Karena Kairo Begitu Istimewa

Written by Jauhar Ridloni Marzuq. Posted in Resensi Buku

kado-dari-kairo

Kairo adalah ibukota Mesir yang dibangun pada masa Dinasti Fatimiyah. Berbicara tentang Kairo berbicara tentang Mesir, dan berbicara tentang Mesir berarti berbicara tentang ketampanan Nabi Yusuf dan kesabaran Nabi Musa; tentang keangkuhan Fir’aun dan keajaiban bangunan Piramida, tentang kediktatoran Imperium Romawi dan kecantikan Ratu Cleopatra; tentang kehebatan Alexander the Great dan pesona kota pantai Alexandria; tentang ketangguhan Amru bin Ash dan sejarah penyebaran Islam di tanah Afrika; tentang kecerdikan Salahuddin al-Ayyubi dan pembebasan Pelestina; tentang keagungan institusi al-Azhar dan keikhlasan para ulamanya; dan tentang revolusi Arab Spring dengan Midan Tahrir yang selalu bergelora.

Singkatnya, berbicara tentang Mesir berarti berbicara tentang salah satu titik di bumi yang sejak dulu hingga sekarang selalu menjadi pusat perhatian dunia.

Pernahkah Anda menyadari bahwa Mesir adalah tempat yang paling banyak disebutkan dalam al-Qur’an? Sepertiga dari isi al-Qur’an bercerita tentang sejarah, dan 70 persen dari sejarah yang disinggung al-Qur’an tersebut berlokasi di Mesir. Empat kali, nama Mesir secara jelas disebutkan dalam al-Qur’an, dan puluhan lainnya disebutkan secara samar. Mesir pernah dilewati oleh Nabi Ibrahim ketika hendak hijrah ke Palestina; menjadi tempat tumbuhnya Nabi Yusuf hingga diperdaya oleh Zulaikha; menjadi tempat Nabi Musa dan Nabi Harun menyebarkan dakwahnya; menjadi tempat Nabi Khidir menunjukkan kelebihannya dibanding Nabi Musa; menjadi tempat persembunyian Nabi Isa dan Maryam dari kejaran tentara Romawi yang ingin membunuhnya, dan menjadi tempat dimana Nabi Muhammad berwasiat agar diperlakukan dengan baik para penduduknya. Mesir sungguh sungguh-sungguh suatu tempat yang sangat istimewa.

Uniknya, dengan muatan sejarah yang begitu banyak, Mesir tidak lantas menjadi negeri kuno. Sebagai salah satu jantung kawasan Timur Tengah, Mesir adalah negeri metropolitan yang penuh dengan bangunan tinggi menjulang dan hotel-hotel berbintang. Hiruk pikuk pekerja kantoran, deru kendaraan bermotor bersalip-salipan, dan lalu lalang para turis selalu yang berdatangan menghiasi banyak tempat di Mesir. Mesir bahkan memiliki kawasan “Downtown” yang dibangun oleh Khadive Ismail untuk menyaingi Paris sebagai jantung Eropa.

Keistimewaan Mesir semakin tampak dengan adanya institusi Al Azhar yang menjadi pusat pembelajaran Islam di dunia. Dari altar keilmuan ini pernah –dan terus- muncul nama-nama besar seperti Imam Ibnu Hajar Al Atsqalani, Ibnu Khaldun, Imam Jalaluddin Al Suyuthi, Syekh Muhammad Abduh, Mustafa Al Maraghi, Taqiyyudin An-Nabhani, Mahmud Syaltut, Thaha Husain, Muhammad Al Ghazali, Said Ramadhan Al Buthi, Yusuf Al Qaradhawi, Wahbah Zuhaili, Thaha Jabir Al Alwani, hingga dua Guru Besar Tafsir di Indonesia, Muhammad Quraish Shihab dan Muhammad Rum Rowi.

Keistimewaan-keistimewaan inilah yang selalu menjadi magnet ribuan orang untuk berkunjung ke Mesir dengan berbagai tujuan. Yang belum pernah berkunjung sangat ingin sekali berkunjung; dan yang sudah berkunjung pun akan sangat rindu untuk kembali berkunjung ke tempat ini. “Hidup di Mesir kadang-kadang memang menyebalkan, tapi jika sudah berpisah, rasa rindu selalu saja datang.”

Tapi sayang, tak semua orang berkesempatan menginjakkan kaki di Mesir. Karena berbagai alasan, berapa banyak orang yang tidak berkesempatan mengingjakkan kaki di bumi para Nabi ini, meskipun hati mereka sangat ini sekali. Saya sangat bersyukur karena diberi Allah kesempatan untuk menghirup udara negeri para wali ini selama empat tahun lamanya. Dan sebagai bentuk kesyukuran itulah saya tulis buku ini.

Buku ini saya mulai dengan cerita lika-liku perjalanan saya bisa menginjakkan kaki di Kairo. Cerita ini saya anggap penting karena menjadi salah satu bagian yang tidak akan pernah saya lupakan dalam sejarah hidup saya. Belum lagi, suka duka yang ada di dalamnya memuat sebuah pelajaran penting bahwa takdir Allah selalu mengandung hikmah yang terbaik untuk kita, walaupun kadang terasa pahit pada awalnya. Singkatnya, sejak lama saya bermimpi untuk bisa belajar di Al Azhar, namun sempat pupus karena dikhianati oleh oknum birokrat yang menyebalkan. Saya pun mengalihkan target belajar saya ke Libya sebagai pengganti Al Azhar. Ke Libya pun gagal. Lalu, pada ujungnya Allah justru membawa saya ke Mesir.

Buku ini terdiri dari 31 judul tulisan yang inti pembahasannya berkisar tentang Kairo, Mesir, dan Al Azhar. Tidak hanya berbicara tentang sejarahnya, saya juga mencoba untuk menceritakan kebiasaan-kebiasaan unik masyarakat Mesir yang tidak akan pernah ditemui di Indonesia. Tulisan ini adalah gabungan dari data-data sejarah yang saya dapatkan dari berbagai literatur, dan liputan pribadi dari interaksi saya dengan masyarakat Mesir selama empat tahun lamanya. Tulisan yang berjudul “Secuil Kenangan bersama Grand Syekh al-Azhar” misalnya, adalah hasil dari pengalaman talaqqi bersama Grand Syekh Al Azhar, Muhammad Sayyid Tantawi, selama kurang lebih dua tahun. Sebagai seorang pemimpin tertinggi institusi al-Azhar, untuk menemui Syekh Tantawi tentu sangat susah sekali, karena kedudukannya setara dengan kedudukan perdana menteri Mesir. Namun saya bersyukur sekali karena hal ini tidak menghalangi saya untuk bisa bertemu dengannya setiap minggu sekali.

Begitu juga tulisan-tulisan lain seperti “Cerita Dua Masjid Satu Nama”, “Kota Para Duta Bangsa”, “Titisan Cleopatra”, “Penjaga Warisan Kenabian”, “Potret Kesederhanaan Dosen al-Azhar”, “Amanah Penumpang Bis Kota”, “Kebaikan yang Mengejutkan”, “Menaklukkan Tanah Pesona”, “Mahkota di Ibu Kota Lama”, “Menemukan Soekarno”, dan lain sebagainya.

Di akhir tulisan ini saya menulis satu judul tentang sisi unik Mesir, yaitu sebuah negeri yang penuh dengan kontradiksi. Kita tahu bahwa Mesir memiliki seorang rendah hati seperti Musa; tapi jangan lupa bahwa di Mesir pernah hidup seorang raja angkuh seperti Ramsies II. Di Mesir pernah ada Yusuf, lelaki yang jujur dan apa adanya; tapi pernah ada pula Zulaikha, istri seorang panglima yang penuh tipu daya. Kontradiksi itu sampai sekarang terus terwariskan dalam berbagai lini kehidupan, baik budaya, tradisi, politik, hingga agama.

Ala kulli hal, meskipun pada awalnya buku ini hanya sebagai kado yang saya tujukan khusus untuk keluarga saya, namun saya rasa akan bermanfaat juga bila dipublikasikan dalam bentuk yang lebih luas. Semua pengalaman yang saya tulis dalam buku ini adalah rekaman kisah nyata yang benar-benar saya alami, bukan fiksi atau khayalan. Karena itu, cerita-cerita dalam buku ini bisa dijadikan tambahan wawasan bagi siapa saja yang belum berkesempatan berkunjung ke Mesir; sekaligus sebagai panduan bagi mereka yang akan (dan ingin) tinggal di Mesir, baik itu sebagai pelajar, pelancong, pengusaha, atau bahkan diplomat. Selamat membaca!

Kado Dari Kairo

Judul Buku : Kado Dari Kairo
Penulis : Jauhar Ridloni Marzuq
Penerbit : Media Sathira, Jakarta
ISBN : 976-602-1869-42-0
Tahun penerbitan : Mei, 2013

Comments

comments

Trackback from your site.

Leave a comment

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.