Ujian Nasional Antara Pro dan Kontra

Written by Amirul Bahri. Posted in Berita

UJIAN NASIONAL

Pendidikan sebagai sebuah proses belajar para siswa, hendaklah perlu adanya sebuah evaluasi. Evaluasi ini menjadi penting untuk mengukur dan menilai bagaimana kualitas para peserta didik dalam menjalani aktivitas belajar dalam sebuah lembaga pendidikan. Begitu juga hal nya dengan Ujian Nasional (UN) yang dilaksanakan secara terstruktur oleh pemerintah pusat, merupakan kegiatan pengukuran dan penilaian kompetensi peserta didik secara nasional pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Legalisasi untuk menjalankan Ujian Nasional (UN) berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Sebenarnya sistem evaluasi pendidikan untuk tingkat dasar dan menengah yang sekarang kita kenal dengan istilah Ujian Nasional (UN) telah mengalami beberapa kali perubahan dan penyempuraan oleh pemerintah Indonesia. Perkembangan Ujian Nasional tersebut dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa periode berikut ini:

  1. Tahun 1965-1971, pada tahun ini, sistem ujian dinamakan ujian negara. Hampir berlaku untuk semua mata pelajaran, semua jenjang yang ada di Indonesia, satu komando dan satu kebijakan pemerintah pusat.
  2. Tahun 1972-1979, pada tahun ini, ujian negara ditiadakan, diganti dengan ujian sekolah. Jadi sekolah yang menyelenggarakan ujian sendiri-sendiri. Semuanya diserahkan kepada sekolah, sedangkan pemerintah pusat hanya membuat kebijakan-kebijakan umum terkait dengan ujian yang dilaksanakan.
  3. Tahun 1980-2000, pada tahun ini, untuk mengendalikan, mengevaluasi, dan mengembangkan mutu pendidikan, Ujian sekolah diganti menjadi Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (EBTANAS). Dalam ujian ini, dikembangkan perangkat ujian paralale untuk setiap mata pelajaran yang diujikan. Sedangkan terkait denga penggandaan dan monitoring soal dilaksanakan oleh daerah masing-masing.
  4. Tahun 2001-2004, pada tahun ini, EBTANAS diganti menjadi Ujian Akhir Nasional (UNAS). Hal yang menonjol dalam peralihan nama “EBTANAS” menjadi “UNAS” adalah penentuan kelulusan siswa, yaitu Dalam Ebtanas kelulusannya berdasarkan nilai 2 semester raport terakhir dan nilai EBTANAS murni, sedangkan UNAS ditentukan pada mata pelajaran secara individual.
  5. Tahun 2005-2009 ada perubahan sistem yaitu pada target wajib belajar pendidikan (SD/MI/SD-LB/MTs/SMP/SMP-LB/SMA/MA/SMK/SMA-LB) sehingga nilai kelulusan ada target minimal.
  6. Tahun 2010-Sekarang, UNAS diganti menjadi Ujian Nasional (UN). Untuk UN tahun 2012, ada ujian susulan bagi siswa yang tidak lulus UN. Dengan target, para siswa yang ujian dapat mencapai nilai standar minimal UN sehingga dapat lulus UN dengan baik.

Walau dalam sejarah Ujian Nasional yang berubah-ubah sejak tahun 1965 sampai sekarang, namun inti dari ujian yang dilaksanakan sejak dahulu itu sama yaitu untuk meningkatkan kualitas peserta didik dan mengukur kemampuan peserta didik dalam proses belajar. Akan tetapi dalam realita sekarang, banyak orang yang menganggap Ujian Nasional sebagai sebuah bencana. Bahkan ada yang menginginkan Ujian Nasional dihapus. Mungkin sebagian orang tersebut melihat berbagai kekisruhan Ujian Nasional seperti: kebocoran, keterlambatan soal, kertas ujian yang tipis, dan berbagai hal lainnya yang semuanya hanya bersifat teknis pelaksanaan, bukan Ujian Nasional nya yang menjadi masalah. Kalau seandainya Ujian Nasional dihapus, dengan apa untuk mengukur kualitas para peserta didik, bagaimana mengukur kualitas sekolah, guru, dan berbagai hal lainnya. Padahal, Ujian Nasional ini dilakukan dengan berbagai manfaat seperti:

  1. Pemetaan mutu program dan/atau satuan pendidikan;
  2. Dasar seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya;
  3. Penentuan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan; dan
  4. Dasar pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan.

Mari dukung pemerintah untuk selalu meningkatkan kualitas teknis pelaksanaan Ujian Nasional biar tidak terdapat berbagai kekisruhan, dan ini menjadi tugas masyarakat pada umumnya untuk mengawasinya. Semoga dengan ujian nasional para peserta didik terpacu untuk meraih prestasi demi masa depan bangsa yang gemilang.

Comments

comments

Trackback from your site.

Comments (1)

  • zalza edla

    |

    Pendidikan sebagai sebuah proses belajar para siswa, hendaklah perlu adanya sebuah evaluasi. Evaluasi ini menjadi penting untuk mengukur dan menilai bagaimana kualitas para peserta didik dalam menjalani aktivitas belajar dalam sebuah lembaga pendidikan. Begitu juga hal nya dengan Ujian Nasional (UN) yang dilaksanakan secara terstruktur oleh pemerintah pusat, merupakan kegiatan pengukuran dan penilaian kompetensi peserta didik secara nasional pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Legalisasi untuk menjalankan Ujian Nasional (UN) berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

    Sebenarnya sistem evaluasi pendidikan untuk tingkat dasar dan menengah yang sekarang kita kenal dengan istilah Ujian Nasional (UN) telah mengalami beberapa kali perubahan dan penyempuraan oleh pemerintah Indonesia. Perkembangan Ujian Nasional tersebut dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa periode berikut ini:

    Tahun 1965-1971, pada tahun ini, sistem ujian dinamakan ujian negara. Hampir berlaku untuk semua mata pelajaran, semua jenjang yang ada di Indonesia, satu komando dan satu kebijakan pemerintah pusat.
    Tahun 1972-1979, pada tahun ini, ujian negara ditiadakan, diganti dengan ujian sekolah. Jadi sekolah yang menyelenggarakan ujian sendiri-sendiri. Semuanya diserahkan kepada sekolah, sedangkan pemerintah pusat hanya membuat kebijakan-kebijakan umum terkait dengan ujian yang dilaksanakan.
    Tahun 1980-2000, pada tahun ini, untuk mengendalikan, mengevaluasi, dan mengembangkan mutu pendidikan, Ujian sekolah diganti menjadi Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (EBTANAS). Dalam ujian ini, dikembangkan perangkat ujian paralale untuk setiap mata pelajaran yang diujikan. Sedangkan terkait denga penggandaan dan monitoring soal dilaksanakan oleh daerah masing-masing.
    Tahun 2001-2004, pada tahun ini, EBTANAS diganti menjadi Ujian Akhir Nasional (UNAS). Hal yang menonjol dalam peralihan nama “EBTANAS” menjadi “UNAS” adalah penentuan kelulusan siswa, yaitu Dalam Ebtanas kelulusannya berdasarkan nilai 2 semester raport terakhir dan nilai EBTANAS murni, sedangkan UNAS ditentukan pada mata pelajaran secara individual.
    Tahun 2005-2009 ada perubahan sistem yaitu pada target wajib belajar pendidikan (SD/MI/SD-LB/MTs/SMP/SMP-LB/SMA/MA/SMK/SMA-LB) sehingga nilai kelulusan ada target minimal.
    Tahun 2010-Sekarang, UNAS diganti menjadi Ujian Nasional (UN). Untuk UN tahun 2012, ada ujian susulan bagi siswa yang tidak lulus UN. Dengan target, para siswa yang ujian dapat mencapai nilai standar minimal UN sehingga dapat lulus UN dengan baik.
    Walau dalam sejarah Ujian Nasional yang berubah-ubah sejak tahun 1965 sampai sekarang, namun inti dari ujian yang dilaksanakan sejak dahulu itu sama yaitu untuk meningkatkan kualitas peserta didik dan mengukur kemampuan peserta didik dalam proses belajar. Akan tetapi dalam realita sekarang, banyak orang yang menganggap Ujian Nasional sebagai sebuah bencana. Bahkan ada yang menginginkan Ujian Nasional dihapus. Mungkin sebagian orang tersebut melihat berbagai kekisruhan Ujian Nasional seperti: kebocoran, keterlambatan soal, kertas ujian yang tipis, dan berbagai hal lainnya yang semuanya hanya bersifat teknis pelaksanaan, bukan Ujian Nasional nya yang menjadi masalah. Kalau seandainya Ujian Nasional dihapus, dengan apa untuk mengukur kualitas para peserta didik, bagaimana mengukur kualitas sekolah, guru, dan berbagai hal lainnya. Padahal, Ujian Nasional ini dilakukan dengan berbagai manfaat seperti:

    Pemetaan mutu program dan/atau satuan pendidikan;
    Dasar seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya;
    Penentuan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan; dan
    Dasar pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan.
    Mari dukung pemerintah untuk selalu meningkatkan kualitas teknis pelaksanaan Ujian Nasional biar tidak terdapat berbagai kekisruhan, dan ini menjadi tugas masyarakat pada umumnya untuk mengawasinya. Semoga dengan ujian nasional para peserta didik terpacu untuk meraih prestasi demi masa depan bangsa yang gemilang. 🙂

    Reply

Leave a comment

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.