JADILAH ULAMA YANG INTELEK,BUKAN INTELEK YANG TAHU AGAMA

Written by Fahmi Agustian. Posted in artikel

Oleh Ust. Rahmatullah Oky

Selalu menyenangan bila tiba saatnya saya pulang kampung ke Ponorogo. Menghirup segarnya suka cita keluarga dan hangatnya keramahan masyarakat agraris yang guyub, rukun, dan bersahaja. Tak lupa untuk selalu menghadirkan kerenyahan canda khas Jawa Timur-an yang terkadang agak kasar,nyelekit, tapi tetap saja berakhir dengan tawa.Tak kalah hangat dengan menikmati sebungkus nasi pecel dengan sayuran segar, sambel kacang yang mlekoh (melimpah) serta lauk sederhana dan “special order” yaitu iwak kali (ikan sungai). Kecil-kecil bentuknya, tapi gurihnya benar-benar tak terlupakan.

Namun yang tidak boleh terlewat adalah tentu saja mengunjungi almamater tercinta di selatan Kota Ponorogo, setelah sejenak beristirahat di warung Dawet Jabung yang legendaris itu. Dari masa ke masa, dawet tersebut tak pernah hilang kesegaran alaminya, karena menggunakan santan segar, cendol, dan pemanis dari legen (air manis dari pohon kelapa sebelum dijadikan gula).

Saya meneruskan langkah ke gerbang pesantren modern yang sudah berusia hampir satu abad itu. Gapura besar menyambut kedatangan saya dengan tulisan yang indah: “Selamat Datang Di Pondok Modern Gontor”. Sejenak langkah saya terhenti. Bukan oleh sambutan selamat datang itu, tapi tulisan sesudahnya yang tertempel di dinding asrama santri. Tulisan itu sederhana saja :

“JADILAH ULAMA YANG INTELEK,BUKAN INTELEK YANG TAHU AGAMA” .

Ini adalah petikan nasehat dan pesan almarhum Kyai pendiri pondok pesatren ini. Tulisan pendek yang secara reflek membawa ingatan saya di medio pertengahan tahun 90-an. Ketika pertama kali menginjakkan kaki dan diterima belajar di pesantren ini. Sosok energik, tegas, dan visioner khas beliau, berkelebat membayang di angan saya.Teringat kembali bagaimana Kyai kami itu menuturkan bagaimana pesantren ini dulu berdiri. Dimana gagasan untuk membangun pesantren baru dan gambaran tentang bentuk pendidikan dan lulusannya diilhami oleh peristiwa dalam Konggres Umat Islam Indonesia di Surabaya pada pertengahan tahun 1926. Kongres itu dihadiri oleh tokoh-tokoh ummat Islam Indonesia, misalnya H.O.S.Tjokroaminoto, Kyai Mas Mansur, H. Agus Salim, AM. Sangaji, Usman Amin, dan lainlain.

Dalam kongres tersebut diputuskan bahwa umat Islam Indonesia akan mengutus wakilnya ke Muktamar Islam se-Dunia yang akan diselenggarakan di Makkah. Tetapi timbul masalah tentang siapa yang akan menjadi utusan. Padahal utusan yang akan dikirim ke Muktamar tersebut harus mahir sekurang-kurangnnya dalam bahasa Arab dan Inggris. Dari peserta kongres tersebut tak seorang pun yang menguasai dua bahasa itu dengan baik. Akhirnya dipilih dua orang utusan, yaitu H.O.S.Tjokroaminoto yang mahir berbahasa Inggris dan K.H. Mas Mansur yang menguasai bahasa Arab. Peristiwa ini mengilhami Pak Sahal yang hadir sebagai peserta konggres tersebut akan perlunya mencetak tokoh-tokoh yang memiliki kriteria di atas .

Kesan-kesan almarhum Kyai Ahmad Sahal (Salah satu Kyai Pendiri Pondok Modern Gontor) dari kongres itu menjadi topic pembicaraan dan merupakan masukan pemikiran yang sangat berharga bagi bentuk dan ciri lembaga yang akan dibina di kemudian hari. Beliau menggumam
dalam hati,

“Masa diantara ribuan umat Islam yang hadir di sini, tidak seorang pun yang mampu berbahasa Arab dan Inggris sekaligus dengan baik?”.

Situasi masyarakat dan lembaga pendidikan di tanah air saat itu juga mengilhami timbulnya ide-ide para pendiri. Banyak sekolah yang dibina oleh zendingzending non muslim yang berasal dari barat mengalami kemajuan yang sangat pesat; guru-guru yang pandai dan cakap dalam penguasaan materi dan metodologi pengajaran serta penguasaan ilmu jiwa dan ilmu kemasyarakatan. Sementara itu, lembaga pendidikan Islam belum mampu menyamai kemajuan mereka. Diantara sebab ketidakmampuan itu adalah kurangnya pendidikan Islam yang dapat mencetak guru-guru muslim yang cakap,berilmu luas, dan ikhlas dalam bekerja serta memiliki tanggung jawab untuk memajukan masyarakat. Dari sisi lain, lembaga-lembaga pendidikan yang ada pada saat itu sangat timpang. Satu lembaga pendidikan memberikan pelajaran umum saja dan mengabaikan pelajaran-pelajaran agama, lembagalembaga pendidikan lain hanya mengajarkan ilmu agama dan mengesampingkan pelajaran umum.Padahal keduanya adalah ilmu Islam dan sangat diperlukan oleh umatnya. Maka pondok pesantren yang akan dikembangkan itu harus memperhatikan hal ini.

Di samping itu tidak dapat disangkal bahwa umat Islam Indonesia, dan diseluruh dunia, terbagi ke dalam berbagai suku, bangsa, negara, dan bahasa. Mereka juga terbagi ke dalam aliran-aliran paham agama; mereka juga terbagi-bagi ke dalam kelompok-kelompok organisasi dan gerakan baik dalam bidang politik, sosial,dakwah, ekonomi, maupun yang lain. Kenyataan ini menunjukkan adanya factor pengkategori yang beragam. Tetapi, harus tetap disadari bahwa kategori-kategori tersebut tidak bersifat mutlak. Karena itu, semua dasar klasifikasi tersebut tidak boleh dijadikan dasar pengkotak-kotakkan umat yang menjurus kepada timbulnya pertentangan dan perpecahan diantara mereka. Maka lembaga pendidikan harus berusaha menanamkan kesadaran mengenai hal ini, serta mengajarkan bahwa faktor pengkategori yang sebenarnya adalah Islam itu sendiri;ummat Islam seluruhnya adalah bersaudara dalam satu ukhuwwah diniyyah.

Bagi saya pribadi, sungguh nasehat beliau diatas sangat inspiratif. Melihat berbagai  permasalahan sosial yang terjadi di Negara kita nan indah ini. Cita-cita beliau untuk mencetak kader ulama yang intelek dan bukan sekedar intelektual yang tahu agama sungguh mengena.

Kata “Ulama” dari segi bahasa adalah bentuk jamak (plural) dari “Alim” yang berarti orang yang berilmu dari berbagai disiplin pendidikan. Dokter adalah ulama, Insinyur adalah ulama, Profesor Fisika adalah Ulama, dan yang lain. Tapi dalam kosa kata Bahasa Indonesia, kalimat ini mengalami penyempitan makna, sehingga kesannya, ulama hanyalah orang-orang yang menguasai ilmu agama saja.

Memang, sejak datangnya zaman penjajahan di negeri ini, dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum sengaja diciptakan oleh mereka. Selanjutnya diberikanlah kesan bahwa ilmu agama hanyalah ilmu “kelas dua” yang hanya berhubungan dengan akhirat, dan sama sekali tidak berkaitan dengan dunia. Lalu mulailah propaganda penjajah untuk menjauhkan agama dari kehidupan umat ini dimulai. Mereka mendirikan sekolah sekolah milik mereka, dan hanya lulusan dari sekolah itulah yang diterima sebagai pegawai pemerintah saat itu. Kemudian dia munculkan pula dikotomi lain dari penamaannya. Sekolah umum disebut “Sekolah” sedangkan sekolah agama disebut “Madrasah” padahal kedua makna itu adalah sama dan sebangun secara bahasa. Orang yang bersekolah di sekolah umum membaca buku sedangkan yang di madrasah mempelajari kitab. Maka jadilah lulusan madrasah disebut ulama sedangkan lulusan sekolah disebut sarjana atau ilmuwan.

Para pembaca sekalian, sesungguhnya tidak ada perbedaan itu. Fikih adalah ilmu umum, karena dengan itu kita seharusnya bermuammalah. Matematika adalah juga ilmu agama, karena dengan itu kita tahu perhitungan tahun untuk penentuan waktu ibadah kita. Bukankah ulama-ulama kita zaman dulu adalah bukan sekedar para Faqih dan hebat, tapi juga ahli astronomi dan ekonomi yang dahsyat?

Bukankah Imam Syafi’I adalah juga seorang ahli matematika? Bukankah Abu Yusuf adalah qadi syari’ah Khalifah Abasiyah sekaligus penasehat ekonominya? Bukankah Ibnu Sina adalah seorang Faqih tauladan yang juga ahli kedokteran?

Justru dikotomi itulah yang sudah menjebak kita selama ini. Sehingga sarjana sastra seakan-akan “tidak sah” untuk tahu ekonomi, sebagaimana sarjana tarbiyah atau ushuludin tidak akan bisa melamar kerja di dunia perbankan. Yang lebih parah lagi, dikotomi itu memunculkan idiom bahwa agama itu adalah Arab dan umum itu identik dengan bahasa Inggris. Jadinya, untuk membuat sesuatu itu “Islami” sangat mudah, tinggal mengganti istilahnya saja menjadi Arab.

Contoh saja istilah “gaul”anak muda sekarang:

“Ah, kita tidak sedang pacaran kok, kita kan ta’arufan, halal kan?”

Sedikit agak masygul hati ini, ketika banyak sekali orang berbondong-bondong memenuhi majelis dzikir, berbondong bonding ibadah umroh berkali-kali dalam setahun. Tapi di bidang muammalah hanya segelintir orang yang bergerak. Laboratorium pengetahuan justru banyak diisi oleh umat lain. Majelis-majelis ekonomi justru banyak dipenuhi oleh golongan lain. Di satu sisi banyak ilmuwan kita yang menjerit meminta dana penelitian bagi perkembangan pengetahuan.

Tapi di sisi lain, ada orang yang rela terbang dari ujung Indonesia, menghabiskan biaya berpuluh-puluh juta, hanya untuk dapat air celupan batu petir yang entah bagaimana bisa dipercaya menyembuhkan. Seakan-akan Allah hanya hadir di majelis dzikir, malaikat hanya berdoa di seputar masjid, dan bidadari hanya menunggu muslim yang haji berkali-kali. Padahal Allah ada di mana-mana. Allah ada di laboratorium pengetahuan. Malaikat juga banyak berdoa di ruang-ruang kuliah sebagai majelis ilmu, dan bidadari juga banyak menunggu para syuhada yang gugur dalam tumpukkan catatan penemuannya yang berguna bagi umat manusia dan alam semesta.

Ah semoga saya, Anda, dan kita semua bisa menjadi ulama yang intelek itu. Kalau toh belum bisa, semoga anak-anak kita kelak bisa menjadi bukan sekedar intelek yang tahu agama.

Comments

comments

Trackback from your site.

Fahmi Agustian

Pemuda yang ketlingsut di keramaian ibukota Indonesia.
follow me on twitter @FahmiAgustian

http://fahmiagustian.com

Leave a comment

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.