Akhir dari kejayaan sepakbola Spanyol?

Written by Fahmi Agustian. Posted in artikel

Sebagian besar pecinta sepakbola eropa memiliki pendapat yang sama ketika menyaksikan laga semifinal Liga Champions pekan lalu, yang kemudian meloloskan Borussia Dortmund dan Bayern Munchen ke partai puncak di Wembley 25 mei mendatang. Era kejayaan Spanyol dihentikan oleh Jerman. Bagitulah kira-kira kalimat yang keluar dari beberapa penikmat sepakbola eropa.

DFB

Jerman adalah sebuah negara eropa yang memiliki sejarah indah di dunia sepakbola, 3 kali mereka menjuarai Piala Dunia, meskipun pada saat itu mereka masih terbagi menjadi dua, yaitu Jerman barat dan Jerman timur. 3 kali pula Jerman menjadi kampiun Piala Eropa. Namun, kesuksesan mereka di kejuaraan antar negara terhenti pada tahun 1996, ketika Piala Eropa dihelat di Inggris, Jerman yang saat itu masih diperkuat Oliver Bierhoff mengalahkan Ceko melalui golden goal di masa perpanjangan waktu. Itulah kejayaan terakhir Jerman di kancah Internasional. Setali tiga uang, di ajang bergengsi antar klub eropa, Liga Champions, tim Jerman terakhir kali mengankat trofi kuping lebar yaitu pada musim kompetisi 200-2001. Adalah Bayern Munchen yang menjuarai kompetisi ini setelah mengalahkan Valencia melalui babak adu pinalti. Partai final dalam sejarah Liga Champions Eropa dimana seluruh gol yang tercipta berasal dari titik putih. Bersama Ajax Amsterdam, Bayern Munchen adalah klub kedua yang pernah merengkuh trofi bergensi antar klub di benua biru sebanyak 3 kali berturut-turut, sedangkan Real Madrid adalah klub yang pertama kali dan satu-satunya pernah meraih trofi ini 5 kali berturut-turut.

Piala Dunia 1998 adalah awa mula menurunnya kualitas sepakbola Jerman, gagal melangkah ke semi final karena kalah oleh “negara baru” Kroasia. Di Piala Eropa 2000, Jerman lebih tragis lagi nasibnya, Jerman adalah Juara bertahan Piala Eropa pada tahun 1996, justru menjadi tim juru kunci pada babak penyisihan grup A piala Eropa 2000. Kegagalan di Piala Eropa 2000 menjadi bahan evaluasi DFB (PSSI-nya Jerman). Sejumlah riset dan penelitian dilakukan. Tidak hanya ahli sepakbola, namun juga ahli gizi sampai ahli matematika dilibatkan. Dua tahun waktu yang mereka perlukan untuk mematangkan cetak biru pembinaan baru sepakbola mereka. Piala Dunia 2002, Jerman memang berhasil melaju ke partai Final, namun harus mengakui kekuatan Brasil saat itu. Meskipun Jerman saat itu diisi oleh pemain-pemain yang masih berada dalam usia produktif, sebut saja Miroslav Klose, Christoph Metzelder dan Torsten Frings. Namun skuad Jerman kalah kualitas dibanding skuad Brasil yang didominasi oleh pemain-pemain yang juga bermain di Final Piala Dunia 1998.

Syarat mutlak cetak biru pembinaan sepakbola Jerman yang dirintis mulai tahun 2002 adalah mewajibkan 36 klub yang berlaga di Bundesliga 1&2 untuk memiliki akademi klub mandiri. Apabila ada klub yang tidak bersedia mendirikan akademi mandiri ini, maka klub tersebut akan dicoret dari keikutsertaan di Bundesliga. Tidak hanya itu, pembenahan juga berlaku pada sistem finansial. Setiap akademi diharuskan memiliki setidaknya 12 pemain yang memenuhi syarat untuk menjadi pemain tim nasional Jerman. Dengan menghabiskan dana kurang lebih 100 juta dolar AS untuk pembangunan akademi pada setiap klub, sistem ini seperti menyempurnakan kebijakan 6+5 yang dimiliki oleh FIFA.

Tidak hanya itu, DFB membangun setidaknya 121 pusat sepakbola nasional di seluruh Jerman, dikhususkan untuk mendidik pemain berusia 10-17 tahun. Setiap akademi menghabiskan biaya 15,6 juta dolar AS, dan hanya difokuskan untuk mendidik skill individu, setiap akademi ini dilatih oleh dua pelatih kepala dengan lisensi terbaik. Selain itu, pemerintah Jerman menyetujui usulan DFB untuk merubah UU Imigrasi Jerman. Konsep liberalisasi kependudukan yang diterapkan, memudahkan para anak muda imigran untuk mendapatkan paspor Jerman. Sistem ini sangat menguntungkan DFB, siapa tak kenal Mesut Ozil dan Sami Khedira?. Kurikulum kepelatihan pembinaan sepakbola usia 9-13 tahun dirubah. Berdasarkan penelitian mahasiswa Universitas Koln, mereka tidak merekomendasikan sistem pelatihan 11vs11 bagi anak-anak dibawah usia 14 tahun.

“Anak usia 9 tahun dilatih 4 vs 4 dalam lapangan kecil. Ini berguna untuk memancing skil dan tehnik individu. Mereka tidak dikenalkan strategi dan tidak digembleng secara fisik. Bermain dengan 11 pemain baru dikenalkan pada usia 13 tahun,” ungkap direktur pembinaan pemain VfB Stuttgart, Thomas Albeck.

Kurikulum dengan sistem baru ini juga diterapkan di 29 sekolah khusus, Elite Football Schools. Di Akademi ini, mereka  hanya menerima anak usia 11-14 tahun, dan kurikulum sepakbola adalah materi utama, meskipun mereka juga mempeljari pelajaran umum.

DFB tidak berhenti pada titik tersebut, bersama sejumlah Universitas, DFB merancang penerapan psikologi olahraga, pusat kebugaran, fitnes, dokter dan fisioterapis. Sejumlah data fisik, statistik, analisa, performa hingga karakter personal dari seluruh pemain muda dikumpulkan. Hasilnya; tim yunior sepakbola Jerman merajai Eropa dalam kurun waktu 6 tahun setelah cetak biru pembinaan sepakbola Jerman tersebut diterapkan. Jerman U-19 menjadi kampiun Euro 2008, Jerman U-17 menjadi jawara di Euro 2009, dan Jerman U-21 juga mengangkat piala pada ajang Euro 2009. Bahkan Sekjen DFB saat itu, Wolfgang Niersbach tidak menyangka bahwa revolusi sepakbola Jerman membuahkan hasil dalam kurun waktu yang sangat cepat.

Puncaknya, meski tidak juara, Jerman memiliki rata-rata pemain dengan usia 24,7 tahun di Piala Dunia 2010 lalu alias yang termuda sepanjang sejarah turnamen bergengsi tersebut. Status tim termuda sepanjang turnamen Eropa juga ditorehkan Jerman di Euro 2012, 24,52 tahun. Gelandang Mario Goetze, yang ikut menjuarai Euro U-17 2009, adalah termuda (20 tahun) dan penyerang Miroslav Klose adalah pemain tertua (33 tahun).

Dalam dua turnamen Internasional yang diikuti oleh Jerman, setidaknya Jerman selalu lolos ke partai Semifinal mulai tahun 2002, dimana 2 diantaranya mereka berhasil menembus partai Final, yaitu Piala Dunia 2002 dan Euro 2008.

Bayern Munchen dan Borussia Dortmund akan berlaga di Final Liga Champions Eropa 25 mei 2013 mendatang. Bayern adalah tim yang dalam 4 tahun terakhir berhasil lolos ke partai Final, tahun ini untuk ketiga kalinya. Terakhir kali mereka menjuarai ajang bergengsi antar klub eropa ini adalah pada tahun kompetisi 2000-2001. Dortmund, tim kuda hitam musim ini, lolos ke Liga Champions eropa dengan status Juara Bundesliga, tergabung dengan 4 juara liga eropa lainnya, berhasil mematahkan hampir sebagian besar prediksi pengamat sepakbola yang mengatakan bahwa Real Madrid akan meraih trofi Liga Champions untuk ke sepuluh kalinya musim ini. Dalam sejarah keikut sertaannya di Liga Champions Eropa, Dortmund baru sekali melaju hingga partai Final, yaitu pada musim kompetisi 1996-1997, dimana pada saat itu Dormund berhasil mengalahkan Juventus dengan skor 3-1, di kandang Bayern Munchen, Stadion Olimpiade yang menjadi stadion penyelenggara partai Final saat itu.

Wembley akan menjadi saksi, siapakah diantara duo Jerman ini yang akan mengangkat trofi. Simpan dulu prediksi kalian. Mari kita bicarakan Spanyol.

Spanyol adalah kiblat sepakbola eropa dalam kurun waktu 6 tahun terakhir. Euro 2008 menjadi tonggak sejarah sepakbola Spanyol. Mulai tahun 2008, seakan silih berganti antara Tim Nasional dan Klub Sepakbola Spanyol menjadi kampiun di berbagai ajang Internasional. Trofi Euro 2008 seakan menjadi awal, berlanjut ke trofi Liga Champions Eropa, Trofi Piala Dunia antarklub, hingga Trofi Piala Dunia 2010. Perhelatan Euro 2012 adalah puncaknya. Tidak bisa dipungkiri, Barcelona dan Real Madrid adalah aktor utamanya.

Barcelona yang mewakili publik Catalan tidak tinggal diam, mereka memilih jalur yang berbeda, mengandalkan sebagian besar pemain binaan mereka sendiri di akademi La Masia. Melalui jalan pintas, Real Madrid meraih trofi Liga Champions Eropa pada musim kompetisi 2002-2003, setelah mengalahkan Bayern Leverkusen di partai Final. Gol Zinedine Zidane menjadi penentu kemenangan Real Madrid pada Final yang dihelat di Hampden Park, Glasgow, Skotlandia. 4 tahun berselang, giliran Barcelona yang meraih trofi bergengsi ini, mereka berhasil mengangkat trofi setelah mengalahkan Arsenal di partai puncak Liga Champions Eropa musim 2005-2006 di Stade de France, Prancis. Adalah Frank Riijkard yang merintis skuad Barcelona, yang kemudian disempurnakan oleh Pep Guardiola dengan sangat fenomenal meraih 6 trofi dalam satu tahun. Namun, fans Barcelona tentu tidak akan melupakan jasa Johan Cruyff, legenda sepakbola Belanda ketika menjuarai Piala Dunia 1974, sosok yang bermain sebagai pemain Barcelona pada tahun 1973-1978, kemudian menjadi pelatih Barcelona pada tahun 1988-1996. Dialah sosok utama dibelakang strategi tiki-taka. Peletak fondasi utama permainan Barcelona saat ini. Total football ala Belanda ia terapkan di Barcelona ketika ia menjadi pelatih Barcelona, strategi itu membuahkan hasil Juara Liga Champions Eropa pada musim 1991-1992. Pep Guardiola degan tiki-taka ramuannya total meraih 14 trofi bersama skuad Barcelona dalam kurun waktu 4 tahun. Tito Vilanova yang menjadi asisten Pep Guardiola urung melanjutkan kesuksesan Pep, terganggu faktor kesehatan dirinya, ditambah badai cedera beberapa pemain pilarnya, skuad Barcelona dibawah Tito Vilanova seakan-akan diajarkan tiki-taka versi 2.0 oleh Bayern Munchen di 2 pertandingan semifinal pekan lalu.

Bagaimana dengan Real Madrid?. Di awal 2000-an, Real Madrid membangun skuad mega bintang sehingga mereka mendapat julukan Los Galacticos.Klub terkaya dalam beberapa tahun terakhir ini lebih memilih mendatangkan pemain-pemain berkualitas nan mahal, seolah ingin melahirkan Los Galacticos jilid 2, pemain sekaliber Cristiano Ronaldo, Ricardo Kaka, Xabi Alonso, Mesut Ozil sampai Luca Modric didatangkan dengan harga yang tidak murah. Hasilnya, 1 trofi Juara Liga Spanyol, 1 trofi Piala Raja dan 1 trofi Piala Super Spanyol. Sangat njomplang  jika dibandingkan dengan uang yang sudah dihabiskan untuk memborng pemain. Banyak pengamat sepakbola memprediksi, bahwa tahun ini adalah tahun dimana Real Madrid akan menuntaskan dahaga trofi mereka di kancah eropa, sekaligus menggenapi koleksi trofi kuping lebar menjadi sepuluh di lemari mereka. Bukan hanya dengan mendatangkan pemain megabintang, pelatih-pelatih hebat seperti Fabio Capello dan Jose Mourinho didapuk untuk menukangi skuad Los Galacticos jilid 2 (wannabe). Namun apadaya, berkali-kali pula mereka gagal. Ironisnya, tiga musim terakhir mereka lolos ke partai semifinal, pada kesempatan itu dua kali mereka disingkirkan oleh tim Jerman.

Bagi fans Real Madrid pasti akan berujar, “Setidaknya kami tidak kalah dengan agregat 7-0”. Apadaya, tim sekuat Real Madrid yang diisi oleh komposisi pemain-pemain berpostur ideal, harus kandas oleh tim kuda hitam, Borussia Dortmund. Berapapun skornya, kalah tetaplah kalah. Real Madrid harus berjuang lebih keras lagi untuk meraih La Decima yang mereka kampanyekan satu dekade terakhir. Barcelona sedikit lebih baik, tanpa mengeluarkan uang yang besar, dalam 7 tahun terakhir, 3 trofi Liga Champions Eropa sudah mereka raih.

Sepakbola tidak lepas dari mitos. Salah satu mitos dalam Liga Champions Eropa adalah, klub yang mengalahkan Barcelona di semifinal, maka klub tersebut akan menjadi Juara Liga Champions Eropa musim tersebut. Manchester United, Inter Milan dan Chelsea sudah membuktikan. Apakah tradisi dalam mitos ini juga berlaku pada Bayern Munchen?. Silahkan kalian prediksi sendiri-sendiri, yang pasti Juaranya berasal dari Jerman. Final Wembley kali ini menguatkan keteguhan saya untuk menjagokan Jerman menjadi Juara Piala Dunia 2014 tahun depan. How about you?.

Comments

comments

Tags: ,

Trackback from your site.

Fahmi Agustian

Pemuda yang ketlingsut di keramaian ibukota Indonesia.
follow me on twitter @FahmiAgustian

http://fahmiagustian.com

Comments (1)

Leave a comment

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.