Menumbuhkan (Kembali) Budaya Baca

Written by Jauhar Ridloni Marzuq. Posted in artikel

gerakan-mari-membaca

Awal Maret 2013 lalu (tanggal 1-10), untuk ke-12 kalinya pameran Islamic Book Fair (IBF) digelar. Ratusan penerbit dengan ribuan judul buku memenuhi Istora Gelora Bung Karno, Jakarta. Even seperti ini tentu patut dibanggakan. Tapi, ada satu hal yang lebih perlu diperhatikan: sudahkan budaya menyelenggarakan pameran buku seperti ini diikuti dengan budaya membaca masyarakat kita? Jika tema yang diusung oleh panitia penyelenggara adalah “Menuju Umat Berkarakter Qurani“, maka budaya baca sejatinya adalah salah satu karakter qurani yang utama. Bukankah ayat al-Quran yang pertama kali turun adalah perintah untuk membaca?.

Budaya Baca Ulama Kita

Turunnya ayat yang diawali dengan perintah membaca ini, seperti pernah saya tulis dalam artikel sebelumnya, sangatlah “aneh”. Setidaknya, ada tiga alasan yang mendasari pandangan ini. Pertama, dari sekian ribu tema yang bisa diangkat, al-Quran ternyata memilih tema tentang baca-tulis. Padahal, Nabi Muhammad sebagai orang pertama yang menerima ayat itu adalah seorang buta huruf. Kedua, al-Quran mengajak bangsa Arab – yang mayoritas masyarakatnya buta huruf – untuk memperhatikan suatu masalah yang sama sekali jarang mereka perhatikan. Seperti tertulis dalam banyak buku sejarah, bangsa Arab ketika al-Quran diturunkan adalah masyarakat primitif yang hidupnya dipenuhi oleh urusan takhayul, khurafat dan kebodohan. Karena itu, perintah membaca adalah suatu keanehan. Sedangkan ketiga, untuk menjadi media transformasi ilmu, al-Quran memilih media yang sangat berat bagi masyarakat Arab saat itu, yaitu membaca.

Dengan tiga alasan tersebut, Raghib al-Sirjani dalam al-Ilmu wa Binâ’ al-Umam berkesimpulan bahwa fenomena ini tentu memiliki rahasia yang perlu diungkap dan diketahui. Sebagai kitab petunjuk, Allah tidak mungkin memilih tema sembarangan untuk menjadi permulaan penurunan kalam-Nya. Salah satu alasannya, menurut al-Sirjani, adalah sebagai bukti paling jelas bahwa Islam adalah agama yang bersandar pada ilmu pengetahuan dan menolak kebodohan. Permulaan ayat ini juga menjelaskan bahwa membaca adalah kunci untuk memahami agama baru ini, sekaligus menjadi syarat utama yang harus dimiliki oleh manusia untuk mendapatkan kebahagian dunia dan akhirat.

Walaupun Nabi Muhammad adalah seorang buta huruf, namun beliau selalu menganjurkan umatnya untuk belajar dan membaca. Di tengah budaya buta huruf yang berkuasa pada saat itu, Rasul berusaha untuk mengikisnya dengan menyuruh para tawanan perang agar mengajarkan kepada umat Islam menulis dan membaca.

Budaya dan kecintaan pada ilmu dan membaca seperti ini terwarisi oleh ulama-ulama Islam setelahnya. Ulama-ulama kita adalah orang-orang yang tak pernah puas dengan ilmu dan tak pernah bosan untuk membaca. Ibnu Abdul Hadi, salah seorang murid Ibnu Taimiyah berkata: “Jiwaku tidak pernah kenyang dengan ilmu, tidak pernah puas dengan membaca. Aku tidak pernah bosan dengan kesibukan itu, dan tak pernah letih untuk terus menelaah dan mencari.”

Bagi para pendahulu kita itu, buku ibarat butiran oksigen yang mengisi paru-paru mereka untuk menyambung nafas mempertahankan eksistensi diri. Ia juga seperti gudang harta, ketika menemukannya mereka tidak sabar untuk membaca dan melahap semua isinya. Ibnu al-Jauzi pernah bercerita tentang dirinya: “Aku menceritakan keadaanku, aku tidak pernah kenyang membaca buku. Jika aku mendapati sebuah buku yang belum kubaca, aku seakan menemukan sebuah harta karun yang sangat berharga.” Selanjutnya dia mengatakan, “Kalau boleh aku katakan, sungguh aku telah membaca lebih dari 20 ribu jilid buku, tetapi aku masih terus mencari yang lainnya.”

Mengembalikan kejayaan Islam

Membaca pada hakikatnya bukan sedekar aktifitas memelototi huruf dan kata, namun ia merupakan usaha untuk membawa pikiran kita melompat menerjang batas teritorial dunia. Dengan membaca, jendela-jendela pengetahuan dunia terbuka lebar bagi kita. Seperti halnya makanan bagi tubuh, membaca adalah nutrisi buat otak. Membaca bisa membantu mengembangkan pemikiran dan menjernihkan cara berpikir seseorang. Dengan membaca, otak kita akan terus terasah dan mendorong kita untuk selalu mencari jawaban dari setiap masalah.

Jika masalah-masalah bisa teratasi, maka taraf hidup seseorang akan naik dengan sendirinya. Di sinilah kenapa membaca menjadi kunci utama kegemilangan peradaban suatu bangsa.

Amerika yang saat ini menguasai dunia tercatat 100% penduduknya aktif membaca Koran Harian. Jepang, Jerman dan negara maju lainnya masyarakatnya adalah komunitas pembaca. Penduduk negara tersebut sudah menjadikan buku sebagai sahabat yang menemani mereka ke mana pun mereka pergi. Ketika antri membeli karcis, duduk di dalam bus, menunggu kereta, dan aktifitas lainnya, mereka tidak lupa untuk menyempatkan membaca.

Dalam sejarah Islam, keadaan seperti ini pernah terjadi. Peradaban Islam yang pernah gemilang berbanding lurus dengan aktifitas membaca para pemeluknya. Ketika Eropa masih gelap gulita diterpa perpecahan yang perang saudara, Islam telah memiliki perpustakan terbesar di dunia. Di Baghdad ada Baitul Hikmah, di Mesir ada Darul Hikmah, dan di Cordoba ada Perpustakaan Cordoba.

Karya-karya besar para ulama telah memenuhi rak-rak perpustakaan di sana. Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam as-Syafi’I, Al-Hawarizmy, Ibnu Sina, al-Faraby, Imam al-Ghazali, Imam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnu Hajar al-Asqalani adalah sebagian dari mereka yang memiliki ratusan karya. Karya-karya itu tentu tidak lahir begitu saja, melainkan hasil dari kegigihan mentelaah dan kecintaan terhadap budaya membaca.

Jika Imam Malik berkata bahwa generasi akhir umat Islam tidak akan maju kecuali dengan mengikuti apa yang pernah dilakukan oleh generasi awal, maka kita harus menumbuhkan kembali budaya baca untuk membuat umat ini maju seperti yang pernah diraih oleh generasi awal. Budaya baca itulah masalah utama yang harus ditumbuhkan kembali oleh umat Islam untuk “menuju umat berkarakter qurani”, tujuan dari digelarnya IBF tahun ini.

Comments

comments

Trackback from your site.

Leave a comment

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.