Sang Kiai

Written by Fahmi Agustian. Posted in artikel

Kiai, Kyai, Kiyai atau banyak juga masyarakat yang memanggil dengan sebutan Mbah Yai, atau kadang hanya Yai. Zaman dahulu di Indonesia (Nusantara) dikenal istilah “Ki” yang disematkan kepada orang yang sudah tua atau dituakan dan dihormati di kalangan masyarakat sekitarnya. Sebut saja Ki Hajar Dewantoro, bapak Pendidikan Nasional. Ada juga Ki Ageng Mangir, cucu dari Prabu Brawijaya V, penguasa daerah Mangir (sekarang Bantul, Yogyakarta). Setelah mengalami perubahan zaman, panggilan Ki mulai ditinggalkan, meskipun sekarang masih ada beberapa tokoh yang dipanggil dengan Ki. Khusus untuk para ulama Islam, terutama mereka yang mendalami ilmu agama dan juga memiliki sebuah pondok pesantren, mereka dipanggil dengan sapaan “Kiai”. Sebagai catatan; pada zaman kolonial Belanda, penggunaan Kiai lebih disematkan kepada barang yang dianggap memiliki kekuatan spiritual, maka beberapa nama Keris pusaka di beberapa keraton memiliki nama yang berawalan Kiai. Yang sekarang masih cukup terkenal adalah kerbau Keraton Solo. Silahkan googling sendiri namanya.

cutekiddies

Panggilan ulama “Kiai” sangat populer di pulau jawa, terutama Jawa Timur. Selain sebagai basis pondok pesantren, Jawa Timur juga dikenal sebagai basis masa Organisasi Nahdhlatul Ulama, dimana organisasi ini masih sangat identik dengan Islam tradisional. Berbeda dengan Muhammadiyah, meskipun dulu sang pendiri Muhammadiyah dipanggil oleh para muridnya dengan panggilan Kiai Haji Ahmad Dahlan, sekarang Muhammadiyah sudah tidak menggunakan istilah Kiai. Namun, ketika Prof. Dr. Syafii Ma’arif menjadi Ketua Umum Pimpina Pusat Muhammadiyah, banyak sekali warga Muhammadiyah memanggil beliau dengan sapaan Buya Syafii. Istilah Buya sendiri hampir sama dengan Kiai. Hanya saja istilah Buya dipakai oleh masyarakat Sumatera Barat. Di beberapa wilayah lain juga memiliki istilah yang berbeda, seperti “Tuan Guru” di NTB, “Ajengan” di daerah Sunda, atau “Tofanrita” di Sulawesi Selatan.

Dalam sebuah bukunya, Cak Nun (Emha Ainun Nadjib) mengklasifikasi 3 jenis Kiai; Kiai Genthong, Kiai Ceret dan Kiai Talang.

Kiai Genthong. Adalah jenis Kiai yang Ilmunya sangat mendalam dan luas. Ilmu yang didapatkan berasal dari banyak cara. Mulai dari menjadi santri di pondok pesantren, proses perenungan spiritual, berguru kepada seseorang yang dianggap sebagai guru, atau dari pengalaman hidupnya. Kiai Genthong ini ibarat sebuah Genthong (ember yang besar), terserah pengikutnya mau mengambil ilmu seberapa banyak. Sang Kiai biasanya tidak menyiapkan sebuah materi ketika ia akan berdakwah, namun ia menunggu pertanyaan dari muridnya. Kemudian dijelaskan oleh Sang Kiai. Penjelasan yang dijabarkan oleh Kiai Genthong juga tidak selalu panjang lebar. Terkadang, persoalan yang ditanyakan muridnya terlihat sangat rumit, Kiai Genthong mampu menjelaskannya dengan singkat, padat, berisi dan jelas. Siapapun lawan bicaranya, Kiai Genthong akan berbicara dengan tepat dan benar. Terkadang menggunakan bahasa simbolik atau perlambang, terkadang juga menggunakan bahasa yang lugas dan transparan. Pada prinsipnya, Kiai Genthong adalah Kiai yang benar-benar menggunakan ‘bahasa hati’, karena keyakinannya terhadap Allah sudah sangat mendalam, sehingga ia sudah berada pada titik “Haqqul yaqin”. Tingkatan “Haqqul yaqin” ini dicapai setelah melalui tahapan “Ilmul yaqin” dan “Ainul yaqin”. Dalam Kitab Ihya Ulumuddin, Imam Al Ghazali menyebutnya sebagai orang yang telah mendapatkan “ilmu hikmah’.

Kiai Ceret. Pada umumnya, Kiai Ceret adalah Kiai yang tampil di podium dihadapan audien yang sangat banyak. Ibaratnya ceeret (poci), kadar air yang dituangkan sesuai dengan tempat yang berada di dekatnya, jika dia dihadapakan dengan gelas, maka air yang dituangkan ya sebatas ukuran gelas, begitu juga jika dihadapkan dengan botol, cangkir dst. Kiai Ceret biasanya sangat terkenal di seantero negeri. Kiai Ceret ini, saking terkenalnya, melalui manjamennya mematok tarif yang berbeda sesuai dengan lokasi dan audien yang akan diceramahinya. Padahal, jika dibandingkan dengan Kiai Genthong, ilmu yang dimiliki oleh Kiai Ceret tidak sebanding. Bahkan bisa dikatakan hanya kulitnnya saja. Memang, dari segi tata bahasa yang digunakan Kiai Ceret lebih tertata rapi, sesuai dengan EYD, karena ia banyak membaca buku-buku agama. Sedangkan Kiai Genthong lebih memilih tata bahasa yang mudah difahami oleh lawan bicaranya. Kiai Genthong akan cepat mengetahui bagaimana cara menjelaskan suatu permasalahan kepada lawan bicaranya dengan tata bahasa yang tepat dan benar, meskipun tidak sesuai dengan EYD.

Kiai Talang. Kiai ini adalah Kiai yang norak, narsis, sok.  Setiap ketemu orang dimanapun, tidak perduli dia muslim atau bukan, tidak perduli lawan bicaranya itu pandai atau bodoh, semua dianggapnya sama. Ibaratnya talang ketika air hujan turun, ia akan terus mengalirkan air hujan sampai hujan reda. Maka, seringkali ilmu yang diceramahkan oleh Kiai Talang ini menjadi sia-sia, karena ia tidak memiliki kemampuan mendefiniskan kebutuhan ilmu lawan bicaranya. Asal ketemu orang, dia ceramah.

Nah, dari ketiga klasifikasi Kiai diatas, jika kata “Kiai” diganti menjadi “Manusia”, manakah klasifikasi yang tepat untu kita?. Genthong, Ceret atau Talang?.

Comments

comments

Tags:

Trackback from your site.

Fahmi Agustian

Pemuda yang ketlingsut di keramaian ibukota Indonesia.
follow me on twitter @FahmiAgustian

http://fahmiagustian.com

Comments (1)

  • Sami'un

    |

    ane milih migrofah aja gan…ngambil air dari gentong terus byur byur dari ujung rambut ke ujung kaki

    Reply

Leave a comment

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.