Terhijabnya ILMU Akibat KOMER$ILMU

Written by Abu Shofi Shidiq. Posted in artikel

komersilmu

Dalam beberapa hari lalu saya sharing dengan para Guru/Mentor yang saya anggap punya integritas unutk menyinggung soal komersialisme pendidikan/ilmu.

Di negeri ini bertaburan yang namanya ustadz, trainer, motivator, kyai, inspirator, da’i, konsultan dan lain sebagainya, tapi akhlak penduduk negeri ini tetap rendah bahkan kian terpuruk. Mengapa?

Jika tujuan kita berbagi ilmu atau mencari ilmu itu adalah uang (dunia), maka ketahuilah bahwa “uang” itu dapat menjadi “hijab” atas hadirnya hidayah Allah. Uang bertambah, Ilmu bertambah, tapi hidayah berkurang. Ingat!! “al’ilmu nur, wa nuruLLAH la yuhda lil’aashii” ; ilmu itu bak cahaya, dan cahaya Allah tidak ditunjukan kpn pemaksiat. Ilmu itu untuk diamalkan, diajarkan, didebatkan, disombongkan, diadukuatkan, dipamerkan, atau diperjual-belikan?.

“Barang siapa yang belajar suatu ilmu yang seharusnya dilakukan dengan ikhlas, tetapi dia menuntutnya demi untuk mencari keuntungan dunia darinya, maka dia tidak akan bisa mencium baunya syurga pada hari akhir“ (HR Abu Daud).

Kini sebagian dunia Pendidikan pun lebih mirip membangun bisnis perdagangan dibandingkan pembangunan karakter. Kompetensi yang dimiliki guru didagangkan dan ditukar dengan sejumlah uang (SPP) yang dibayarkan oleh murid-muridnya setiap bulan.

Tak heran bila banyak guru yang kehilangan magnet “digugu dan ditiru” dan banyak murid yang “culangung” kepada gurunya karena menganggap “guwe kan sekolah di sini bayar”.

Karena iklim yang terlanjur dibangun di dunia pendidikan kita adalah “menuntut ilmu sebagai sarana mencari nafkah” baik untuk guru dan murid-muridnya, maka ketika pemerintah mengadakan program “Pendidikan Gratis” maknanya menjadi “Pendidikan tidak berkualitas”

Dalam sejarah Islam pendidikan itu Gratis namun demikian para Guru/Ustadz/Ulama nya adalah orang-orang yang sangat dihormati.

Hal tersebut terjadi karena orientasi guru dan murid sama, yaitu menuntut dan mengajarkan ilmu untuk “membangun akhlak/karakter dan keselamatan dunia dan akhirat” dan bukan untuk “mencari nafkah dunia semata”.

Tawuran justru banyak terjadi di dunia pendidikan, nyontek berjama’ah pun terjadi di dunia pendidikan, perzinaan antar pelajar, antar guru dan murid, banyak terjadi di dunia pendidikan.

Orang tua pun lebih sedih bila anaknya tak bisa matematika dibandingkan tidak bisa jujur dan ngantri dengan benar.

Saking sibuknya “sebagian” guru, murid, dan ortu dalam hal mengejar target, nilai, penghargaan, reputasi sekolah dan kompetensi, maka akhlak dan karakter anak bangsa pun “dikorbankan”

“Mereka” berpendapat : Lebih baik nyontek berjamaah ketika UN dari pada reputasi sekolah hancur karena nilai UN tidak sesuai target. 

Padahal Nabi berpesan “carilah ilmu” untuk diamalkan dan bukan malah “carilah nilai” untuk dipamerkan.

“Tholabul ‘ilmi” sering diartikan “mencari ilmu”, dan itu benar. Tholabu berasal dari kata tholaba yang arti termasyhurnya adalah “meminta”

Sehingga tholabul ‘ilmi adalah “mencari ilmu dengan cara meMINTA kepada yang memiliki ilmu” bukan “mencari ilmu dengan cara memBELI kepada yang memiliki ilmu”

Adapun memberi ilmu kepada yang memintanya adalah kewajiban, tentu saja disesuaikan kondisinya. 

Yang penting, jangan sampai kita tidak jadi memberikan ilmu hanya lantaran si peminta ilmu tersebut tidak sanggup membayar ilmu yang kita miliki.

tentang riset komersialisme pendidikan bisa anda gali dari buku ini:

komersialisasi-pendidikan-213x300

Allaahu Akbar, jika seorang Pembicara (motivator, ustadz, da’i dsb) ketika berbicara terbayang dalam otaknya “uang atau bayaran” maka bisa menutup vibrasi ruhani yang seharusnya terpancar dari si Pembicara.

Indahnya bila suatu saat dalam dunia “training” tidak ada istilah “bayar” atau “gratis”, tapi “sama-sama sadar dan saling mengerti” antara pembicara dan Pendengar. 

Pembicara memberikan ilmunya karena Allah, maka si Pendengar pun mendapatkan hidayah dari Allah (bukan dari si Pembicara). 

Lalu para Pendengar memberikan hadiah kepada si Pembicara karena Allah dan bukan karena Ilmu yang diberikan oleh si Pembicara kepada mereka, sesuai kemampuan, tidak dipaksakan dengan sejumlah nominal tertentu yang diminta si pembicara. Alhamdulillah.

Wallahu a’lam

@AbundanCenter99 @busovs

Comments

comments

Tags: , ,

Trackback from your site.

Comments (1)

  • Abu Shofi Shidiq

    |

    Terimakasih sharingnya hingga menjadi artikel bermanfaat ini, salam ta’zhim kepada kang Zain, Pak Adi Mahfudz, Mas Hasib As’ad..

    Reply

Leave a comment

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.