LABUH BONDO, LABUH BAHU, LABUH PIKIR, LEK PERLU SAK NYAWANE PISAN

Written by Fahmi Agustian. Posted in artikel

Oleh : Ust. Rahmatullah Oky

Salah satu hal yang membuat Rasulullah merenung adalah Istiqomah. Sebuah sikap untuk terus menerus berbuat baik untuk Allah. Sebuah perbuatan yang dilakukan terus menerus demi untuk menarik keridhoan Allah. Yup, karena kita tidak pernah bisa selamat di Akherat jika mengandalkan amal-amal perbuatan kita saja. Bahkan Rasulullah sekalipun, amal kebaikkanya tidak bisa menolongnya di alam akhirat, semuanya tergantung Rahmat dan kasih sayang Allah kepada umatnya. Maka tujuan kita beribadah hanyalah memohon ridho Allah, hanya itu saja yang kita pinta dari sedikit amal perbuatan yang kita sudah lakukan di dunia ini. Rasulullah pernah berfikir hingga Rambutnya memutih, sehingga para sahabat bertanya, apa yang membuat Rambutmu memutih wahai Rasulallah? Maka kemudian Rasulullah menjawab : aku memikirkan Istiqomah umatku.

Istiqomah memang sulit. Sangat sulit bahkan dilakukan di zaman yang penuh tipu daya seperti sekarang ini. Puluhan Godaan yang bermuka manis atau-pun pahit akan senantiasa menghadang langkah-langkah kita untuk Istiqomah. Kyai, yang dulunya ikhlas lillah dalam menyampaikan dakwah, bisa jadi langkahnya akan goyah ketika mulai dikenal, mulai tahu dengan uang, mulai pilih-pilih area dakwah, mulai memilah-milah objek dakwah. Akhirnya dakwahnya komersil. Berubahlah niatnya yang awal mulanya lillah menjadi untuk kesejahteraan. Ini jumlahnya banyak, tidak sedikit, penyakit ingin segera besar, ingin segera dikenal, ingin segera banyak muridnya, ingin segera termasyhur. Inilah godan istiqomah itu. Maka itu ciri orang yang istiqomah adalah tidak terlalu senang ketika dipuji, dan tidak terlalu sedih jika dicaci maki. Karena tujuannya memang bukan untuk pujian atau menghindari cacian itu. Tapi betul-betul ikhlas lillah.

Maka saya teringat kata mutiara dalam bahasa jawa diatas. Labuh bondo, labuh bahu, labuh piker, lek perlu sak nyawane pisan (Korban Harta, Korban Tenaga, Korban Fikiran, Kalau perlu nyawa sekalian kita korbankan). Ini kata-kata yang betul-betul menyentuh hati saya. Totalitas perjuangan yang menyeluruh dan penuh pengorbanan. Dimulai dengan Labuh Bondo (berkurban Harta). Ini adalah sumber utama penghancur setiap niat istiqomah. Orang bisa sangat tergila-gila sekali dengan harta yang dia miliki. Maka sikap ini perlu sekali laksanakan di setiap diri pendakwah. Harta tidak boleh mendikte kita. Harta tidak boleh mengatur hidup kita. Harta tidak boleh menguasai alur kehidupan kita. Tapi kitalah yang seharusnya mendikte, mengatur, dan mengusai harta itu. Jangan pernah jadi budak harta.Salah satu caranya adalah dengan mengorbankan harta itu. Berkorban untuk kepentingan yang lebih besar. Bukan asal berkorban. Memberikan sesuatu untuk berharap berbalas yang lebih bukanlah pengorbanan. Jika ada pamrih maka bukan pengorbanan. Meskipun Allah tidak akan pernah ingkar janji, bahwa siapa yang berkurban untuk-Nya, maka Allah akan balas 10 kali lipat banyaknya Tapi bukan itu yang jadi harapan kita.

Selanjutnya adalah LABUH BAHU (Kurban Tenaga). Jika korban harta sudah, maka selanjutnya adalah korban tenaga. Ini tantangan, sebab tidak sedikit orang merasa sudah menyumbangkan hartanya lalu kemudian melupakan pemgorbanan dengan tenaga ini. Dia merasa sudah berjasa sekali dengan pengorbanan hartanya, maka dia-pun merasa tidak perlu lagi menyumbangkan tenaganya. Ini adalah cara kedua untuk bisa melatih sikap istiqomah ini. Pengorbanan tenaga menuntut kepada kesiapan fisik dan kelenturan mental. Harus siap jika diperlukan dan dibutuhkan. Apalah jadinya jika harta saja yang berhasil dikumpulkan, tanpa ada yang mau berkurban tenaga. Bukankah hanya akan jadi seonggok barang tanpa guna? Teringat kembali bagaimana sahabat Abu Bakar mengorbankan seluruh harta yang dia miliki, tapi juga terdepan dalam menyelamatkan Rasulullah dari ancaman musuh di setiap pertempuran. Tubuhnya penuh luka sayatan pedang, giginya pernah rontok, jatuh bangun dari kuda, peluh dan darah jadi satu di tubuhnya. Tapi itu beliau lakukan setelah pengorbanan harta yang tidak sedikti pula. Maka korbankanlah tenaga kita, dengan sepenuh kekuatan, sebanyak pemgorbanan harta kita, bahkan lebih. Sekali lagi, untuk bisa istiqomah.

LABUH FIKIR (Berkorban Fikiran), ini yang tak kalah penting. Pemikiran adalah separuh dari rencana, dan gagal dalam berencana sama halnya dengan merencanakan kegagalan. Sumbangsih berupa pemikiran ini adalah inti dari sebuah perencanaan. Maka pemikiran ini akan menemukan momentumnya, menemukan keseriusannya, menemukan totalitasnya, jika sebelumnya sudah berukurban harta atau tenaga. Ini sebuah kepastian. Karena pemikiran akan menemukan Ruh-nya, jika sudah ada pengalaman sebelumnya. Pemikiran inipun bukan hal yang remeh, maka tidak boleh main-main. Ada pertaruhan harga diri disana, ada pertaruhan nama baik disana. Maka diperlukan analisa, penelitian serius, perenungan, sebelum akhirnya tiba pada sebuah kesimpulan pemikiran. Maka bisa jadi pemikiran ini bernilai mahal. Jika pemikiran yang mahal harganya ini di korbankan begitu saja untuk umat, dengan berbagai resiko yang harus ditempuh, dengan siap dicaci dengan semua konsekwensinya, atau siap dipuji dengan segala kesuksesannya, maka itu pengorbanan pemikiran yang sejati.

Dan puncak dari semua pengorbanan itu adalah LEK PERLU SAK NYAWANE PISAN (Jika diperlukan Nyawa sekalian). Ini adalah pengorbanan tertinggi. Nyawa adalah satu-satunya harta kita yang tak tergantikan. Orang bisa hidup tanpa tangan, orang bisa tertawa tanpa kaki, tapi orang akan terdiam tanpa daya jika tak ada Ruh atau Nyawa. Ini sekalipun harus dikorbankan. Jika memang Agama memanggil kita untuk berjihad, maka tidak ada kata lain kecuali “kami ikut dan kami taat”. Tapi korban nyawa ini diletakkan di sesi paling akhir, setelah korban Harta, Korban Tenaga, dan korban pemikiran. Jika masih diperlukan ketiganya, maka jangan buru-buru mengorbankan nyawa. Sebab pemikiran, harta, dan tenaga kita masih sangat diperlukan dalam perjuangan. Pada kata-kata terakhir ini terdapat kata “LEK PERLU…(Jika diperlukan)” maknanya nyawa adalah jawaban terakhir jika tidak ada lagi kemungkinan pengorbanan lain. Jika sudah tidak bisa lagi berkorban harta, sudah habis pula tenaga kita, sudah tak sempat lagi berfikir, maka pengorbanan Jiwa adalah jawabannya.

Disinilah puncak Istiqomah itu. Berani berkata “Benar” dalam badai lautan orang yang mengatakan “salah” jika memang itu benar, dan juga sebaliknya. Sebuah pengorbanan yang sangat amat susah untuk dilakukan jika melihat realitas kondisi dan keadaan saat ini. Dimana berbagai kepentingan muncul dalam baju dakwah yang kita kenakan. Dari mulai keuntungan sesaat, popularitas, ketenaran, nama baik, pujian, cacian, makian yang menyakitkan, semua adalah halangan bagi kita untuk istiqomah.

Maka mari kita coba untuk berkorban dengan Harta kita, lalu tenaga kita, lalu fikiran kita, dan jika perlu Ruh kita sekalian kita kurbankan. Agar tunai semua tugas dengan gemilang. Karena kita semua telah Istiqomah, berjuang sepenuh jika dengan pengorbanan total. Wallahu A’lam

Comments

comments

Trackback from your site.

Fahmi Agustian

Pemuda yang ketlingsut di keramaian ibukota Indonesia.
follow me on twitter @FahmiAgustian

http://fahmiagustian.com

Leave a comment

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.