Wasiat KH. Ahmad Sahal, “Jangan Kecil Hati”.

Written by Fahmi Agustian. Posted in artikel

Berikut ini adalah kutipan wasiat alm. KH. Ahmad Sahal. Saya sendiri tidak mendapatkan sumber yang menyatkan pada tahun berapa wasiat ini disampaikan.

—————————————————————————————————————————————————————-

Saya berbicara kali ini betul-betul dengan ikhlas. Hanya akan saya ambil sedikit-sedikit dan singkatnya atau pucuknya saja. Semua yang akan saya sampaikan ini bahkan sedikitnya direkam dan rekaman ini nanti mudah menjadi buku dan dapat dibaca oleh seluruh umat, sampai-sampai pada anak cucu saya sendiri dan anak-anakku sekalan yang ada.

Sebagai mukaddimah, jangan sampai salam terima, kalau pondok modern, Pak Sahal, ataupun Pak Zarkasyi, itu anti kepada siapaun yang menjadi pegawai, anti kepada priyayi, anti kepada buruh, tidak! Sama sekali tidak. Ini supaya dicatat lebih dahulu, saya tidak menghalangi, saya tidak anti, saya tidak memusuhi orang yang menjadi pegawai. Maka di sini saya tekankan di dalam niatmu. Jangan salah niat, kalau sampai salah niat akan rugi hidupumu, selama hidupmu hanya akan rugi karena salah niat.

Kalau saya, rumah tangga saya, anak-istri-cucu saya kebetulan kecukupan, jangan dikatakan saya ini bangga tapi hanya syukur, hanya kebetulan, bukan sombong bukan bangga. Umpamanya masuk di pondok modern ini ingin jadi pegawai, itu berarti niatmu sudah kalang kabut. Jagan sampai niatmu itu rusak, maka di sini saya beri jalan, bagaimana cara orang hidup.

Kalau sekarang anak-anak ini kebetulan melarat orang tuanya, jangan kecil hati, sekiranya anak-anak ini kaya orang tuanya, maka jangan besar hati. Ini diantaranya yang saya anggap penting dalam pembicaraan saya ini. Saya sudah tidak punya apa-apa tetapi berani hidup, BERANI HIDUP TAK TAKUT MATI, TAKUT MATI JANGAN HIDUP, TAKUT HIDUP MATI SAJA, ini semboyan saya.

Segala titah apapun, cacing-cacing, kutu-kutu, walang, kalajengking, kodok, kadal, semut, semua sudah dijamin rizkinya oleh Allah, ini yang saya pegang, wamaa min daabbatin fi-l-ardhi illa ‘alallahi rizquhaa. Harrik yadaka undzil alaika rizqo, ini harus diingat, gerakkan tanganmu dan Allah akan menurunkan rizki kepadamu. Sungguh saya sudah tidak punya apa-apa. Konsekwensinya saya digoda sampai melarat habis-habisan, tapi perkiraan saya tidak sampe lepas “Kumlawe Gumreged.” Kumlawe artinya tangan digerakkan dan gumreged artiunya makan (mempunyai niat dan kehendak).

Jangan kecil hati karena tidak menjadi pegawai, menghadapi hidup jangan kecil hati, betul-betul jangan kecil hati. Pada suatu masa, beban akan menimpa keluarga sebagaimana yang pernah dialami keluarga saya, bagaimana orang tua saya menyekolahkan anak-anaknya, apa yang saya pakai untuk menyekolahkan anak saya.

Keponakan saya sekolah ini, anak Pak Lurak sekolah HIS yang uang sekolahnya sampe 3 Gulden atau 3 Rupiah, artinya padi satu kwital. Tapi saya Bismillah , tanah saya yang sebelah sana sebanyak seperempat hektar telah saya wakafkan, yang sebelah situ setengah hektar pun sudah saya wakafkan.
Hanya tanaman itu (pohon kelapa) selama anak Pak Sahal masih sekolah hasilnya masih tetap dipungut untuk menyekolahkan anak Pak Sahal. Yang berarti anak-anak itu akan meneruskan cita-cita Pak Sahal.

Itu di antara nasib yang saya alami tetapi tetap berani, berani hidup tak takut mati, takut mati jangan hidup, takut hidup mati saja. Tak perlu korupsi bisa hidup. Jangan kecil hati, jangan edan-edanan, saya tidak anti kalau nanti anak-anakku menjadi mahasiswa, menjadi sarjana, kemudian menjadi pegawai, jadi buruh, gajinya sebulan dua puluh lima ribu sampai lima puluh ribu. Tatapi jangan kesana tekananannya, jangan terlalu menggaris bawahi ke sana, sampai-sampai lupa kepada tugasnya.

Kalau orang sudah menjadi pegawai, mati otaknya, ini tidak semua, tapi pada umumnya. Sudah sekolah setengan mati, masuk Tsanawiyah terus ke Gontor, lalu menjadi mahasiswa, akhirnya menjadi pegawai, lupa segalnya. Kitabnya tidak dibaca lagi, tabligh tidak mau, nasib rakyat tidak diperdulikan, hanya mengumpul dengan anak-istrinya, khianat …….. khianat.

Hanya akan menghitung–hitung tinggal berapa ini? Kurang berapa hari lagi sebulan? Kapan naik pangkatnya? Kapan naik gaji? Kapan ini? Kapan itu? Hidupnya jor-joran dangan kawan-kawannya. Na’udzubillah.

Sudah mundak sekian lamanya belajar agama seperti tafsir, hadits, dan lainnya. Tidak untuk mengurus tabligh, tidak untuk ngurus, tidak untuk apa-apa. Hilang setelah jadi pegawai. Sudah lupa kepada msyarakat, lupa kepada nasib negara, lupa nasib agama. Masih untung kalau masih mau sembahyang atau Jum’atan, itulah pegawai. Boleh dilihat, jadi pegawai sepuluh atau duapuluh tahun belum bisa membeli rumah, itu biasa, paling-paling kalung sebentar, cincin sebentar, honda sebentar.

Jangan sampai anak-anak sekalian menyandarkan warisan orang tua, warisan tidak memberkahi, anggaplah tidak akan menerima warisan. Hidup self help, berani menolong diri sendiri, maka kalau hanya menyandarkan pada oragn tua itu kere, pengemis. Kalau memang jantan, tidak usah menerima warisan, seperti Trimurti, Pal Sahal, Pak Zar, Pak Fanani. Ayah saya hanya memepunyai sawah tidak lebih dari satu hektar, tapi anak-anaknya seperti saya, Pak Lurah, Pak Fanani, Pak Zar dan lainnya sabar.

Pegang doran, pegang cangkul, betul-betul petani. Pak Lurah Sepuh, ayahnya Pak Iwuk (Muhsin) juga mencangkul. Saya pun demikian, tetapi tidak kecil hati. Zaman dulu, kalau orang sudah sekolah Belanda itu merasa orang ningrat, merasa sudah terpandang, orang maju, orang yang cerdas, kerena sekolah disekolahkan Belanda. Tapi ayah saya tidak demikian, ayah saya seorang kiai di desa, tetapi terpandang, jujur, adil, dan dicintai.

Menjadi murid atau santri pondok modern jangan kecil hati, kamu itu belum apa-apa, besarkan hatimu. Yen wanio ing gampang, wedhio ing pakewuh, sabarang ora kelakon, ini wasiat Ramayana yang artinya: “Kalau hanya ingin enak saja, takut kesulitan, takut kesukaran hidup, apa saja tidak akan tercapai. Hidup adalah perjuangan, lieben is treigen. Itulah manusia hidup di dunia, jangan takut hidup, ini yang harus dipegang mulai sekarang.

Yang lebih penting lagi adalah jujur, percaya kepada Allah, jangan kecil hati. Inilah yang saya amanatkan, amanat yang saya pidatokan, yang pertama kali mengenai iqtishodiyyah, mengenai ekonomi, pangupa jiwa, golek sandang pangan, sanguine urep.

Jangan sampai anak-anakku iri kepada kawan-kawannya yang menjadi pegawai, iri kepada yang mendapat gaji, sekali lagi jangan kecil hati, jangan salah niat, ini yang saya tanamkan pertama kali kepada anak-anakku.

Jangan takut hidup, yang penting iman kuat, jaga kehormatan Insya Allah cukup rizki. Ini saja anak-anakku, mudah-mudahan ada manfaatnya, ada berkahnya, untuk hidup dunia akhirat, husnul khotimah.

Comments

comments

Trackback from your site.

Fahmi Agustian

Pemuda yang ketlingsut di keramaian ibukota Indonesia.
follow me on twitter @FahmiAgustian

http://fahmiagustian.com

Leave a comment

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.