuk sedikit kedepan di posisi tumpuan serangan dari sisi kanan. Hal ini kemudian dimanfaatkan Korea Selatan untuk menyerang dari sisi kiri dan tengah. Karena Maldini berada pada posisi yang jauh dari pertahanan.  Pemain Korea Selatan dikenal memiliki kolektifitas dan lini tengah yang kuat. Hal ini kemudian membuat Indra Sjafrie menginstruksikan Hargianto dan Zulfiandi untuk bermain lebih dalam sebagai double pivot untuk melindungi 4 bek, sedangkan Evan Dimas sebagai pengatur serangan. Akibatnya 3 pemain tengah Indonesia tidak dapat melakukan passing-passing di area pertahanan lawan. Mereka lebih sering mengirim umpan lambung ke area pertahanan lwan untuk melakukan serangan. Pertahanan Korea Selatan yang juga dalam membuat Muchlis Hadi bermain lebih ke belakang dari biasanya, bahkan ia melakukan tackle di area pertahanan Indonesia. Dengan lebih ke belakangnya Muchlis, paraktis Maldini dan Ilham Udin menjadi titik fokus serangan Indonesia. Gol pertama Indonesia adalah salah satu buktinya. Aliran bola dari tengah lebih sering ditujukan kepada Maldini atau Ilham Udin ketimbang kepada Muchlis Hadi yang sangat dijaga ketat oleh pemain bertahan Korea Selatan. Di abbak kedua justru Maldini lebih sering melakukan tusukan dari sayap kanan, strategi ini memang sering dilakukan oleh Indra Sjafrie, yaitu mengganti pola serangan pada babak kedua. Pola serangan yang berganti ke sisi kanan ini kemudian membuat Ilham Udin berdampingan dengan Muchlis Hadi di depan gawang. Sehingga Maldini memiliki 2 opsi dalam mengirim bola ke dalam kotak pinalti. Dengan strategi ini pula pemain tengah Indonesia mampu memberikan ancaman dengan menusuk jantung pertahanan Korea Selatan. Pada saat gol pertama Evan Dimas, sudah ada 3 pemain lainnya di dalam kotak pinalti yang juga siap menyambut umpan dari Ilham Udin tersebut.

3 gol Evan Dimas memiliki sebuah ciri khas yang sama. Yaitu Evan Dimas melakukan lari vertikal menyambut umpan dari pemain lainnya untuk kemudian mencetak gol. Gol pertama seakan ia tau bahwa Ilham Udin akan mengirim ke tengah kotak pinalti, sehingga ia lari menuju area tersebut dan terlambat disadari oleh pemain bertahan Korea Selatan yang gagal melakukan intercept terhadap Evan Dimas. Gol kedua adalah hasil kombinasi Evan Dimas dengan Maldini. Dengan cerdik Evan Dimas setelah memberikan bola kepada Maldini, ia berlari vertikal menuju kotak pinalti dan menyambut bola umpan dari Maldini yang sebelumnya melewati 2 pemain bertahan Korea Selatan. Gol ketiga Evan Dimas berawal dari sebuah intercept yang dilakukan oleh Muchlis Hadi yang kemudian mengirim bola kepada Ilham Udin yang melakukan overlap ke sisi kanan. Hampir mirip dengan apa yang dilakukan oleh Maldini pada gol sebelumnya, yaitu melewati 2 pemain bertahan Korea Selatan kemudian mengirim bola ke dekat kotak pinalti. Namun, yang membuat gol ketiga Evan Dimas ini lebih cantik dari gol sebelumnya adalah kombinasi Muchlis Hadi dengan Ilham Udin. Setelah Muchlis Hadi mengirim bole kepada Ilham Udin, ia berlari menuju kotak pinalti, begitu menerima bola sodoran dari Ilham Udin, ia melakuan umpan dengan backhell tanpa melihat kemana arah yang dituju,  seakan Muchlis tahu bahwa Evan Dimas sudah berada di posisi yang memiliki ruang lebih luas untuk melakukan tembakan kegawang. Ketiga gol Indonesia ini adalah hasil dari kombinasi antara Evan-Muchlis-Ilham-Maldini. Evan Dimas sebagai eksekutor, sedangkan 3 pemain lainnya bergantian sebagai pengumpan dimana dua diantaranya berada didepan atau dibelakang Evan Dimas pada saat terciptanya gol. Pada gol pertama Ilham Udin sebagai pengirim bola, Muchlis dan Maldini bersiap dibelakang  Evan Dimas. Pada gol kedua, Maldini sebagai pengumpan, Muchlis Hadi dan Ilham Udin sudah berada didepan Evan Dimas. Agak berbeda pada proses gol ketiga, Ilham Udin mengirim bola kepada Muchlis Hadi, hanya Maldini yang tidak terlihat berada didalam kotak pinalti.

Sebuah gol Korea Selatan di menit-menit akhir pertandingan berawal dari sebuah set piece. Gol ini seperti tidak begitu disesalkan oleh Coach Indra Sjafrie karena memang inilah salah satu kelebihan Korea Selatan. Setelah gol tersebut, dengan bahasa tubuh yang sangat jelas Indra Sjafrie menginstruksikan kepada para pemain untuk tenang dan sabar. Pertandingan berakhir dengan skor 2-3 untuk kemenangan Indonesia.

3 pertandingan dalam seminggu, 3 lawan berbeda dengan 3 strategi yang berbeda. Satu kata untuk Indra Sjafrie: JENIUS. Indra Sjafrie faham betul kebutuhan tim. Ia membangun sebuah tim yang tidak bertumpu pada seorang pemain saja. Ketika skema serangan yang ia instruksikan buntu, ia masih memiliki pemain pengganti yang mampu memecah kebuntuan. Lihat bagaimana tim ini mampu mencetak banyak gol dari secondline. Lihat bagaimana Evan Dimas mampu menjadi penyerang lubang. Lihat bagaimana Maldini Pali mampu membongkar pertahanan dari sisi kanan. Lihat bagaimana kerasnya tendangan Hargianto dari luar kotak pinalti. Lihat bagaimana reflek Ravi Murdianto dibawah mistar gawang. Lihat bagaimana mereka bermain. Impresif, agresif, kolektif, tenang dan fokus mereka tetap terjaga.

Saya merasa bukan pemain Indonesia yang sedang bermain malam itu. Mereka sangat berbeda dari timnas-timnas sebelumnya. Terlepas dari sebuah fakta bahwa mereka masih berusia dibawah 20 tahun, nyatanya mereka telah memberikan sebuah contoh bagaimana bermain sepakbola kepada senior-senior mereka.  Ketika melawan tim sekelas Korea Selatan sekalipun, Evan Dimas dan Ilham Udin masih mampu tersenyum ditengah-tengah pertandingan. Ini pertanda bahwa mereka begitu menikmati pertandingan yang mereka jalani. Tidak perduli siapa yang mereka hadapi. Fokus mereka tidak terganggu, stamina mereka mampu dipertahankan hingga 90 menit, bahkan dalam kondisi hujan deras sekalipun. Ini generasi emas sepakbola Indonesia. Selanjutnya adalah tugas PSSI untuk menjaga soliditas tim ini. Harus mau belajar pada kesalahan di masa lampau. Benar adanya kita pernah punya timnas yang bagus di masa Bima Sakti, Aji Santoso, Kurniawan Dwi Julianto hingga era Bambang Pamungkas, Ismed Sofyan, Firman Utina. Tapi, timnas Indra Sjafrie ini jika mampu dipertahankan hingga level senior, saya yakin mereka mampu terbang lebih tinggi lagi daripada senior-senior terdahulu mereka.

Bolehlah kita menikmati kemenangan ini, namun pelatih Korea Selatan pasca pertandingan sabtu lalu berujar; “Hari ini Indonesia bermain luar biasa dan tim kami underperform sehingga Indonesia layak menang. Tapi lihat setahun dari sekarang, hasilnya akan beda.”. Ini adalah ancaman yang nyata. Di gelaran Piala Asia U-19 tahun depan juga ada Jepang, China, Arab Saudi, Irak dan tim kuat Asia lainnya yang sudah menunggu.

Indra Sjafrie

Indra Sjafrie sedang memimpin latihan timnas U-19

Buah kejeniusan seorang Indra Sjafrie

Jujur saja, saya tidak mengenal satupun pemain U-19 sebelum gelaran AFF U-19 bulan lalu. Kebanyakan mereka adalah pemain amatir yang ditemukan oleh Indra Sjafrie dan scouting team dalam upaya mencari bibit-bibit unggul pemain sepakbola. Jangan dikira proses yang dilakukan oleh Indra Sjafrie dan tim tersebut dilakukan dalam waktu yang singkat. Indra Sjafrie kerap menggunakan uang pribadinya untuk mengunjungi daerah-daerah untuk mencari pemain-pemain berbakat. Jangan pula tanyakan kontrak resmi PSSI. Indra Sjafrie bahkan sempat dipecat oleh PSSI dan digantikan oleh Blanco, pelatih yang entah darimana asalnya itu. Indra Sjafrie berani mengatakan “Jangan bicara duit pada Negara”. Ucapan ini seakan menyindir para pejabat PSSI dan pemerintah yang selama ini hanya mampu menyemangati para pemain sepakbola yang membela panji Garuda dengan iming-iming bonus berupa sejumlah uang. Indra Sjafrie juga bukan tipe orang yang mau ikut urusan orang lain. Hal ini dibuktikan dengan status klub Evan Dimas yaitu PERSEBAYA 1927 yang tidak diakui oleh PSSI. Baginya, tidak peduli Evan Dimas bermain di klub mana, yang penting Evan Dimas adalah pemain Tim Nasional U-19 saat ini.

“Jangan bicara duit pada Negara”

Standar tinggi juga digunakan oleh Indra Sjafrie dalam merekrut pemain. Pemain yang direkrutnya harus memiliki 4 aspek ; teknik (skill) taktik dan kecerdasan, stamina dan fisik, yang terakhir adalah mental. Maka dalam staff kepelatihan Indra Sjafrie di Timnas U-19 ini terdapat seorang pelatih mental lulusan S-2 Psikologi UGM, Guntur Cahyo Utomo. Kemudian ada Nur Saelan sebagai pelatih Fisik. Pelatih yang menggunakan metode Hypnotise for coaching, yaitu mengubah mindset para pemain dari yang sebelumnya merasa latihan sangat melelahkan menjadi kebutuhan. Nur Saelan juga melatih respon para pemain dengan cara memberikan pertanyaan hitung-hitungan sederhana sebelum melakukan adu sprint. Satu lagi sosok penting dalam staff Indra Sjafrie, dialah Rudi Eka Priambada. Ia berposisi sebagai High Performance Unite. Sekilas ia hanya membawa kamera atau handycam saat pertandingan calon lawan. Namun jangan salah, ia adalah jebolan beasiswa AFC Project Future Coach 2009 di Dortmund, Jerman. Tugasnya adalah menganalisa cara bermain calon tim lawan untuk kemudian diadu dengan statistik tim U-19 dalam sebuah meeting menjelang pertandingan.

Religiusitas dalam tim

Ada sebuah pemandangan yang tidak biasanya dari perayaan beberapa gol Timnas U-19. Mulai dari gelaran Piala AFF U-19 hingga kualifikasi Piala Asia U-19 2014. Evan Dimas dkk merayakan gol dengan cara sujud syukur ke arah tribun penonton yang hadir, tentu saja saya sangat yakin sujud tersebut tidak ditujukan kepada para penonton. Tentu sujud syukur tersebut ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hal yang hampir sama juga diperlihatkan oleh Yabes Roni Malaifani. Pemain non muslim ini juga memanjatkan rasa syukur dengan berdoa sesuai kepercayaannya. Di jagat twitter sempat ramai sebuah hashtag #SujudForSjafrie. Tentu bukan bermaksud menuhankan seorang Indra Sjafrie. Ini hanya sebagai ungkapan rasa bangga dan terima kasih atas kejeniusan Indra Sjafrie dalam membimbing Timnas U-19. Sebenarnya perayaan gol seperti ini sudah biasa dilakukann oleh beberapa pemain di liga eropa, ada yang sujud, ada yang memberi isyarat salib pada badan, ada yang menunjukkan dua telunjuk ke langit. Ini adalah sebuah pertanda bahwa apa yang dilakukan manusia tidak lepas dari campur tangan Tuhan. Tidak usah diperdebatkan apa kepercayaan yang dianut, tapi mereka memiliki keyakinan bahwa Tuhan adalah penguasa alam semesta. Indra Sjafrie sangat baik menanamkan hal ini kepada para anak asuhannya. Ia merasa perlu untuk terus mengingatkan bahwa kita hanya manusia biasa yang hanya bisa berusaha.

Akhirnya, mengutip ucapan Steve Jobs yang sangat terkenal, pesan yang saya rasa sangat pantas ditujukan kepada Evan Dimas dkk beserta staff pelatih Indra Sjafrie: “Stay hungry, Stay foolish”. Tetaplah merasa lapar, dan tetaplah merasa bodoh. Dengan begitu, kalian tidak akan merasakan puas. Teruslah terbang Garuda muda.

Sumber tulisan : panditfootbal indonesia                                   bola.net
bolatotal.com

Comments

comments

Trackback from your site.

Fahmi Agustian

Pemuda yang ketlingsut di keramaian ibukota Indonesia.
follow me on twitter @FahmiAgustian

http://fahmiagustian.com

Comments (1)

  • Atmaji

    |

    tingkatkan terus stamina pemain hingga level V2O Max 65 !

    Reply

Leave a comment

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.